Aku melihat ekspresi Hyun Soo yang masih belum berubah. Meskipun aku sudah membereskan kesalah pahaman dengan Henry, tapi Hyun Soo tampaknya masih kesal. "Apa kamu marah?" tanyaku dengan ekspresi datar. "Aku tidak suka melihat dia yang nampak sangat bahagia ketika bisa bertemu lagi denganmu," sahutnya dengan kesal. "Kenapa?"
"Itu artinya dia selalu mengingatmu. Padahal kalian bertemu sudah sejak tiga tahun yang lalu." Aku hanya bisa menghela nafas untuk menghadapi Hyun Soo yang sedang kekanakan seperti ini. "Kenapa kamu harus marah jika ada seseorang yang mengingatku?" Aku menunggu Hyun Soo, tapi dia tak kunjung menjawab. Membuatku menghela nafas, beginikah yang dirasakan sepasang kekasih ketika kekasih mereka sedang merajuk? Haruskah aku selalu membujuk Hyun Soo ketika dia sedang marah meskipun dengan alasan yang tidak jelas seperti ini? Beruntung aku tidak terburu-buru memberikan jawaban untuknya. Memikirkan Hyun Soo yang kesal dengan sendirinya juga membuatku kesal.
"Dia masih karyawan baru saat itu, dia menjadi juniorku. Saat seminggu pertama, dia membuat kesalahan yang menyebabkan kerugian untuk pelanggan. Aku sebagai ketua tim bertanggung jawab untuk melindunginya. Dia masih karyawan baru sehingga normal jika melakukan kesalahan. Meskipun aku harus mendapatkan surat peringatan karenanya. Dia berterima kasih padaku, mungkin itu sebabnya dia masih mengingatku," aku menjelaskan tanpa menatap Hyun Soo. Menatap hamparan air yang tenang lebih indah dari pada melihat ekspresi Hyun Soo yang sedang kesal seperti sekarang.
"Aku cemburu," ucap Hyun Soo dengan lemah. "Aku tau, tapi cemburumu tidak beralasan," balasku dengan cuek. "Cinta dan cemburu tidak memiliki alasan," jawabnya membela diri. Sangat puitis sekali. "Kamu punya alasan, karena manusia memiliki akal dan pikiran," jawabku dengan santai. "Maafkan aku," ucap Hyun Soo memohon. "Tidak masalah. Tapi aku tidak suka hal kekanakan semacam ini harus terulang di kemudian hari," jawabku sembari menoleh kea rah Hyun Soo.
"Kita tidak memiliki status yang jelas dalam hubungan ini. Aku takut kamu akan berpaling dariku." Aku menatapnya dengan malas. "Kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya, Hyun Soo. Berikan aku waktu sesuai dengan kesepakatan kita." Aku menatap Hyun Soo dengan serius. "Baiklah," ucap Hyun Soo sembari menarik tanganku dan memelukku.
-o0o-
Setelah puas berkeliling di beberapa lokasi terkenal di Detroit, kami akhirnya pulang. Aku tidak bisa meninggalkan Grandpa dan Grandma terlalu lama. Malam ini aku membantu Grandma memasak, meskipun masih dibantu dengan seorang pelayan. Sedangkan Hyun Soo dan Grandpa sibuk berbincang di ruang keluarga. "Bagaimana kencan kalian?" tanya Grandma dengan antusias. "Berjalan lancar, aku hanya mengajaknya berkeliling di tempat yang dekat," jawabku dengan santai. "Hana bilang dia pria yang baik. Sekarang aku setuju dengannya."
"Mengapa Grandma berpikir jika dia pria yang baik? Pria tampan tidak selalu baik, Grandma. Kita tidak bisa menilai orang hanya dari sampul luarnya saja," jawabku tidak setuju. "Jadi kamu mengakui jika dia tampan?" goda Grandma. "Tentu saja, Hyun Soo memang tampan," jawabku dengan santai. "Grandma bisa lihat dari cara dia berbicara, dari cara dia menghargaimu. Dia juga bersikap sopan di hadapan kami. Dia juga dengan berani meminta izin pada Grandpa untuk menjadikanmu istrinya."
"Benarkah? Kapan dia mengatakannya?" tanyaku tak percaya. Berbicara dengan Grandpa tidaklah semudah itu. Karena bagi orang yang belum mengenal Grandpa, dia akan mengatakan jika Grandpa adalah sosok yang manipulatif. "Tadi pagi saat kamu masih mandi," jawab Grandma yang membuatku mengerutkan kening. "Lalu Grandpa memberikan izin begitu saja?" tanyaku penasaran. Aku tidak melihat Hyun Soo bersedih selama kami jalan-jalan. "Tentu saja tidak. Dia juga harus mendapatkan tantangan untuk mendapatkan cucuku tersayang ini," jawab Grandma sembari mencubit pipiku dengan pelan. "Apakah ini sebabnya Grandpa memintaku mengajak jalan-jalan Hyun Soo karena kalian sudah membuatnya bersedih? Supaya dia melupakan penolakan Grandpa tebakku yang dijawab anggukan kepala oleh Grandma. "Mungkin bisa dikatakan seperti itu," jawab Grandma lalu tertawa.
"Tapi Grandpa sesungguhnya sudah menyukai Hyun Soo?" tanyaku penasaran. "Ya, Hyun Soo adalah sosok lelaki yang dia idamkan untuk menjadi cucu."
"Kenapa Hyun Soo bisa menjadi idaman Grandpa?" tanyaku penasaran. "Charles melihat Hyun Soo seperti sosok mudanya. Pria tegas dan ambisius. Dia tidak ragu saat mengatakan ingin menjadikanmu istirinya, dia juga tidak mundur ketika Charles menolaknya," jawab Grandma sembari tersenyum. "Jadi bukan karena Hyun Soo tampan, kan?" tanyaku dengan tersenyum miring. "Jika boleh jujur Grandma rasa dia tidak setampan itu," jawab Grandma sembari terkekeh. Kami hanyut dalam obrolan menyenangkan, terlebih jika hal itu menyangkut Hyun Soo. Dengan kata lain aku mulai tertarik membicarakan hal tentangnya.
-o0o-
Setelah selesai makan malam, aku masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Hyun Soo sedang melanjutkan bermain catur di ruang tamu. Hyun Soo baru masuk ke dalam kamar pukul 12 malam. Aku sengaja tidak tidur terlebih dahulu untuk menunggu Hyun Soo, aku pun tak tau alasan mengapa aku harus menunggunya. Seperti seorang istri yang menunggu suaminya. "Kenapa sampai malam sekali?" tanyaku dengan suara serak, aku mencoba menahan kantukku dengan menonton tv.
"Kenapa harus menungguku, kamu bisa tidur terlebih dahulu," jawab Hyun Soo sembari berbaring dan memelukku. "Aku tadi asyik menonton tv, sampai tidak sadar jika sudah malam," dustaku sembari tersenyum. "Aku tidak menyesal telah pergi ke Michigan bersamamu," ucap Hyun Soo sembari mengusap rambutku. "Kenapa? Apakah Grandpa mengatakan sesuatu?" tanyaku pura-pura tak tau. "Tidak, aku hanya bahagia bisa menghabiskan waktu denganmu tanpa harus memikirkan pekerjaan." Aku sontak memukul lengan Hyun Soo yang membuatnya tertawa.
"Kamu tetap harus bekerja!" Aku memutar bola mataku malas. "Aku dengar, kamu berbicara tentang hal yang serius pada Grandpa tadi pagi?" tanyaku membuka percakapan. Aku penasaran dengan cerita versi Hyun Soo. "Apakah Grandpa Charles memberi tahumu?" tanya Hyun Soo dengan terkekeh. "Jawab saja."
"Iya, aku mengatakan jika aku ingin menjalani hubungan yang serius denganmu," ucapnya dengan tersenyum. "Lalu apa jawaban Grandpa?"
"Dia menolakku," jawab Hyun Soo sembari tersenyum kecut. "Kenapa Grandpa menolakmu?" Meskipun Hyun Soo di tolak, tapi aku masih melihat jika dia percaya diri. "Dia bilang aku belum bisa menjadi calon cucu menantu yang mapan," jawabnya dengan santai.
"Benarkah? Grandpa tidak tau kamu pemimpin perusahaan? Kamu juga punya usahamu sendiri?" tanyaku bingung. "Aku kini tau dari mana cara berpikirmu dalam berbisnis. Karena Grandpa Charles memiliki pandangan yang sama denganmu. Dia mengatakan jika keputusanku untuk menemanimu selama satu minggu di sini tidaklah bertanggung jawab. Aku seolah mengabaikan pekerjaan dan karyawan yang bergantung padaku. Intinya, jalan pemikirannya sama denganmu. Apakah kamu memberi tahu jalan pikiranmu padanya?" goda Hyun Soo kemudian tertawa. "Kamu benar, aku yang gigih ini juga karena campur tangan Grandpa. Dia mengajarkanku banyak hal. Aku harus bisa menjadi sosok yang bertanggung jawab, ambisius dan sabar.’’
"Aku salut dengannya. Dia pria tua yang hebat," ucap Hyun Soo sembari tertawa. "Lalu mengapa kamu tidak terlihat sedih ketika tau jika Grandpa menolakmu?" ucapku dengan menatapnya curiga. "Meskipun di mulut dia menolakku, tapi aku tau sejujurnya dia menerimaku," ucap Hyun Soo dengan percaya diri, dia bahkan juga tersenyum dengan lebar. "Percaya diri sekali. Grandpa bukan tipe orang yang bisa menerima orang lain dengan mudah," jawabku mengejek. "Hanya sesama pria yang bisa menilai. Kamu tidak akan paham, Rachel" ucap Hyun Soo lalu mengecup pipiku cukup lama hingga aku mencoba mendorongnya tapi Hyun Soo justru memeluk tubuhku.
"Hyun Soo sesak." Hyun Soo justru tertawa dan menciumi pipiku berulang kali. "Aku harus menahan diriku ketika berada di dekatmu. Jadi aku mohon jangan menggodaku," ucapnya dengan tersenyum menggoda. "Apanya yang menggoda! Kamu yang menciumku terlebih dahulu," jawabku tidak terima. "Ekspresimu terlalu menggoda. Aku tidak tahan," jawab Hyun Soo sembari tertawa. Meskipun Hyun Soo tak lagi menciumku tapi dia masih belum melepaskan pelukannya.
"Jangan m***m, Hyun Soo!" ucapku dengan menatapnya tajam. "Ini normal untuk seorang pria. Bagaimana pria bisa tenang ketika harus berdua'an di sebuah ruangan dengan wanita sepertimu?" ucapnya yang membuatku mengerutkan kening. "Memang kenapa dengan wanita sepertiku?" tanyaku menatap Hyun Soo bingung. "Kamu cantik, tatapan matamu selalu teduh dan menenangkan. Aku selalu ingin menciumu." Aku mendorong dahi Hyun Soo dengan mencebikkan bibir. "Kamu merangkai kata-kqta mesummu cukup baik," ejekku yang membuat Hyun Soo tertawa.
"Selama kita di sini, ajak aku untuk lebih mengenal bagaimana dirimu. Seperti apa sosok Rachel yang sebenarnya," ucap Hyun Soo sembari mengusap pipiku. "Apa kamu masih tidak cukup mengenalku?" ucapku dengan tertawa. "Bahkan seumur hidup bersamamu tidak membuatku cukup untuk mempelajari bagaimana dirimu. Aku ingin terus menggali sosok Rachel yang mana setiap harinya selalu membawa hal baru untukku." Aku tersipu mendengar ucapan Hyun Soo. Ada rasa malu dan tak nyaman, tapi aku menyukainya. "Jangan membuatku menunggu terlalu lama," tambah Hyun Soo dengan mengusap pipiku. "Aku tidak pernah menemukan sosok yang sepertimu sebelumnya. Maka aku harus mempersiapkan diri." Aku hanya membalasnya dengan senyuman. "Apakah selama di Amerika, kamu memiliki banyak teman pria?" tanya Hyun Soo. "Ya, dari rekan kerja, kolega, teman-teman sekolahku," jawabku dengan santai.
"Lalu kenapa kamu tidak menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka? Apakah mereka tidak tampan?" Seketika aku tertawa yang membuat Hyun Soo menatapku tak suka. "Apakah ini juga bentuk lain dari cemburumu?" tanyaku mengejek. "Jawab saja."
"Aku sudah pernah mengatakan jika di mataku kamu tidak terlalu tampan, karena aku memang sudah terbiasa melihat pria tampan. Jika kamu melihat teman-temanku, entah seperti apa reaksimu nanti," jawabku dengan santai lalu tertawa. "Jadi mereka tampan?" jawab Hyun Soo terlihat kesal.
"Tentu saja." Aku melihat ekspresi Hyun Soo yang berubah keruh. "Tapi aku selalu memiliki pertimbangan matang sebelum menentukan pilihan, terlebih jika hal itu menyangkut pasangan. Itu sebabnya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka, karena aku juga memiliki pertimbangan sendiri."
"Grandpa Charles juga mengatakan pernah mengusir seorang pria yang meminta izin untuk menghadiri pesta bersamamu."
"Mungkin peran keluarga juga termasuk," jawabku dengan mengangkat bahu.
"Berarti aku salah satu yang beruntung karena Grandpa dan Grandma tidak mengusirku. Aku bahkan diperbolehkan menempati satu kamar bersamamu," ucap Hyun Soo lalu memelukku.
"Itulah ketakutan terbesarku ketika membawamu kemari, aku takut jika kamu akan mengalami hal yang sama dengan teman-temanku yang lain. Aku bersyukur hal itu tidak pernah terjadi.
"Semoga keberuntungan ini membuka jalan jodoh untuk kita berdua." Hyun Soo semakin mendekatkan wajahnya dan kami kembali berciuman. Aku kembali merasakan bagaimana cumbuan Hyun Soo yang selalu bisa melumpuhkanku. Aku tak pernah bisa menolak sentuhan dan ciumannya.