Chapter 17

1144 Kata
Garden bernuansa Soft mewah itu terbuka saat seorang pelayan tua menariknya. Cahaya mentari yang masuk itu mengenai kedua bola mata Renata. Membuatnya sedikit terganggu. Sedikit demi sedikit matanya terbuka. Lalu mengeluhkan sakit kepala seraya memegang kepalanya. Sanne pelayan paruh baya itu menghampiri Renata lalu duduk di samping Rena, "Nona apa anda sudah merasa lebih baik?" tanya Sanne. "Kepalaku sedikit berat Sanne." Jawab Renata memelankan nadanya. Sanne mengambilkan air minum dan membantu Renata bangun untuk duduk dan bersandar. Saat Renata sudah memposisikan dirinya dengan bersandar di diding, dia melihat sekeliling. Kamar yang elegan dengan nuansa Soft, bagian kiri tirai besar yang menutupi kaca jendela itu terikat ke samping agar sang mentari mampu memasuki kamar, dengan foto pernikahan yang terpapar jelas di depan tempat tidur dengan hiasan foto lainnya. Dan juga tv besar. Tidak hanya itu terdapat juga beberapa kursi yang berada di samping ranjangnya dan tidak lupa hiasa lainnya yang berada di sudut ruangan. "Sanne ini kan-" "Benar Nona Rena. Ini mension tuan Frans. kamar tidur anda." Jawab Sanne lalu dia memberikan air minumnya. Renata hanya menerima, otaknya masih bekerja memikirkan bagaimana dirinya berada disini?, Beberapa detik kemudian seorang laki-laki yang amat sangat ia kenal memasuki kamar. Frans menyuruh Sanne untuk keluar. Frans menghampiri Renata, duduk di depan Renata menggantikan posisi Sanne. Menempelkan telapak tangannya ke dahi Renata, dan Renata sama sekali tidak menolak itu. "Demammu sudah turun." Ucap Frans. "Jam berapa sekarang?" tanya Renata, meletakkan gelas berisikan air minum kemudian menarik tangan Frans untuk melihat jarum jam pada jam tangan yang melingkar di pergelangan Frans. "Pukul 10! Astagah aku lupa." Ucap Renata spontan. Dia berniat bangkit namun di tahan oleh Frans. "Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya. "Frans aku harus menyiapkan acara Fashion Week. Aku tidak boleh melewati kesempatan ini!" Renata masih berse kekeh untuk pergi. Frans terus menahannya. Frans menahan pundak Renata dan menahannya agar tetap di tampat. Lalu menyentuh rambut Rena dan membelainya. "Jim memberitahuku jika Mr. Smith mengundur acara Fashion Week sampai lusa, kau istirahatlah agar pesta nanti kau bisa hadir dengan keadan baik-baik saja." Ucap Frans "Bagaimana itu bisa terjadi? Apa kau yang melakukannya?" tanyanya kemudian mencari ponsel miliknya. Setelah mendapatkan ponselnya Rena mencoba menghubungi Arin untuk mengkonfirmasi apa yang di katakan Frans benar atau tidak. Saat Renata mencoba menghubunginya lagi-lagi Frans meraih ponsel Renata dan merebutnya, meletakan ponselnya di atas meja yang berada di samping Renata. Renata sempat marah terhadap sikap Frans namun Frans mencoba meredahkan emosi Renata. "Aku tidak malakukan apapun, aku hanya mengundang Mr. Smith ke acara pesta nanti. Aku hanya melakukan apa yang harusnya aku lakukan sebagai suamimu." Perkataan Frans sukses membuat Renata tertegun. Wajahnya berkaca terharu mendengar Frans mampu mengatakan hal seperti itu. "Apa maksudmu?" tanya Renata mencoba mencernanya lagi. "Bagaimana bisa aku membiarkan Nyonya Alvarado jatuh sakit hanya karena masalah sepele? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." "Renata apa aku harus mengulangi perkataanku lagi? jika kau itu adalah Nyonya Alvarado!" tegas Frans Setelah Frans menyuruh Renata untuk istirahat , Frans kembali ke perusahaan dan meninggalkan Renata. *** Terlihat Anna memasuki sebuah Hotel Vahrenhait yang ternama di Florida, mencari kamar dengan nomor B6012. Saat Anna memencet bel tersebut keluarlah seorang laki-laki tampan dengan seuntas senyum lalu memeluk Anna dan Anna pun membalas pelukan laki-laki itu. "Hai Anna I Miss You." Ucap laki-laki itu, setelah melepaskan pelukannya dia menyuruh Anna untuk masuk ke dalam kamar. Anna masuk ke kamar hotel dengan laki-laki itu, saat berada di dalam mereka duduk berhadapan. Anna di atas ranjang sedangkan laki-laki itu menarik bangku dan duduk di depan Anna. "Juan bagamana kabarmu?" Tanya Anna pada Juan lalu dia menyerahkan sebuah undangan pesta itu dan tersenyum. "Aku baru pulang dan kau menyuruhku untuk ke pesta?" Juan menolak undangan itu dengan alasan lebih menyukai kedamaian bukan keramaian. Anna terus mendesaknya agar juan mau ikut ajakan Anna, dengan mengatakan akan ada kejutan spesial. Kejutan yang tidak pernah Juan bayangkan itu membuat Juan tertarik dan berniat pergi ke pesta dengan Anna sebagai pasangan. Bukan hanya itu Anna sempat memperlihatkan secarik foto seorang wanita yang sangat Juan kagumi dan ingin ia temui sebagai seorang laki-laki yang sudah meninggalkan kekasihnya begitu lama. Foto itu Juan ambil dari tangan Anna, "Dari mana kau mendapatkan foto ini Anna?" Juan mempertanyakan hal itu. "Aku yakin bukan jawaban dari mana aku mendapatkan itu yang ingin kau ketahui, tapi bagaimana aku bisa mengenalnya? Juan aku sangat mengenalnya dan aku tahu itu." Anna menjelaskan. Anna tersenyum dan di ikuti Juan yang terus melihat foto itu, 'Renata aku ingin melihat akhirmu!' Batin Anna. *** "Tuan Frans, ada seseorang yang ingin menemui anda. Dia sekarang berada di ruang meeting." Ucap Jim Frans yang tengah memainkan jemarinya di atas keyboard itu langsung menghentikannya dan berpaling ke arah Jim. Beranjak pergi dari posisinya dan keluar ruangan tanpa mengatakan apapun. Saat Frans menemui orang itu, Frans langsung menyapanya dengan berjabat tangan. Kemudian duduk di kursi dan berhadapan dengannya. Laki-laki berjas dan tidak jauh lebih tua dari Frans yang biasa di sapa, "the Diamond" itu mengambil sebuah kotak persegi yang tidak terlalu besar dengan kain berudu warna merah memberikan nuansa mewah dan di atas terlihat satu batu ruby yang melengkapi kemewahan itu. Frans meraih kotak itu lalu membukanya, saat kotak terbuka sebua kalung, anting, gelang berlian itu mampu menghipnotis mata yang memandangnnya. Desain kalung itu sendiri sangat mewah dan tidak ada duanya. Berlian putih menyala menghiasi setiap inci dari kalung yang berbentuk daun perak, anting dan gelang. Tidak jauh indah dari berlian liontin yang terpasang pada kalung menggunakan batu yang sangat jarang untuk di temui yaitu menggunakan batu Safir. Frans tersenyum lalu mengambil kalungnya dan di lihat secara seksama. Bahkan di bawah cahaya lampu kilau berliannya sangat dominan. "Tuan anda tidak akan menyesal dengan desain perhiasan ini. Batu yang saya pakai sangat sulit untuk orang lain miliki, saya buat sangat khusus untuk anda tuan." Ucap Mr.Leonard. Frans hanya tersenyum lalu menandatangani sebuah surat kontrak pembelian perhiasan seharga selangit. Bagi Frans untuk mengeluarkan uang bukan masalah besar asal itu untuk Istrinya. Setelah menandatangi kepemilikan perhiasan, Frans berjabat tangan dengan Mr. leonard. "Senang berbisnis dengan anda tuan Frans." ucapnya "Perhiasanmu memang membuat mata yang melihatnya merasa takjub." Frans kembali mengutarakan pemikirannya. Pasalnya bukan pertama kali Frans meminta Leonard untuk membuatkan sebuah perhiasan. Cincin berlian pernikahan yang Renata kenakan juga hasil karya Leonard. Frans kembali ke ruang kerjanya dengan membawa perhiasannya, di berikan perhiasa itu ke pada Jim dan menyuruh mempersiapkan gaun pesta untuk Renata nanti. 'sedang apa Rena sekarang? Apa demamnya sudah membaik?' batin Frans Frans meraih ponselnya dan meghubungi Renata. To Be Continued Hai semuanya, Ayumphii mau minta maaf sama kalian? sudah hiatus 2mingguan. Karena Ayumphi kemarin sedang sibuk ngejar tugas kuliah yang numpuk? dan saat mau lanjut Ayumphii jatuh sakit. Terimakasih untuk suport dan antusias kalian yang mau menunggu kelanjutan cerita dari Ayumphii.. Jangan cepat bosan yaaah dan tunggu keseruam dari Cerita mereka. Jangan lupa juga like, komen dan Share
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN