BAB 19 Harlan Minta aku berhenti kerja

800 Kata
Pikiran yang tiada henti selalu negatif mengenai mertua selalu menghantuiku. Tapi saat Harlan memelukku dan menguatkanku. Aku menjadi luluh kembali mempertahankan rumah tangga ini demi anak. "Nita ayo tidur. Kamu jangan banyak pikiran. Takutnya Angel nangis terus karena pikiran kamu nyalur ke anak," ucap Harlan. "Iya aku tahu. maafkan ibu ya Angel. Ibu sayang Angel," ucapku sambil mencium Angel anakku tercinta. Hari-hari cepat berlalu tak terasa Angela sebentar lagi berusia satu tahun. Harlan memintaku untuk berhenti kerja untuk fokus mengurus putri kami tercinta. Alasan Harlan memintaku berhenti kerja adalah Angel sering sakit aku tinggal bekerja. Harlan ingin aku sendiri yang mengasuh Angela. "Angel butuh kasih sayang seorang ibu yang maksimal," ucap Harlan. "Aku juga ingin memberikan kasih sayang untuk Angel sepenuhnya. Tapi aku juga harus bekerja," balasku. Aku tahu pembicaraan Harlan mengarah kemana. Tapi aku masih belum rela berhenti bekerja. Alasanku bekerja selain aku memiliki uang sendiri, adalah bisa membalikkan bacot mertua yang selalu mengatakan kalau aku hanya bisa menghabiskan uang anaknya saja. Jangan sampai aku ditindas mertua karena tidak bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Pasti itu akan menyakitkan. "Nita. Apakah kamu bersedia di rumah saja menjaga anak kita? Diusianya saat ini butuh kasih sayang ibunya. Aku tidak mau anakku kurang kasih sayang!" tanya Harlan dengan tegas. "Nanti mamamu ngebacot kalau aku hanya bisa menghabiskan uangmu bagaimana? Saat aku hanya berada di rumah saja pasti mamamu akan semakin menindasku!" seruku karena kepalaku sudah penuh dengan apa yang selalu dikatakan mertua. "Angel anak kita sering sakit kamu tinggal kerja. Apalagi kamu suka lembur pulang telat. Kamu juga jangan berpikir negatif terus soal mama," jawab Harlan. "Itu kenyataan 'kan. Saat aku hamil besar saja masih tega nyeletuk jatah bulannya kamu kurangin terus. Sakit hatiku tahu padahal aku kerja sendiri. Bagaimana jika aku tidak kerja semakin di tindas kali," sahutku. "Aku sudah menasehati mama. Jangan kira aku hanya diam saja. Tapi aku menasehatinya saat tidak ada orang," Jawab Harlan. "Ngga mau pokoknya. Bacotan mamamu pasti akan menyakitkan kalau aku tidak bekerja," jawabku keras kepala. "Aku beri kamu waktu untuk berpikir. Ini semua demi anakmu. Kamu juga tidak boleh berpikir buruk terus-terusan pada orang tuaku," jawab Harlan sambil berlalu pergi mungkin menenangan diri. Permintaan Harlan yang memintaku untuk berhenti kerja membuatku kesal. Itu karena aku belum siap untuk berhenti kerja. Setidaknya saat aku berhenti kerja punya kekuatan sendiri punya penghasilan agar mertua tidak seenaknya menindasku. Seenggaknya aku punya penghasilan sendiri dan punya kekuatan agar tidak di tindas mertua. Tiba-tiba aku teringat masa yang lalu. Saat Harlan akan melamarku. Bacotan mertua masih teringat jelas di memori otakku. #ingatanflasback# "Harlan kamu Nanti sudah nikah akan melupakan mama. Tidak memberi lagi jatah bulanan buat mama, padahal memberi orang tua itu berkah," bacot Mertua yang saat itu masih calon. "Ya tidak begitu juga ma. Kalau Harlan uangnya banyak mama tetap Harlan kasih kok. Tapi kalau sedang tidak cukup ya mohon maaf," sahut Harlan. "Dulu saat mama pertama nikah sama ayahmu. Mama nggak pernah memberi jatah mbahmu lagi. Padahal memberi rejeki ke orang tua itu berkah. Makanya rejeki mama dulu seret karena nggak pernah ngasih mbahmu," bacot mertuaku lagi. "Kehidupanku nanti tidak seperti mama dan ayah kan. Ya kalau Harlan ada uang lebih pasti Harlan kasih kok," balas Harlan. Aku selalu mengingat bacot mertua yang menyakitkan. #flasbackoff# Entah mengapa aku jadi tidak bisa bersikap seolah baik-baik saja dengan mertua. Bacot mertua terlalu menyakiti hatiku. Anak mana sih yang tidak ingin membuat bahagia orang tua. Pastilah semua anak di dunia ini ingin membahagiakan orang tuanya. Tetapi jika kondisi rumah tangga anaknya belum mapan. Haruskah orang tua mewajibkan anak untuk memberi jatah bulanan atau imbal jasa ke orang tua setiap bulanannya. Kami akan dibacotin kalau belum bisa memberi jatah bulanan. "Ibu melamun apa sih? Nanti kesambet loh!" seru Harlan. "Ada apa ayah Angel?" jawabku kaget karena memang melamun memikirkan bacot mertua. "Ibu apa kamu memikirkan tentang permintaan ayah untuk berhenti kerja?" tanya Harlan. Aku mengangguk. Sebenarnya aku tidak apa kalau harus berhenti kerja mengurus Angel. Asal tidak ada bacot mertua yang menyakitiku. Yang ada aku akan semakin drop dan sakit kalau bacot mertua selalu menghantui saat aku tak lagi berkerja. "Sekarang terserah kamu saja bu. Ayah harap ibu juga memikirkan tumbuh kembang Angel. Mungkin nanti jika ibu berhenti kerja. Angel semakin sehat tidak seperti sekarang sakit-sakitan terus," ucap Harlan sambil mengelus pundakku. "Beri ibu waktu untuk berpikir ya yah," pintaku. "Coba ibu cuti kerja tiga hari. Ayah rasa tiga hari bersama Angel sudah cukup untuk menentukan. Ibu akan bisa membuat keputusan," jawab Harlan. Aku menyetujui permintaan Harlan. Tapi hatiku masih mengatakan kalau masih ingin bekerja. Aku Ingin membantu Harlan menabung biaya sekolah Angel dan memenuhi kebutuhan. Kalau harus berhenti kerja. Otomatis aku hanya mengandalkan uang belanja dari pemberian Harlan setiap bulan. Aku tidak bisa memberi orang tuaku lagi. Semoga ada jalan dari kegalauanku lagi. "Harlan. Aku sangat bingung saat ini," ucapku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN