Club
Aku Nisa, wanita asli Jawa timur yang hidup dari kecil di Bali. Usia 26 tahun yang statusnya sudah menikah. Dirinya aja menikah tapi tidak dengan hatinya. Ya begitulah aku sejak ayahku menjodohkan diriku dengan seorang blasteran Indonesia-Jerman.
Bisma namanya, tapi dia sangat kejam dan keji. Bagaimana tidak? Dia menjual diriku pada pria lain! Padahal jelas-jelas aku ini istrinya dan amanah yang seharusnya dia jaga tapi sepertinya dia tidak peduli sedikitpun denganku.
Alih-alih membuatnya merasa untung dengan memilikiku, dia ingin aku bisa menghasilkan uang yang banyak untuk membayar kembali uang yang aku habiskan selama tinggal bersamanya. Untuk satu malam dia membandrolku seharga 100 USD. Jika dirupiahkan uang itu memang tidak seberapa tapi dia investasikan dibank karena tentu dolar selalu naik harganya apalagi di negara +62 ini.
Disinilah aku berada Kota Denpasar tepatnya di Sanur. Tentu saja Bisma telah berjanjian dengan seseorang disini, mana mungkin dia membawaku pergi tanpa berjanji lebih dulu dengan seseorang.
Siapa yang tidak kenal dengan Sanur. Tempat yang menjadi pusatnya para wisatawan bahkan rumah-rumah dan villa-villa yang ada disini kebanyakan dibeli oleh orang luar.
Aku duduk manis disebuah bar yang ada di jalan Danau Tamblingan. Nama barnya adalah Casablanca pasti sering denger nama iklan inikan? Aku kira juga bar ini merek parfum, mewah seperti namanya tapi saat masuk kesini tempatnya mirip gacoan atau mie Kober.
"Apa kamu tidak bosan menjual diriku?" Tanyaku kesal padanya.
Tentu saja aku bertanya demikian karena setiap dia menjualku, dia akan mendapatkan telpon dari seseorang. Kenapa? Karena para pelanggan kecewa telah membayar tanpa dapat meraba tubuhku penyebabnya adalah karena aku selalu memberikan obat tidur pada minuman mereka.
Dia menaikan alisnya, "Hari ini, lihat saja apa yang akan terjadi." Perkataannya terdengar mengancam.
Aku menyinyir dihadapannya. Dia selalu begitu tidak suka basa-basi dan sangat tertutup.
"Hallo!" Sapa seseorang dari belakang suaranya menggelegar logatnya seperti orang USA.
"Sorry I came late." Dia memeluk Bisma erat kemudian melirik kearahku.
Bisma mencengkram kedua pundakku " U can call her nisa," ujarnya tanpa basa-basi memperkenalkan diriku.
"Hallo, My name is James, u can call me by that name." Dia memberikan jabatan tangan padaku.
Aku membalasnya dengan senyuman kecil, "Nice to meet u."
James pria itu menjulang tinggi jika diperkirakan tingginya sekitar 185 atau bahkan lebih. Rambutnya pirang, matanya biru tentu dengan kulit yang putih seperti bule pada umumnya. Dia pria yang tampak tegas. Kini dia sedang duduk berbincang dengan Bisma. Dia masih memakai pakai formal, badannya dibalut dengan jas hitam dan dasi merah yang melekat pada kerah kemejanya.
"Okeh Nisa. Now u become my woman." Dia memeluk pundakku.
"Sorry, u can't make me your woman," bantahku melepaskan pelukannya.
Dia tertawa hambar, "Why not? I have bought you from bisma. From now on you will be my woman."
Aku tertawa renyah , "Hahaha are u sure? By bought me you can make me your woman?"
Dia mulai tampak tersinggung, "Keep up your attitude girl."
"Sorry, I can't understand what are you saying. Aku wong jowo ora ngerti karo omongan kadal."
Dia memelintir lenganku, "Sudah aku katakan jaga attitude mu!" Nada tegasnya berhasil membekukan suasana.
Aku membungkam setelah dia mengancam. Jika Orang asing sudah marah dengamu dia tidak akan segan-segan untuk memenggal kepalamu. Orang asing hanya menjual sekali kepercayaannya setelah sekali saja kamu merusaknya dia tidak akan kembali percaya. Seperti itulah bagaimana kita harus bersikap padanya.
"Girl, Listen carefully. Aku membayarmu dengan harga yang tak akan pernah bisa kamu bayar," bisiknya ditelingaku.
Bisma kemudian mengeluarkan surat-surat berkas dan diberikannya pada James, "All of his personal data is here. I've sued for divorce so she's completely yours. "
"Di- divor- ce?" Tanyaku terbata-bata melihat berkas yang ada dimeja.
Bisma menganggukan kepalanya, "Iya aku telah menceraikan dirimu. Jadi Nisa, jadilah wanita yang baik untuknya."
Aku berdiri dari tempat duduk dan menggebrak meja, "APA-APAAN SEMUA INI?!" Teriakku dihadapan mereka. Bahkan semua orang memandangiku setelah berteriak.
"Duduklah!" Bisma memaksaku duduk dengan menurunkan bahuku.
Aku mengubrisnya, "Apa ini Bisma? Apa tidak cukup kamu telah menjualku pada banyak orang?" Tanyaku dengan suara lebih kecil.
"Girl, can u talk privacy?" James mulai tampak risih dengan pertengkaran yang aku perbuat.
Dengan berat aku berusaha untuk duduk.
"Okeh sepertinya semua ini akan dijelaskan oleh James. So James, I'm leaving, I hope you are happy!" Bisma berjalan pergi setelah menepuk pundak James.
James mulai berusaha untuk berbicara, "How can I tell all about?" Dia menggaruk keningnya kebingungan.
"Kenapa? Kenapa harus bingung? Bukankah semua ini rencanamu kenapa kamu harus kebingungan untuk menjelaskannya?" Amarahku berkobar-kobar dengan tatapan tajam yang menusuk.
Dia memegang telapak tanganku, "Aku hanya ingin membebaskan dirimu dari u know? Hak asasi mu yang dia jual padaku nilainya cukup fantastis."
"Tentu kau juga menginginkan aku melakukan sesuatu untukmu!" Hardikku membuang pandangan.
"That's right. You're smart lady. Aku tidak salah memilihmu."
"Apa yang kamu rencanakan sih?!"
Dia kembali menata kata-kata untuk disampaikan, "Aku punya masalah dengan istriku. Aku sudah berusaha berbagai cara untuk menceraikannya, But u know What is she doing? She always happy never sad In the slightest seperti tidak ada masalah dengan hubungan pernikahan ini. Padahal aku sudah membuatnya tersakiti berkali-kali tetap saja dia tidak ingin divorce."
"Apa kamu sudah lama tinggal di Indonesia?" Tanyaku pada akhirnya melihat dia yang cukup fasih menggunakan bahasa tersebut.
"Ya aku sudah hampir 10 tahun tinggal disini."
Wuaw 10 tahun itu bukan waktu yang sebentar tapi lumayan dengan waktu segitu logat USAnya tak pernah padam.
"So you can help me?" Tanyanya memelas.
"I can't do it!"
Dia menaikan sebelah kakinya dan mengumpulkannya pada kaki kirinya, "Okay, kalau kamu tidak bisa, apa kamu bisa mengembalikan harga yang telah aku bayar untukmu?"
Aku tersenyum kecut dengan ancamannya kalau begini mau tidak mau aku harus mau membantu dirinya, "Berapa banyak uang yang kamu berikan pada Bisma?"
"Not much, only a million USD."
Haha aku tertawa dalam hati. Sebanyak itu? Hanya demi membayarku berapa banyak uang yang sebenarnya dia punya bahkan 1 juta USD begitu mudah dia berikan pada Bisma.
"Apa kamu tidak takut menghabiskan uang sebanyak itu? Bagaimana jika suatu saat kau ditipu?"
Dia tersenyum kecil, "Mudah, bukankah hukum tunduk pada kekuasaan? Dan uang adalah kunci dari sebuah tindakan hukum?"
Aku tersenyum getir menatapnya tidak percaya, "So u want me ruin your marriage?"
Dia menganggukan kepalanya, "Tidak masalah jika tidak mau."
Aku mengelus d**a bersyukur saat dia mengucapkan itu.
"But You must return the money within a week."
Aku menghela nafas tidak percaya bahkan aku memejamkan mata saat dia berbicara seperti itu, "Are u crazy men? A million Dollars in a week?"
Dia menyengir, "Tidak bisakan? So, kamu harus bersamaku mulai saat ini." Dia menarikku paksa untuk ikut bersamanya.