Setelah perbincangan bersama Seo Rin itu, kini aku bersikap berbeda dengan Hyun Soo. Aku yakin sebenarnya dia paham jika aku berubah, tapi aku mengabaikan perasaan Hyun Soo. Aku merasa bodoh karena bisa terbuai dengan perhatiannya dengan mudah, tanpa memikirkan hal lain lebih jauh, kini keraguanku semakin luas padanya. Aku lebih takut ketika membayangkan Hyun Soo yang ternyata hanya memanfaatkan aku saja. "Apakah ini hanya perasaan Eomma atau memang ada yang berubah dari kalian berdua." Aku yang terlalu fokus melamun hingga tidak sadar ketika Eomma masuk ke dalam ruanganku. Eomma bahkan sudah duduk di hadapanku dengan menatapku khawatir.
"Siapa maksud Eomma?" tanyaku dengan berpura-pura sibuk mengecek laporan. "Kamu jelas tau siapa yang Eomma maksud," jawab Eomma. Aku menghela nafasku sejenak lalu melemaskan bahu. "Ini hanya perasaan Eomma saja, tidak ada yang terjadi antara aku dan Hyun Soo," jawabku dengan tersenyum terpaksa. "Biasanya kamu akan menemaninya ketika dia datang, kamu akan nampak antusias ketika dia datang untuk ikut makan malam. Tapi sejak beberapa hari terakhir, Eomma rasa kamu mulai menjauh darinya," ucap Eomma dengan menatapku curiga. "Aku tidak merasa menjauhinya, mungkin karena aku sedang sibuk sehingga tidak sempat untuk menemaninya," jawabku yang membuat Eomma justru menatapku dengan tajam. "Jangan coba membohongi Eomma, Rachel. Apakah kalian bertengkar?" Aku hanya menggeleng. "Eomma yang terlalu banyak berharap, jadi ketika semuanya berjalan sesuai dengan semestinya, Eomma justru terkejut."
"Kalian sudah cukup dewasa. Bicarakan masalah kalian dengan baik, jangan hanya bisa memendamnya saja," ujar Eomma dengan menatapku sendu. Aku paham jika dia kecewa padaku, aku tau sesuka apa Eomma dengan Hyun Soo. Eomma juga sudah berandai-andai untuk berbesan dengan Bibi Min Rin. Tapi semuanya tidak bisa di paksakan. Keraguanku pada Hyun Soo justru semakin besar setiap harinya. Melihat bagaimana dia berintraksi dengan para wanita, aku merasa jika aku akan kesulitan untuk menjangkaunya. Aku mulai berpikir jika apa yang aku pikrkan tentang Hyun Soo adalah benar.
"Apakah kamu tau jika Hyun Soo tidak datang siang ini?" tanya Eomma yang membuat keningku berkerut, memang apa hubungannya denganku? "Mungkin Hyun Soo sedang sibuk, Eomma. Sehingga dia tidak bisa makan siang di sini. Bisa saja jika dia sudah makan siang di tempat lain," jelasku yang membuat Eomma menggeleng. "Eomma tidak percaya. Eomma yakin jika Hyun Soo pasti kecewa melihat hubungan kalian yang merenggang. Tidak bisakah kamu memaafkan dia dia Hyun Soo memang berbuat salah?" ucap Eomma dengan menatapku memohon. Sudah cukup! Aku rasa ini sudah keterlalun. "Lalu apa yang harus aku lakukan, Eomma! Jika kenyataanya memang tidak ada yang terjadi antara aku dan Hyun Soo. Kami memang sama-sama sibuk karena aktivitas yang padat. Yang menjalani hubungan ini aku, Eomma. Bukan Eomma atau orang lain, jadi jangan memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna!" ucapku dengan tegas. Eomma sangat mengenalku, jadi dia seharusnya paham jika apa yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan. Eomma menyudutkanku seolah aku yang bersalah di sini. Setelah mengatakan semuanya, aku mengabaikan Eomma dan memilih untuk fokus pada pekerjaanku. Setelahnya Eomma memilih pergi, sebenarnya aku tidak ingin berbicara lebih jauh untuk menyakiti Eomma. Tapi aku sudah tidak tahan. Aku tidak ingin terus di paksa. Belum juga kekesalanku reda karena Eomma, kini justru Seo Rin yang datang ke ruanganku setelah Eomma pergi. Aku mengehela nafas dengan kesal lalu menatap Seo Rin dengan tajam.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku dengan menatapnya dingin. "Apa yang terjadi? Aku melihat Bibi Hana keluar dari ruanganmu dengan mata berkaca-kaca, Eonni," ucap Seo Rin dengan bingung. "Di sini bukan taman kanak-kanak yang bisa kamu datangi dan tinggalkan sesuka hatimu, Seo Rin. Jika tidak ada yang penting, kamu sebaiknya pergi karena aku masih memiliki banyak pekerjaan!" ucapku dengan tajam. Bocah menyebalkan ini nampaknya memiliki karakter yang sama dengan kakaknya, bukannya pergi setelah di usir tapi Seo Rin justru dengan santai duduk di sofa lalu menyandarkan tubuhnya. Aku memejamkan mata sejenak untuk meredakan amarahku. Hyun Soo dan keluarganya memang selalu sukses untuk menguji kesabaranku. "Aku bosan, Eonni. Tidak ada yang bisa menemaniku," ucap Seo Rin. Aku meliriknya sekilas lalu melanjutkan pekerjaanku. Aku mengabaikan Seo Rin supaya dia lelah dan akhirnya pergi. Tapi setelah aku mengabaikannya, bukannya pergi tapi Seo Rin justru lebih aktif berceloteh ria. Ini sama seperti saat pertemuanku dengan Hyun Soo dulu. Entah mengapa sekarang aku justru mengingat Hyun Soo. Aku memang tidak menutupi untuk menghindarinya, tapi apakah yang aku lakukan salah? Meskipun aku bertanya sekali pun, aku yakin Hyun Soo tidak sepenuhnya akan berkata jujur. Tidak ada manusia di dunia ini yang mau membuka aibnya sendiri.
"Oppa akan datang untuk menjemputku." Aku sontak mendongak untuk menatap Seo Rin dengan tajam. "Kamu datang sendiri, kenapa harus meminta Hyun Soo untuk menjemputmu?" ucapku dengan kesal. Aku tidak ingin bertemu dengan Hyun Soo. Lagi pula bukankah dia sedang sibuk jadi tidak bisa makan siang seperti biasanya, lalu kenapa untuk menjemput Seo Rin dia bisa? Apakah kini Hyun Soo juga ikut menghindariku?
"Oppa juga merindukan Eonni, jadi aku minta saja dia kemari," jawab Seo Rin dengan tertawa. Aku yakin jika Hyun Soo akan menjemputnya lalu mereka berdua pergi supaya aku bisa mengerjakan laporanku dengan tenang. Tapi ternyata semua itu tidaklah terjadi, karena Hyun Soo benar datang untuk menjemput Seo Rin, tapi dia sampai harus menjemputnya ke ruanganku. Aku sampai bingung apa yang harus aku lakukan ketika Hyun Soo kini justru berdiri di hadapan meja kerjaku dengan tersenyum manis. "Apa yang kamu lakukan?" tanyaku dengan menatap Hyun Soo aneh. "Aku tadi ada meeting sehingga tidak bisa makan siang seperti biasa. Aku jadi tidak bisa bertemu denganmu," jawab Hyun Soo dengan santai. "Aku tidak membutuhkan penjelasanmu, Hyun Soo. Karena kamu sudah datang, apakah kalian akan segera pergi?" tanyaku, tapi Hyun Soo justru menggeleng dan tersenyum. "Tidak, aku masih ingin di sini bersamamu," jawab Hyun Soo dengan santai. Aku melirik ke arah Seo Rin sekilas, bocah itu sedang menertawakan ucapan Hyun Soo. "Bukankah tujuanmu ke mari hanya untuk menjemput Seo Rin?" tanya ku yang di jawab gelengan Hyun Soo lagi. "Aku ke mari ingin bertemu denganmu," jawab Hyun Soo yang membuatku mendengus malas. Hyun Soo tersenyum lalu kini berjalan dan duduk di samping Seo Rin.
"Oppa ingin makan siang dulu," ucap Hyun Soo pada Seo Rin. "Kenapa baru sekarang? Oppa sudah terlambat makan siang!" jawab Seo Rin dengan heboh. Padahal hanya dengan terlambat makan siang tidak membuat Hyun Soo mati, tapi tingkah Seo Rin seolah Hyun Soo kritis jika tidak makan. Tak berselang lama seorang pelayan datang dengan membawa makanan pesanan Hyun Soo. Aku menduga jika dia pesan makanan terlebih dahulu sebelum menuju ruanganku. "Bisakah kamu pindah ke sini? Aku ingin di temani makan," ucap Hyun Soo dengan menatapku. "Aku sibuk. Lagi pula juga ada Seo Rin di sana," jawabku dengan acuh.
"Baiklah, aku akan pergi. Aku akan menemui Bibi Hana saja," ucap Seo Rin dengan santai lalu pergi begitu saja. Dasar bocah itu! Aku dengan terpaksa beranjak dan duduk di samping Hyun Soo. Aku hanya menatapnya dengan datar ketika sedang makan. "Kamu mau?" tawar Hyun Soo. "Tidak," jawabku dengan cepat. "Aku rindu berbincang denganmu," ucap Hyun Soo dengan mengunyah makanannya. "Sebaiknya kamu tidak berbicara ketika sedang makan," ucapku dengan sedikit ketus. Hyun Soo tersenyum sekilas lalu melanjutkan makannya dalam diam. Setelah selesai makan, kini Hyun Soo merubah posisi duduknya menjadi berhadapan denganku. "Apakah ada yang terjadi? Atau aku membuat kesalahan?" tanya Hyun Soo dengan ekspresi serius. Mungkin dia sudah tidak tahan dengan keterdiamanku akhir-akhir ini. "Tidak ada yang terjadi, kamu juga aku rasa tidak melakukan kesalahan. Memangnya kenapa?" tanyaku pura-pura tidak mengerti. "Aku tau kamu sedang menjauhiku, Rachel. Itu sebabnya aku ingin memperbaiki hubungan kita dengan baik-baik," ucap Hyun Soo dengan sendu. "Aku rasa kamu hanya berpikir berlebihan. Tidak ada yang berubah, mungkin aku hanya sedang sibuk sehingga tidak bisa bertemu denganmu secara intens seperti biasanya," jawabku dengan tersenyum singkat, sangat singkat.
"Aku mohon jangan seperti ini, Rachel. Keadaan kita sekarang ini membuatku tak nyaman." Hyun Soo meraih kedua tanganku dan menggenggamnya. "Aku tau ada yang berbeda. Aku yakin semua itu tidak akan pernah terjadi jika bukan aku penyebabnya. Katakan padaku, apa yang aku lakukan sehingga kamu menjadi seperti sekarang ini." Hyun Soo terus mendesakku untuk berbicara jujur, sedangkan aku sendiri sejujurnya juga tak mengerti apa yang terjadi dengan diriku. Aku ingin menghindari Hyun Soo hanya karena cerita Seo Rin. Tapi yang aku lihat memang begitulah adanya, Hyun Soo memang membiarkan adiknya itu berbuat seenaknya, bahkan terhadapku dulu. Meskipun bisa terlihat dengan jelas sikap Seo Rin yang tidak sopan, tapi Hyun Soo tidak pernah menegurnya. Lalu sekarang bagaimana caraku menjelaskan pada Hyun Soo jika hal yang membuatku kesal adalah aku yang menduga Hyun Soo hanya ingin memanfaatkanku saja. Bagaimana caraku mengatakannya? Apakah dia akan berkata dengan jujur? Ataukah dia justru akan tersinggung dengan tuduhanku?
"Sebaiknya kita tidak membahas hal yang tidak penting seperti ini. Aku tidak nyaman dengan pembicaraan kita. Seolah kamu menuduhku marah tanpa sebab, padahal tidak seperti itu kenyataanya," ucapmu dengan serius. Aku dengan sengaja memutar balikkan fakta supaya Hyun Soo tak lagi menekanku. Mungkin aku hanya terlalu berpikir berlebihan, jadi aku akan mengalah dulu untuk saat ini. "Maaf jika kamu merasa aku terlalu menyudutkanmu. Mungkin ini hanya perasaanku yang merasa kamu sedang menjauhiku. Maaf jik aku membuatmu kesal," ucap Hyun Soo dengan lembut lalu mencium punggung tanganku. Aku jadi merasa bersalah dengan Hyun Soo. Sekarang ini dia nampak tulus, tapi aku seperti mempermainkannya. Mungkin aku masih belum terlalu dekat dengannya. Kini aku harus lebih mengenal Hyun Soo supaya aku bisa menyimpulkan seperti apa dirinya. Aku tidak seharusnya mudah percaya dengan ucapan Seo Rin begitu saja, mengingat bocah itu juga tidak bisa di percaya.
"Kita hentikan pembahasa ini," ucapku dengan tersenyum tulus. Aku melihat ada kelegaan di mata Hyun Soo. Ternyata dia memang setakut itu jika aku menghindarinya. Apakah ini pertanda baik untuk hubungan kita?