BAB 18 Aku Tak Rela

835 Kata
Harlan suamiku sedang mengantar mertua yang suka bacot itu pulang. Sekarang tinggal aku dan Angle sendirian di rumah. "Yang anteng ya putriku. Kita tunggu ayah pulang mengantar nenek," ucapku sambil membaringkan Angle di kasur. Aku memandangi wajah anakku. Di sampingnya aku membayangkan jika aku di posisi Harlan. Selalu menjadi penengah antara aku dan mertua. Aku tahu hati Harlan sedih melihat kami selalu adu bacot. Tapi mau bagaimana lagi. Jika aku diam saja itu mertua akan sangat senang menindasku. Seandainya bacot mertua tidak jahat dan selalu mengkritik apa saja yang aku lakukan. Mungkin hatiku bisa melunak. "Ayah ada ide apa lagi untuk memberi Angle Mpasi apa lagi ya? Mama perhatikan kalau mama memberi mpasi sayuran nanti buang air besar masih ada sayurannya gitu!" ucapku meminta pendapat Harlan. "Begini saja mah. Kita konsultasi dengan bu Bidan dulu. Agar kita mendapatkan ilmu baru tentang Mpasi untuk anak. Makanan apa yang perlu dihindari dan makanan apa yang harus diberikan," jawab Harlan. "Boleh tuh yah. Yuk nanti sore kita ke Bidan," ucapku. Kami berkonsultasi dengan Bidan langganan. Karena tempat bu Bidan ada spa baby. Kami sekalian memberikan Angel perawatan spa. Kami selalu konsultasi pada Bidan atau Dokter sebelum memberikan apapun pada Angel. Kami ingin memperoleh ilmu tentang merawat bayi yang benar bukan berdasarkan mitos yang sudah beredar di masyarakat. "Putri bapak umur berapa sekarang?" tanya bu Bidan. "Delapan bulan bu. Kami datang untuk konsultasi mengenai mpasi bu. Jika saya memberikan sayuran pada anak saya. walaupun sudah di masak dengan matang dan empuk. Kenapa saat anak saya buang air besar masih ada mirip sayuran yang saya berikan pada anak saya di fesesnya ya bu?" tanyaku pada Bidan. "Kebanyakan ibu memang salah memberi sayuran dulu daripada daging. Itu terbalik ya bu. Memberi mpasinya daging dulu ya bu. Daging itu mudah dicerna perut bayi daripada sayuran dulu bu," jawab bu Bidan. "Ternyata saya yang salah. Terima kasih ilmunya ya bu," balasku. "Bu bidan saya mau tanya sekali lagi. Bayi itu boleh nggak sih di beri kopi?" tanyaku. "Belum boleh ya bu. Hati dan ginjalnya 'kan belum kuat. Kalau kata orang tua jaman dulu memang mereka memberi kopi pada bayi agar tidak kejang atau step. Tetapi itu kebiasaan yang salah," jawab bu Bidan. "Terimakasih bu atas ilmu yang di berikan. Maklum orang tua baru," ucap Harlan sambil tertawa. Setelah membayar biaya konsultasi dan baby massage. Kami langsung pulang ke rumah membawa ilmu mengurus balita yang disampaikan bu Bidan. Suara hanphone Bani berdering sepetinya dari Mertua. "Iya ma. Ada apa?" tanya Harlan. "Mana cucu ku?" tanya Mertua. "Lagi di suapin sama mamanya," jawab Harlan. "Disuapi makan apa cucuku? Masak sendiri apa beli?" tanya mertuaku. "Beli mpasi langsung jadi ma," jawab Harlan. "Angle minta minum ya. Ini minumnya ayah ambilin," ucap Harlan sambil menelpon mertua. "Beli mulu sih makanan buat anak. Seret itu Harlan anak dikasih maakan bubur mulu nggak ada kuahnya ya seret lah. Istrimu itu kenapa sih nggak mau masak Lan. Buat anak nggak mau capek. Pemborosan beli terus," bacot mertua terdengar walau telepon tak di speaker. "Repot ma keburu anakku nangis. Anakku aktif banget nggak bisa di tinggal. baru mau masak di taruh kasur. Dia sudah merangkak ke dapur nyariin mamnya. Di taruh baby Walker nangis nggak mau berhenti. Digendong sambil masak anaknya nggak bisa diam. Maunya megang apa yang di pegang sama mamanya," jawab Harlan. "Alasan saja kamu itu. Kasih makan sayur Lan anakmu. Kasihan nggak dikasih makan sayur, kalau makan sayur 'kan seger badannya," balas mertua. "Tadi sudah konsultasi sama Bidan. Kalau sayur belum bisa mencerna. Dikasih daging dulu. Kebanyakan para ibu kebalik ngasih makan mpasi," jawabku. "Ya di blender lah biar bisa dicerna smaa perut bayi," balas Mertua. "Sudah seperti itu. Sayur itu nanti kebalik kalau di beri sayur dulu," ucapku. "Ribet banget sih. Jaman dulu nggak begitu. Hari Minggu kok ngga ke rumah nenek sih? Nenek 'kan ngga ada teman di rumah!" balas Mertua. "Ada ayah juga ada kiki. Memang mereka nggak ada di rumah ma?" tanya Harlan. "Ada emang mau kemana lagi mereka. Tapi mama pengen di temani sama cucu. Anak kamu bawa kesini dong. Tinggal saja nginep sama mama," Jawab mertua. Aku meradang mendengarnya. Enak saja itu main bawa di suruh menginap segala. Aku kadang kesal sekali jika mengingat kebelakang. Saat pertama kali hamil, adik adik iparku berkata siapa suruh kamu nikah dulu. Mama sakit nggak bisa mengantar ke Dokter. Walau itu bukan tertuju padaku. Tapi Harlan menikah denganku jadi aku tersinggung. Bacot mertua selalu bilang jangan sesar. Jangan induksi. Lahiran pakai BPJS saja nanti uangnya bisa dipakai yang lain. Saat aku hamil tua pun masih menyakiti hatiku, dengan omongannya, 'Kok jatah mama dikurangi terus sih Harlan' 'Lahiran di kampung ngabisin ongkos' Jika mengingat itu semua hati ku sakit. Saat saudara yang lain datang menjengukku usai lahiran. Tak aku lihat satu pun wajah saudara dari keluarga suami ataupun mama mertua. Termasuk Iparku sendiri. Aku jadi tidak rela kalau anakku diasuh sama mertua atau diajak menginap di rumahnya tanpa aku. 'Jangan harap hal itu akan terjadi. Apa mertua ingin sekali memisahkan aku dan anakku ya?' gumamku dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN