Tidak Mampu

965 Kata
“Madeline bukanlah siapa-siapa, dia hanya anak yatim piatu yang ditanggung oleh keluarga Whitman. Kau bisa tanya, apa dia bisa membeli hadiah sendiri?” Brittany berdecih. “Tentu saja Madeline ditanggung oleh keluarga Whitman. Dia adalah istri Jeremy—menantu kesayangan kami. Dia berhak memakai uang Jeremy. Bahkan kalau perlu, dia bisa menghabiskan sisa hidupnya dengan berfoya-foya menggunakan harta Whitman.” Joanna hendak menyela. Namun, Jeremy meraih pergelangan tangan wanita disana. Hal itu, mengganggu pandangan Madeline. Dan ia merasa begitu tidak nyaman. Madeline merasa getir, tapi ia harus menghentikan ibu mertuanya. Ia gegas meraih lengan Brittany. “Bu, Jeremy dan aku sedang memilih hadiah untuk kakek. Karena ibu disini, mungkin ibu bisa memberi ide untuk kami.” Madeline berusaha mengubah atmosfer yang ada disana. Senyuman serta nada bicara yang lembut langsung meluluhkan hati Brittany. “Sebenarnya ibu tidak punya ide. Kakekmu itu tidak pernah kekurangan apapun, ibu yakin kalian berdua lebih tahu apa yang dia inginkan.” Madeline tahu persis apa yang diinginkan Charles. Tapi ia juga tahu, Jeremy tidak pernah menginginkan itu. Jadi, ia tidak punya pilihan selain memandang ibu mertuanya dengan bingung. Brittany menatap ke arah Jeremy. “Jangan berpura-pura bodoh. Hadiah yang paling diinginkan kakekmu adalah cicit.” “Jeremy, dengar baik-baik. Ibu memberimu waktu tiga bulan. Kalau kau belum bisa menghamili Madeline, ibu akan mencoret namamu dari keluarga Whitman. Bukankah Ibu sudah mengatakannya dengan jelas?” “Bu, jangan gila! Tidak bisakah ibu bersikap lebih masuk akal?” Raut wajah Jeremy dipenuhi kekhawatiran. Sementara Joanna merasa sangat canggung. Ia menggigit bibir bawah sambil mengepalkan tangan. Emosi dan kesedihan bercampur mengelilingi dirinya. Jika ia tidak bisa menahan diri, mungkin ia akan langsung mengatakan rencana perceraian Jeremy dan Madeline. Syukurnya Brittany sudah pergi. Mereka pun menghela nafas. “Jeremy, kau tidak benar-benar akan memiliki anak bersamanya, ‘kan?” Joanna memandang Jeremy dengan penuh harap. Raut wajahnya sedih. Disisi lain, Madeline diam-diam melipat bibir sambil menunggu jawaban Jeremy. “Tidak.” Tegas dan lugas. Jawaban itu bagaikan sambaran petir di siang hari bolong. “Sejak aku memutuskan untuk menceraikannya, aku tidak ingin meninggalkan resiko apapun.” Mendengar kalimat itu, Joanna bisa bernafas lega. Ia beralih ke arah pria itu dan berbicara dengan nada mendayu-dayu. “Jeremy, aku ingin membeli beberapa baju, bisakah kau menemaniku?” Tiba-tiba waktu terasa berhenti. Madeline bergeming. Titik pandangnya tertuju pada anting jamrud yang digunakan Joanna. Seketika itu pula, dunia terasa runtuh baginya. Ia tak mampu lagi menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Tapi, ia tak bisa berbohong bahwa dirinya kini merasa cemburu. Melihat Joanna mengenakan anting itu, ia pun berbisik pelan. “Boleh aku tanya, darimana kau mendapat anting-anting itu?” Joanna menyibakkan rambut, ia dengan percaya diri menunjukkan anting tersebut. “Maksudmu anting ini?” “Ya,” jawab Madeline seraya mengepalkan tangan. “Ah, aku tidak membelinya. Anting ini sangat menarik ketika aku ada di rumah Jeremy. Jadi, dia memberikan ini untukku.” Madeline menghela nafas pelan seraya menggigit bibir bawah. Tiba-tiba ia merasa jantungnya seperti ditusuk. Akhirnya, Madeline tahu alasan dibalik kata ‘kesalahan’ saat membeli hadiah untuk anniversary mereka. Meski sudah berjanji membeli anting itu, ia tetap tidak bisa mengecewakan Joanna. Ada gap yang besar antara orang yang Jeremy cintai dan tidak. “Madeline ….” Jeremy mulai mencoba menjelaskan, namun Madeline langsung menjedanya. “Tidak apa-apa. Aku mengerti.” Madeline merasa tak perlu ada penjelasan. Ia berusaha menekan perasaannya sendiri. “Jadi, apakah kita akan pergi mencari hadiah untuk kakek?” “Sepertinya lain kali saja. Hari ini pasti menjadi sangat berat bagi Joanna. Jadi, aku akan meminta sopir mengantarmu pulang.” “Baiklah.” Setelah memutuskan berpisah di pusat perbelanjaan. Madeline diantarkan pulang oleh supir keluarga Whitman. Ia duduk di dalam mobil sambil memandang ke luar jendela. Tanpa sadar ia meletakkan telapak tangannya di atas perut. Kala itu, ia berulang kali terngiang ucapan Jeremy yang mengatakan tidak menginginkan anak. Dan menganggap itu sebagai sebuah ‘resiko’. Kata-kata itu jelas menusuk hatinya. Madeline menutupi wajah saat air mata menghancurkan pertahanannya. Saat tiba di rumah, ia menerima telepon Brittany. “Apa kau sudah sampai di rumah?” “Ya, Bu. Beberapa menit lalu.” “Baiklah, ibu akan sampai disana dalam waktu sepuluh menit.” Belum sempat Madeline mengatakan sesuatu, Brittany sudah menutup telepon itu lebih dulu. Jika ia tidak salah, Brittany belum pernah datang ke villa mereka sejak hari pernikahan itu. Merasa sedikit gugup, Madeline segera menginstruksikan pelayan untuk bersiap-siap “Halo, Jeremy.” “Ya, Madeline. Ini aku. Ada apa?” Mendengar itu suara Joanna, Madeline langsung gemetar. Ia tak tahan menekan perasaan yang mulai dirasa tak nyaman. “Di mana Jeremy? Aku perlu bicara dengannya.” “Maaf, dia sedang tidak bisa diganggu saat ini. Aku akan minta dia meneleponmu balik nanti.” Disaat yang sama Joanna langsung menutup telepon tersebut. Madeline menelan ludah tak percaya. Ia merasa sangat terkejut. Ia ingat Jeremy pernah berjanji akan setia selama mereka masih menikah. Ia juga bilang bahwa dirinya tak akan pernah melewati batas. Tapi sekarang, ia justru menempel pada Joanna tujuh kali dua puluh empat jam seperti koala. Tampaknya Jeremy memang menginginkan perceraian itu segera terwujud. Jika bukan karena Charles, mereka mungkin sudah bercerai pagi ini dan tidak akan pernah menghubungi lagi satu sama lain. Lupa mengetahui banyak hal tentang ibu mertuanya, Madeline memastikan semua disiapkan dengan baik. Kopi, buah-buahan, kue kering, kacang-kacangan ... Madeline membiarkan para pelayan menyiapkan apa-apa yang mereka temukan di rumah itu. Tak lupa, Madeline juga meminta pelayan menyiapkan makan siang dengan berbagai hidangan. Mulai dari makanan pembuka hingga penutup yang lezat. Setelah menyelesaikan persiapan di rumahnya, Madeline pun menunggu kehadiran sang ibu. Tak lama kemudian, suara pintu diketuk. Ia pun segera menyambutnya. “Hai, Bu. Apa ….” Belum sempat Madeline mengakhiri kalimatnya, tiba-tiba saja ia merasa mual. Kontan ia gegas berlari ke kamar mandi. “Huek!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN