“Huek!”
Madeline berlari ke arah toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Selepas itu, ia merasa sedikit lebih baik. Ia menatap wajah di cermin sambil menghirup nafas dalam-dalam. Disaat berikutnya ia mencuci sisa kotoran di wajah sebelum menemui sang ibu mertua.
“Maaf, Bu. Perutku sedikit bermasalah.”
Brittany duduk santai di sofa sementara Madeline memandangnya dengan perasaan malu.
“Tidak masalah, Madeline.”
Kemudian ia langsung to the point tujuan kedatangannya kesana.
“Kami akan selalu ada disisimu, Madeline. Sejak pernikahanmu terjadi, kami bertanggung jawab untuk menjagamu.”
Ucapan itu membuat Madeline hampir meneteskan air mata. Meski ibu kandungnya telah meninggal sejak lama. Dan sang ayah tidak pernah menunjukkan kasih sayang sewajarnya, ia mera
“Aku mengerti, Bu. Aku akan selalu menjaga pernikahan ini sepenuh hati.”
“Apa kau yakin?”
Brittany tiba-tiba menatap Madeline. Tatapan yang semula lembut kini menajam.
“Aku rasa tidak seperti itu. Jika kau mau menjaganya, mengapa kau ingin menceraikannya?”
Madeline tiba-tiba mendongak, menatap netra wanita itu dengan penuh tanda tanya.
“B-bagaimana ibu tahu?”
Suara Madeline melemah. Bahkan hampir tak terdengar. Ia pun langsung menunduk tak lagi berani menatap mata itu.
Brittany menghela nafas pelan.
“Tidak peduli seperti apa alasan Jeremy menikahimu. Aku berharap ketika kalian sudah bersama—kalian bisa saling menghargai. Aku berharap kalian memberikanku seorang cucu untuk membungkam mulut jahat wanita yang selalu mencemooh.”
Brittany meraih jemari tangan Madeline.
“Jangan terlalu memaksakan diri dan berpikir yang tidak-tidak. Hidup akan selalu berjalan sesuai arusnya. Aku harap kau benar-benar bisa memahami arti menikah saat kita bertemu lagi.”
Setelah menasehati Madeline, wanita itu pergi tanpa memakan jamuan yang telah disiapkan.
***
Begitu langkah kakinya keluar dari kediaman Madeline, Brittany langsung menghubungi putranya.
“Jeremy kau dimana? Cepat datang temui ibu! Jika tidak kau akan menanggung konsekuensinya. Jangan salahkan ibu kalau bertindak sesuatu yang tidak kau inginkan.”
Jeremy menjawab dengan lirih. “Bu, aku sedang ada urusan di luar rumah.”
“Ya, aku tahu. Kau meninggalkan istrimu hanya untuk menemani Joanna berbelanja ‘kan? Kalau kau menolak, ibu tidak akan sungkan melabrak kalian di mall. Dan percayalah, ibu benar-benar dengan ucapan ibu ini!” ancam Brittany dengan lugas.
“Baiklah, Bu. Aku akan pulang ….”
Brittany mengakhiri panggilan itu sebelum mengusaikan kalimatnya.
Di mall, Jeremy mengdesah. Jantungnya tak karuan karena ancaman sang ibu yang begitu kuat.
“Joanna, sepertinya aku harus segera pulang. Kalau kau sudah selesai, aku akan meminta supirku mengantarmu pulang,” ucap Jeremy dengan lembut.
Joanna langsung berpikir pasti ada sesuatu yang tidak beres. Jeremy tampak gugup dan ketakutan.
“Kau benar-benar akan meninggalkanku sendiri?
“Ya, maafkan aku. Ini sangat mendesak.”
“Baiklah. Silakan. Aku akan menjaga diri. Kau tidak perlu khawatir.”
“Terima kasih, Joanna.”
Saat Jeremy hendak pergi, wanita itu tiba-tiba menghentikannya.
“Jeremy, tunggu!”
“Ada apa?”
Joanna menarik tubuh pria itu lalu mengulurkan tangan seraya membenarkan dasi itu dengan lembut.
“Sekarang terlihat lebih baik.”
“Terima kasih.”
Melihat Jeremy menjauh, Narra langsung mencibir.
“Nyonya, mengapa Anda tidak menghentikan tuan Whitman? Seharusnya Anda membiarkan dia tetap disini.”
“Hari ini dia menelepon untuk menyadarkanku.”
“Menyadarkan untuk apa?”
“Dua hari lalu kami bertengkar hebat karena perceraian yang ditunda. Hari ini, dia juga tidak senang karena hal yang sama terulang. Jadi, aku pikir—aku perlu memberikannya ruang. Jika aku terus menekannya, maka dia akan menjauh,” terang Joanna.
“Apa anda tidak takut dia jatuh cinta pada Madeline?”
Kening Joanna langsung mengernyit.
Setelah beberapa lama, ia memecah keheningan.
“Tentu saja aku takut. Tapi, aku yakin Jeremy tidak akan pernah mencintai wanita lain. Mereka sudah menikah selama dua tahun dan Jeremy tidak pernah tertarik pada wanita itu. Jadi tak akan mungkin terjadi.
“Aku pernah menahan perasaanku selama dua tahun di luar negeri. Aku tidak bisa membiarkan usaha ini sia-sia. Jadi biarkan beri waktu sedikit untuknya. Tekad kami sudah kuat.”
Beberapa menit kemudian, Jeremy tiba di kediaman Whitman. Brittany langsung melontarkan kalimat kasar padanya.
“Bagus, Jeremy! Kau terang-terangan berselingkuh di hadapan istrimu sendiri dan berbelanja seolah tidak terjadi apa-apa. Pernahkah kau memikirkan bagaimana perasaannya?”
***