Aku menatap Hyun Soo, aku ingin bertanya lebih jauh tentang pembicaraan singkatnya bersama dengan Marcus tadi, tapi aku juga merasa ragu. Tapi karena sudah tak mampu membendung rasa penasaranku, aku akhirnya memilih bertanya. Aku menatap Hyun Soo ketika kami dalam perjalanan entah ke ruangan yang mana lagi. Karena sejak awal aku memang tidak fokus, aku hanya ikut kemana pun Hyun Soo membawaku pergi. "Apakah kamu cukup dekat dengan Marcus?" tanyaku setelah menimbang cukup lama, Hyun Soo lalu tersenyum ke arahku. "Mungkin bisa di bilang dekat, tapi tidak terlalu juga. Kami masih memiliki batasan antara atasan dan bawahan. Tapi sesekali kami akan keluar untuk minum bersama," jelas Hyun Soo. "Memangnya kenapa kamu ingin tau tentangnya?" tambah Hyun Soo dengan menatapku curiga. "Aku bukan ingin penasaran tentangnya, aku justru penasaran tentang hubunganmu dengannya. Karena yang aku lihat, kalian cukup akrab," kilahku supaya Hyun Soo tidak terlalu curiga. Hyun Soo lalu tersenyum ke arahku. "Kami memang cukup dekat, dia orang yang ramah dan mudah bergaul," jawab Hyun Soo dengan santai.
"Kenapa kamu tadi menyangkut tentang wanita. Apakah kamu juga berbagi kenalan dengannya?" tanyaku pada akhirnya. Aku tidak bisa mencari topik pembicaraan yang lain, sehingga aku lebih baik langsung terus terang saja. "Mengapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Hyun Soo dengan mengerutkan keningnya. "Kamu seperti sudah terbiasa berbagi wanita dengannya. Maksudku, mungkin sekedar kenalan atau teman wanita, yang kamu sudah merasa tidak cocok lalu kamu akan memperkenalkan wanita itu padanya. Bukankah pria memang biasanya seperti itu?" jelasku dengan menatap Hyun Soo serius. Padahal aku tidak pernah tau bagaimana hubungan pertemanan antar pria, tapi aku sok tau sekali supaya Hyun Soo tidak menaruh curiga padaku.
Kali ini kami berada di hadapan lift. Hyun Soo menatapku sejenak. "Beberapa kali kami pernah melakukannya. Bukan berbagi wanita, atau lebih tepatnya jika aku merasa tidak cocok dan tidak ingin menjalin hubungan lebih jauh, aku akan memperkenalkan Marcus dengan beberapa teman kencanku. Dia pria yang tampan, sehingga kebanyakan dari mereka nyaman dengan Marcus lalu berpindah haluan dengan melakukan pendekatan dengannya. Mereka lalu melupakanku dan lebih memilih Marcus. Marcus memang mudah mendapatakan wanita tapi sangat jarang menjalani hubungan yang serius. Karena kebanyakan wanita akan melihat dia tidak serius, padahal dia hanya suka bercanda," jelas Hyun Soo dengan tersenyum. Pintu lift terbuka, di dalamnya ada 3 orang wanita. Ketika kami masuk, Hyun Soo langsung melepaskan tautan tangan kami dan memeluk para wanita itu bergantian. Bahkan dari mereka masing-masing mencium pipi Hyun Soo dengan bebas. Aku bahkan refleks langsung mundur 2 langkah. "Kalian jangan berlaku seperti itu di depan calon istriku," ujar Hyun Soo dengan tertawa. "Apakah eonni ini calon istri Tuan Hyun Soo?" ucap salah satu dari mereka dengan tersenyum lebar. Hyun Soo lalu mendekat ke arahku dan kembali memeluk bahuku. "Dia Rachel, calon istriku," ucap Hyun Soo. Aku berkenalan dengan mereka satu persatu, tapi karena aku sudah memiliki pandangan yang berbeda tentang mereka, maka aku hanya membalasnya dengan tersenyum singkat. Apakah seperti ini hubungan Hyun Soo dengan para wanita yang bernaung di agensinya? Aku tidak melihat adanya batas di antara mereka. Para wanita itu bisa dengan bebas memeluk Hyun Soo, yang paling terparah mereka bahkan dengan bebas mencium pipi Hyun Soo meskipun itu hanya sekilas, bukankah itu sudah berada di luar batas? Apalagi jika kembali mengingat tentang penjelasan Hyun Soo tentang Marcus. Apakah jika Hyun Soo lelah dan bosan padaku maka dia akan memperkenalkan aku pada Marcus? Mengapa aku semakin di buat ragu setelah mengenal Hyun Soo lebih jauh. Aku semakin yakin jika Hyun Soo memang terbiasa mempermainkan wanita. Di kala dia sudah mulai lelah dan bosan, maka dia akan menggunakan Seo Rin untuk membuat para wanita itu menjauh. Tapi di saat Seo Rin saja tidak cukup, Hyun Soo memberikan sosok pemgganti untuk para wanita itu yakni Marcus. Padahal aku juga mengakui jika Marcus cukup tampan, sayang sekali jika dia harus selalu mendapatkan wanita bekas dari Hyun Soo.
"Rachel!" Aku tersentak ketika Hyun Soo meremas bahuku. Aku menatap sekeliling di mana pintu lift sudah terbuka, ketiga wanita itu juga sudah tidak ada. Kami sudah sampai di lantai yang Hyun Soo tuju.
"Kenapa kamu melamun?" tanya Hyun Soo dengan menatapku khawatir. "Tidak, aku mungkin hanya lelah. Aku juga memikirkan tentang reservasi di restoranku," jawabku dengan asal. Aku tidak bisa memikirkan alasan yang lain lagi. "Ayo," ajak Hyun Soo dengan menuntunku. Aku melirik ke arah atap lift, kami berada di lantai 3. Lantai ini lebih sepi dari sebelumya. Hanya terdapat beberapa orang yang berlalu lalang di sini. Kami tidak sengaja bertemu dengan Seo Rin. Bukankah bocah itu bilang tidak suka bergabung dengan perusahaan? Lalu untuk apa dia kemari?
"Kenapa kemari, Seo Rin?" sapa Hyun Soo. Aku sudah menebak jika kehadiran bocah ini sangat tidak biasa di sini. Dia sendiri juga bilang tidak suka dengan perusahaan, apakah dia hanya bosan dan ingin menghabiskan waktu luangnya di sini? "Aku tadi bertemu dengan Abeoji untuk meminta tanda tangan persetujuan. Lalu sekarang sedang berkeliling karena bosan," jelasnya dengan santai. Aku menatap Hyun Soo dengan heran ketika dia menghela nafas dengan berat. "Sekarang apa lagi yang kamu beli?" tanya Hyun Soo dengan menatap Seo Rin datar. Apakah Hyun Soo kesal pada Seo Rin?
"Aku membeli sebuah bangunan," jawab Seo Rin dengan santai. Aku sampai membulatkan mataku, jadi tanda tangan yang dia maksud untuk membeli sebuah gedung? Aku tidak tau jika bocah manja ini juga bisa berlaku ceroboh dan juga bodoh. "Apakah kamu sudah yakin? Kamu sudah memikirkannya dengan matang. Bagaimana kondisi lokasinya, struktur bangunannya, akses lokasinya. Apakah kamu sudah memikirkan semuanya? Lagi pula untuk apa kamu membeli gedung?" tanya Hyun Soo dengan frustrasi. Aku juga ikut tak habis fikir sekarang, Seo Rin memang gila. Dia beruntung terlahir di keluarga kaya sehingga ada yang akan mendukung kegilaanya seperti Paman Jong Pal.
"Belum, aku akan memikirkannya nanti." Aku sampai ingin menangis mendengar bagaimana bodohnya Seo Rin. "Lalu untuk apa tanda tangan itu?" tanyaku penasaran. "Untuk mendapatkan uang. Setidaknya aku sudah mendapatkan uangnya. Soal gedung, aku masih harus memikirkannya. Aku juga bisa membeli gedung yang lain jika yang ini nantinya tidak cocok,’’ jawab Seo Rin yang membuatku melongo karena tak percaya. Bagaimana bisa Paman Jong Pal menyetujui keuangan yang masih belum jelas ke mana larinya uang itu. Haruskah aku memiliki keluarga yang gila tapi sayangnya kaya raya seperti mereka?