Madeline membeku. Tubuhnya terasa gontai. Jantung pun ikut berdebar kencang. Tak mampu melihat apa yang terjadi, ia berlari sekencang-kencangnya. Andai saja ia bisa memutar waktu, sungguh dirinya tak ingin membuka pintu itu. “Bagaimana kau bisa melakukan itu di belakangku, Mas?” Madeline bersandar di dinding dengan nafas terengah-engah. Tiba-tiba perutnya bergejolak hebat. Tak banyak waktu, ia langsung berlari untuk memuntahkan isi dalam perutnya. Wajah semakin pucat, ia merasa hampir pingsan. Di depan wastafel, Madeline memandang wajah yang berantakan juga menyedihkan. “Kau sungguh menyedihkan, Madeline.” Disaat yang sama, ia mendengar seseorang mengetuk pintu terus menerus. “Madeline, buka pintunya!” Itu suara Jeremy, sosok yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya. E

