24. Mengantar Makan Siang

1772 Kata
Setelah pembicaraan kami satu minggu yang lalu, nyatanya hubungan kami juga tetap merenggang. Bedanya kali ini bukan karena faktor di sengaja melainkan karena kesibukan kami berdua. Hyun Soo juga beberapa kali tidak sempat untuk makan siang di restoranku karena dia harus melakukan meeting penting di jam makan siang. Aku sendiri juga sibuk karena restoranku mendapatkan banyak reservasi untuk acara pernikahan. "Sayang, bisakah kamu membantu Eomma?" tanya Eomma yang masuk ke dalam ruanganku dengan membawa box makanan. Aku menatap Eomma dengan heran, apa lagi yang akan di lakukan Eommaku kali ini untuk merepotkanku. Aku menghela nafas lalu menatap Eomma, "Apa yang bisa aku bantu, Eomma?" Dia terlihat sangat senang ketika aku berniat akan membantunya, padahal aku juga terpaksa. "Bisakah kamu mengantarkan ini ke kantor Hyun Soo? Min Rin bilang Hyun Soo terlalu sibuk akhir-akhir ini sehingga melupakan jadwal makannya. Eomma takut jika Hyun Soo akan sakit nanti," ucap Eomma dengan antusias. Tuhan, aku mohon sabarkan aku untuk menghadapi sikap Eomma yang suka seenaknya seperti ini. Haruskah Eomma ikut bingung dan khawatir dengan Hyun Soo yang tidak teratur makan? Hell, Hyun Soo pria dewasa! Haruskah dia selalu di ingatkan kapan jamnya makan? Jika dia tidak makan berarti dia memang masih belum mau makan, kenapa orang-orang harus repot? Dan jika memang dia pada akhirnya akan jatuh sakit, itu juga karena dirinya sendiri yang berlaku ceroboh dengan mengabaikan kesehatannya sendiri. Aku menatap Eomma dengan kesal. "Aku sedang sibuk Eomma. Aku tidak bisa melakukannya. Minta saja satu pelayan untuk mengantarnya," jawabku dengan acuh lalu melanjutkan pekerjaanku. Eomma justru duduk kursi yang berada di depan mejaku dan meletakkan makanan untuk Hyun Soo itu tepat di hadapanku. "Eomma tidak bisa jika menyuruh yang lain. Pasti Hyun Soo akan mengabaikan makanan dari Eomma ini. Tapi jika kamu yang membawanya, Hyun Soo pasti akan merasa jika makanan ini spesial," ujar Eomma masih mencoba membujukku. "Jika dia sudah diberi makanan tapi tetap tidak mau memakannya hanya karena alasan tidak sempat, berarti memang Hyun Soo yang sengaja mencari penyakit. Lalu untuk apa kita repot-repot memikirkannya jika dia saja mengabaikan dirinya sendiri. Sudah, minta pelayan saja yang mengantar!" jawabku keras kepala. Lagi pula aku terlalu berharga untuk dijadikan seorang kurir. "Eomma mohon, kali ini berikanlah sedikit perhatian untuk Hyun Soo. Kamu juga kelak akan menjadi istrinya. Jika sampai terjadi sesuatu dengan kesehatan Hyun Soo juga akan berpengaruh padamu nantinya." Eomma pikir Hyun Soo memiliki keterbatasan mental sehingga harus selalu di perhatikan! "Eomma aku mohon." Meskipun aku sudah memohon, Eomma tetap bersikukuh. "Lagi pula ini juga jam istirahatmu. Kenapa kamu harus repot masih melanjutkan pekerjaan?" Eomma memang selalu pintar berbicara supaya apa yang dia inginkan akan terkabulkan. Dengan malas aku akhirnya mengangguk meskipun tidak tulus. Eomma sangat terlihat senang sekali hanya karena aku menyetujui perintahnya. "Baiklah," jawabku dengan malas. "Ini, kamu antarkan untuk Hyun Soo di kantornya. Min Rin bilang jika Hyun Soo tidak sempat istirahat," jelas Eomma yang membuatku semakin kesal. "Jika Bibi Min Rin tau Hyun Soo mengabaikan makan siangnya bahkan sampai tidak istirahat, mengapa bukan dia saja yang memperhatikan putranya. Mengapa harus Eomma yang repot!" ucapku dengan kesal. "Tapi Eomma tidak merasa di repotkan sama sekali," jawab Eomma dengan tersenyum lebar. Baiklah, aku yang salah. "Eomma membawakan makanan cukup banyak, kamu bisa makan bersama dengan Hyun Soo. Bukankah kamu juga belum makan siang?" Aku hanya mengangguk dengan malas. Percuma meladeni Eomma panjang lebar. "Aku pergi, Eomma," ucapku dengan malas saat berpamitan. "Semangat, Sayang. Lakukan kebaikan dengan tulus," jawab Eomma dengan terkekeh geli. -o0o- Aku tidak pernah peduli dengan pekerjaan Hyun Soo selama ini hingga aku sampai tidak tau jika kantor milik Hyun Soo ternyata sebesar ini. Meskipun aku tau jika agensi miliknya masuk dalam 3 besar di Korea, tapi aku tidak menyangka jika dia memang sekaya ini. Aku memasuki gedung itu dengan percaya diri. Meskipun aku selalu memuji diriku cantik dengan penampilanku yang menarik, tapi nyatanya orang-orang yang berlalu lalang di sini sangatlah cantik. Aku yakin jika kebanyakan mereka cantik bukan dari lahir sepertiku, tapi aku yakin jika kualitas dokter bedah plastik di sini tidak perlu di ragukan lagi. Mereka sangat hebat. Bahkan pria-pria di sini juga terlihat manis dan tampan. Seketika aku merasa jika diriku kalah cantik dengan mereka. Meskipun kecantikanku ada secara alami, tapi siapa yang akan peduli? Orang-orang akan menilai hanya dari luarnya saja. "Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Lamunanku buyar ketika seorang petugas keamanan menghampiriku. Mungkin aku terlihat bingung seperti bocah yang kehilangan orang tuanya. "Aku ingin bertemu dengan Hyun Soo," jawabku dengan datar. Aku bukan berlaku sombong, tapi memang tidak mudah bersikap lembut pada orang yang tidak di kenal. "Saya akan mengantar anda menuju recepsionis, mari Nyonya," ujar pria itu dengan ramah. Ketika kami sampai di meja recepsionis, petugas keamanan itu meninggalkanku untuk melanjutkan perkerjaanya. "Ada yang bisa saja bantu, Nyonya?" Aku menatap penampilan wanita di depanku dengan kening berkerut. Dia nampak sangat cantik, kulitnya juga putih dan berkilau, tapi aku merasa jika pakaian yang di kenakan sangat minim dan ketat. Aku menatap 2 perempuan lain yang duduk sejajar dengannya juga mengenakan tipe pakaian yang sama. Standar seragam di kantor Hyun Soo aku rasa buruk untuk para wanita. "Aku ingin bertemu dengan Hyun Soo," jawabku dengan menatapnya dingin. Wanita itu seperti terkejut karena aku bisa mengucapkan nama bosnya dengan santai. "Maaf sebelumnya Nyonya, dengan siapa saya berbicara?" tanya wanita itu dengan tersenyum manis dan sopan. "Rachel Park," jawabku dengan acuh. Aku tau jika kita memang harus melewati beberapa persetujuan sebelum bertemu dengan seorang bos besar, tapi haruskah hal ini juga terjadi ketika aku akan bertemu dengan Hyun Soo? "Maaf sebelumnya Nyonya Rachel, apakah anda sudah memilkki janji temu dengan Tuan Hyun Soo sebelumnya? Bisakah saya mengkonfirmasi bukti janji temu anda?" Aku menghela nafas dan menatap wanita itu dengan kesal, tapi meskipu begitu, dia tidak melunturkan senyumnya sama sekali. "Aku tidak memiliki janji temu sebelumnya. Aku hanya ingin mengantar makanan untuknya. Apakah harus serepot ini!" ujarku dengan kesal. "Maaf Nyonya Rachel, tapi memang seperti itu peraturan perusahaan kami. Saya hanya menjalankan tugas." Aku menatap wanita itu dengan sinis. "Lalu jika aku tidak memiliki bukti janji temu dengannya aku tidak bisa bertemu dengannya? Padahal aku ke sini hanya ingin mengantarkan ini!" ucapku lalu meletakkan paper bag berisi makan siang Hyun Soo di depan wanita itu. "Maaf sebelumnya, bolehkah saya mengecek kelayakan makanan untuk Tuan Hyun Soo ini? Karena jika berkenan, anda bisa meninggalkannya di sini lalu staf kami yang akan mengantarnya untuk Tuan Hyun Soo." Aku menatapnya semakin tajam, dia pikir aku berniat meracuni Hyun Soo? Jika memang begitu untuk apa aku lakukan secara langsung? Aku bisa mengirimkannya menggunakan jasa kurir jika makanan ini memang mengandung racun, sialan! "Tidak bisa! Eommaku sudah bersusah payah untuk membuat makanan ini untuknya. Kamu tidak boleh membukanya sebelum Hyun Soo melakukannya!" Wanita itu menundukkan kepalanya. "Jika seperti itu, maka maaf Nyonya, saya tidak bisa membantu anda," ujarnya dengan menundukan kepala sekali lagi. Aku sedikit merasa iba dan bersalah, dia melayaniku dengan baik bahkan bersikap dengan sangat sopan, tapi aku justru memperlakukannya dengan buruk. "Bisakah kamu menghubungi Hyun Soo dulu dan tanyakan apakah dia mau bertemu dengan Rachel Park atau tidak," ucapku dengan datar. Wanita itu terlihat berpikir sejenak lalu melakukan apa yang aku katakan. Tapi setelah beberapa kali percobaan, nampaknya panggilan itu tak kunjung di jawab. Apakah Hyun Soo memang sedang sibuk? "Tidak bisa?" tanyaku yang di jawab anggukan kepala olehnya. "Sekretaris Tuan Hyun Soo tidak menjawab panggilan saya, Nyonya. Mungkin Tuan Hyun Soo sedang menghadiri rapat," jelasnya. Tapi Mommy bilang jika dia sudah selesai rapat, lalu sekarang hanya belum makan saja meskipun jam makan siang sudah terlewat. "Apakah anda bersedia untuk meninggalkan makanan untuk Tuan Hyun Soo itu di sini, Nyonya?" tanya wanita itu lagi. "Tentu saja tidak! Apakah kamu tidak bisa menghubungi Hyun Soo langsung tanpa melalui sekretarisnya?" Wanita itu menggeleng. "Maaf, tapi tidak bisa, Nyonya. Kami tidak memiliki kewenangan untuk menghubungi Tuan Hyun Soo secara langsung. Semuanya harus melalui perantara sekretaris beliau terlebih dahulu," jelasnya yang membuatku berdecak kesal. Aku merutuki kebodohanku karena meninggalkan ponselku di mobil. Sedangkan aku tidak hapal berapa nomor Hyun Soo. Keadaan ini membuatku kesal. Haruskah aku pulang dan mengatakan pada Eomma jika Hyun Soo sibuk sehingga aku tidak sempat bertemu dengannya? Tapi jika sampai Eomma menanyakannya secara langsung pada Hyun Soo, maka Eomma akan tau jika aku berbohong. Maka pilihan paling tepat dan realistis adalah dengan mengambil ponselku terlebih dahulu. Sial, mengapa Hyun Soo selalu merepotkan! "Aku akan mengambil ponselku terlebih dahulu di mobil," ucapku dengan acuh lalu meninggalkan meja recepsionis itu. Aku berengut kesal karena harus bolak-balik hanya untuk mengambil ponsel. Aku juga tidak meninggalkan paper bag ini karena takut jika recepsionis itu berpikiran yang buruk tentang isi dalamnya. Setelah sampai di mobil, aku langsung menghubungi Hyun Soo sembari istirahat sejenak di mobil, berjalan ke mari ternyata sedikit melelahkan. "Hallo," sapaku saat Hyun Soo menjawab panggilanku. "Hallo, Rachel. Apakah terjadi sesuatu?" tanya Hyun Soo. Apakah dia berpikir aku akan menghubunginya ketika membutuhkan bantuan? "Tidak terjadi apa-apa. Apakah kamu sibuk?" tanyaku to the point. "Tidak, aku hanya sedang mengerjakan laporan," jawabnya yang membuatku kini teringat tentang sekretarisnya. Jika dia berada di kantornya laku ke mana sekretarisnya hingga di telepon berulang kali tapi tidak menjawab. Lalu apakah sekretarisnya sekarang ini sedang? Buang jauh pikiran kotormu, Rachel! "Jika kamu di kantor lalu ke mana sekretarismu? Kenapa di hubungi tak kunjung menjawab!" tanyaku dengan kesal. "Dia sedang ada pertemuan dengan klien menggantikan aku. Memangnya kenapa?" Pantas saja tidak ada yang menjawab! "Aku berada di kantormu untuk mengantarkan makan siang dari Eomma. Temui aku di lobi, aku sudah menunggumu cukup lama!" Sebelum akau sempat mendengarkan jawaban Hyun Soo, aku lebih dulu mematikan sambungan telepon secara sepihak. Aku lalu keluar dari mobil dan kembali masuk ke dalam kantor Hyun Soo. Saat aku akan memasuki lobi, aku melihat Hyun Soo yang baru saja keluar dari lift. Dia menghampiriku dengan senyum lebar, tetapi aku hanya menatapnya dengan datar. "Aku sudah cukup lama menunggumu. Apalagi di tambah dengan proses yang melelahkan," ujarku dengan kesal. Hyun Soo langsung menggenggam jemariku dan membawaku menuju meja recepsionis. 3 wanita yang berada di sana lalu menunduk dan menyapa Hyun Soo dengan sopan dan formal. "Mulai sekarang, jika dia datang ke mari segera antarkan ke ruanganku. Karena dia calon istriku," ucap Hyun Soo yang membuatku seketika tercengang. Kenapa dia suka sekali mengakuiku tanpa persetujuan terlebih dahulu! Aku melihat ke 3 wanita itu yang ikut menunduk hormat ke arahku. Baiklah, aku rasa drama ini sudah cukup, aku juga bukan wanita yang gila hormat. Aku tersenyum sekilas ke arah mereka. "Aku hanya ingin mengantarkan ini. Aku akan pulang." Hyun Soo langsung mengeratkan genggamannya padaku. Kamu temani aku sebentar," ujarnya yang membuatku memutar bola mataku dengan malas. Aku yakin sebentar versi Hyun Soo tidak seperti yang aku bayangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN