Dia Kenapa Sih?

1151 Kata
Kiara melangkahkan kakinya dengan malas menuju kamar. Enggar yang baru saja berniat melanjutkan tidurnya heran, melihat Kiara masuk dengan wajah cemberut. Ia langsung membongkar tasnya untuk mencari sesuatu. "Susah 'kan! Pake bongkar-bongkar dulu baru nemu. Huh!" omelnya sambil mengeluarkan handuk dan pakaian ganti. "Kamu mau mandi? Sesubuh ini? Tumben amat! Biasanya sampe sore juga kamu tahan enggak ganti pakaian. Apalagi mandi," ucap Enggar sambil tergelak. "Kata siapa?" ketus Kiara. "Kata Bu Lilis kalau ngomong sama mama," sahut Enggar menyebut nama mertuanya sambil tertawa lebar. Kiara mendekat sambil menatap Enggar lekat-lekat dengan wajah mendekat. Enggar menarik wajah ke belakang sambil menutup hidung dengan jari tangan kiri, dan sebelah telapak tangannya dikebas-kebasnya didepan wajah. "Maksudku ... kata siapa aku mau mandi sendiri. Kamu juga harus mandi," bisik Kiara sambil menoleh ke arah pintu kamar yang masih dalam keadaan terbuka. "What? Kenapa dan demi apa? Enggak ah. Aku kalau masih cuti memang mandinya siang," tolak Enggar. Kiara langsung terkekeh sambil menarik wajahnya kembali dan melangkah untuk menutup pintu kamar. "Tapi mulai sekarang harus dan wajib mandi setiap subuh. Biar dikira mama kamu kita habis ...." Kiara menggantung ucapannya karena risih bila menyebutkan terang-terangan. "Habis apa?" sambar Enggar langsung. "Habis mantap-mantaplah!" sahut Kiara akhirnya, dan malah membuat Enggar tertawa sambil meledeknya. "Hampir keselek aku dengarnya. Jangan ngada-ngada Kia. Bilang aja kalau kamu emang mau ...." "Mau apa?" ketus Kiara melihat Enggar menggodanya dengan alis naik turun. Enggar malah tertawa lebar. "Mau dielus-elus!" Kiara mendelik sambil bergidik mendengar ucapan Enggar. Kiara ngeri sendiri membayangkan tangan duda beranak satu tersebut menempel di tubuh dan menggerayanginya. "Please Enggar Pramudya. Bangun dan mandilah. Ini demi kamu juga. Biar sandiwara kita berjalan lancar, biar mereka enggak curiga dan berjaga. Biar mereka enggak tahu kalau aku tiap malam bakal tidur di kamar Nirma," pinta Kiara dengan suara perlahan melemah. Ia mulai capek adu mulut dengan suami dadakannya, karena selalu kalah. Enggar benar-benar menjadikannya bahan ledekan saja. "Heeem!" Hanya deheman sebagai jawabannya. Entah deheman tanda setuju atau tidak perduli. Kiara mengembus napas berat melihat Enggar malah menggulung diri dalam selimut lagi, sementara azan subuh sudah mulai berkumandang. Putus asa dengan sikap Enggar, akhirnya kiara memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru menunaikan ibadah salat subuh. Terserah Enggar mau mandi atau tetap tidur sampai siang. Yang jelas, jika Enggar keluar dari kamar sebelum matahari terbit, rambutnya wajib basah. Kiara masuk ke kamar mandi lebih dulu dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air yang dingin. Kamar tidur Enggar dan Nirma memiliki ukuran yang sama sekitar 3x5. Meskipun minimalis, kamar mereka di desain sama. Sama-sama dilengkapi dengan kamar mandi dalam. Di rumah ini, hanya kamar mertua Kiara yang lebih besar. Kiara mengigil, karena tidak terbiasa mandi subuh-subuh. Terakhir ia mandi subuh-subuh ketika ada acara di kampusnya saat masih kuliah beberapa tahun silam. Cepat- cepat Kiara menyudahi mandinya lalu mengenakan pakaiannya langsung. Setelah itu ia mengambil air wudhu dan langsung menghampar sajadah dan memasang mukenah untuk melaksanakan ibadah dua raka'at. Sampai Kiara selesai salat, Enggar tak kunjung bergerak di pembaringan. Kiara jadi kesal. "Enggar! Terserah kamu mau mandi apa enggak. Yang jelas, kalau kamu keluar dari sini sebelum jam 6, rambutmu wajib basah. Huh!" dengus Kiara sambil menyisir rambutnya yang awut-awutan dan meninggalkan Enggar sendirian untuk menyibukkan diri kembali ke dapur. "Lama amat mandinya. Ngapain aja di kamar?" sambut Nirma sambil melirik Kiara sekilas. Tangannya tetap bergerak memotong-motong bawang. "Namanya juga pengantin baru, Nir. Terserah mereka mau ngapain dulu di kamar. Namanya juga suami istri. Udah ah! jangan banyak tanya. Kamu enggak boleh lagi terlalu campuri urusan Kakakmu! Oh ya, mulai sekarang biasakan panggil Kiara dengan sebutan Kakak juga, dan bicaralah selayaknya seorang adik yang berbicara dengan kakaknya!" titah Bu Jeny cepat dengan nada ditekan karena melihat Kiara diam saja. Kiara jadi salah tingkah. Nada bicara Bu Jeny seperti mengecam Nirma. Kiara jadi takut, kalau nanti ketahuan dia tidur di kamar Nirma, akan membuat masalah. Kiara melirik Nirma yang masih memotong bawang. Sebenarnya bawang tersebut tak seberapa keras, namun entah mengapa talenannya sampai mengeluarkan suara saat beradu dengan pisau. Bu Jeny berulang kali menarik napas dalam seperti saat melirik Nirma yang mendadak diam. Dari tarikan napasnya, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati wanita tersebut. Kiara masih berdiri bengong, antara bingung akan sikap Nirma dan Bu Jeny, juga bingung karena tak tahu harus melakukan apa di dapur. Pekerjaan rumah satu-satunya yang jadi tugas Kiara selama ini hanya mencuci piring. Itu pun berkali-kali di-omeli karena dalam setahun Kiara bisa mengorbankan 2 sampai 3 lusin piring, gelas, dan mangkuk milik ibunya. Saat ini, Kiara tidak melihat adanya tumpukan benda tersebut di atas wastafel tempat cuci piring. Soal memasak Kiara memang tak pernah ikut campur lagi setelah dia membuat keributan beberapa kali di depan kompor. Keributan terakhir yang dibuatnya malah melibatkan tetangga karena dapur mereka hampir terbakar. Penyebabnya adalah Kiara yang semula diberi tanggung jawab untuk menggoreng ikan asik berselancar di dunia maya, hingga api menyala ke dalam wajannya yang berisi minyak panas. Karena minyaknya lumayan banyak, api di dalam wajan tersebut berkobar cukup tinggi, hingga menyambar ke beberapa baskom plastik yang bergantung di atas kompor mereka. "Kia, hari ini kamu ke pasar minta antarin sama Enggar ya?" Bu Jeny berpaling menatap Kiara. "Ke pasar? Beli apa?" tanya Kiara panik. Urusan belanja di pasar, biasanya Kiara hanya mengantar ibunya dan memilih menunggu di parkiran saja sambil scroll t****k. "Nanti ada catatannya sama Mama-mu. Kamu ambil aja dulu, sekalian tanyain apa lagi yang mau ditambahin? Itu Enggar udah bangun apa belum? Udah mandi apa belum?" tanya Bu Jeny sambil melirik rambut Kiara yang helainya masih saling menyatu karena basah. "Aku udah mandi kok!" sahut Enggar tiba-tiba muncul dengan rambut yang sama-sama basah juga. Kiara mengerutkan kening. Cepat sekali Enggar mandi. Baru saja dia meninggalkan kamar. "Masak apa Nir? Bau-baunya masak enak nih," Enggar menghampiri Nirma. "Masak nasi uduk kesukaan Kakak," sahut Nirma ceria sambil menekan tombol on pada blender yang menimbulkan suara cukup bising sejenak. Tapi keceriaannya redup saat Bu Jeny menajamkan tatapan pada putrinya. "Udah Nir, kamu enggak usah sibuk lagi buatkan sarapan Enggar. Dia sudah punya istri. Lagian Enggar dan Kiara harus ke pasar pagi-pagi banget hari ini. Biar mereka berdua sarapan di pasar. Udah sana kalian siap-siap berangkat. Aku ambil catatan belanjaan dulu ke seberang, kamu panasin mesin mobil, Gar. Kuncinya ada di dalam lemari depan," ujar Bu Jeny langsung bergerak cepat meninggalkan dapur. Enggar pun ikut meninggalkan dapur untuk melaksanakan perintah ibunya. Kiara jadi semakin heran melihat sikap dan mendengar perintah ibu mertuanya. Bukankah tadi Bu Jeny sendiri yang menyuruhnya mengambil catatan ke seberang. Kenapa semua harus buru-buru sih? Kiara jadi ebih heran lagi saat melihat Nirma menyeka sudut matanya yang basah. "Kamu kenapa Nir? Kok nangis?" Kiara memberanikan diri bertanya. Nirma berusaha menyunggingkan senyum sambil menggeleng. "Enggak apa-apa Kok. Kadang aku emang suka gitu kalau lagi ngiris bawang." Kiara mengangguk seolah paham, meskipun dalam hatinya tetap merasa ada yang aneh. Memangnya kalau mata keperihan habis motongin bawang tuh, nangisnya setelah bawangnya sudah hancur di dalam blender ya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN