Gedung 10 lantai ini ternyata sangatlah luas. Ruangan Hyun Soo sendiri berada di lantai 10. Ruangannya sangat besar, tapi terlihat sangat lapang karena hanya terdapat sedikit furniture di sini. Aku duduk di samping Hyun Soo. Lalu membongkar box berisi makan siang untuk Hyun Soo. Dia tampak antusias dengan makanan yang Eomma kirimkan. "Aku terharu karena Bibi Hana harus berlaku sebaik ini padaku," ujar Hyun Soo dengan tersenyum senang. "Tapi perlu kamu tau, jika aku selalu terkena imbasnya juga. Aku selalu direpotkan jika hal itu menyangkut perhatian Eomma padamu," sindirku yang membuat Hyun Soo tertawa. "Tapi semoga saja kamu mau melakukan ini dengan tulus. Jangan karena terpaksa, karena aku akan sedih mendengarnya," ucap Hyun Soo dengan mengusap rambutku.
"Awalnya aku terpaksa tapi lama-lama sudah terbiasa," jawabku yang membuat Hyun Soo tersenyum. Aku mulai menata semua makanan ini di atas meja. Ternyata Eomma memang serius dengan membawakan makan siang yang cukup banyak untuk Hyun Soo. "Ini terlalu banyak untuk aku makan sendirian. Kita makan bersama," ucap Hyun Soo dengan tersenyum lebar. "Tapi aku sudah makan, kamu saja," jawabku menolak. Karena aku memang belum merasa lapar. "Jangan bohong, Bibi Hana tidak pernah membawakan makanan sampai sebanyak ini untukku. Aku yakin jika dia sengaja supaya kita bisa makan bersama. Jangan menolak, Rachel. Aku ingin makan siang denganmu." Aku hanya mendengus dengan kesal ketika Hyun Soo sudah mengambilkan nasi dan beberapa lauk di mangkuk kecil yang sudah Eomma bawakan. Mangkuk ini memang berjumlah 2 buah, sehingga sudah pasti Eomma ingin jika kami makan bersama.
Aku menatap Hyun Soo yang dengan telaten mempersiapkan makan untukku. Bukankah keadaan kita saat ini terbalik? "Seharusnya aku yang melayanimu," ucapku merasa tidak enak ketika Hyun Soo yang justru mengambilkan makanan untukku. "Tidak masalah, sesekali aku juga ingin melayanimu," ucap Hyun Soo dengan mengusap pipiku yang aku balas dengan tersenyum lembut. Ada waktu di mana aku sangat bersyukur memilikinya, tapi tak luput juga jika ada kalanya aku sering meragukannya. Sekarang ini Hyun Soo juga lebih sering melakukan skinship padaku. Awalnya memang tidak nyaman, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa. Bukannya suka, tapi aku merasa biasa saja.
Kami makan dalam diam supaya bisa lebih menikmati masakan Eomma. Setelah selesai, kini aku segera membereskan bekas makan siang kami sebelum Hyun Soo melakukannya. Akan sangat tidak etis jika Hyun Soo sudah menyiapkan makan untukku lalu dia juga yang membereskan semuanya. Meskipun aku tudak rajin, tapi aku sebagai wanita merasa tidak berguna.
"Apakah kamu sedang tidak sibuk, sehingga bisa mengantarkan makanan untukku?" tanya Hyun Soo setelah aku selesai membereskan sisa makan siang kami. "Tentu saja aku sibuk, tapi kamu jelas tau jika Eomma adalah pemaksa yang handal. Dia selalu berhasil membuatku tak bisa melawan ucapannya," jawabku dengan memberengut kesal. "Jadi kamu tidak tulus?" tanya Hyun Soo menggodaku. "Sebenarnya tidak. Aku sudah minta Eomma untuk menyuruh seorang pelayan saja, tapi dia memaksa jika harus aku yang mengantarnya langsung," jelasku dengan menghela nafas. Hyun Soo justru tertawa.
"Ternyata Bibi Hana memang calon mertua idaman," ujar Hyun Soo yang membuatku meliriknya dengan sinis. "Eomma memang sepertinya lebih menyayangimu dari pada aku. Ketika tau kamu sedang sibuk sampai melupakan makan siangmu, Eomma langsung bergegas membuatkan makanan untukmu. Coba saja jika aku yang lupa makan. Dia hanya akan mengomel masalah kesehatan jika aku sampai melupakan makan. Bukannya perhatian, tapi dia justru akan marah." Mendengar ceritaku respon Hyun Soo kembali tertawa. Dia pikir ceritaku lucu?
Hyun Soo menepis jarak di antara kita hingga duduk berdekatan denganku. "Kamu jangan sampai lupa makan. Biar aku saja yang ceroboh. Kamu wanita yang sangat aktif, jika kamu sampai mengabaikan jadwal makanmu aku yakin akan berpengaruh pada aktivitasmu," ucap Hyun Soo dengan lembut. "Lihatlah siapa yang bicara, kamu sendiri lupa makan tapi sok sekali menasehatiku," sungutku dengan sinis. "Itulah kelemahanku, aku masih sering ceroboh. Lalu kamu yang akan melengkapiku. Kita akan menjadi pasangan yang saling melengkapi kekurangan masing-masing." Hyun Soo menatapku dengan dalam, aku tenggelam dalam matanya yang teduh. Jemari Hyun Soo mengusap pipiku dengan lembut. Entah kenapa aku tersenyum dengan lembut, aku suka saat Hyun Soo bersikap lembut seperti ini. Jika dia begini, mungkinkah jika Hyun Soo tidak tulus selama ini padaku? Jika memang dia memiliki maksud lain untuk mendekatiku, haruskah dia berusaha sekeras ini hanya untuk bersandiwara?
Tapi bisakah aku memberikan keputusan sekarang? Aku takut jika aku akan berubah pikiran di lain waktu. Aku tidak pernah merasakan patah hati, tapi mengapa aku selalu merasa trauma untuk mencintai. Hyun Soo baik, semua orang berkata seperti itu, bahkan sebagian diriku juga menyetujui hal itu. Tapi mengapa masih ada sebagian diriku yang menyangkal untuk menerima Hyun Soo? Apa yang aku cari darinya? Apa yang aku rasa masih kurang darinya, terkadang aku juga tidak bisa memahami diriku sendiri.
"Baru kali ini aku menemukan seseorang yang tepat, seseorang yang aku inginkan akan selalu menemaniku hingga aku tua nanti," bisik Hyun Soo dengan lembut. Dia menyatukan kedua kening kami untuk membangun suasana yang lebih intim lagi. Baru aku ingin percaya dan yakin pada Hyun Soo, tapi ucapannya baru saja membuat otakku kembali memikirkan hal yang lain. Kami baru saja bertemu, bahkan kami hampir berjalan satu bulan untuk saling mengenal. Tapi dia berkata jika sudah yakin terhadapku, lalu apa yang dia katakan pada perempuan lain selain aku? Yang Hyun Soo kenal lebih lama, yang menjalin hubungan lebih lama hingga membuat Hyun Soo sampai mencintainya. Apa yang Hyun Soo katakan sampai mereka percaya? Apakah aku akan menjadi seperti mereka? Yang tertipu dengan bujuk rayu dan perhatian Hyun Soo yang hanya sementara? Lalu aku hanya akan menjadi wanita yang pernah menjalin kasih dengannya, seperti nasib para mantan kekasih Hyun Soo. Kali ini aku tidak mendebat Hyun Soo, aku hanya menanggapi rayuan Hyun Soo dengan senyuman. Meskipun senyumanku tak tulus dari dalam hatiku. Hyun Soo akan menciumku, tapi aku refleks memundurkan kepalaku. Bersamaan dengan itu, pintu ruang kerja Hyun Soo diketuk dari luar, sehingga aku memiliki alasan untuk menolak ciumannya. Hyun Soo menatapku dalam, tapi tak mengatakan apa pun.
"Ada yang mencarimu," ucapku dengan tersenyum ke arahnya. Hyun Soo lalu tersenyum sekilas dan beranjak dari kursinya untuk membuka pintu.
Tuhan, jika dia memang jodoh yang kamu atur untukku, aku mohon jangan bolak-balikkan perasaanku untuk terus meragu padanya.