Kiara mematut diri di depan cermin, menatap wajahnya yang polos tanpa polesan apa-apa. Kiara tak suka berdandan layaknya wanita-wanita lain. Selama ini dia hanya keluar memakai bedak tipis dan lipstik. Itupun jika ingat dan tidak dalam kondisi buru-buru. Untuk pensil alis, maskara, eyeliner, dan make up Kiara memakainya hanya dua kali. Yang pertama di pernikahan Farel, dan yang kedua tentunya di pernikahan Rista. Itupun melalui proses perdebatan yang panjang dengan ibunya, sampai akhirnya Kiara mengalah karena Bu Lilis mengancam akan mengurungnya di kamar sampai acara selesai jika tidak mau menurut.
"Kiaa! Ini catatan belanjaan dan uangnya," ucap Bu Jeny dari luar. Kiara berdiri lalu membuka pintu kamar dan menghampiri mertuanya yang berdiri agak jauh dari pintu.
"Ini catatannya, ini keranjang belanjanya, dan ini uangnya." Bu Jeny menyodorkan selembar kertas dan sejumlah uang. Kiara menatap kertas tersebut dengan teliti. Mendadak hatinya ragu mampu berbelanja dengan benar. Nama-nama barang yang tertulis di kertas tersebut sebagian asing baginya. Hanya bawang merah, bawang putih, cabe, tomat, dan kecap yang pernah ia beli sendiri.
"Bu, brokoli itu yang mana ya? Bawang bombay itu yang mana? Terus kecombrang itu belinya di penjual apa Ya?" Kiara berbicara sambil terus menatap kertas di tangannya.
"Brokoli itu yang ...."
"Ya sudah Ma. Kalau Kiara banyak bingungnya, daripada salah-salah mending aku aja yang ke pasar sama Kak Enggar," tiba-tiba Nirma muncul dari arah dapur langsung memotong ucapan Bu Jeny yang ingin menjelaskan pada menantunya.
Bu Jeny dan Kiara sama- sama mendongakkan wajah dan berpaling menatap ke arah sumber suara. Bu Jeny lalu menggeleng tegas.
"Maa! Ini demi persiapan acara Kak Enggar dan Kiara juga. Euum ... maksudku Kak Kiara juga," ucap Nirma meralat ucapannya dengan nada pelan, seperti berusaha meyakinkan Bu Jeny akan suatu hal.
Kiara hanya menyimak. Sebenarnya dia sangat bersyukur jika Nirma diperbolehkan untuk mengambil alih tugasnya berbelanja ke pasar. Tapi Kiara tak ada keberanian mengutarakan keinginannya.
"Enggak!" suara Bu Jeny tegas menolak membuat Kiara kecewa.
"Tapi, Bu. Kia benar-benar tidak mengerti sebagian dari barang yang ingin dibelanjakan ini. Kalau salah-salah gimana? Mungkin sebaiknya memang Nirma saja yang ke pasar. Nirma 'kan terbiasa berbelanja," Kiara memberi alasan yang cukup logis.
Selama ini memang Nirma sering menemani Bu Jeny berbelanja kebutuhan mereka. Kiara tahu itu, karena Bu Lilis sering membanding-bandingkan hal tersebut bila sedang marah padanya yang tak pernah becus saat di perintah membeli sesuatu ke pasar.
"Tuh, 'kan Ma. Kak Kia aja nyerah duluan," tukas Nirma membuat Bu Jeny harus mengembus napas berat.
"Ada apa sih, Ma?" tanya Enggar yang melalui mereka bertiga setelah ia memanaskan mesin kendaraab di luar untuk mengambil jaket ke dalam kamarnya
"Ini, si Kia banyak enggak ngerti bahan-bahan ini. Kamu ngerti 'kan Gar? Kamu bisa kan membantu Kiara berbelanja?" Bu Jeny menatap putranya sambil memperlihatkan kertas catatan belanja tadi. Enggar meraih dan membaca isinya, lalu tergelak.
"Ya ampun Ma. Mana aku tahu. Lagian, biar aku tahu pun aku mikir-mikir nemanin dia masuk ke pasar. Aku maunya nunggu aja di mobil. Paling nanti banyak bengongnya dia di dalam," tolak Enggar sambil mengembalikan kertas tersebut pada ibunya dengan masih tertawa kecil. Ia melanjutkan langkahnya ke kamar.
Kiara meremas jemari. Ucapan Enggar menjurus ke ejekan terhadapnya. Mungkin maksud Enggar dia malu masuk ke pasar menemaninya. Jawaban Enggar juga membuat Bu Jeny terpaksa menyetujui permintaan Nirma.
"Ya udah. Kalau begitu yang ke pasar kalian bertiga biar lebih ringan dan tidak ada salah-salah. Tapi yang pegang uangnya tetap Kiara. Nih!" Bu Jeny menyerahkan uang dan kertas belanjaan ke tangan Kiara, dan menyerahkan tas belanja ke tangan Nirma, pertanda ia ingin mereka bekerja sama.
Nirma tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan ibunya. Bu Jeny lalu meninggalkan mereka. Tak lama berselang, Enggar keluar dari kamar dalam keadaan siap.
"Ayo cepat!" ucapnya tanpa perduli siapa yang akan ikut bersamanya. Nirma dan Kiara mengikuti langkah Enggar secara beriringan di belakangnya.
Saat mendekati garasi, Nirma mempercepat langkah menuju mobil. Dengan cekatan ia membuka pintu depan mobil. Rupanya Nirma buru-buru karena ingin duduk di depan.
"Kak Kia di belakang aja ya? Aku kadang-kadang mabuk kalau duduk di belakang," ucap Nirma sembari menghempas tubuhnya di jok depan. Kiara malah mengangguk kesenangan karena tidak harus duduk sejajar dengan Enggar. Mobil Avanza Veloz berwarna hitam itu pun perlahan meninggalkan rumah dan membawa mereka bertiga menuju ke Pasar Wisma.
Sepanjang perjalanan hanya ocehan Nirma yang mendominasi. Enggar sesekali tertawa dan menjawab apa yang Nirma tanyakan. Sementara Kiara di belakang seperti patung. Duduk manis tanpa kata. Dalam diamnya, Kiara merasa sedikit heran. Dia baru tahu jika Nirma sebawel itu jika berbicara dengan kakaknya. Selama ini Bu Jeni tidak pernah menceritakan kedekatan mereka sebagai saudara. Tapi biarlah. Kiara merasa itu adalah hal yang sah-sah saja. Namanya juga saudara. Bukankah selama ini dia juga sering bawel pada Rista dan Farel?
Perjalanan menuju pasar sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama. Tapi karena mereka berangkat tadi bertepatan dengan jadwal bus perusahaan menjemput karyawan yang menungggu di tepi jalan, perjalanan yang seharusnya memakan waktu 15 menit menjadi 40 menit.
Di daerah mereka mata pencaharian masyarakat memang kebanyakan bergantung pada perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan yang menghasilkan emas hitam. Selain di perusahaan pertambangan, masyarakat juga kebanyakan menggantung hidup pada perusahaan kayu berbasis di Indonesia.
Kegiatan utama Perusahaan kayu berbasis terdiri dari pengolahan kayu, kegiatan penebangan, operasi hutan tanaman industri, serta perdagangan ekspor, impor dan lokal.
"Macet banget Kak, kita mampir sarapan dulu yok. Aku udah lapar nih. Mumpung di depan ada yang sudah buka pagi-pagi," rengek Nirma dengan nada manja.
Enggar menoleh sebentar ke belakang menatap Kiara, dan Kiara membuang muka. Merasa tak mendapat persetujuan juga penolakan, Enggar langsung menepi ke sebuah warteg yang menjual menu sarapan khas Kalimantan. Nasi kuning seraundeng berpasangan dengan lauk bumbu merah. Lauknya terdiri dari telur, ikan haruan, ikan tongkol, dan ayam.
"Ayo, turun. Kita Sarapan," ajak Enggar sambil melepas seat belt. Kiara menggeleng. Dia tidak terbiasa makan sepagi ini. Biasanya setelah salat subuh, Kiara langsung tidur lagi dan terbangun saat perut merasa lapar atau mendengar omelan dari mulut ibunya.
"Kenapa?" tanya Enggar memalingkan wajah menatap Kiara.
"Ya karena belum lapar," sahut Kiara singkat sambil menatap ke samping, menatap mobil dan sepeda motor yang berbaris rapi menunggu giliran maju.
"Minun teh aja, yang hangat," usul Enggar dan di sambut gelengan kembali oleh Kiara.
"Ya udah sih Kak. Orang enggak mau ngapain dipaksa? Biar aja dia di mobil, kita aja yang sarapan," tukas Nirma tak begitu semangat mengajak Kiara turun.
Enggar melirik Kiara sekali lagi , kemudian ikut turun mengikuti Nirma yang sudah meninggalkan mobil. Kiara memilih menunggu sambil berselancar di dunia maya sampai mereka selesai sarapan.
Hampir 20 menit menunggu, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Kemacetan di jalan raya juga berkurang, karena mentari pagi mulai merangkak naik.
Tiba di pasar, Kiara langsung turun namun tidak dengan Nirma. Gadis yang lebih muda 8 tahun daripada Kiara tersebut malah menyandarkan tubuhnya di jok mobil.
"Loh, Nir. Kamu kok malah gitu?" tanya Kiara.
"Perutku mendadak enggak nyaman Kak habis sarapan tadi. Aku di sini aja ya," pinta Nirma sambil meringis-ringis memegang perutnya.
"Yaaah ... kalau salah gimana?" Kiara bergumam seperti bertanya pada dirinya sendiri, namun Enggar masih mendengarnya.
"Ya sudah kalau gitu. Daripada aku kelamaan nungguin kamu bingung di dalam, ayok!" Enggar membuka pintu mobil dan mengalah akhirnya. Terpaksa dia turun mengikuti Kiara. Baru beberapa langkah mereka meninggalkan parkiran, terdengar seruan Nirma dari belakang.
"Kaaak! Tunggu! Aku ikuuut!"
Enggar dan Kiara menoleh serempak. Nirma sedang berlari-lari menuju mereka. Loh, kok mendadak kuat dan sehat? Sebenarnya Nirma maunya apasih?