Penolakan Kiara

1194 Kata
Raut wajah Bu Jeny pun mulai berubah melihat tingkah Nirma. Sedangkan yang lain menganggap semuanya biasa saja. "Oke, udah." Fotografer menyerahkan kembali ponsel Nirma setelah mengambil gambar berulang kali. "Sekali lagi, Mas. Bertiga! Ayo Nir," ucap Kiara tiba-tiba langsung berdiri dan merapatkan tubuhnya ke badan Enggar. "Oh, oke!" Fotografer kembali mengambil foto mereka berulang kali. Kiara berkali-kali berpose manja selayaknya pengantin baru, membuat Nirma berulang kali menyunggingkan senyum yang sangat dipaksakan bahkan terkesan sinis. "Oke, cukup untuk bertiganya. Sekarang mempelainya berdua lagi," ucap Fotografer. Dengan senang hati Kiara berpose ala sepasang pengantin sesungguhnya yang tengah berbahagia. Tak sesenti pun tubuhnya mau menjauh dari tubuh Enggar. Tentu saja tingkah Kiara mengundang keheranan diwajah saudara dan orang tuanya. Rista dan Farel bahkan berulang kali terkikik sambil berbisik-bisik. Mereka mengira Kiara dan Enggar sudah saling menerima sepenuhnya pernikahan tersebut, meskipun Enggar nampak masih agak kaku untuk berpose mesra dengan Kiara. Nirma sendiri langsung meninggalkan pelaminan dengan cepat. Setelah berulang kali berganti gaya, akhirnya Kiara dan Enggar kembali ke posisi semula. Tamu undangan mulai berdatangan. Mereka mulai mengisi buku tamu dan mengambil souvenir. Setelah memasukkan amplop, mereka lalu menuju meja prasmanan dan menyantap hidangan diiringi suara musik dan suara merdu biduan yang menghibur mereka Beberapa saat setelah menikmati hidangan, mereka mulai menuju pelaminan untuk menyalami kedua mempelai beserta orang tua mereka. "Naaah, ujung-ujungnya nikah juga. Kenapa enggak dari dulu sih. Kenapa harus nunggu satu duda yang satu sudah tua," ledek salah satu warga sambil menyalami Kiara. Kiara terpaksa tersenyum menanggapi kecomelan mereka. "Selamat ya, enggak jauh-jauh ternyata jodohnya. Pantes aja Kiara enggak pernah keluar rumah. Ternyata jodohnya cuma lima langkah dari rumah," gurau yang lainnya. Enggar dan Kiara lagi-lagi harus memaksakan diri mereka tersenyum menanggapi ucapan beragam dari orang-orang yang nampak terkejut dengan pernikahan mereka. Hanya ucapan terima kasih yang keluar dari mulut mereka berdua sebagai jawaban untuk semua ucapan. Kiara baru bisa tersenyum tulus pada Mayang yang berulang kali menggodanya begitu mereka bersalaman setelah beberapa kali mengambil foto bersama. "Jadiin dia perempuan beneran ya, semoga cepat dapat momongan," seloroh Mayang pada Enggar yang langsung mengangguk sambil mengulum senyum. "Dia masih susah dijinakkan." Enggar dan Mayang lalu tertawa bersama sambil melirik pada Kiara yang berpura-pura tak mendengar ucapan sahabat dan suaminya. Mayang terkikik sampai mendekati pintu keluar melihat ekspresi Kiara. Berulang kali ia melambaikan tangan dari kejauhan, membuat Kiara semakin gedek karena tahu Mayang sedang meledeknya. Meskipun menuai komentar beragam yang berisi berisi keterkejutan serta ucapan yang nyaris sama setiap kali bersalaman dengan para tamu, namun resepsi pernikahan mereka tetap berjalan meriah tanpa ada kendala sampai waktu maksimal yang tertera di undangan tiba. Kiara dan Enggar akhirnya bisa bernapas lega karena waktu mereka jadi pajangan sudah selesai. Sama seperti penghuni rumah lainnya, Enggar dan Kiara pun usai makan dan membersihkan dir masing-masing langsung tergeletak tak berdaya diatas tempat tidur. Tak berapa lama keduanya pun sama-sama terlelap. Keesokan harinya Kiara dan Enggar sama-sama bangun kesiangan. Di luar sudah ramai orang-orang yang kembali datang untuk membantu beberes sisa pesta. Kiara buru-buru mencuci muka dan menuju dapur, Enggar pun langsung membaur dengan orang-orang yang bekerja di luar rumah. Karena tetangga juga kerabat yang membantu tergolong banyak, pukul 17.00 pekerjaan mereka sudah beres semua. Setelah semua tetangga dan kerabat berpamitan, malam harinya suasana di rumah Enggar kembali sepi. Masing-masing kembali ke peraduan untuk merenggangkan otot sejenak. Enggar dan Kiara kembali tidur dengan posisi saling membelakangi. *** "Kak Enggar, Buka pintunya!" Samar telinga Enggar menangkap suara panggilan dari arah pintu. Perlahan matanya mengerjap dan menatap Kiara yang masih terlelap di sampingnya. Ia melirik jam, masih jam 05.00 subuh. Dengan gerakan malas ia beringsut dari pembaringan untuk membuka pintu. "Ada apa, Nir?" "Mama sama Papa mau berangkat hari ini. Kak enggar kok masih tidur aja sih?" sahut Nirma. "Loh, katanya besok?" "Mendadak maju. Katanya di sana butuh orang cepat. Ayo siap-siap aku ikut ngantarin. Kak Enggar mandi, aku mau lanjut buat sarapan," ucap Nirma bersemangat. "Bentar aku bangunin Kiara, biar mandi terus sarapan dulu." "Kalau Kak Kia capek, ya biarin aja Kak. Biar jaga rumah aja," sahut Nirma sambil berlalu. Enggar yang tidak begitu mendengar apa yang diucapkan Nirma acuh saja terus membangunkan Kiara. "Heeem, masih gelap banget, ada apa sih?" tanya Kiara setelah bermalas-malasan beberapa saat. "Mau ngantarin Mama sama Papa berangkat ke tempat kerja baru Papa. Kamu mau ikut?" "Masih capek. Kok cepat banget sih berangkatnya bapak sama ibu?' Kiara masih bermalas-malasan. Padahal sebelumnya ia sendiri yang ingin kedua mertuanya cepat pergi. "Ya udah, kalau capek biar aku sama Nirma aja yang antar. Kamu jaga rumah aja ya?" Enggar melirik Kiara yang malah melingkarkan tangannya ke guling sambil memejamkan mata. Mendengar Enggar menyebut nama Nirma, kiara sontak berbalik dan langsung menegakkan tubuh. "Aku ikut!" ucapnya kemudian langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi lalu berwudhu. Usai salat, Kiara menuju dapur untuk membantu Nirma memasak. "Mau masak apa, Nir? Ada yang bisa aku bantu?" Nirma yang tengah mengaduk-aduk sesuatu di wajan langsung menoleh. Sekilas wajahnya menampakkan raut kecewa. Tetapi sejurus kemudian Nirma kembali tersenyum. "Cuma masak nasi goreng aja. Enggak usah Kak, sudah mau selesai kok," sahutnya kemudian. Kiara menatap Nirma dengan penuh keheranan. Entah jam berapa Nirma terbangun sampai-sampai saat ini masakannya sudah siap. Sepertinya besok-besok Kiara harus bangun jam tiga subuh supaya tidak ketinggalan pekerjaan dapur. "Kak!" panggil Nirma tiba-tiba. Kiara mengangkat wajah. "Nanti kalau Mama sama Papa enggak di rumah, Kak Kia enggak tidur di kamar Kak Enggar lagi kan?" tanya Nirma bersemangat membuat Kiara sedikit tercengang. Niat awalnya memang begitu. Tapi sekarang Kiara jadi ragu melakukan itu. Kiara pun meninggalkan Nirma yang menunggu jawabannya begitu saja tanpa kata. "Kak!" Kiara menghentikan langkah. Ia tak menyangka Nirma mengikutinya. "Kenapa Nir?" Nirma menarik tangan Kiara menuju ruang tamu. Beberapa buah tas sudah berjejer rapi di dekat meja. "Kenapa enggak jawab? Kak Kia nanti tidur di kamar Mama sama Papa aja ya kalau sudah kosong? Kali ini enggak akan ketahuan kok. Kan cuma kita bertiga disini," desak Nirma sambil berbisik-bisik di dekat telinga Kiara. Kiara hanya menghela napas. Nada bicara Nirma terdengar agak memaksa. "Kak!" Lagi-lagi Nirma menyengol Kiara yang diam seribu bahasa. "Maaf, Nir! Aku enggak akan kemana-mana. Aku akan tetap tidur di kamar Enggar," ucap Kiara akhirnya karena teringat akan janjinya pada Bu Jeny. Mendengar penolakan tegas Kiara, Nirma mendadak kehilangan semangat. "Kenapa kamu mendadak enggak semangat gitu? Kamu enggak suka kalau aku tidur sama Enggar, ya? Kenapa?" pancing Kiara penasaran. "Oh, eng-enggak gitu. A-ku ... aku cuma heran sama Kak Kiara. Dulu bilang enggak mau sama Kak Enggar, kenapa sekarang kaya kepengen nempel-nempel sama Kak Enggar terus?" tukas Nirma dengan nada yang sulit diartikan. "Emang perasaan manusia enggak boleh berubah ya?" Kiara bertanya balik. "Boleh, cuma jangan sampai Kak Kia jatuh cinta beneran sama Kak Enggar loh. Aku ngomong gini demi kebaikan Kak Kiara juga. Jangan sampai Kak Kia kecewa dan sakit hati karena berharap sama Kak Enggar nantinya." "Loh, kenapa memangnya?" "Nanti akan kuceritakan yang sebenarnya tentang Kak Enggar setelah Mama sama Papa enggak ada, setelah itu Kak Kia boleh milih, mau tetap maju untuk merebut hati Kak Enggar, atau pelan-pelan mencari cara untuk melepaskan," bisik Nirma langsung berbalik meninggalkan Kiara yang masih berdiri dengan rasa penasaran, karena ucapan Nirma menghadirkan teka-teki baru di kepalanya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN