BAB 17 Berat Di Ongkos

1211 Kata
Tania dan Lisa mengangguk lalu segera pergi karena jemputan mereka sudah datang. "Kami pulang dulu ya. Nita kamu dan Angle sehat-sehat ya," balas Lisa. "Iya bu kami pulang ya. Suami sudah jemput," ucap Tania sambil melambaikan tangan. Harlan sudah juga bersiap akan mengantarkan mertuaku pulang. Mertua juga sudah bersiap akan pulang. Aku bernafas lega karena mertua akan pulang dan aku tidak akan mendengar bacotannya lagi. "Angle, nenek pulang dulu ya. Nggak bisa sering-sering ke sini nenek ya. Karena kalau nenek ke sini nenek berat diongkos. Kamu saja yang ke rumah nenek. Yang muda ya ke rumah yang tua dong," ucap mertua pamit pulang pada cucunya. "Yang benar saja ma. Niat jenguk cucu saja ngomong berat diongkos, nggak usah jenguk sekalian kalau begitu dah," balasku jutek karena kesal. "La emang berat diongkos kok. Lagian pilih rumah jauh amat. Takut mama minta makan apa? Ngojek juga pakai ongkos walau cuma lima belas ribu sampai dua puluh ribu rupiah. Buat mama uang segitu besar," ucap mertua. "Sudah sih jangan pada ribut melulu. Malu kedengaran tetangga. Ayo ma, Harlan antar pulang dulu. Sudah sore nanti sebelum magrib Harlan sudah harus sampai rumah lagi," pinta Harlan. Harlan mencoba melerai kami semua. Bagaimana aku nggak emosi. Bacot mertua membuatku sakit hati. Menengok cucu saja teriak berat diongkos. Kalau tidak niat menengok anakku juga tak apa-apa. Nggak usah ke rumahku juga aku tidak akan marah Daripada datang tapi bacotnya membuat aku emosi terus. "Nenek pulang dulu ya Cantik, mungil, anak sholehah nenek. Nenek jaga warung dulu ngumpulin ongkos buat nengok kamu lagi," ucap mertuaku yang ingin rasanya aku tampol mulutnya itu. walaupun maksudnya memang benar tapi aku kesal harus bilang berat diongkos padahal uangnya ada banyak. "Pulanglah sana nggak kesini lagi juga malah beneran. Buat aku kesal saja kalau ke sini," keluhku dalam hati. Harlan mengantarkan mertua pulang kerumah. Aku memang membatin agar mertua cepat lah pulang. Tidak mengunjungi dalam waktu yang lama juga tidak apa-apa mungkin aku akan hidup bahagia. Dari pada mengunjungiku tapi hanya membuat batinku tersiksa saja. Pusing aku mendengar bacotan mertua. Bukan mengurangi beban pikiranku. malah membuat aku makin stres dengan suara bacotannya yang membuat pusing kepala. "Angle saat perjalan pulang ada yang jualan mainan. Ini ayah belikan buat kamu," ucap Harlan sambil menenteng mainan boneka lucu. "Harlan masa kamu beli boneka kuda. Anak kita cewek loh," ucapku. "Boneka kudanya warnanya merah jambu bu, nggak apa-apa," balas Harlan. Aku menertawakan Harlan maklum saja Harlan tidak punya adik atau kakak perempuan. Jadi wajarlah kalau bingung memilihkan mainan untuk putri kami. Kadang dia sampai browsing internet mainan anak perempuan. Atau bertanya padaku jenis mainan anak perempuan itu apa saja sih. Suamiku lagi bahagia mempunyai putri cantik sehingga apa saja dibeli. Mulai dari baju sampai aksesoris lucu-lucu yang ada di marketplace ada saja yang dibeli. Mungkin karena sedang sedang memiliki anak beberapa hari ini ada saja yang dibeli. "Kamu beli apa lagi Harlan?" tanyaku yang melihat suamimu membawa tentengan. "Boneka hello kitty warna merah jambu. Untuk Angle anak gadisku. Lihat boneka aku ingat punya anak cewek. Aku beli saja deh," jawab Harlan. Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah lucu suamiku. Semoga kami diberikan kesehatan sampai tua nanti. Bisa melihat putri kita tumbuh dan berkembang. Aku terus berharap kami akan hidup bahagia sampai Tuhan memisahkan kita. Hari yang cerah ini Harlan sedang libur. Tiba-tiba ada mertua yang datang tanpa memberi kabar. Mertua membawa satu ekor ayam matang kesukaan Harlan. Aneka sayuran. Ada pula daun katuk banyak sekali. "Halo cucu nenek. Mungil nenek. Anak Sholehah," ucap mertua seraya menggendong anakku. "Loh nenek gendong kok nangis mau nyusu ya. Haus mau nyusu? Ikut nenek pulang saja yuk. Biar nenek ada temannya," ucap mertuaku lagi. Mertua menyerahkan Angle padaku lagi saat menangis. Lalu beliau berkeliling rumahku melihat sekitar, ruang depan, tengah sampai belakang. Tak lupa sudut sudut dapur. Melihat persediaan beras, membuka kulkas. Letak benda-benda di rumahku juga dikomentari olehnya. Memang benar-benar bacot nih mertua. "Ini ruangan nggam bagus banget buat bayi. Terlalu panas pengap mama saja nggak betah. Beli hexospan dong. Agar udara silih berganti. Kasihan cucuku kepanasan," ucap Mertua sambil kipas-kipas. "Harlan sudah pesan AC ma. Paling nanti sore kalau nggak ya besok di pasang. Biar Angle nggak kepanasan dan biang keringat," jawab Harlan. "Ini meja jangan di letakkan di sini. Taruh mana kek. Biar kelihatan lega," ucap mertuaku. "Mau di taruh mana lagi ma? Nanti meja mau di letakkan televisi ma," jawab Harlan. "Kulkas kok kosong melompong sih Harlan. Nggak ada isinya!" seru mertuaku sambil membuka kulkas. Benar-benar membuatku tidak tahan lagi dengan bacot mertua ini. Sialan banget setiap datang hanya bisa membuat emosiku membara dengan bacotannya. "Emangnya anakmu ngasih uang berala sih kok banyak bacot banget. Lagian ini hari sabtu!" seruku kesal sudah tidak bisa menahan emosi. "Kalau hari sabtu memangnya kenapa?" tanya mertua. "Biasanya kita belanja seminggu sekali. buat kebutuhan seminggu. Ya wajar kalau hari ini kulkas terlihat kosong," jawabku apa adanya. "Ini lantai di pel dong kotor banget. lihat nih kaus kaki mama jadi kotor. Sudah kamu nanti kamu nggak usah ngepel lagi. Karena sudah bersih di pel pakai kaos kaki mama," bacot mertua lagi. Aku sudah sangat kesal. Beruntung Harlan meminta mamanya untuk menemaninta ngeteh. Mungkin biar nggak bacot terus sehingga membuatku banyak pikiran dan membuat asiku seret. "Mama ayo duduk di teras kita ngeteh dan mengobrol. Biar Nita menyusui Angle saja di kamar," ajak Harlan yang membuatku lega. Agar aku tidak mendengar lagi bacotan manusia itu lagi. "Mama mau pulang aja ah. Mama mau jaga warung. Nggak jualan nggak makan," sahut mertua. "Kalau begitu biar Harlan antar ya ma," ucap Harlan yang sayang mamanya. "Itu mama bawain ayam buat kamu Harlan. Daun katuk sengaja mama beli banyak buat istrimu. Nggak usahlah beli obat buat asi. Kasihan cucuku di kasih suruh minum obat kimia terus-terusan lewat asi yang dia minum," ucap mertua. "Anak jaman sekarang sama jaman mama muda dulu tetap beda ma. Jangan terus-terusan dibandingin dengan jaman dulu ma," sahutku kesal. "Apa Bedanya? Makan daun katuk lebih higienis. Lebih steril pakai bahan alami. Buktinya mama ngga sakit-sakitan kaya kamu. Sehat terus nggak kayak kamu kebanyakan obat kimia jadi lemah. Dikit-dikit capek," ucap mertua. "Kenapa sih kalian ribut melulu. Kasihan anakku jadi terganggu dengan perdebatan kalian," sahut Harlan. "Bilang sama mama kamu kalau bicara jangan sembarangan. Apa saja di omong. Kaya udah paling bener hidupnya," ucapku kesal. "Mama disalah-salahin mulu Lan. Maksud mama bawel demi kebaikan emangnya mama nyusahin kamu apa," balas mertua yang drama lagi. Capej banget nggak sih menghadapi mertua yang suka bacot tapi kalau di sahutin bakal playing victim. Mengadu domba anak dan mantu. Mengalah dan diam saja selalu diinjak-injak. Jadi serba salah bukan. "Ayo ma Harlan antar pulang dulu, katanya mau pulang?" tanya Harlan. "Iya mama mau jualan saja. Nggak jualan nggak makan. Mau nengokin cucu kan berat diongkos!" jawab mertuaku mempertegas lagi. Seakan rumah kami ini berada di ujung afrika. Akhirnya pulang juga mertua. Pusing mendengarkan bacotannya kalau datang. Setiap kesini selalu ada saja yang dikomentari mulai rumah berantakan. Lantai kotor. Air yang tidak jernih. Sekarang aku makin sensitif semenjak menjadi ibu baru. Aku tidak tahan emosi dan selalu langgung membantah saat mertua berbicara yang membuatku kesal. Semakin hari bacotan mertua semakin membuatku sakit hati. Kalau aku tetap diam sepertinya akan terus berlanjut dan menyakiti hatiku. "Kapan ya mertua tidak banyak bacot lagi dan tidak membuat hatiku sakit?" keluhku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN