26. Berkeliling

1017 Kata
Sekretaris Hyun Soo datang dengan membawa laporan hasil dari pertemuannya tadi dengan kolega. Hyun Soo berbincang sebentar dengan sekretarinya itu, saat aku akan berpamitan, Hyun Soo justru menahanku dan mengatakan jika dia masih memiliki urusan denganku. Padahal aku tidak memiliki janji apa pun dengannya. Dia pikir hanya dia yang memiliki urusan? Aku dengan sabar masih menunggu Hyun Soo sampai pembicaraan mereka usai. Meskipun dengan raut muka yang keruh, sebenarnya aku paling benci menunggu. "Kamu masih ada urusan apa denganku?" tanyaku setelah sekretaris Hyun Soo keluar dari ruangan. Aku tidak bisa membuang-buang waktu lebih lama. Jika ternyata urusan yang Hyun Soo maksud itu tidak penting, maka aku tidak akan segan untuk meninggalkannya. "Aku ingin mengajakmu berkeliling," ucap Hyun Soo dengan tersenyum lebar, sedangkan aku menatapnya dengan aneh. Bukankah dia bilang jika dia sangat sibuk sampai lupa makan siang, lalu mengapa dia bisa ada waktu untuk melakukan hal tidak penting seperti mengajakku berkeliling? Aku bahkan sempat berpikiran buruk jika Hyun Soo ingin melanjutkan hal yang kita lakukan tadi. "Aku masih memiliki pekerjaan yang harus segera aku selesaikan. Lagi pula jam makan siang sebentar lagi juga akan usai," ucapku sembari melirik ke arah arloji di tanganku. "Bibi Hana bilang jika kamu memiliki waktu bebas untuk menemaniku," jawab Hyun Soo dengan santai. Aku mendengus sebal memikirkan apa yang Eomma lakukan. "Aku tidak ada waktu," jawabku keras kepala. "Aku hanya ingin memperkenalkanmu dengan duniaku. Sehingga kamu tidak akan terkejut jika aku akan sering bertemu dengan para bintang besar yang sering kamu lihat di tv," ucap Hyun Soo dengan antusias. "Tapi sayangnya aku tidak pernah menonton tv. Aku juga tidak tau artis mana yang sekarang ini sedang naik daun. Jadi percuma saja, aku juga tidak mengenal mereka," jawabku dengan datar. "Dari pada membuang lebih banyak waktu, lebih baik kita segera berkeliling. Aku juga ingin memperkenalkanmu pada para pegawaiku." Aku menatap Hyun Soo dengan sebal. Apakah ada dari ucapanku yang menyetujui ajakannya? Kenapa dia bisa besar kepala begini, tapi jika melihat antusias Hyun Soo sekarang, masih bisakah aku menolaknya? Padahal jujur saja aku sangat tidak tertarik untuk ikut Hyun Soo berkeliling perusahaannya. Dia pikir aku ke sini untuk karyawisata? "Aku yakin jika niat utamamu adalah hanya ingin membawaku di depan banyak orang untuk memperkenalkan aku sebagai calon istrimu." Hyun Soo tertawa dengan menganggukkan kepalanya. Aku sudah tau kemana jalan pikirannya. Kini aku semakin tak bersemangat untuk menuruti keinginan Hyun Soo, tapi mau bagaimana lagi. Hyun Soo meraih tanganku lalu membawaku keluar dari ruanganya. Kami masuk ke dalam lift, lantai 7 adalah tujuan Hyun Soo saat ini. Dia membawaku masuk ke dalam ruang rekaman. Ruangan ini cukup besar, dengan beberapa pekerja yang sedang sibuk melakukan pekerjaan. Hyun Soo menyapa mereka semua, yang aku lihat hubungan Hyun Soo dengan para pegawai rekaman ini tidaklah terlalu formal. Mereka nampak seperti teman. Mereka berbincang sebentar, aku tidak tau apa yang Hyun Soo katakan, tapi setelah itu semua pria berdiri dan menunduk hormat padaku. Seorang wanita yang tadi bernyanyi di dalam bilik rekaman sekarang ini keluar lalu memeluk Hyun Soo. Aku sudah pernah melihat teman Hyun Soo yang bisa memeluknya dengan bebas, aku pikir jika hal itu hanya akan berakhir sampai di sana. Tapi ternyata Hyun Soo juga melakukan hal yang sama pada penyanyi yang berada di bawah naungan agensinya. "Hai, Rachel," sapa wanita itu dengan ramah. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum singkat. Aku tidak tau siapa dirinya, jadi untuk apa aku balas menyapanya. Wanita itu cantik dan ceria, pembawaanya terlihat seperti gadis yang manis. "Dia Sunny, penyanyi solo yang sedang naik daun sekarang ini. Apa kamu tau?" ucap Hyun Soo terlihat begitu bangga dengan salah seorang artisnya. "Aku tidak pernah menonton tv, tidak juga mengikuti perkembangan entertainment, jadi aku tidak tau," jawabku dengan jujur tak lupa dengan senyum tipisku. Aku melihat senyum Sunny seketika luntur ketika aku mengatakan tidak mengenalnya. Bukankah memang seperti itu kenyataanya? Untuk apa pula aku pura-pura tau padahal tidak tau sama sekali. "Padahal fotoku sering terpajang di baliho jalan," ujar Sunny dengan tersenyum kaku. Cukup sombong, tapi tak masalah selama dia memiliki karya sehingga tak terlalu aneh untuk berlaku sombong. "Baiklah, Sunny akan melanjutkan rekaman, sebaiknya kita tidak mengganggu mereka lebih lama lagi," ujar Hyun Soo untuk mencairkan suasana yang berubah canggung karena kejujuranku. Kami lalu berpamitan singkat dan Hyun Soo menggandengku untuk menuju ruangan berikutnya. Di sini adalah ruangan yang sangat lebar, bahkan aku rasa ini hampir seluas lapangan badminton. Seluruh dinding ruangan dilapisi dengan kaca. Ada banyak sekali orang di sini yang sedang menari. Mereka masih sangat muda, di sini jujur saja tidak sepenuhnya cantik dan tampan, tapi aku merasa mereka lebih bersikap sederhana. Mungkin karena mereka belum menjadi bintang sehingga masih belum bersikap sombong seperti beberapa artis yang sudah aku temui. "Sebaiknya kita tidak terlalu lama di sini. Mereka masih terlihat sibuk," bisikku pada Hyun Soo. Kami hanya melihat sejenak lalu meninggalkan ruangan itu. Di sana tadi ketika Hyun Soo akan memperkenalkan aku sebagai calon istrinya, aku sudah menahan Hyun Soo terlebih dahulu. Saat kami berjalan, ada seorang pria tampan yang sepertinya tengah berbincang dengan asistennya. Aku pernah melihat dia, tapi aku lupa entah di mana. Atau mungkin di salah satu film Korea yang pernah aku tonton. "Hai, Marcus," sapa Hyun Soo dengan ramah. "Selamat siang Tuan Hyun Soo," jawab Marcus dengan menundukkan badannya. "Dengan siapa anda saat ini?" tanya Marcus dengan ekspresi menggoda. "Perkenalkan dia Rachel Park, calon istriku. Dan Rachel, dia Marcus Lee aktor terbaikku," ucap Hyun Soo dengan bangga. Aku berjabat tangan dengan Marcus, sepertinya dia sosok yang humoris. "Aku Marcus, senang berkenalan dengan anda, Nona," ucap Marcus dengan tersenyum lebar. Tapi saat aku akan melepaskan jabatan tangan kami, Marcus justru menahan tanganku. Aku melirik Hyun Soo sekilas, lalu dia melepaskan tautan tangan kami dengan paksa. Hyun Soo bahkan dengan terang-terangan langsung merangkul bahuku dengan posesif. "Jangan berani mengganggunya, Marcus. Kamu tidak boleh mengganggu yang ini," ucap Hyun Soo dengan tersenyum miring. "Baiklah, aku mendukung pilihanmu," ucap Marcus dengan tersenyum lebar. Hyun Soo lalu menepuk bahu Marcus sebelum berpamitan dengannya. Saat kami sudah berjalan menjauh, aku menyempatkan diri untuk menoleh dan ternyata Marcus masih menatap ke arah kami dengan tatapan yang menurutku aneh, apa yang dia pikirkan tentangku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN