22. Berbincang Dengan Seo Rin

1680 Kata
Kami menghabiskan waktu seminggu di Michigan dengan bersenang-senang. Aku menuruti ucapan Hyun Soo untuk melupakan kehidupan kami sejenak dan mulai menikmati liburan dan fokus pada hubungan kami, sehingga kini hubunganku dan Hyun Soo menjadi semakin dekat. Meskipun liburan kami sudah berakhir sejak seminggu yang lalu, tetapi aku masih selalu tersenyum setiap harinya ketika mengingat kenangan kami. Intensitas bertemu kami juga semakin sering, kini Hyun Soo setiap harinya selalu makan malam di rumah. Yang membuatku tak lagi menganggap Hyun Soo pengganggu karena kini dia yang lebih sering membawa makan malam untuk kami. Eomma sebenarnya menolak makanan yang selalu Hyun Soo bawa, tapi aku memintanya untuk menerima saja. Selain untuk menghargai Hyun Soo, hal ini juga bisa sebagai bentuk penghematan. Katakan aku matrelialistis, padahal nyatanya aku hanya bersikap realistis. Hubunganku yang dekat dengan Hyun Soo nyatanya juga membawa peningkatan pada hubunganku dengan Seo Rin. Gadis manja itu kini sudah tidak terlalu bersikap manja dan kekanakan seperti biasa. Di sela-sela waktunya yang selalu luang setiap hatinya itu, Seo Rin selalu mampir ke restoran milikku hanya untuk sekedar berbincang atau menggangguku. Aku bukan tipe orang yang bisa melupakan dan memaafkan orang lain dengan mudah, itu sebabnya aku tidak bisa terlalu berubah signifikan dalam memperlakukan Seo Rin. Di mataku dia masih menjadi gadis menyebalkan yang kebetulan sekarang ini sedang memainkan peran. Aku tidak bisa mempercayai Seo Rin dengan mudah karena pengalamanku yang selalu buruk padanya. "Tidak bisakah Eonni meluangkan waktu beberapa jam untuk menemaniku belanja," keluh Seo Rin dengan cemberut. Aku sudah mengatakan jika aku cukup sibuk hari ini, tapi dia bilang tak masalah karena sedang butuh teman berbincang. Tapi setelah aku terus-terusan mengabaikannya membuat Seo Rin menyerah juga. "Aku bukan pengangguran sepertimu yang selalu memiliki waktu luang seperti ini," jawabku sembari mengecek laporan yang berada di hadapanku. "Aku bosan sekali. Aku butuh berbelanja," ucapnya dengan lesu. "Kamu kekurangan mempelajari hal baru sehingga hidupmu selalu membosankan. Tidak ada tantangan sama sekali," jawabku dengan acuh. Seharusnya Seo Rin berterima kasih karena setidaknya aku masih mau menjawabnya. "Aku tidak sebebas dirimu," jawab Seo Rin dengan lesu. Aku meletakkan laporanku lalu menatap ke arahnya dari balik meja kerjaku. "Bukankah aku yang seharusnya mengatakan seperti itu? Kamulah yang memiliki kebebasan, karena kamu tidak memiliki tanggung jawab. Percayalah jika hidup sepertiku kamu belum tentu mampu," jawabku dengan tersenyum miring. Seo Rin tidak nampak marah, tapi justru menghela nafasnya. "Aku terkadang iri dengan teman-temanku yang memiliki kebebasan untuk menentukan masa depan dengan merencanakan cita-cita mereka. Aku tidak bisa," jawab Seo Rin yang terlihat sedih. Gadis manja yang terbiasa berisik ini kini terlihat sangat menyedihkan. "Memang apa yang membuatmu tidak bebas?" tanyaku dengan menghela nafas. "Apa Eonni tau jika cita-citaku sebenarnya menjadi seorang koki," ujar Seo Rin dengan tersenyum kecut. "Lalu kenapa kamu tidak mengejar cita-citamu alih-alih menjadi pengangguran seperti ini?" tanyaku dengan heran. "Abeoji melarangku. Padahal aku sudah berusaha keras untuk belajar memasak. Aku juga mengikuti kelas masak secara diam-diam. Abeoji melarang keras cita-citaku. Dia ingin aku bisa membantu Hyun Soo Oppa di perusahaan, tapi aku menolak karena aku memang tidak suka. Lalu beginilah aku sekarang. Abeoji melarangku melakukan apa pun sampai aku sadar jika cita-citaku itu salah." Di balik sikap Seo Rin yang periang, dia juga menyimpan luka. Tapi aku belum merasa kasihan padanya. "Itu sebabnya aku pernah bertanya pada Eonni soal bagaimana cata mengembangkan restoran dan bagaimana pengelolaan managementnya. Aku ingin berani melangkah, tapi aku masih cukup pengecut untuk melawan ucapan Abeoji." Bocah manja itu kini terlihat benar-benar sedih. "Apa Hyun Soo tau soal keinginanmu untuk menjadi koki?" tanyaku penasaran, tapi Seo Rin justru tersenyum sendu. "Oppa tau, tapi tak ada yang bisa Oppa lakukan. Apa pun yang Abeoji katakan, kami tak bisa menentangnya." Sosok Paman Jong Pal yang nampak ramah dan baik nyatanya memiliki karakter yang keras dan tak terkalahkan. "Lalu mengapa kamu tak coba mengalah dengan membantu Hyun Soo saja. Bukankah itu lebih baik untuk semuanya? Kamu tidak harus menjalani hidup bebas dan tidak berguna seperti ini," ucapku dengan jujur. "Aku tidak bisa menyerah dengan cita-citaku semudah itu. Aku masih memiliki harapan jika kelak aku akan mendirikan restoran yang maju sepertimu, sehingga Abeoji akan bangga dan mau menerima cita-citaku." "Bagaimana jika kamu gagal? Menajalankan usaha tidak semudah itu, terlebih kamu tidak berpengalaman." Aku bukan bermaksud untuk meremehkan Seo Rin, tapi memang begitulah kenyataanya. Aku tidak ingin jika dia akan berekspektasi terlalu tinggi dalam berbisnis. "Aku akan terus mencoba sampai aku bisa. Lagi pula Eommoni dan Abeoji membebaskanku untuk mengabiskan uang mereka," ujar Seo Rin sembari terkekeh. Orang kaya memang beda. "Apa yang membuatmu ingin menjadi koki? Itu profesi yang melelahkan dan rawan dengan bahaya,’’ tanyaku penasaran. "Aku tau, tapi itu profesi pertama yang membuatku takjub. Kita bisa menciptakan keindahan dan kenikmatan dalam satu waktu hanya dengan masakan. Aku menonton acara memasak saat masih kanak-kanak, hal itu membekas hingga aku dewasa." Aku penasaran, jika jari lentiknya sampai terkena pisau hingga kulitnya yang mulus itu terkena wajan panas, apakah dia masih akan berpikir seperti itu? "Aku tidak tau jika kamu juga memiliki ambisis di balik hidup foya-foya dan sikap manjamu," ucapku dengan tersenyum miring. "Aku seburuk itu teryata di matamu," ucap Seo Rin sembari tertawa. "Ya, seperti itulah dirimu," jawabku dengan santai. "Aku ingin mengubah cara pandang Eonni padaku. Aku tidak ingin hubungan kita terus begini, kamu kelak akan menjadi calon kakak iparku." "Bisa di bilang aku orang yang pendendam, sehingga aku tidak bisa dengan mudah memaafkan orang lain. Lagi pula aku menilai orang sebagian besar dari first impression saat bertemu," jawabku dengan acuh. "Sikap inilah yang membuatku menyukaimu. Eonni selalu apa adanya, tidak pernah berusaha menjadi baik atau bahkan berpura-pura baik di depan orang lain. Eonni akan memperlihatkan dengan jelas saat tidak menyukai apa pun itu, termasuk padaku." "Aku bukan tidak menyukaimu, hanya tidak nyaman denganmu," jawabku mengkoreksi. "Apakah hubungan Eonni dengan Oppa semakin baik?" tanya Seo Rin mulai merubah topik pembicaraan. "Ini bukan urusanmu," jawabku dengan acuh, lalu kembali mengecek laporanku yang sempat tertunda. "Aku yakin ada peningkatan. Ayolah beri tahu aku, Eonni. Aku lihat akhir-akhir ini Oppa lebih banyak tersenyum." Seo Rin mendekat ke arah meja kerjaku dan duduk di hadapanku dengan senyuman lebarnya. "Hubungan kami bukan untuk konsumsi publik sepertimu." "Tapi aku penasaran, Hyun Soo Oppa adalah kakakku satu-satunya, aku ingin tau apa pun tentangnya." "Ini rahasia kami. Sebaiknya kamu urus saja cita-citamu yang tertunda itu, jangan pedulikan hubungan kami," jawabku dengan acuh. "Aku dengar selama kalian liburan, kalian tidur bersama." Seketika aku mengangkat wajah dan menatap Seo Rin dengan tajam. "Hyun Soo memberi tahumu?" tanyaku terkejut. "Jadi benar?" jawab Seo Rin dengan berbinar. Haruskah dia sesenang itu? "Hyun Soo memberi tahumu?" ulangku tidak sabar. Jika benar Hyun Soo membocorkan hal ini, aku tidak akan memaafkannya! "Bibi Hana yang mengatakannya," jawan Seo Rin dengan santai. Lagi-lagi Eomma membuatku malu di hadapan orang lain, terlebih itu Seo Rin. Ini menjatuhkan harga diriku. "Tubuh Hyun Soo Oppa memukau bukan? Aku yakin kamu ketagihan menatapnya," goda Seo Rin sembari menggoyangkan alisnya. "Jangan membicarakan hal memalukan seperti ini!" ujarku dengan kesal. "Apakah dia sering menciummu?" Aku menatap Seo Rin dengan alis berterut. "Aku pernah melihat Oppa berciuman. Menurutku dia jago berciuman," ujar Seo Rin lalu tertawa. "Jangan membuka aib kakakmu sendiri seperti itu!" sahutku dengan kesal. Untuk apa juga dia mengatakan hal ini padaku. "Ini bukan aib, Eonni. Ini keahlian Hyun Soo Oppa," jawab Seo Rin lalu tertawa dengan kencang. "Apakah kamu selalu bersikap menyebalkan seperti ini pada semua mantan kekasih Hyun Soo?" tanyaku dengan ketus. "Menyebalkan yang seperti apa?" Bocah manja itu nampak bingung. "Seperti sekarang ini," jawabku dengan datar. "Jika sikapku yang seperti ini kamu bilang menyebalkan, maka aku selalu lebih menyebalkan dari pada ini. Aku tidak menyukai mereka, maka aku tidak ingin menutupinya," sahut Seo Rin dengan santai. "Bukankah kamu menyayangi kakakmu? Jika kamu tau Hyun Soo menyukai mereka, kenapa kamu harus membenci alih-alih mendukung mereka?" tanyaku bingung dengan jalan pikirannya. "Karena sejak awal aku memang tidak suka. Motif mereka terlalu jelas, Hyun Soo Oppa saja yang buta." "Bisa saja kamu salah. Seperti yang kamu lakukan saat pertama kali kami bertemu. Kamu memusuhiku, tapi sekarang berlagak ingin bersikap baik padaku," jawabku dengan tersenyum miring. "Sudah aku katakan jika kamu berbeda, Eonni," jawab Seo Rin dengan tersenyum. "Intinya, kamu tidak seharusnya ikut campur dalam urusan Hyun Soo. Memang benar kamu adiknya, tapi jangan membatasinya. Dia juga memiliki penilaian sendiri pada semua wanita yang sudah di kencaninya," jelasku. Tapi Seo Rin nampak tidak peduli. "Oppa tidak pernah marah padaku meskipun aku bersikap buruk pada para kekasihnya." Aku mengerutkan kening sembari menatap Seo Rin dengan aneh. "Benarkah?" tanyaku memastikan. "Karena sebenarnya aku juga membantu Oppa untuk menjauh dari para wanitanya. Sebagian dari mereka juga berpisah karena tak cocok dan tersinggung denganku. Tapi aku tak peduli," jawab Seo Rin dengan santai. Tapi ungkapan Seo Rin ini justru membuatku berpikir yang lain, benarkah jika ternyata selama ini Hyun Soo hanya mempermainkan wanita dengan mengambil keuntungan dari mereka? Lalu setelahnya Hyun Soo meminta bantuan Seo Rin untuk menjauhkan dirinya dari para wanita itu? Karena normalnya Hyun Soo seharusnya marah pada Seo Rin karena sudah bersikap buruk pada para kekasihnya. Alih-alih membela, Hyun Soo justru diam saja. Apakah ini juga terjadi padaku? Mengingat Hyun Soo juga acuh saja ketika aku menceritakan kekesalanku pada Seo Rin. Benarkah demikian? Tiba-tiba saja hatiku terasa tercubit membayangkan jika Hyun Soo selama ini hanya memanfaatkanku. Apakah dia bersikap baik karena ingin mendapatkan tubuhku? Setelahnya dia bisa dengan bebas lari dari tanggung jawab? Pikiranku sekarang ini bercabang kemana-mana, memikirkan begitu banyak kemungkinan tentang Hyun Soo. "Eonni kenapa melamun?" Aku tersentak ketika Seo Rin sudah berada di hadapanku. "Aku baik-baik saja," jawabku dengan acuh. "Jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, kamu bisa pergi." Aku menatap Seo Rin yang sedang mengeritkan keningnya. "Kenapa Eonni tiba-tiba mengusirku?" tanya Seo Rin dengan bingung. "Aku tidak mengusirmu. Aku sedang sangat sibuk, aku tidak ingin waktu istirahatku terus berkurang hanya karena pekerjaan," jawabku dengan dingin. Aku tidak peduli jika Seo Rin menatap aneh ke arahku, entah mengapa sekarang ini moodku tiba-tiba menjadi buruk setelah perbincangan kami. Tiba-tiba aku juga merasa marah dan kesal. Maka sebelum aku berbuat lebih jauh dan berkata lebih ketus, aku lebih memilih untuk meminta Seo Rin pergi.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN