"Cepat amat sembuhnya, Nir?" ucap Kiara sembari menahan langkah.
"Ehm, i-iya. Udah enakan kok. Aku takut Kak Kia salah-salah belanjanya. Udah Kak Enggar tunggu aja di mobil. Biar kami yang belanja."
Nirma menarik Enggar mundur supaya bisa melangkah bersisian dengan Kiara. Enggar yang sejak tadi memang tak berminat ikut masuk, langsung melangkah menuju parkiran kembali. Sementara itu, Kiara dan Nirma langsung mencari nama-nama sembako dan sayur yang tertera di kertas.
Saat keduanya sedang memilih tomat, tiba-tiba ponsel Kiara berdering. Bu Jeny melakukan panggilan video. Kiara mengernyitkan dahi sambil mengusap tombol penerima panggilan.
"Assalamu'alaikum. Apa ada yang lupa di catat Bu?" tanya Kiara sambil menatap wajah ibu mertuanya di layar.
Bu Jeny menggeleng. "Enggak. Ibu cuma mau memastikan. Kamu masuk ke pasar sama siapa?"
"Sama Nirma, Bu," sahut Kiara sambil memutar layar ponsel ke arah Nirma yang menoleh sekilas.
"Oh, ya sudah kalau gitu. Assalamu'alaikum."
Wajah Bu Jeny langsung menghilang dari layar. Kiara jadi merasa aneh. Mertuanya melakukan video call hanya untuk bertanya hal yang menurut Kiara tak penting sama sekali.
"Masih banyak yang belum dibeli ya, Nir?" tanya Kiara. Sejak tadi yang memegang kertas catatan belanja dan uang adalah Nirma. Kiara hanya bertugas mengikuti dan membawa belanjaan yang semakin lama semakin berat bagi Kiara.
"Tinggal beli ikan tongkol tiga kilo sama telur 1 piring," sahut Nirma sambil melangkah ke arah lain. Mungkin menuju penjual ikan.
Kiara yang sudah menenteng tas belanjaan penuh, mengikuti langkah Nirma dengan susah payah. Nirma berhenti di penjual telur. Setelah membayar sepiring telur, Nirma berlalu begitu saja menuju ke deretan penjual ikan. Bawaan Kiara jadi lebih berat.
"Nir, tangan aku udah penuh nih. Aku langsung ke mobil aja ya. Ikannya 'kan bisa kamu bawa sendiri nanti?" seru Kiara karena posisi Nirma sudah agak jauh di depannya. Nirma berbalik dan menatap bawaan Kiara. Nirma lalu melangkah mendekati Kiara kembali.
"Barenglah! Sinih! Biar telurnya aku yang bawa!" sahut Nirma terdengar agak ketus di telinga Kiara. Nirma langsung mengambil alih telur dan kembali menuju penjual ikan.
"Ikan tongkolnya tiga kilo Pak. Pilih yang segar. Berapa semua Pak?" tanya Nirma sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Sekilonya dua puluh lima ribu. Jadi tujuh puluh lima semuanya, Mbak."
Nirma langsung membayar dengan uang pas.
"Dipotong-potong Mbak?" tanya penjual sambil memasukkan beberapa ekor ikan tongkol ke dalam piring timbangan duduk.
"Iya Pak. Potong tiga aja. Nanti kasih ke dia ya kalau sudah selesai. Aku duluan ya Kak Kia!" Nirma menunjuk pada Kiara yang berdiri di sampingnya, sekaligus pamit keluar lebih dulu. Sebenarnya Kiara ingin protes karena dia ditinggal sendirian. Tapi, khawatir Nirma tak mau menerimanya pindah tidur saat malam hari, akhirnya Kiara memilih diam dan mengangguk saja.
Nirma melenggang meninggalkan pasar ikan membawa sepiring telur saja. Sementara Kiara berulang kali menutup hidung, menahan rasa ingin muntah karena serangan bau amis dari sisi kanan dan kirinya. Sambil menunggu ikan selesai dibersihkan, Kiara memilih menjauh sejenak sekedar mengurangi aroma khas pasar ikan yang menusuk indra penciumannya.
Memang kebiasaan di Pasar Wisma, ikan yang sudah dibeli langsung dibersihkan. Bahkan ada sebagian pedagang yang langsung menyediakan bumbu untuk dilumuri khusus ikan goreng. Tentu saja dengan tambahan harga. Hal itu merupakan bagian dari usaha mereka untuk menarik minat pembeli. Tak bisa dipungkiri, saat ini manusia hidup di jaman yang serba instan. Semua Penjual menawarkan kemudahan dan kenyamanan pada konsumen.
Cukup lama Kiara berdiri menunggu, karena penjual tadi tidak fokus membersihkan ikannya saja. Beberapa kali kegiatannya terhenti, karena harus melayani pembeli lain. Kebiasaan mereka, bila pembeli lain hanya membeli sekilo atau setengah, penjual mendahulukan yang sedikit dalam hal menyiangi. Sekitar 40 menit kemudian, barulah Penjual Ikan tadi memanggilnya.
"Ini Mbak, sudah selesai. Maaf ya lama. Lagi rame soalnya," ucap Penjual sambil menyodorkan kresek berwarna hitam.
"Enggak apa-apa. Terima kasih Pak," sahut Kiara sambil menyambut tambahan bawaannya.
Lekas Kiara berjalan meninggalkan pasar ikan. Setelah agak jauh, barulah dia membetulkan bawaannya. Kiara merasa begitu kesulitan, karena tangan kanan dan kirinya kini sama-sama membawa beban berat. Berkali-kali Kiara berhenti untuk mengurut-urut pergelangan tangannya yang mulai sakit.
Ya Ampun!
Kiara menepuk jidatnya sendiri. Kenapa dia tidak menelpon Enggar saja dari tadi untuk membantunya? Kiara geleng-geleng kepala memikirkan kebodohannya. Lekas ia meraih ponsel dan menghubungi Enggar.
"Hallo, Gar! Bawaanku berat niiih! Bantuin dong aku masih di dalam," rengek Kiara begitu panggilannya dijawab.
"Wah, aku lagi jauh dari pasar ini. Tadi Nirma minta temanin ke toko baju. Katanya mau cari baju buat acara nanti. Ternyata masih tutup juga," sahut Enggar membuat Kiara berdecak sebal.
"Ya tutuplah, belum jam 10. Kemana aja selama bertahun-tahun tinggal di sini, sampai enggak tahu kalo toko baju sekitaran sini bukanya jam 10? Hiiissshh!" desis Kiara jengkel sembari memutuskan panggilan dan langsung menonaktifkan ponselnya.
Kiara menyimpan ponsel dalam tas selempangnya, lalu mengangkat tas belanjaan dan kresek ikan yang tergeletak di dekat kakinya bersamaan. Kali ini Kiara merasa bawaannya jadi lebih ringan. Mungkin karena dia melangkah dengan perasaan marah pada Enggar dan Nirma. Bisa-bisanya mereka meninggalkan dirinya seorang diri di Pasar.
Tanpa terasa, Kiara berjalan cepat menuju tempat mobil mereka parkir tadi. Benar, tidak ada mobil di parkiran. Kiara meletakkan bawaan dan menghempas tubuhnya gusar di kursi tunggu yang di susun memanjang. Ia menyalakan kembali ponselnya. Ponselnya langsung berdering, sekali, dua kali, bahkan berulang kali. Berkali-kali pula Kiara mereject panggilan telpon dari Enggar. Entah mengapa kali ini Kiara jadi marah besar pada suaminya.
Lagi-lagi Kiara menunggu hampir setengah jam. Jam lapar Kiara mendadak maju. Mungkin karena dia banyak mengeluarkan tenaga dari pagi. Kiara menengok ke sekitaran parkiran. Tidak ada orang yang menjual makanan di dekatnya. Kakinya sudah lemas bila harus berjalan lagi untuk mencari sarapan. Akhirnya Kiara menunggu Nirma dan Enggar sambil memegangi perutnya yang mulai mengeluarkan bunyi pertanda minta diisi.
"Di telpon kok enggak nyambung-nyambung dari tadi. Pas nyambung dimatiin. Kenapa?" suara Enggar mengagetkan Kiara yang tertunduk memegangi perut. Kiara membuang pandangan, enggan melihat wajah Enggar karena kesal.
"Padahal aku mau bilang kamu nunggunya jangan di sini. Di pinggir jalan aja biar mobil enggak usah belok-belok lagi ke sini," jelas Enggar dan tak ditanggapi apapun oleh Kiara. Kiara langsung bangkit sambil melawan rasa laparnya, kemudian berjalan meninggalkan Enggar begitu saja.
Enggar jadi bingung melihat perubahan sikap Kiara. Lebih bingung lagi saat menyadari belanjaan yang dibawa Kiara tadi begitu banyak, dan kini Kiara meninggalkan semuanya begitu saja.
"Loh, Kia! Hey, Kia! Kok ditinggal semua sih?" Enggar langsung panik menyadari Kiara sudah menjauh. Kiara sendiri tak perduli, langsung menuju mobil mereka yang terparkir di tepi jalan. Kiara mempercepat langkah, begitu mendengar suara Enggar semakin dekat memanggilnya.
Kiara makin kesal saat melihat Nirma sudah duduk santai di dalam mobil dengan headset menempel di telinga. Kiara membuka pintu mobil kasar dan menutup setengah membanting. Nirma yang asik mendengarkan musik di depan tak tahu menahu apa yang terjadi dengan Kakak Iparnya di belakang. Dia acuh saja terus memejamkan mata sambil mengangguk-anggukan kepala. Entah lagu apa yang sedang dinikmatinya sampai-sampai ia tak sadar jika Kiara sedang marah besar.
"Haduh, berat juga ternyata ya," gumam Enggar sambil membuka bagasi mobil untuk memasukkan barang bawaannya. Kiara masih diam saja.
Enggar langsung masuk ke mobil, dan mulai menjalankan kendaraan mereka kembali ke rumah. Sepanjang jalan mereka bertiga hanya diam. Mereka tiba di rumah lebih cepat, karena suasana jalan tak seramai ketika mereka berangkat tadi.
Tiba di rumah, Kiara bergegas turun dan langsung meninggalkan mobil. Kiara melangkah cepat menuju rumahnya sendiri.
"Kia!" panggil Enggar buru-buru turun mengejar Kiara. Ia baru menyadari Kiara sedang marah.
"Nir! Kamu turunin dan bawa masuk semua belanjaan di belakang. Aku mau ke seberang dulu," Enggar berbalik untuk memerintah Nirma. Nirma pun turun dan langsung menurunkan belanjaan dengan perasaan jengkel.
"Mereka kenapa sih? Kok malah aku sendiri yang ngurusin," desis Nirma sambil melangkah masuk membawa belanjaanya dengan susah payah, sampai akhirnya Bu Jenny datang untuk membantunya.
Di seberang jalan, Enggar sibuk mengejar Kiara. Enggar tak enak hati pada kedua mertuanya, jika Kiara kembali ke rumah mereka dalam keadaan marah-marah.
"Kia! Kia! Aduuh kamu marah ya?" Enggar menahan Kiara di pintu rumahnya.
"Kelihatannya?" Kiara berbalik dan menatap Enggar tajam.
"Yaa, gitu. Seperti marah? Tapi kamu marah kenapa ya?" Enggar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
'Huh, dasar lelaki enggak peka!' gerutu Kiara dalam hati sambil melangkah masuk tanpa mau menjawab pertanyaan suaminya.
"Kiaaa! Jangan marah-marah enggak jelas gitu dong." Enggar berbisik di dekat telinga Kiara.
"Enggak jelas apanya? Jelas-jelas kamu sibuk jalan sana-sini, ninggalin aku pontang-panting sendiri bawa barang seberat itu kamu bilang marah enggak jelas?" Enggar menghentikan langkah dan berbicara dengan mata melotot pada suaminya.
"Eh, kalian sudah datang dari pasar? Belanjaannya mana?" Bu Lilis tiba-tiba muncul dari dalam.
"Ada di seberang, Ma!" sahut Kiara cepat.
"Maa! Mama masak apa Ma? Aku laparr!" Kiara bertanya sambil nyelonong masuk. Enggar tetap mengikutinya.
"Liat aja di dalam tudung," sahut Bu Lilis langsung menuju ke rumah besannya di seberang, meninggalkan Kiara dan Enggar berdua saja di dalam rumah.
"Kia! Kamu malu-maluin aja pulang pake acara bilang lapar segala?" protes Enggar melihat Kiara membuka tudung saji dan mulai menyendok nasi ke piringnya.
"Daripada aku mati kelaparan!"
"Tadi diajak makan katanya belum jamnya lapar. Aneh!" Enggar ikut duduk di sampung Kiara.
"Kamu yang aneh! Orang mau makan kok protes aja dari tadi!" ketus Kiara.
"Bukan protes, tapi ... Kia! Lain kali jangan gitu-lah. Kalau lapar, ya makan sama-samalah. Di jalan kek, di rumah kek. Tapi jangan main pulang-pulang aja ke rumah orang tuamu, langsung nyari makan pake acara bilang kelaparan lagi," ucap Enggar dengam wajah cemberut.
"Kenapa emang? Masalahnya dimana? Rumah orang tuaku berarti rumahku juga 'kan?" sahut Kiara acuh sembari menyendok makanan ke mulur.
"Aduuuh! Kia! Masalahnya, sekarang kamu tuh istriku, aku suamimu! Aku 'kan jadi gak enak. Ntar orang tuamu ngira aku gak mau kasih makan kamu," Enggar berbicara pelan namun nadanya terdengar jengkel.
"Heleh! Suami-suami! Suami apaan yang nyiksa istrinya bawa belanjaan sebanyak itu sendiri," cibir Kiara masih sakit hati.
"Looh, marah gara-gara itu toh! Aku 'kan gak tahu kalau belanjaannya seberat itu, Kia," Enggar membela diri.
Sebelumnya dia berpikir bahwa barang belanjaan Kiar tak seberapa banyak karena Nirma kembali hanya membawa satu piring telur. Karena itu Enggar tak berpikir panjang saat Nirma memintanya menemai ke toko pakaian yang ternyata masih tutup.
"Iya, tapi bukan berarti juga kamu sama Nirma bisa seenaknya ninggalin aku sendiri di Pasar. Enggak pamit-pamit lagi!" tukas Kiara tak terima.
"Apa Kia? Kamu tadi ditinggal sendiri di pasar sama mereka? Ditinggal kemana? Enggar sama Nirma ninggalin kamu kemana?"
Enggar dan Kiara serempak menoleh. Bu Jeny menatap Kiara sesaat, lalu berganti menatap enggar dengan tajam. Baik Enggar maupun Kiara tak menyangka akan keberadaan Bu Jeny. Entah apa yang ingin diambilnya ke dapur orang tua Kiara.
Kiara diam. Ia melirik Enggar sekilas, memberikan kesempatan pada Enggar untuk menjawab pertanyaan ibunya sendiri. Tapi bukannya menjawab, Enggar malah tertunduk seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan besar. Kiara jadi bingung melihat reaksi suaminya.