Pindah Lima Langkah

1258 Kata
Dengan bantuan Nirma, akhirnya hari itu juga Kiara memindahkan beberapa barangnya ke kamar Enggar. Di kamarnya, Enggar yang semula berbaring langsung duduk melihat kedatangan Nirma dan Kiara dengan bawaan masing-masing. "Eh, belum dijemput, sudah datang duluan. Ngebet juga kamu mau pindah ke rumahku. Heheheh!" Kekehan Enggar membuat Kiara dan Nirma saling lirik. "Aku yang jemputin Kak," sahut Nirma sambil meletakkan tas di dekat salah satu pintu lemari Enggar. Enggar tak perduli, kembali berbaring dan menenggelamkan kepalanya di balik bantal. Kiara dan Nirma kembali mengambil barang-barang milik Kiara di seberang. Kiara tersenyum malu saat berselisihan dengan Bu Jeny. Kiara malu mengingat perbuatannya tadi. Bu Jeny pura-pura acuh, padahal ia sangat ingin tertawa melihat tingkah menantunya yang unik tersebut. "Kak Enggar ngapain ngikutin?" pertanyaan Nirma membuat langkah Kiara terhenti dan langsung menoleh. "Mau bantuin kalian, disuruh mama," jawab Enggar datar. "Eeh! Enggak usah Kak, biar aku aja yang bantuin Kia. Udah Kakak tidur aja sana. Kakak kayaknya kurang tidur. Nanti sakit loh. Kita berdua kan bisa aja. Iyakan Kia?" Nirma mendorong tubuh Enggar mundur sambil menoleh pada Kiara yang spontan mengangguk. Kiara lumayan kaget mendengar penolakan Nirma. Bukankah wajar jika Enggar membantunya? Tapi ya sudahlah! Terserah saja yang penting diantara mereka berdua ada yang bantuin. Kiara kembali melanjutkan langkah menuju rumahnya dengan gontai. Nirma mengikuti langkah Kiara, sementara itu Enggar kembali ke kamar seperti yang diperintahkan adiknya. Penghuni dua rumah yang saling berseberangan itu terlihat lebih sibuk dari hari-hari sebelumnya. Bu Jeny dan Bu Lilis silih berganti menyeberang jalan. Sepertinya mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan resepsi pernikahan. Sementara itu, Enggar dan Kiara sama-sama acuh soal itu. Mereka berdua malah sama-sama berharap resepsinya dibatalkan saja, meskipun itu mustahil karena persiapan mereka semakin matang. Bu Lilis dan Bu Jeny bahkan sudah kompak menyiarkan pada tetangga terdekat, bahwa sebentar lagi mereka harus bersiap untuk rewang. *** Malam hari di rumah Enggar. "Ini pakaianku ditaruh dimana?" Kiara membuka beberapa pintu lemari. Semuanya penuh dengan baju-baju Enggar. "Lemarimu 'kan ada. Kenapa enggak sekalian dibawa nyeberang?" sahut Enggar acuh. Kiara menarik napas dalam dan melirik Enggar jengkel. "Berat. Aku sama Nirma perempuan kali!" Enggar hanya tertawa mendengar jawaban Kiara. "Siapa suruh. Tadi aku mau bantuin, sok kuat. Nolak," jawab Enggar membuat Kiara terdiam. Semula ia memang ingin meminta bantuan Enggar, tapi Nirma mengatakan tidak perlu. Kasihan Enggar. Cuti waktunya dia istirahat. Begitu alasan Nirma yang masuk akal juga menurut Kiara. Sudah cukup malam sebelumnya dia membuat Enggar menderita. Untuk menambah deritamya, sementara ini hati Kiara belum tega juga. "Ya sudah! Kalau gitu biarin aja pakaianmu gak usah keluar-keluar dari tas. Kalau mau pakai, keluarin. Udah bersih masukin lagi. Gitu aja terus," usul Enggar membuat Kiara geram. "Ya capeklah. Hedeh! Kurang kerjaan." Kiara langsung cemberut dan langsung menata barang bawaannya di lantai. "Ya kalau gitu, besok kamu antar lagi aja pakaian kamu kembali ke dalam lemarinya di seberang sana," sahut Enggar tak mau tahu lagi. Kiara mendelik mendengar usul Enggar. Bagi Kiara semuanya tidak masuk akal. Masa iya dia harus bolak-balik ke rumahnya setiap hari kalau mau mandi? Kiara jadi mencak-mencak sendiri karena kesal pada Enggar. Sementara itu Enggar tetap acuh, menatap layar ponsel dan fokus berbicara pada lawan mainnya di situs game online. Sikapnya membuat Kiara makin jengkel, karena Enggar membuat suasana jadi brisik. Berkali-kali ia melirik jam dinding. Bu Jeny dan Pak Marsudi masih berbincang di ruang tamu, entah membicarakan apa. Yang jelas, Kiara semakin malam semakin gelisah memikirkan jam berapa dia harus ke kamar Nirma. Engap rasanya bila terus berada di kamar Enggar sampai malam. Apalagi Enggar seperti tidak memberi tempat untuknya di kamar tersebut. Dari tadi Kiara lelah, tapi mau berbaring di dekat Enggar gengsi juga. Apalagi Enggar tidak ada menawarkan tempat untuknya di pembaringan. Sejak tadi dia hanya berpindah-pindah duduk dari kursi ke lantai. "Kenapa? Gelisah amat? Mau tidur? Ya tidur aja di situ," ucap Enggar sambil memasang charger ke ponsel. Enggar main game sampai kehabisan daya rupanya. Kiara menoleh. "Nyuruh aku tidur dimana?" "Ya di situ! Setidaknya itu lebih bagus daripada di luar sana." Enggar menunjuk ke lantai dan ke arah teras bergantian. "Belum tahu dia, kalau aku bakal tidur ke kamar Nirma," batin Kiara sambil mencebik. Enggar membalikkan badan tanpa mau perduli pada nasib Kiara selanjutnya. Rupanya Enggar benar-benar dendam atas penderitaan akibat ulah Kiara di malam sebelumnya. Kiara pun tak berani memaksa. Hampir satu jam Kiara gelisah, akhirnya Nirma mengirim pesan WA juga padanya. [Aman. Ke kamar sekarang. Mama sama Papa udah tidur dari tadi. Aku sudah cek ke kamar mereka] "Yeeeesss!" Kiara melonjak-lonjak kegirangan setelah membaca pesan dari Nirma. Enggar yang baru mulai terlelap mendadak kaget."Ya Allah Kia! Kamu ini. Emang enggak bisa ya liat aku tidur tenang! Bikin sakit kepala aja!" Enggar menegakkan badan sembari mengacak rambutnya yang sudah tak beraturan. "Uppsss! Maafkan. Aku kesenangan. Gar, kunci pintunya rapat-rapat ya. Aku mau tidur nyenyak dulu." Kiara berbicara sambil berbisik-bisik, membuat Enggar heran. Kiara langsung membawa selimut dan bantal kesayangannya menuju kamar Nirma. Enggar jadi penasaran dan bertanya-tanya. Kiara mau tidur kemana? Untuk menjawab rasa penasarannya, diam-diam Enggar mengikuti langkah Kiara. Enggar bernapas lega saat melihat Kiara menuju kamar Nirma. Semula Enggar mengira Kiara ingin pulang ke rumahnya. Jika itu terjadi, tak akan ia ijinkan karena bisa membuat masalah untuk. Kini Enggar bisa bernapas lega dan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur dengan tenang setelah mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Enggar yakin, untuk malam ini dan seterusnya, semuanya akan aman terkendali. *** Keesokan harinya, sebelum waktu salat subuh berbunyi dari masjid terdekat, Kiara sudah bersiap kembali ke kamar Enggar. Sebelumya dia sudah menghubungi Enggar untuk membuka kunci pintu. Kiara tidak langsung begitu saja meninggalkan kamar Nirma. Nirma terlebih dulu keluar untuk mengecek situasi rumah sampai ke dapur, dan setelah memastikan keadaan aman, barulah Nirma kembali ke kamar dan memberitahukan pada Kiara yang menunggunya di dekat pintu. "Makasih ya Nir," ucap Kiara sambil berjalan pelan-pelan membawa peralatan tidurnya kembali ke kamar Enggar. "Heem. Enggak usah bilang makasih kali. 'Kan kamu bakal setiap malam juga tidur sama aku. Iyakan?" ucap Nirma yang mengantar Kiara sampai ke depan kamar Kakaknya. "Boleh?" Kiara berhenti sejenak dan menolah. Hampir tak percaya dia pada ucapan adik iparnya. "Boleh banget. Pintuku terbuka lebar buatmu. Udah cepat masuk. Sebentar lagi mama terbangun. Kalau ketahuan bisa berabe." Nirma mendorong tubuh Kiara yang sudah berada di ambang pintu agar cepat-cepat masuk. Setelah itu Nirma memilih ke dapur dan mulai memasak menu sarapan pagi untuk semua anggota keluarga mereka. Tak lama kemudian, Kiara juga menuju dapur. Meskipun tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dia selalu mengandalkan Bu Lilis dalam hal memasak, setidaknya Kiara ikut berada di dapur. Sungkan juga rasanya di rumah mertua bila menunggu makanan tersedia baru menuju dapur. Kiara ingat betul pesan ibunya soal bangun pagi di rumah mertua. "Eh, Kiara sudah bangun langsung ke dapur aja. Enggak mandi dulu biar bisa salat? Habis itu baru deh ke dapur?" tanya Bu Jeny tiba-tiba sudah datang dan bergabung dengan mereka sambil menatap Kiara. "Mandi? Kenapa aku harus mandi subuh-subuh? Kan bisa pagi?" tukas Kiara polos, di sambut lirikan tajam Nirma yang tak bisa dimengerti oleh Kiara maksudnya. "Ah, iya! Ehm ... iya Bu. Mandi. Iya Mandi. Kia mandi dulu ya. Lupa ...." jawab Kiara langsung sambil tersenyum malu-malu. Tiba-tiba Kiara teringat pada perbincangannya dengan mayang via WhatApp kemaren soal malam pertama. Pantas saja Nirma melirik tajam padanya. Pastilah Bu Jeny berpikir malam tadi dia sudah berbuat m***m dengan Enggar. Hih! Tapi tak apalah. Itu lebih bagus supaya mertuanya tidak curiga. Biar saja dia mandi setiap subuh. Sekarang tugasnya adalah, memaksa Enggar yang masih meringkuk di dalam selimut mau mandi keramas juga, supaya lebih meyakinkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN