“Besok jemput Sahira, antar ia ke Bandung,” Agatha masuk ruangan Edu tanpa permisi. Edu tersenyum mengejek. “Kenapa? Kalian putus?” ejek Edu. “Tidak bersama bukan berarti putus,” sahut Agatha datar. “Terus, break gitu? Ceh,… lu ngak takut kalau Sahira bakalan gwa rebut,” Edu berdiri dari lursinya, pindah ke samping Agatha. “Walaupun bisa, lu ngak bakal bisa dapetin hatinya. Saya pastikan itu,” ucap Agatha mantap. “Cinta itu tumbuh seiring, lambat laun ketika kita sudah bersama Bro. Ngak masalah kalau awalnya ngak cinta, yang terpenting itu setelahnya dan sampai akhir,” Edu berbicara dekat dengan kuping Agatha. Agatha merasa panas dengan kalimat terakhir Edu. Yang Edu katakana ada benarnya juga. Iya awalnya mungkin sahira ngak cinta, namun akhirnya? Apa ia benar-benar rela kehilanga

