BAB 20 Mertua Suka Mengadu

1311 Kata
"Tidak usah bingung. Nanti akan ada jalan sendiri bagi rumah tangga kita," balas Harlan sambil merangkulku. "Semoga saja setelah aku berhenti kerja. Orang tuamu tidak menyakiti aku dengan bacotannya," ucapku. Kami istirahat setelah mengobrol tentang berhenti kerja. Akhirnya aku mengambil cuti selama tiga hari. Saat cuti aku memghabiskan waktu bersama Angel anakku. Memang repot saat mengasuh bayi dan mengerjakan pekerjaan seluruh rumah sendirian. Tapi kedekatanku bersama Angela tidak ada gantinya. Di masa usia emasnya memang dia harus bersama ibunya. Aku tak ingin melewatkan kesempatan ini. Saat aku bekerja Angle aku titipkan kepada pengasuh pilihan mertua. Sering sekali terjadi perdebatan mengenai pola asuh antara aku dan mertua. Apalagi pengasuh Angela suka mengadu hal-hal yang tidak perlu ke mertuaku. Kadang apa yang disampaikan dari mulut mertua ke telingaku tidak sesuai sehingga kami sering slek. "Bu tadi kata nenek Angel. Ngasuhnya nurut sama dia saja. Jangan apa kata ibu Nita. Soalnya ibu Nita belum punya pengalaman," ucap mbok ngatemi pengasuh anakku pilihan mertua. "Angel anak saya bu. Ya harus nurut saya. Nggak menggaji ibu juga saya," balasku. Percakapan seperti ini biasanya diadukaj ke mertua dengan kalimat lain lagi oleh pengasuhku. "Punya mantu sok banget. Nggak mau nurut sama yang sudah berpengalaman," ujar mertuaku sambil merengut. "Apa sih ma. Ini anak kami jadi ya memang harus menurut kami. Masa orang lain. Setiap anak kan beda perkembangannya," balas Harlan. Sudahlah aku sudah terbiasa seperti ini. Contohnya aku selalu berkata kalau ingin memberi makanan atau apapun ke anakku tanya dulu. Soalnya Angel sensitif kulitnya atau dia ada alergi makanan. Cara merawat bayi orang tua jaman dulu dan jaman sekarang berbeda. Banyak ilmu yang sudah berkembang saat ini. Aku selalu berkonsultasi dengan Bidan jika ada hal yang tidak aku mengerti jadi tidak melulu mengikuti mertua yang sedikit-sedikit jaman dulu tidak begitu. Sedikit menengok ke belakang saat pertama aku mencari pengasuh untuk Angel. Saat masa cuti melahirkanku sudah akan berakhir. "Harlan bagaimana kalau mencari pengasuh Angel orangnya yang dekat rumah kita saja. Kasihan bayi dua bulan kalau harus dibawa naik motor setiap hari," pintaku. "Semoga kita dapat pengasuh dekat tempat rumah. Masih aku usahakan," balas Harlan. Harlan bertanya kepada tetangga perihal siapa yang biasa mengasuh anak. Orang yang disukai Harlan ada tiga orang. Entah kenapa semua orang mengatakan kalau capek momong anak. Dan tidak jadi menjadi pengasuh anakku. "Ayah semua orang yang terpilih tidak ada yang mau mengurus bayi kita. Katanya capek menguru bayi," ucapku lemas masa cuti sudah tinggal tiga hari lagi dan belum menemukan pengasuh. "Sabar ya masih ada tiga hari lagi. Kita berusaha lagi ya," balas Harlan menenangkanku. Tak lama kemudian mertua menelpon kalau sudah menemukan pengasuh yang cocok. "Harlan. Mama sudah menemukan pengasuh yang cocok," ucap Mertua. "Harlan diskusi dulu sama Nita ya ma. Soalnya kan Nita ibu putriku," jawab Harlan. "Pilihan mama pasti bagus Harlan. Ngapain diskusi lagi. Kalau di sana nggak ada yang ngawasi. Nanti kalau terjadi apa-apa pada cucuku gimana?" ujar mertua memaksa harus menurut padanya. "Iya Harlan mengerti kekawatiran mama. Nanti Harlan kabari ya ma," balas Harlan seraya menutup teleponnya. Tinggal sehari lagi aku harus masuk kerja. Aku tak kunjung mendapatkan pengasuh untuk anakku. Dengan berat hati aku menyetujui permintaan Harlan. Angel akan diasuh oleh pengasuh pilihan mertua. Babak baru perselisihan antara aku dan mertua di mulai. Semakin hatiku merasa tidak suka dan tidak cocok dengan mertua. Semua mengenai Angel harus seperti apa yang dikatakan olehnya. Dengan alasan aku adalah ibu baru yang tidak berpengalaman. "Harlan memangnya mama ngapain anakmu sih. Kenapa istrimu marah sampai segitunya. Mama ini kan bawel demi kebaikan. istrimu kan kurang pengalaman toh mengurus bayi. Mama lebih pengalaman. Gitu aja marah sama mama," ucap mertua merasa terdzolimi mengadu ke Harlan. "Bayi jaman sekarang kan beda ma. Apa salahnya sih komunikasi sama Nita. Mbok Ngatemi juga sudah di beritahu kalau mau memberi apapun tanya dulu sama Nita sebagai ibunya," Jawab Harlan. "Memangnya bedanya apa sih Harlan? Mbok Ngatemi itu deketnya dengan mama. Lagi pula Nita istrimu kerja takut mengganggu kalau telepon terus. Makanya mama yang nentuin semuanya. Nyatanya kamu Mama asuh sendiri sehat sampai sekarang," ucap Mertua. "Bedanya ya bisa saja si anak alergi makanan. Atau mungkin kulitnya sensitif kan ya harus komunikasi sama mamanya. Misal nih ya tentang meminumkan Asip yang benar, membersihkan botol Asip, yang direbus bersama air mendidih itu salah. Yang benar direndam dengan air hangat saja supaya partikel dalam botol tidak ikut larut saat merebus botol," jawab Harlan panjang lebar. Mendengar penjelasan Harlan tentang Asip dan cara menyajikannya. Aku jadi teringat saat aku pertama kali menitipkan Angela. Asip yang aku bawa dengan ukuran seratus mili liter. Komentar mertuaku sangat menyakitkan hatiku. "Ini susunya kok dikit ya bu?" kata mbok ngatemi. "Iya ya kok susunya plastiknya kecil. Ini mah satu tenggakan habis," jawab mertuaku. "Ini jumlahnya sepuluh plastik mbok," ucapku. "Cukup nggak tuh sampe sore diminum cucuku. Bawa s**u formula nggak lan?" tanya mertua. "Ada sih kalau asinya habis kasih saja s**u formula," jawab Harlan. Disaat ibu lain tidak bisa memberi Asi yang cukup untuk anaknya. Aku yang berhasil memerah asi sebanyak seratus mili liter dianggap hanya bisa memerah sedikit saja. Diminum bayi satu tenggakan habis. Bacot mertua menerka tidak akan cukup sampai aku pulang kerja. Pernah sekali aku memergoki mbok Ngatemi saat memberikan asi kepada anakku. Sepertinya caranya salah dan aku memberitahu caranya baik-baik tapi mbok ngatemi mengadu pada mertua. "Mbok. Asip dari freezer kok langsung di taroh air hangat?" tanyaku. "Saya dijari mamanya Harlan seperti ini bu," jawab mbok Ngatemi. "Mbok saya ajari cara menyeduh asip yang benar ya. Mbok bisa tanya saya lain kali kalau ada yang tidak dimengerti," jawabku sambil mempraktikan apa teori yang aku katakan. Mbok ngatemu mengangguk lalu tersenyum. Sore harinya karena aku pulang lebih cepat. Asip yang sudah direndam air hangat dimasukkan lagi ke freezer. Karena itu salah dan asip yang sudah direndam air panas keluar dari frezzer selama beberapa jam sudah tidak bisa diminum lagi. Aku mengedukasi mbok Ngatemi kalau cara itu salah. Sepertinya dia mengadu ke mertua dan mertua seperti biasa mengadu lagi ke suami dan akhirnya aku dan Harlan bertengkar gara-gara aduan mertua. "Mbok tadi Asip yang sudah keluar kulkas sudah direndam air hangat dimana ya?" tanyaku karena akan meminumkan kepada anakku setelah itu akan melakukan dbf. "Mbok taruh kulkas lagi soalnya kamu 'kan sudah pulang," jawab mbok ngatemi. "Asip yang sudah dikeluarkan dari freezer, jangan di masukkan lagi ke freezer ya mbok. Soalnya sudah terkena bakteri diluar," ucapku. Mbok Ngatemi mengangguk dan berkata tidak untuk lain kali. Karena sudah mengerti hal seperti ini. Maklum penggunaan asip baru pertama kali bagi mertua dan mbok ngatemi. "Nita kamu ngomong apa lagi sih sama mama?" tanya Harlan yang sepertinya sedang marah. "Aku ngomong apa ya hari ini?" jawabku. "Mama nangis gara-gara kamu ngomong kasar sama mama. Kamu kenapa sih nggak mau sopan pada mamaku?" tanya Harlan. "Apa sih aku tadi sama sekali nggak bicara sama mama. Hanya mbok ngatemi," jawabku. "Apa yang mbok ngatemi kerjakan atas persetujuan mama. Kamu marah mulu ke mbok ngatemi. Mama jadi nggak enak semua salah dimatamu. Mama jadi Sedih dan menangis dihadapanku," jawab Harlan. "Ya ampun padahal aku sudah bilang. Kalau mau memberikan apapun pada anakku tanya aku dulu. Aku ini ibunya Angel. Kenapa harus semuanya diatur mamamu?" tanyaku. "Mama sudah berpengalaman. Mama orang tuaku dan juga orang tua kamu sekarang. Jangan kamu anggap orang lain. Angel juga cucunya apa salahnya ikut campur mengurus cucu. Tolong kamu hargai orang tuaku. Jangan kamu marah terus ke orang tua," jawab Harlan. "Bisa 'kan kirim pesan ke aku untuk persetujuan?" tanyaku lagi. "Jalan satu-satunya kamu harus berhenti kerja dan urus anak sendiri. Aku nggak mau kamu bertengakar terus sama mama," pinta Harlan tegaa. "Makin di injak-injak kek keset dong sama mama kamu kalau aku berhenti kerja," balasku. "Kamu kenapa sih selalu berpikir negatif terus sama mama," balas Harlan kesal lalu keluar kamar membanting pintu. Baru kali ini aku melihat Harlan begitu marah sampai berkelakuan kasar. Dasar bacot mertua. Apa sih yang dia katakan pada Harlan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN