Bersanding

1349 Kata
"Kok aku dikasih yang bekas?" Kiara mencoba protes. "Lah? Setahuku kamu doyan barang bekas. Kaya aku contohnya." Enggar menggoda Kiara dengan alis naik turun. Kiara langsung membuang muka. "Udah! Enggak usah banyak protes. Cepat pindahin baju-bajuku!" Bunga-bunga penebar kebahagian yang semula mulai bermunculan di dalam hatinya menghilang entah kemana mendengar ucapan Enggar. Huh! Kiara merutuk dalam hati karena terlalu percaya diri tadi mengira lemari baru itu untuknya. "Kenapa? Enggak mau bantu mindahin?" tanya Enggar melihat Kiara diam saja. Kiara diam tak menjawab lagi, tapi langsung bergerak memindahkan pakaian Enggar yang tak seberapa banyak. Enggar langsung meninggalkan Kiara setelah itu. Diam-diam Kiara menghirup aroma pakaian Enggar sebelum meletakkan ke dalam lemari barunya. Aroma semua pakaiannya wangi. Lebih wangi dari pakaian Kiara sendiri. Pintar juga Enggar memilih molto untuk mencuci. Tiba di bagian paling bawah lemari, Kiara menghentikan gerakannya. Ia geli melihat sekumpulan segitiga pengaman milik Enggar meskipun terjejer sangat rapi. "Sudah dipindah semua baju-bajuku?" tanya Enggar tiba-tiba muncul. "Bajunya sudah. Yang di bawah pindahin sendiri aja ya!" sahut Kiara sambil menjauh. Enggar melirik sekilas kemudian tertawa. Dengan gerakan pelan ia mengangkat benda yang ditakuti Kiara tersebut. "Kirain tadi mau dicium-cium juga kaya bajuku. Wanginya sama loh," gumam Enggar sambil mengulum senyum. "Apa?" Kiara mendelik. "Iya. Aku keluar sebenarnya ngintip loh, caramu kerja. Ternyata begituuuu. Wangi kan pakaianku? Kalau mau cium orangnya langsung juga enggak kalah wangi loh," goda Enggar sambil tergelak. Wajah Kiara langsung memanas. Malu bukan main. Sumpah! Rasanya ia ingin berlari pulang dan tidak akan menampakkan diri di depan Enggar selama sebulan. Enggar sepertinya selalu punya cara untuk membuatnya merasa malu dan salah tingkah. 'Tenang Kiara. Ambil napas dalam-dalam, hembus perlahan. Enggar itu suamimu sendiri. Santai.' Kiara bermonolog sekedar untuk menenangkan dirinya sendiri. Kiara tidak ingin terlihat selalu kalah di depan Enggar. Setelah agak tenang, Kiara berlagak cuek langsung melanjutkan pekerjaan. Giliran bajunya yang dipindah ke lemari lama Enggar. Kiara memasukkan baju-bajunya dengan gerakan cepat, hingga berkali-kali ia harus merapikan ulang tumpukan pakaiannya yang melorot. Enggar yang memperhatikan secara terang-terangan cara istrinya menyusun pakaian geleng-geleng kepala. "Cara kerjamu kasar seperti kuli. Sepertinya kamu harus banyak belajar dari Nirma!" Sontak komentar Enggar membuat gerakan Kiara melambat. Kepalanya menoleh pelan. "Jangan paksa aku jadi seperti Nirma." "Enggak maksa, hanya sekedar saran." Kiara diam. Ia melanjutkan pekerjaannya dengan gerakan lebih cepat dan kasar dari sebelumnya. Enggar mengelus d**a melihat tingkah istri pilihan orang tuanya. "Nanti sore cucianmu di dalam keranjang itu diberesin semua. Aku paling enggak suka pakaian kotor numpuk banyak-banyak di kamar," tambah Enggar lagi sambil menunjuk keranjang yang berisi pakaian Kiara. "Yaaa, tahu ... tahu ... situ rajin. Tiap hari cucian." "Enggak juga. Kan yang cucian Nirma biasanya. Bukan aku," sahut Enggar santai. "Apa? Yang cuci bajumu Nirma?" tanya Kiara nyaring sambil menatap Enggar tajam. Enggar jadi heran melihat reaksi Kiara. "Iya! Dari dulu. Kenapa?" "Mulai hari ini, tumpuk aja semua baju kotormu di keranjang ini. Jangan suruh Nirma. Ada aku. Aku bakal cucian setiap hari! Bajuku, juga bajumu!" sahut Kiara keras dan tegas dengan mata melotot tak suka. Enggar jadi terkejut melihat reaksi Kiara. "Kamu kenapa mendadak berubah rajin dan nge-gas gitu ngomongnya?" tanya Enggar membuat Kiara kelabakan menjawab. Dia juga heran dengan dirinya sendiri. Kenapa dia harus menanggapi jawaban Enggar dengan reaksi dan ucapan sekeras itu? "Eh, enggak kenapa-kenapa. Kamu kemaren ngelarang aku bilang kelaparan di rumah Mama kenapa? Enggak enak hati 'kan sama Mama? Begitu juga aku. Aku juga enggak enak hatilah sama orang tuamu. Ada istri, masa pakaianmu dicucikan sama adik," sahut Kiara meniru alasan Enggar sebelumnya. Padahal Kiara merasa, alasannya yang tepat bukanlah itu. Kiara menahan napas, karena bingung dengan jalan pikirannya sendiri. Enggar pun tak kalah bingung melihat perubahan pada sikap dan ucapan-ucapan Kiara hari ini. *** Keesokan harinya, tetangga-tetangga terdekat mereka semua datang membantu segala macam persiapan makanan untuk resepsi mereka. Kiara yang tidak betah selalu mengurung diri di kamar bersama Enggar, memutuskan untuk membaur bersama tetangga yang rewang di dapur meskipun dengan perasaan berat. "Eeeh, Kiara. Diam-diam selama ini ternyata jalan sama Enggar toh? Enggak pernah jalan berdua, tahu-tahu dah nikah aja," sambut Bu Mega--salah satu tetangga mereka yang berbadan bongsor dan selama ini memang sering bertanya pada Kiara soal siapa pacarnya dan kapan nikah. Kiara hanya tersenyum kecil, sambil mengambil posisi di tengah-tengah beberapa orang yang mulai sibuk mengupas bawang. Ia membiarkan saja mereka menduga-duga hubungannya dengan Enggar seperti apa sebelumnya. Setidaknya itu lebih baik dibicarakan saat ini, daripada mereka membicarakan keburukan orang lain. Biasanya pekerjaan mengupas bawang rame-rame selalu berkolaborasi dengan mengupas keburukan orang. Ada saja topik yang mereka bahas jika berkaitan dengan hal-hal yang bersikap negatif. Kiara berharap, suasana rewang mereka kali ini berbeda. Nirma sendiri seperti enggan bergabung dengan mereka di dapur. Ia lebih memilih di kamar mempersiapkan souvenir, dan sesekali keluar untuk melihat orang yang sibuk berlalu lalang. "Nirma mana? Biasanya paling betah di dapur?" tukas Bu Indri tiba-tiba. Kiara diam saja. "Dia ... beberapa hari ini kurang sehat. Jadi belum bisa kerja berat, masih agak pusing katanya," sahut Bu Jeny sambil tersenyum. Mereka pun tidak bertanya lagi soal Nirma, dan langsung melanjutkan pekerjaan masing-masing hingga sore hari. *** Hari yang sangat tidak dinantikan oleh Kiara dan Enggar tiba juga. Semua dekorasi terpasang sempurna dan sangat serasi dengan warna pelaminan. Di kamar, Enggar lebih dahulu memakai jas berwarna hitam khas pengantin pria. Setelah Enggar keluar, Kiara pun langsung mengenakan gaun berwarna putih. Kiara benar-benar tidak nyaman mengenakan gaun tersebut. Berulang kali ia menarik napas dalam-dalam, seperti sedang kesesakan. Padahal baju pilihan Rista sangatlah pas di tubuhnya. Begitu pula saat MUA sedang berusaha memoles wajah Kiara yang terbiasa polos dengan peralatan make up yang terlihat asing di mata Kiara. Karena merasa tak nyaman, berulang kali Kiara menepis tangan wanita yang mendandaninya hingga MUA tersebut merasa agak kesulitan. "Sudah selesai belum?" tanya Nirma tiba-tiba masuk. Wanita yang merias Kiara tadi menggeleng. "Lama amat! Kalau lama, aku duluan aja yang didandani," tukasnya langsung duduk di samping Kiara. Kiara langsung menggeleng. "Enak aja! Udah Mbak! Buruan aku didandanin. Sebentar lagi tamu datang." Wanita Perias tadi menahan napas sejenak. Tadi Kiara yang susah diatur, sekarang memaksa cepat. Tapi wanita tersebut hanya berani protes di dalam hati. Ia pun langsung mempermak wajah Kiara. Karena kali ini Kiara mendadak jinak, akhirnya tidak sampai satu jam proses rias wajahnya selesai. "Ayo, Mbak. Bantuin aku antar dulu dia keluar, baru Mbaknya yang didandani," ajak Sang Perias pada Nirma. Dengan raut malas, Nirma langsung berdiri dan mengantar Kiara ke depan. Di pelaminan, Enggar menatap Kiara hampir tak berkedip. Perubahan wajah Kiara setelah dipoles cukup membuat Enggar tercengang. "Ternyata dia cantik juga," batin Enggar. Kedua orang tua mereka masing-masing juga sama. Mereka tampak takjub, karena ternyata Kiara bisa tampil cantik juga. Kiara yang merasa tak nyaman dengan bajunya duduk dengan cuek di sebelah Enggar. Setelah membenarkan posisi duduk Kiara, wanita perias tadi langsung masuk menyusul Nirma yang lebih dulu meninggalkan mereka dengan wajah cemberut. Ia berpikir Nirma cemberut karena agak lambat di rias. Tak ada yang berbicara di pelaminan. Masing-masing memperhatikan kesibukan orang-orang yang menyiapkan tata letak makanan di meja prasmanan. Dari panggung, suara cek sound berulang kali terdengar. "Ayo, foto dulu sekeluarga. Mumpung belum ada tamu dan masih segar-segar wajahnya," ucap fotografer yang sudah dibayar oleh Farel sambil melambaikan tangan pada Rista. Rista dan Farel pun naik ke pelaminan dan berpose berulang kali bersama mempelai. "Senyumnya agak lebar-an dong, Mbak, Mas," ucap Fotografer melihat senyum diwajah kedua mempelai sama-sama irit. "Nir, Sini!" Rista melambaikan tangan pada Nirma yang sudah selesai berdandan. Nirma melangkah ke pelaminan dengan malas. Fotografer pun mengambil gambar keluarga besar mereka dengan berbagai pose. "Oke, cukup!" ucap fotografer. "Sekali lagi, Mas! Berdua sama kakak saya," tukas Nirma tiba-tiba menarik lengan Enggar yang sudah duduk agar kembali berdiri. Bu Jeny menghela napas. "Oh, oke. Buat kenangan sama adiknya, ya. Mempelai wanitanya boleh geser sedikit, biar enggak ikut kejepret," atur Fotografer. Kiara menjauh sedikit dengan perasaan agak jengkel. "Satu, dua, ti ... ga!" "Sekali lagi Mas. Nih tolong ponsel aku sekalian ya," Nirma menyodorkan ponselnya kemudian bergelayut manja di lengan Enggar layaknya seorang adik yang biasa bermanja-manja dengan seorang kakak. Tiba-tiba saja Kiara merasa jengah dan ingin membalas sikap manja Nirma yang menurutnya sudah kelewatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN