“A-aku mohon … jangan menyakitiku. Aku akan memberimu apapun yang kau mau ….” Sebelum menyelesaikan ucapan itu, Jeremy langsung menariknya ke dalam dekapan. Madeline hendak berteriak kencang, namun tertahan ketika suara familiar menyapa pendengarannya. “Jangan takut, ini aku ….” Suara itu? Madeline membuka mata perlahan. Ia mendongak memastikan bahwa suara yang ia dengar tidaklah salah. Ketika titik pandangnya seratus persen tertuju pada pria itu, ia lantas tertegun mendapati senyum yang terpancar di wajah Jeremy. Sesaat bergeming, ia merasa canggung. “Mengapa kau kembali?” Jeremy mengangkat alisnya. “Apa aku tidak boleh kembali?” “Kupikir kau akan bermalam di rumah sakit bersama … dia.” Madeline sebenarnya tidak mengharapkan Jeremy kembali. Apalagi, setelah pria itu menunju

