"Ya Allah ya Tuhanku! Ibuu ... maaf!" Kiara kontan melempar semprotan nyamuk yang ke sembarang arah lalu mendekat pada Bu Jeny. Kiara panik bukan kepalang melihat Bu Jeny batuk berulang kali. Pagi yang buruk.
"Ma-maaf. Maafin Kiara Bu!" Kiara mengusap punggung Bu Jeny berulang kali dengan perasaan bersalah.
"Kenapa lagi Kia?" Bu Lilis muncul dari arah luar.
"Aduuh! Anu .... Ma! Itu!" Kiara meremas jemari berulang kali karena bingung sendiri.
Bu Jeny kembali terbatuk. Sebelah tangannya mengucek-ngucek hidung sampai memerah.
"Ya Allah Kiara! Kok ... bau baygon?" Bu Lilis berbicara sambil mengendus-endus di sekitar ruangan. Bu Lilis menutup hidung sambil melangkah mendekat, karena aroma khas dari benda tersebut makin menguar di udara.
"I-tu Ma! Kirain ta-di ... Enggar yang datang. Jadi ... ya, jadi ... aku semprot pake itu."
Dengan berat hati, Kiara berkata jujur. Bu Lilis mendelikkan mata. "Lalu ... kalau Enggar yang datang, kenapa juga harus kamu semprot? Ini buat serangga Kiara! Bukan bukan buat manusia. Astagfirullah!" dengkus Bu Lilis dengan perasaan hampir putus asa menghadapi kelakuan putrinya mulai malam sampai pagi tak henti-hentinya membuat kekacauan.
"Maaf ya, Bu Jeny. Anak ini memang bikin huuuh! Entah salah makan apa aku pas ngidamnya Kiara ini. Huuh!" gerutu Bu Lilis sambil mencubit lengan Kiara kuat-kuat, sampai Kiara mengaduh berulang kali. Ia merasa bersalah pada besannya. Bu Jeny yang masih terbatuk mendadah-dadahkan sebelah tangan pada Bu Lilis, seolah berkata "tidak apa-apa, jangan dimarahin."
Lekas ia mengajak Bu Lilis ke depan, meninggalkan Kiara yang jadi salah tingkah karena ulahnya sendiri.
"Enggak apa-apa kok, Bu Lilis. Cuma mau bilang sama Kia, nanti kalau banyak barang yang mau diangkat, Nirma bisa bantuin. Tadi Enggar bilang, Kiara mau cepat-cepat dibawa ke seberang," ucap Bu Jeny sambil mengusap pipi dengan lengan bajunya sesaat setelah keduanya sudah jauh dari depan pintu kamar Kiara.
"Oh, iya Bu. Gampang aja nanti. 'Kan cuma pindah ke seberang rumah. Enggak begitu banyak juga yang diangkat," sahut Bu Lilis langsung mengantarkan Bu Jeny sampai ke pintu depan karena Bu Jeny langsung pamit pulang. Setelah itu Bu Lilis kembali ke kamar Kiara. Bu Lilis masuk ke kamar putrinya dengan kaki dihentakkan. Kesal sekali ia atas ulah Kiara kali ini.
"Kiara! Ya Allah Kia! Kamu benar-benar ya. Tolonglah Kia! Berulang kali mama bilang, Bu Jeny sudah baik hati loh nerima kamu apa adanya. Kamu iniiih! Sudah enggak bisa apa-apa, malah berbuat yang tidak-tidak. Kalau bukan Bu Jeny yang jadi mertuamu, mau ditaruh dimana muka mama ini, Kia!" omel Bu Lilis dengan kedua tangan mengepal karena menahan geram dan geregetan pada Kiara.
Hanya tarikan dan hembusan napas yang terdengar sebagai jawaban atas kekesalan Bu Lilis. Kiara mengusap-usap lengannya yang masih memerah karena cubitan ibunya sampai wanita paruh baya itu meninggalkan kamar Kiara dengan napas besar dan kaki dihentakkan kembali.
Kiara yang tahu ibunya marah, tidak berniat mengikutinya keluar. Kiara lebih memilih bersandar di jendela kamarnya sambil menatap keluar. Ponselnya berdering di atas tempat tidur. Kiara duduk sambil melirik sekilas, dan seketika wajahnya berubah risau. Irwan memanggil. Apa yang harus dia katakan pada Irwan?
Kiara menoleh ke arah pintu sebelum menerima panggilan dari pacar berondongnya tersebut. Sepi ... Kiara langsung mengusap layar ponselnya.
"Halo! Kia. Kamu dari tadi malam, kok enggak balas-balas WA aku sih?" sapa Irwan tanpa memberi salam. Kiara menarik napas dalam. Bukan tak tahu ada WA dari Irwan, tapi Kiara memang tak berniat untuk membukanya.
"Maaf Wan," sahutnya lirih.
"Kenapa?" suara Irwan menyiratkan keheranan atas permintaan maaf Kiara yang tak seperti biasanya.
"Wan, maaf. Mulai sekarang kita jalan masing-masing aja!" Kiara berbicara pelan sambil berdiri, lalu menyandarkan sebelah bahunya ke bingkai jendela.
"Loh, tapi kenapa Kia?" Irwan tidak terima atas keputusan sepihak dari Kiara.
"Karena kamu enggak datang-datang melamar aku. Orang tuaku sudah enggak bisa diajak kompromi lagi," sahut Kia lancar. Dia tidak sedang mengada-ngada. Selama ini Irwan memang selalu mengalihkan pembicaraan bila Kiara sudah menyinggung soal keinginan orang tuanya tentang pernikahan. Hal itu juga yang kadang membuat Kiara bimbang. Ia tak bisa menerka apakah Irwan serius atau sekedar bermain-main saja menjalin hubungan dengannya.
"Ya harusnya orang tuamu pengertian dong Kia. Namanya aku belum lama kerja. Belum ada tabungan yang cukup. Lagian Kia, aku belum mau buru-buru nikah. Pengen menikmati masa bebas dululah, masa susah-susah nyari kerja hasilnya langsung dipakai buat nikah," dalih Irwan.
Kiara menarik napas dalam sekali lagi. Memang benar mencari kerja sekarang sangat susah dan Irwan baru beberapa bulan terakhir memulai, tapi Sudahlah! Kiara tidak ingin memperpanjang perdebatan. Sukses atau tidak pernikahannya dengan Enggar ke depan, tak ada alasan lagi untuk melanjutkan hubungan dengan Irwan.
"Iya! Karena itulah aku memutuskan kita masing-masing saja. Mulai sekarang, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi," tukas Kiara langsung mematikan sambungan ponsel sekaligus memblokir nomor Irwan, supaya tidak berurusan lagi.
"Kenapa diputusin pacarnya?"
Kiara kaget setengah mati lalu menoleh dengan jantung berdegup kencang.
"Ni ... Nirma? Kok enggak ketuk pintu dulu?" tanya Kiara tak enak hati karena ketahuan sedang berbicara dengan Irwan. Kiara merutuki kebodohannya sendiri. Ia lupa menutup pintu kamar sebelum mengangkat panggilan telponnya tadi.
"Udah beberapa kali ketuk dan manggil. Mungkin kamu terlalu serius berbicara dengan pacar. Eh ... mantan pacarmu maksudku. Santai aja, Kia. Aku gak akan ngomong macam-macam kok sama Kak Enggar," ucap Nirma tersenyum sambil menepuk pundak Kiara.
"Mau diomongin juga gak apa-apa. Toh, aku dan Enggar sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini. Aku yakin, Enggar tidak akan mempermasalahkan hal itu," sahut Kiara sambil menyunggingkan senyum tipis.
"Oooh, jadi kamu menikahi Kakakku karena terpaksa?" Nirma menatap Kiara lekat. Kiara mengangguk.
"Tapi kok nerima? Harusnya kamu nolak. Apalagi kalau sudah punya pacar. Kok tega sih?" Nirma memojokkn Kiara yang masih merasa bersalah pada Irwan.
"Bukan gitu, Nir. Semuanya sudah disiapkan secara matang oleh orang tua kita. Bahkan untuk undangan dan resepsi pun sudah mereka siapkan diam-diam. Aku bisa apa? Lebih enggak tega-lah aku ngecewain orang tua kita," Kiara menatap wajah Nirma yang menampakkan ketidaksukaan atas pernikahannya dan Enggar.
"Ah, alasan! Bilang aja kalo selama ini kamu diam-diam suka sama Kak Enggar, makanya mau-mau aja!" tuduh Nirma dan kontan menimbulkan kerutan di dahi Kiara. Kiara merasa heran dengan sikap Nirma. Sebelumnya mereka berdua beteman baik, kenapa setelah menjadi iparnya, sikap Nirma berubah drastis. Apakah selama ini Nirma diam-diam tidak menyukainya?
"Aduh Nirmaaa! Kamu kenapa sih? Aneh! Kalau aku mau sama Enggar, ngapain nunggu tua!" tukas Kiara sambil mundur dan duduk di dekat Nirma. Nirma malah menatap keluar melalui jendela, seolah tak mendengar apa yang baru saja dikatakan Kiara.
"Aku kasih tahu sama kamu ya Kia! Aku memang enggak setuju kamu nikah sama Kakakku. Bukan karena apa-apa. Aku hanya tak ingin kamu sengsara. Kak Enggar tuh orang yang cuek loh. Buktinya, anaknya aja selama dia cerai pernah enggak diajak kerumah? Enggak pernah 'kan? Kak Enggar juga enggk pernah tuh, tengok-tengok anaknya selama pisah sama Kak Asti. Kamu yakin bisa bertahan lama sama Kak Enggar?" Nirma memalingkan wajah dan menatap Kiara lekat. Gantian Kiara yang tertunduk sambil menggores-gores lantai dengan jempol kakinya.
Semua yang diucapkan Nirma benar. Pernikahan Enggar dan mantan istrinya dulu hanya seumur jagung. Enggar tak bertahan lama meninggalkan rumah, dan kembali seorang diri ke rumah mereka. Dengar-dengar Enggar meninggalkan istrinya dalam kondisi hamil. Kiara tidak mau ambil pusing soal cerita orang waktu itu, karena tidak menyangka bahwa yang ditakdirkan menjadi istri Enggar selanjutnya adalah dirinya.
Mendengar penuturan Nirma barusan, Kiara jadi semakin malas untuk serius menjalani pernikahannya. Apalagi sampai harus bersanding di pelaminan.
"Jadi, menurutmu bagaimana Nir? Aku harus apa? Semuanya sudah disiapkan secara matang oleh kedua orang tua kita. Aku tak mungkin menghancurkan semuanya. Bahkan hari ini aku sudah harus pindah ke rumahmu," tutur Kiara risau.
Nirma tersenyum dan menepuk pundak Kiara lembut." Tenang aja. Ikuti saja semuanya sesuai dengan apa yang mereka rencanakan sebelumnya. Hari ini kamu pindah aja ke rumah. Aku bantuin. Nanti kalau sudah di rumah, aku akan lindungin kamu. Kamu enggak perlu tidur sekamar sama Kak Enggar. Kalau Mama sama Papaku sudah tidur, kamu pindah tidur sama aku aja." Nirma menawarkan bantuan yang cukup melegakan bagi Kiara. Setidaknya ia tidak perlu tidur di luar bukan?
"Kamu serius, Nir? Kalau ketahuan bagaimana?" Kiara hampir tak percaya mendengar penuturan adik iparnya. Antara senang dan heran. Senang, karena merasa akan mendapat perlindungan. Heran karena tak tahu atas dasar apa Nirma ingin membantunya.
"Itu urusanku. Yang penting kamu nurut aja dulu sama aku, pasti enggak akan ketahuan." Nada bicara Nirma terdengar sangat meyakinkan.
Kiara mengangguk senang. Sepertinya Nirma benar-benar bisa diandalkan sebagai pemisah antara dirinya dan Enggar .
"Aku akan selamat," batin Kiara sambil tersenyum.
Nirma pun tersenyum senang, mendengar kesanggupan Kiara untuk menurut pada dirinya tanpa bertanya mengapa dan untuk apa ia melakukan semua itu.