Pagi sudah datang. Sinar matahari tak semuanya bisa menerobos rerimbunan daun pada semua pepohonan cemara di sekitar Carrie dan James ini. Ketika udara sudah sedikit hangat, mereka berdua baru membuka mata. Tanpa mereka sadari, kedua tangan mereka sudah meraba kemana-mana di balik selimut mantel. Mereka masih saling bersandar di pohon, dan menatap dengan sorot mata yang sayu— keinginan b******a yang belum terlaksana sejak kemarin kembali muncul, terlebih saat tak ada sehelai benang pun di d**a mereka. Udara pun tak lagi sedingin malam kemarin, tubuh mereka juga telah panas— bukan oleh cahaya mentari, melainkan oleh gairah. Berbeda dari sebelumnya, gairah yang membakar tubuh mereka bukan semata-mata karena nafsu belaka. Carrie sudah mempercayai James adalah pria yang baik, sedangkan Jam

