Chapter 16

1119 Kata
"Hai apa kau malu karena sudah menjiplak karya orang lain?" Teriak Anjelina. Rena membalikan badannya, dan Anjelina menghampiri Renata dengan senyuman yang mengartikan kebencian. "Aku heran kenapa Mr. Smith masih mau menerima kau menjadi salah satu perancang busana untuk acara Fashion Week nanti. Apa kau tidur dengannya untuk meminta kesempatan?" Sindir Anjelina "Kau!!-" Rena tidak bisa menahan dirinya yang mendengar perkataan Busuk Dari Anjelina. "Kau salah Ms. Anjelina" Potong Selena dari arah samping Renata dan Anjelina. Menghampiri mereka dan ikut beragumen dengan mereka. "Maafkan aku jika aku menyela. Aku rasa kau sedikit keterlaluan Ms.Anjelina. yang aku tahu Ms. Renata ini adalah seorang perancang busana yang sangat perfeksionis dalam membuat karyannya. Jikapun berita itu ada benarnya aku yakin mereka yang ingin menjatuhkan Ketenaran Rena akan menggunakan seribu cara untuk hal yang memalukan." Ucap Selena menyindir. Sindiran ringan yang tajam itu membungkam Anjelina, dia bahkan tidak bisa pintar dalam beragumen yang membuatnya kalah saat menggunakan otak dan menang saat menggunakan kecurangan. Anjelina kesal dan pergi meninggalkan mereka, Selena berpaling ke Renata. Lalu menyuruh Rena untuk tetap tersenyum. "Kau Tahu Na?" tanya Renata. Sejujurnya dirinya sendiri malu, meski bukan perbuatannya tapi dia tidak bisa membuktikannya dan takut membut temannya kecewa. "Aku tahu berita itu. Aku tidak percaya dengan apa yang mereka katakan tentangmu. Karena aku lebih mengenalmu saat kau merintis karirmu hingga sebesar ini." Senyum Selena membuat hati Rena sedikit lebih tenang. "Aku minta maaf jika aku mengundang Anjelin meski aku tahu kau dengannya tidak pernah sepemikiran." "Aku tidak apa-apa Na." Renata mencoba menenangkan Selena agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.. *** Bandara. Florida Ddrrtt drrtt drrtt Dering ponsel menandakan panggilan masuk. Seorang laki-laki berkemeja putih dengan jas terbuka warna biru tua dan kaca mata hitam itu membuat penampilannya sangat menawan, tangan kanannya yang memegang koper. Tangan kirinya yang dia masukan ke dalam saku celananya itu. Saat mendengar ponselnya bergetar, dia menghentikan langkahnya dan mengambil ponselnya untuk mengangkat panggilan itu, "Hallo Anna." Ucap laki-laki itu dengan senyumannya. "Aku akan langsung ke Hotel." Ucapnya lagi. Setelah menerima panggilan itu, laki-laki pemilik wajah tampan mencoba menghubungi salah satu kontak spesialnya dengan nama kontak 'MyDream' 'Neta MyDream (tidak tersambung)' "Neta apa kau akan mengabaikan ku seperti ini?" Batin Juan. Sedikit kecewa saat Wanita yang sangat dia rindukan Itu tidak bisa dihubungin. Dia kembali memasukan ponselnya dan keluar bandara lalu menaiki sebuah mobil yang sudah berada di luar bandara. *** Pesta akan segera di mulai, Selena menyuruh Renata dan Frans untuk menjadi tamu spesialnya dan menyapa Semua tamu undangan. Renata menolaknya namun Selena terus memohon agar Renata menerima permintaannya. Renata tidak bisa menolak permintaan temannya itu, dia mengangguki dan dia harus mencari Frans terlebih dahulu. Saat dirinya hendak mencari Frans, ponselnya berdering dan itu dari Arin. "Hal-" "Ren aku minta maaf aku tidak berniat menggangu acarmau tapi ini sangat mendesak. Bisakah aku pulang secepatnya?" Potong Arin dan suaranya terdengar gelisah. "Ada apa Rin?" tanya Renata. "Aku akan menjelaskan nanti." Ucap Arin dari seberang. Setelah panggulan terputus, Renata segera menemui Selena dan meminta maaf jika dia harus segera kembali ke butik, mungkin ada sesuatu yang mendesak. Karena jika bukan hal yag besar Arin tidak akan terdengar segelisah itu. "Selena." Panggil Renata pada temannya yang tengah menemui tamu lain. "Hai Neta, semuanya aku akan kenalkan kepada kalian Renata Alvarado." Ucapnya lalu menarik Renata untuk bergabung dengannya "Selena, aku minta maaf aku ingin bicara denganmu, berdua saja." Ucapnya gelisah. Selena dan Renata sedikit menjauh untuk berbicara. "Kau tahu pesta ini sangat penting bagiku, dan aku sungguh ingin menikmatinya malam ini tapi sesuatu mungkin sudah terjadi di butikku. Aku harus segera kembali." Ucapnya. "Apa yang sudah terjadi Neta?, suaramu terdengar gelisah?" Selena mencemaskan Neta dan Renata tidak bisa menjelaskannya karena dia pun belum tahu pasti apa yang sudah terjadi. Setelah Selena mengizinkan Renata pulang, Renata berniat tidak mencari Frans dan pulang sendirian namun Frans ternyata berada di luar ruang pesta dan terlihat habis mengobrol dengan sesorang yang kini pergi saat mengetahui kedatangan Renata. "Frans. Aku harus kembali ke butik." Ujar Renata seraya menghampiri Frans. "Masuklah aku akan mengantarmu." Renata tidak menolaknya karena dia tidak punya pilihan lain selain pulang bersama Frans. Setelah Renata sudah sampai di butik, Frans mengikuti Renata masuk ke dal Butik. Tepat saat pintu masuk semuanya seeang berkumpul di sana. Enatah apa yang sudah terjadi raut wajah mereka menampakan hal yang buruk. "Ada apa ini?" Tanya Renata saat mendapati semuanya dan menghampiri Arin yang tengah berdiri di hadapan mereka semua. "Rena kami melakukan kesalah yang Fatal." Ucap Arin Renata jauh lebih khawatir sekarang. "Apa maksudmu?" Frans hanya berdiri di belakang Renata, sedikit jauh dari jarak Renata. Frans hanya terus menatap ke arah mereka seraya menyilangkan kedua tangannya. "Nona Rena aku sungguh minta maaf. Aku tidak tahu di mana kalung berlian untuk acara besok." Ucap salah satu pekerja butiknya. "Apa!" Kedua mata Renata membulat sempurna saat mendengar hal itu. "Bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah kau sudah menaruh di tempatnya Rin?" Tanya Renata ke Arin. "Nona Renata aku sungguh minta maaf. Akj mengeluarkan kalung itu berniat untuk mengemasnya, tetapi saat aku kembali kalung itu sudah tidak ada di dalam kotak perhiasan." Ucap salah satu pekerja Renata dengan memelankan nadanya lalu mrnangis. Renata tidak tahu harus perbuat apa, "bagainama aku harus menjelaskan ke Jonny? Kalung itu aku hanya menyewanya." Ucap Rena lalu duduk di kursi. Frang kelura butik lalu menghampuru Jim, "lakukan sesuatu, aku ingin mr. Smith menunda acara besok." Pintah Frans kepada Jim. Jim menganggukinya dan Frans kembali masuk ke dalam. Saat sudah berada di dalam Frans menghampiri Renata, menyuruh semua orang untuk pergi meninggalkan Renata dan Frans. Setelah hanya mereka berdua di dalam ruangan itu, Frans menyuruh Renata untuk berdiri. 'kau masih punya aku Renata.' batin Frans. "Frans apa aku terlihat menyedihkan?" Tanya Renata. Saat dirinya sudah berdiri di hadapan Frans, Frans yanf melihat pipi merah milik Renata besah karena air mata itu langsung mengusapnya. Entah kenapa Renata lebih tenang ketika melihat Frans, hatinya serasa lega. Bebanya terasa ringan dan sekarang dia senang melihat Frans. "Bukankah aku sudah berjanji padamu tidak akan ada yang berani menyakitimu!" Ucapan Frans terdengar lembut dan serius. Kedua mata mereka saling bertemu, menatap satu sama lain. Mendengar perkataan Frans memang melegakan hati Renata, namun. Tidak merubah fakta jika Frans bukan miliknya, Frans memilik empat istri, Renata sangat membenci Frans, Tidak ingin terikat dengannya. Fakta itu terus menyadarkan Rena agar tidak terlalu jauh masuk ke dalam dunia Frans. "Kau adalah Nyonya Alvarado. Tidak akan ada yang berani menyakiti sesuatu yang sudah milikku."ucap Frans lagi. Anehnya sekarang Kepala Renata terasa berat, dan pandangannya kabur. Beberapa detik yang lalu bahkan suara Frans masih terdengar jelas namun sekarang samar-samar redup yang di ikuti tubuhnya kian melemas. Pada hitungan detik tubuh mungilnya ambruk di depan Frans. Tangan Frans menahan tubuh Renata. To be contunued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN