Berbagai serangan pertanyaan membuat Jeremy kesal. Ia menarik dasi dengan kasar dan berusaha menekan emosinya. “Bu, Madeline tidak protes. Lagipula, masalah ini tidak seperti yang ibu bayangkan.” “Ah, benarkah?” Brittany berdecih. Ia memalingkan wajah karena muak dengan sikap putranya sendiri. “Joanna itu tidak selugu yang kau pikirkan, Jeremy. Dia sudah mencampakkanmu dua tahun lalu. Tapi sekarang ia bersikap seolah-olah kau pria yang paling dicintai. Apa itu wajar menurutmu?” Jeremy menelan ludah berusaha tetap santai. Sementara di dalam hatinya terus berkecamuk. Ia tak mengerti darimana sang ibu tahu tentang itu. Dalam perjalanan pulang, Jeremy membisu. Suasana hati yang buruk ikut membebani pikirannya. Di sisi lain, sang pengemudi menghela nafas, ia terlalu takut mengeluarkan s

