Hal teraneh yang aku rasakan sekarang ini adalah di saat Grandpa dan Grandma memaksaku untuk mengajak Hyun Soo berkeliling menikmati kota Detroit. Padahal sudah jelas jika niat awal kami kemari bukanlah untuk liburan, tapi mereka bersikeras jika keadaan Grandpa baik-baik saja sehingga tidak perlu membuatku untuk selalu menjaganya.
"Aku tetap tidak mau, aku mau di sini untuk selalu menemani Grandpa. Yang harusnya aku ajak jalan-jalan adalah Grandpa, bukannya Hyun Soo!" ucapku dengan kesal. Aku melihat Grandma yang memberikan isyarat untukku berbicara dengan pelan, karena kami saat ini sedang berdebat di teras depan sedangkan Hyun Soo masih berada di dalam kamar. "Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu selalu menjagaku, Rachel," ujar Grandpa bersikeras. "Tapi tujuanku kemari memang untuk menjaga Grandpa," jawabku tak mau kalah. "Kami ingin memberikan waktu untuk kalian saling mengenal." Aku menatap Grandma dengan sengit. "Kami masih bisa melakukannya saat kembali ke Korea nanti, Grandma. Lagi pula kami selalu mencoba untuk saling mengenal." Jangan salahkan watakku yang keras kepala ini, karena aku yakin jika ini adalah faktor keturunan.
"Kamu bisa memperkenalkan kota ini padanya. Tunjukan padanya jika di sinilah kamu tumbuh dan berkembang. Grandma yakin hal itu akan nampak berkesan untuk Hyun Soo," jawab Grandma keras kepala. "Aku mau di sini!" jawabku dengan tegas. "Grandpa ingin melihat kamu cepat menikah." Aku menatap Grandpa, mataku terasa panas dengan tiba-tiba. Mendengar ucapan Grandpa yang nampak lemah dan putus asa membuat air mataku menetes tanpa aku minta. Entah mengapa sekarang ini aku justru berpikiran dengan buruk. "Kenapa?" tanyaku dengan terbata.
"Grandpa sudah cukup tua. Kami sudah merawatmu hingga tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik seperti sekarang ini. Kini saatnya kami melihat bagaimana rupa dari anakmu nanti. Grandpa ingin memiliki cicit. Semoga kami berdua masih diberikan kesempatan untuk melihatmu memiliki anak," ucap Grandpa dengan matanya yang berkaca-kaca. Aku menoleh untuk melihat Grandma dan dia juga menunjukan reaksi yang sama. Aku tidak sanggup untuk melihat dua orang yang aku sayangi ini nampak putus asa karena keegoisanku. Aku juga ikut menangis seperti mereka. Meskipun aku tidak bisa menolak keinginan mereka, tetapi aku juga masih memiliki akal sehat dengan tidak menjalani hubungan dalam tekanan. Aku ingin hubungan kami berjalan karena keputusanku dan Hyun Soo sendiri, tanpa harus mendapatkan paksaan dari pihak manapun, termasuk dari Grandpa dan Grandma.
"Jangan berkata seperti itu, Grandpa. Aku yakin kalian berdua masih akan berumur panjang. Aku tidak bisa berjanji pada kalian, tapi yang pasti aku akan tetap berusaha. Aku tidak ingin menjalani hubungan karena keterpaksaan. Aku ingin menikah karena keinginanku sendiri tanpa paksaan dan tekanan pihak manapun. Jadi Grandpa dan Grandma, teruslah sehat hingga aku menikah nanti. Karena kalian masih harus melihatku menikah dan memiliki anak." Setelah mengatakannya, aku memeluk Grandpa dan Grandma secara bersamaan. Aku memang menyayangi mereka, tapi aku tidak ingin menyesali keputusanku kelak karena mereka. "Aku akan mengajak Hyun Soo jalan-jalan. Aku akan lebih berusaha untuk mengenalnya seperti yang Grandpa dan Grandma inginkan," ucapku pada akhirnya yang membuat mereka berdua tersenyum.
-o0o-
Pada akhirnya aku memang mengajak Hyun Soo untuk jalan-jalan. Aku mengajak Hyun Soo mengunjungi pusat kota Detroit untuk menikmati pelayaran sungai dengan menggunakan kapal feri Diamond Jack. Tanpa menggunakan jasa para staf untuk menjelaskan tentang bangunan di sekitar Detroit, aku lebih memilih untuk menjelaskan sendiri pada Hyun Soo tentang landmark di Detroit. Meskipun awalnya aku sangat menolak keras rencana Grandpa untuk mengajak Hyun Soo jalan-jalan, tapi nyatanya justru aku yang lebih menikmati perjalanan kami. Aku seolah merasa bebas dan kembali ke rumah. Michigan memanglah rumahku. Dari yang aku ingat, aku tidak merasa sebebas ini setelah kembali ke Korea. Aku hanya fokus untuk mengejar kemajuan bisnis yang sedang aku jalankan. Aku bahkan tidak sempat untuk berwisata di sana. Aku hanya akan menggunakan libur cutiku untuk menemani Eomma mengunjungi Jepang ketika musim semi. Aku seolah merasa sangat tertekan dan terpaksa untuk tinggal di sana.
Aku memejamkan mata sembari meraskaan semilir angin yang terasa sangat sejuk siang ini di Detroit. Aku merindukan aroma dan keindahan kota ini. Meskipun banyak orang mengatakan jika tingkat kriminalitas di kota ini sangatlah tinggi, tapi aku selalu merasa jika di sini adalah tempat teraman dan ternyaman. Sayangnya Eomma menolak ketika aku memintanya untuk tinggal dengan Grandma dan Grandpa di sini. Eomma bilang jika Korea berisi banyak kenangan Eomma dan Daddy, sehingga Eomma tidak bisa meninggalkan Korea begitu saja. Sama halnya denganku yang berat ketika harus meninggalkan kesuksesanku di New York untuk kembali ke Korea. Bedanya, aku tidak memiliki pilihan untuk menolak.
"Kamu begitu bahagia berada di sini," celetuk Hyun Soo yang membuatku menoleh ke arahnya. "Karena di sini adalah rumah," jawabku sembari tersenyum dan memandang hamparan air yang luas di hadapan kami. "Kamu lahir di Korea. Secara kewarganegaraan kamu warga Korea," canda Hyun Soo sembari tertawa. "Rasa nyaman tidak bisa hadir hanya karena kita berasal dari sana," jawabku sembari tersenyum. "Apakah kamu pernah terbesit keinginan untuk kembali ke sini?" tanya Hyun Soo dengan serius. "Apa maksudnya?" tanyaku sembari mengerutkan kening.
"Apakah kamu ingin tinggal di Michigan?" tanya Hyun Soo dengan ragu. "Sejujurnya iya. Tapi aku tidak memiliki pilihan untuk tinggal di sini," jawabku dengan lesu. "Karena Bibi Hana?" tebak Hyun Soo yang aku jawab dengan anggukan kepala. "Ya, aku pernah meminta Eomma untuk tinggal di Amerika bersamaku. Entah harus di Michigan atau bersamaku di New York. Tapi Eomma menolak, karena semua kenangannya bersama dengan Daddy berada di Korea," jelasku yang membuat Hyun Soo tersenyum.
"Maka aku harus berterima kasih pada Bibi Hana dan Tuan Yoo Ram. Karena mereka, aku bisa mengenalmu, aku bisa memiliki kesempatan untuk dekat dan dijodohkan denganmu. Aku sangat bersyukur," jawab Hyun Soo dengan tersenyum tulus. Aku terbiasa melihat Hyun Soo tersenyum, aku juga mengakui jika aku menyukai senyumanya. Tapi entah mengapa melihat senyuman Hyun Soo kali ini membuat dadaku berdebar, ada perasaan bahagia yang tak terlihat terpendam dalam diriku. Hingga aku yang terlalu lama melamun itu sampai tak menyadari ketika bibir kita telah menyatu dengan Hyun Soo yang melumat bibirku lembut. Kedua tangan besarnya menangkup kedua pipiku untuk membuat ciuman kami semakin intens. Aku yang merasa nyaman dan terbawa suasana ikut menikmati dan membalas ciuman Hyun Soo. Berciuman di muka umum sudah menjadi hal yang biasa sehingga aku memilih untuk mengabaikan rasa maluku jika harus di lihat orang-orang. Setelah ciuman kami usai, Hyun Soo masih enggan berjauhan, kening kami masih bersentuhan dengan deru nafas yang masih tersengal. Hyun Soo menatapku dengan lembut.
"Apakah ini tandanya kamu sudah menerimaku?" bisik Hyun Soo. Aku menatapnya, memantapkan hatiku untuk memilih keputusan yang sudah Hyun Soo tunggu sejak lama. "Apakah aku membuatmu menunggu terlalu lama?" tanyaku dengan suara serak, efek dari ciuman kami. "Sejujurnya iya, karena aku juga membutuhkan kepastian. Aku tidak ingin berjalan terlalu jauh hanya untuk kecewa," jawab Hyun Soo sembari tersenyum. Hyun Soo benar, aku tidak seharusnya menggantungkanya seperti ini. Tapi apakah ini tidak terlalu cepat? "Tapi kita masih belum terlalu mengenal," ucapku dengan ragu. "Semua bisa kita lakukan sembari berjalan," jawab Hyun Soo masih berusaha meyakinkan. "Kamu tidak akan mengambil kesempatan dalam hubungan ini?" Aku melihat Hyun Soo terdiam lalu tersenyum. "Aku tidak seburuk itu, Rachel."
"Tapi kamu selalu mengambil kesempatan untuk menyentuhku!" sahutku dengan tersenyum miring. "Karena kamu juga menerimanya. Laki-laki tidak berbuat jauh jika perempuannya tidak menerima," jawab Hyun Soo dengan santai. "Kamu menyalahkan aku?!" tanyaku tidak terima. Hancur sudah suasana romantis di antara kami. "Kita tidak sedang dalam suasana yang tepat untuk berdebat," ujar Hyun Soo sembari tertawa. Aku melangkah mundur untuk memberikan jarak di antara kita. Aku merutuki diriku sendiri yang merusak suasana romantis ini. "Aku mohon bersabar sedikit lagi. Aku masih memiliki sedikit waktu. Bukankah kita sudah sepakat untuk memberikanku waktu selama satu bulan?"
"Baiklah, satu bulan. Aku tidak ingin lebih lama lagi," ucap Hyun Soo lalu memeluk tubuhku. Aku nyaman berada di dalam pelukannya. Aku sadar jika apa yang aku lakukan hanyalah membuang-buang waktu, aku jelas sudah memiliki pilihan tapi aku tidak ingin semua ini berjalan dengan terburu-buru. Semua hubungan jelas akan menjadi manis saat di awal, aku tidak ingin menyesali nantinya. Karena sampai sekarang aku juga masih tidak mengenal Hyun Soo dengan benar. Hubunganku dengan Seo Rin juga tidak terlalu bagus, aku tidak ingin ada drama nantinya, itu sangat tidak keren bermusuhan dengan adik ipar. "Aku lihat, sejak tadi pria itu terus menatap ke arahmu. Aku tidak suka," ujar Hyun Soo dengan raut wajahnya yang berubah keruh. Aku menatap ke arah pandang Hyun Soo. Aku melihat seorang pria yang nampak mengalihkan pandangannya ketika tatapan kami bertemu, dia juga nampak gugup ketika aku menatapnya. Aku mengingat sejenak, aku seperti pernah melihat pria itu. "Aku seperti pernah melihatnya, hanya aku lupa di mana," ucapku sembari berusaha untuk mengingat-ingat.
"Kalian saling mengenal? Apakah dia mantan kekasihmu?" Aku bisa melihat Hyun Soo yang menahan amarahnya. Aku kembali mengingat dan aku baru sadar jika dia dulu adalah bawahanku ketika bekerja di Victoria Secret. Dia masih bekerja selama 2 minggu sebelum aku memutuskan untuk resign. "Dia bawahanku ketika aku masih bekerja di New York," jawabku sembari menatap Hyun Soo. "Jika dia mengenalmu kenapa dia tidak menghampirimu? Aku sudah mengawasinya sejak tadi, dia terus menatap ke arahmu. Aku pikir dia menyukaimu." Aku menatap Hyun Soo dengan kening berkerut. "Apakah kamu sekarang ini sedang cemburu?" Tanyaku dengan menatap Hyun Soo.
"Tentu saja. Aku tidak suka ada pria lain yang terus menatapmun selain aku," jawab Hyun Soo dengan serius. Bukankah sudah aku katakan jika aku belum mengenal Hyun Soo dengan baik dan sekarang dia membuktikannya. Hyun Soo termasuk pria pencemburu. Padahal aku tidak menyukai hubungan yang terkekang. "Sebaiknya kita hampiri dia untuk menyelesaikan kesalah pahaman ini."
"Aku tidak ingin bertemu dengannya!" ujar Hyun Soo dengan ketus. Dia ini kekanakan sekali. "Terserah saja," jawabku dengan cuek lalu meninggalkan Hyun Soo. Dengan tanpa di minta dia berjalan di belakangku, membuatku tersenyum puas tanpa Hyun Soo sadari.
"Hai," sapaku pada pria yang tadi Hyun Soo tuduh terus menatap ke arahku. Aku melihat penampilanya jika dia hanya wisatawan di Detroit. Mungkin dia sedang berlibur. "Hallo," jawab pria itu dengan tersenyum. Dia tidak nampak gugup sama sekali.
"Aku merasa pernah bertemu denganmu, tapi aku lupa di mana," ucapku sembari melirik ke arah Hyun Soo. "Aku Henry. Kita pernah bertemu di Victoria Secret, Nona Rachel," jawabnya dengan ramah. "Hai Henry, apakah kamu juniorku saat itu?" tanyaku dengan cepat. "Benar Nona Rachel," jawabnya sembari tersenyum. "Kamu masih mengenalku dengan baik meskipun aku sudah meninggalkan Victoria Secret untuk waktu yang cukup lama. Perkenalkan, dia Hyun Soo," ucapku sembari menarik tangan Hyun Soo.
"Hai, aku Henry," sapa Henry dengan ramah. "Hyun Soo, calon suami Rachel," jawab Hyun Soo dengan tegas. "Senang bertemu dengan anda Nona Rachel dan Hyun Soo. Aku tidak akan melupakan anda Nona Rachel. Berkat anda, saya masih bisa bertahan hingga sekarang. Saya takut untuk menyapa anda terlebih dahulu, karena mungki anda sudah melupakan saya," jelas Henry sembari tersenyum. Dia sangat berbeda dengan yang terakhir kali aku ingat. "Aku hanya ingin meluruskan kesalah pahaman karena Hyun Soo berpikir jika kamu terus menatap ke arahku itu artinya kmau sedang tertarik padaku," jawabku bermaksud untuk menyindir Hyu Soo. Tapi reakdi Henry yang nampak bersalah dengan menundukkan kepalanya justru membuatku merasa tidak enak.
"Saya minta maaf sekali lagi."
"Jangan sungkan. Aku senang masih ada yang mengingatku di sini." Aku berusaha menghentikan Henry yang merasa bersalah. "Kalau begitu kami pergi dulu," ucapku lalu mengajak Hyun Soo kembali berkeliling di sekitar kapal. Sudah meluruskan kesalah pahaman menurutku sudah cukup, aku juga tidak memiliki kepentingan untuk berbincang dengan Henry lebih lama.