Aku pernah ingat Eomma mengatakan jika Hyun Soo adalah sosok laki-laki yang tegas dan bertanggung jawab. Tapi apa yang terjadi sekarang justru berbanding terbalik dengan apa yang pernah Eomma katakan. Hyun Soo dengan bodohnya ikut bersamaku pergi ke Michigan. Dia mengambil cuti tahunannya secara mendadak hanya untuk bertemu dengan Grandpa dan Grandma. Aku tidak habis pikir dengannya, aku sudah menolak Hyun Soo untuk ikut, tapi dia sangat keras kepala. Dia tidak memikirkan tanggung jawab yang harus di emban sebagai seorang pemimpin perusahaan, aku menganggap Hyun Soo terlalu mengikuti egonya tanpa berpikir realistis. Aku yang harus meninggalkan Korea saja harus berpikir secara matang sebelum pergi, karena aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku begitu saja. Aku memiliki banyak karyawan yang menjadi tanggung jawabku, jadi tidak bisa berbuat sesuka hatiku seperti Hyun Soo. Selama 15 jam perjalanan, aku hanya habiskan waktu dengan tidur dan menonton film, aku mengabaikan Hyun Soo sejak dia bersikeras untuk ikut. Aku tidak peduli meskipun dia sudah berusaha untuk merayuku.
"Ini pertama kalinya aku mengunjungi Michigan," ucap Hyun Soo sembari menatapku. Kami saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah Grandpa. Dia sudah mengirimkan sopir untuk menjemput kami di bandara. "Sampai kapan kamu akan terus marah?" tanya Hyun Soo dengan putus asa. "Sampai kamu sadar jika apa yang kamu lakukan sekarang ini sangat kekanakan!" jawabku dengan ketus. "Aku sudah mengatakan jika aku sudah membereskan segala urusan. Aku juga masih bisa memantau pekerjaan dari jarak jauh, Rachel. Teknologi sekarang susah semakin maju," Jelas Hyun Soo sembari tersenyum. "Tapi tetap saja, apa yang kamu lakukan itu kekanakan. Aku pergi mungkin sampai satu minggu, lalu apa yang kamu lakukan dengan membuang-buang waktu di sini? Kamu seharusnya masih tetap bekerja," jawabku masih tak mau kalah.
"Aku tidak merasa membuang-buang waktu. Aku menghabiskan waktu bersamamu. Kamu hanya terlalu khawatir, apa yang kamu pikirkan nyatanya tidak seburuk itu, Rachel. Kamu tenang saja, aku masih tetap profesional." Aku tidak tau lagi harus dengan apa aku mendebat Hyun Soo. Aku tau apa yang dia katakan tidak sepenuhnya salah, tapi tetap saja kenyataan jika dia sampai harus menemaniku selama satu minggu di sini tidaklah baik menurutku. Atau memang benar jika aku terlalu khawatir padanya? Aku tau bagaimana sikap Grandpa dan Grandma ketika aku dekat dengan seorang pria yang tidak mereka suka. Aku takut jika Hyun Soo akan mengalami hal yang sama. Apakah rasa marahku pada Hyun Soo karena ikut denganku hanyalah topeng? Karena sesungguhnya aku hanya takut jika Grandpa dan Grandma tidak menyukai Hyun Soo? Aku sendiri tidak bisa memahami diriku sendiri. Debaran jantungku semakin menggila ketika kami telah sampai di rumah Grandpa. Rumah yang menjadi saksi diriku yang tumbuh dewasa. Aku besar di rumah ini, rumah megah bergaya klasik ini telah menjadi saksi hidupku.
"Kenapa tidak turun?" tanya Hyun Soo karena aku masih belum beranjak keluar. Aku masih terdiam sembari pikiranku melayang membayangkan apa yang akan terjadi dengan Hyun Soo. "Semua akan baik-baik saja." Aku menoleh ke arah Hyun Soo yang sedang tersenyum lembut sembari menggenggam tanganku. Sentuhan Hyun Soo seolah memberikan kekuatan untukku. Di sini seharusnys dia yang gugup dan takut, bukannya aku. "Aku takut jika mereka tidak menyukaimu," ucapku jujur.
"Tidak ada seorang pun yang bisa menolakku," jawab Hyun Soo dengan percaya diri. Aku tersenyum mendengar candaan Hyun Soo. Aku lalu mulai memberanikan diri untuk keluar. "Tuan dan Nyonya sudah menunggu anda di dalam," ucap sopir Grandpa. Aku hanya mengangguk lalu melangkah masuk bersama Hyun Soo.
"Rachel!" Ketika kami memasuki ruang tamu, Grandma sudah menyambutku dengan pelukan. Rasanya masih sama ketika Grandma memelukku, selalu hangat. "Aku sangat merindukan Grandma," ucapku sembari mencium kedua pipinya. "Kamu masih cantik seperti biasanya," ucap Grandma yang membuat kami berdua tertawa. Aku lalu menatap ke arah Grandpa yang juga tengah menatapku dengan bahagia, aku melepaskan pelukan kami lalu berjalan ke arah Grandpa yang sedang duduk di sofa. Aku langsung berhambur memeluk Grandpa. Aku sangat merindukan pria tua yang selalu menyayangiku dan tak pernah lelah untuk memberikan ribuan nasehat. Melihat kruk berada di samping Grandpa membuatku menangis. Aku tidak peduli jika nampak memalukan di hadapan Hyun Soo, yang jelas aku selalu menjadi kekanakan jika di hadapan Grandpa dan Grandma.
Grandpa yang mendengar isakan kecilku lalu melepaskan pelukan kami dan menghapus air mataku. "Grandpa baik-baik saja, tak perlu menangis," ucapnya dengan tersenyum. Hal itu justru membuat tangisku semakin kencang. "Kenapa Grandpa harus jatuh, kenapa bisa sampai seperti ini? Apakah Grandpa tidak akan bisa berjalan normal lagi? Apakah selamanya Grandpa akan menggunakan kruk?" tanyaku bertubi-tubi sembari menangis. "Grandpa baik, luka ini hanya sementar. Jangan menangis, apa kamu tidak malu dengan calon suamimu?" Mendengar ucapan Grandpa membuatku seketika menghentikan tangis. Bagaimana Grandpa bisa tau? Aku sontak menoleh dan menatap ke arah Hyun Soo yang justru tersenyum hangat ke arahku. Grandma yang berada di samping Hyun Soo juga tersenyum. "Grandpa kenal Hyun Soo?" tanyaku sembari menatap Grandpa dengan heran.
"Maaf jika saya tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Hyun Soo, saya calon suami Rachel. Senang berkenalan dengan anda Tuan dan Nyonya," ucap Hyun Soo sembari menunduk di hadapan Grandpa dan Grandma. Aku jadi dibuat bingung, mereka tidak mengenal Hyun Soo tapi bagaimana bisa tau jika Hyun Soo mungkin calon suamiku? Ini pasti ulah Eomma!
"Duduklah, kalian pasti lelah," ucap Grandma mempersilahkan Hyun Soo duduk. Aku dengan refleks lalu duduk di samping Grandpa dan memeluk lengannya, aku seolah tak ingin berjauhan darinya, aku sangat merindukan Grandpa. Karena sejak aku kembali ke Korea. Aku baru 2x pukang ke Michigan. Yang terakhir 2 tahun yang lalu. "Apakah Eomma yang bercerita tentang Hyun Soo?" Grandma dengan santainya mengangguk dan tersenyum. Melihat reaksi Grandma dan Grandpa setidaknya aku masih bisa bersyukur, karena mereka tidak bersikap seperti yang aku bayangkan. "Seperti yang Hana katakan, dia tampan," celetuk Grandpa. "Terima kasih, Tuan," ucap Hyun Soo dengan tersenyum lebar.
"Panggil aku Charles dan ini istriku, Selena," jawab Grandpa. Hyun Soo tidak nampak terkejut, mungkin dia sudah mengenal budaya barat di mana kami tidak memanggil seseorang dengan statusnya, melainkan dengan namanya saja. Meskipun orang itu jauh lebih tua dari kita. Aku memiliki perbedaan karena Eomma yang mengajarkanaku untuk memanggil grandma dan grandpa, tidak memanggil nama mereka saja. Seorang pelayan datang untuk memberi tahu jika makanan sudah siap. Kami lalu bergegas untuk makan karena aku juga sudah sangat lapar. Selama makan malam, Hyun Soo nampak sangat nyaman berbaur dan berbincang bersama Grandpa dan Grandma. Sepertinya memang benar apa yang Hyun Soo katakan jika tidak ada seorang pun yang bisa menolaknya. Dia orang yang sangat mudah bergaul. Setelah selesai makan, aku memilih untuk berbincang sejenak sebelum tidur. Selain karena baru saja makan, aku juga masih jetlag. Akan sulit tidur karena aku sudah kebanyakan tidur selama di pesawat.
"Aku sangat terkejut ketika tau Grandpa jatuh di kamar mandi," ucapku sembari menatap Grandpa dengan sebal. "Grandpa hanya kurang berhati-hati. Ini tidak patah," jawab Grandpa membela diri.
"Lalu kenapa sampai harus menggunakan kruk? Apa kata dokter?" tanyaku dengan khawatir. Dia sudah tua, jadi luka sedikit saja bisa jadi akan berakibat fatal. "Terjadi pergeseran tulang. Tapi semua sudah diatasi dengan cepat. Grandpa hanya harus bersabar dengan menggunakan kruk sementara," jelas Grandpa dengan tersenyum. "Jangan bertindak ceroboh lagi," ucapku dengan cemberut.
"Maaf sudah membuatmu khawatir." Grandpa mengusap rambutku dengan lembut. "Tapi Charles sangat senang mengetahui kamu akan datang, Sayang," timpal Grandma. "Bagaimana aku tidak datang setelah tau Grandpa sakit!" jawabku dengan sinis. "Cucu Grandpa yang cantik dan baik." Grandpa lalu memeluku yang membuatku tersenyum. "Apa kamu tidak ingin segera beristirahat? Grandma sudah membersihkan kamarmu. Grandma juga sudah meletakkan pakaian Hyun Soo di sana."
"Baiklah, aku ingin beristirahat terlebih dahulu. Grandpa dan Grandma juga harus tidur tepat waktu." Setelah berpamitan dan mencium Grandpa dan Grandma secara bergantian, aku dan Hyun Soo kini menuju kamarku. Aku sudah tidak terkejut jika melihat Grandma membiarkan kami tidur dalam satu kamar. Karena bagi budaya di sini hal itu tidak masalah, terlebih yang mereka tau jika Hyun Soo adalah calon suamiku. Ketika masuk, kamarku masih terlihat sama persis seperti terakhir aku meninggalkannya. Aku sudah lama sekali tidak tidur di sini, karena setelah aku bekerja di New York, aku juga sudah sangat jarang mengunjungi Grandpa dan Grandma. Mungkin hanya beberapa kali dalam setahun. Kini membuatku merindukan kamar lamaku. Grandma bahkan juga tidak mengganti perabotan atau wallpaper dindingku, semuanya masih sama dengan suasana masa remajaku.
"Kamu mandilah dulu, aku akan membantu menyiapkan pakaianmu." Hyun Soo hanya pasrah dan mengangguk, mungkin dia sedang lelah sehingga tidak banyak berdebat seperti biasanya. Ketika menyiapkan pakaian Hyun Soo, aku merasa jika aku sudah bertindak seperti istrinya. Hal itu membuatku tersenyum.
-o0o-
Setelah kami selesai bergantian membersihkan diri, kini aku ingin _pillow talk bersama dengan Hyun Soo. Karena kebetulan aku tidak merasa ngantuk sama sekali. "Bagaimana pendapatmu tentang Grandpa dan Grandma?" tanyaku penasaran. "Mereka baik dan menyenangkan. Jauh dari perkiraanku."
"Kamu juga sempat mengira jika mereka tidak akan menyukaimu?" Aku penasaran, apakah manusia semacam Hyun Soo ini pernah merasakan insecure dalam hidupnya. "Sempat terbesit tapi sedikit. Aku percaya diri, jika hal yang aku pikirkan itu baik maka akan berakhir dengan baik," jawab Hyun Soo dengan santai. Karena sebelumnya aku juga sudah pernah tidur seranjang dengan Hyun Soo, maka kini aku tidak merasa canggung sama sekali.
"Aku lebih suka sosok Rachel yang sekarang," celetuk Hyun Soo tiba-tiba. "Apa maksudnya?" tanyaku dengan menatapnya bingung. "Kamu lebih ekspresif, ceria, banyak bicara, kamu juga tidak menahan diri seperti biasanya."
"Seperti inilah diriku, memang apa yang kamu lihat selama ini?" tanyaku dengan bingung. Dia pikir aku hanya diam dan tak bisa berekspresi? "Yang bisa menilai diri kita adalah orang lain. Aku menilai jika kamu bisa menjadi dirimu yang sesungguhnya di sini. Jika biasanya kamu selalu bersikap serius dan dewasa tapi di sini aku juga bisa melihat Rachel yang kekanakan, manja dan periang." Wajahku terasa panas mendengar apa yang Hyun Soo katakan. Meskipun dia tidak sedang memujiku, tapi hanya dengan menggambarkan seperti apa diriku, sudah berhasil memuatku tersipu. Aku sampai tidak mengerti dengan diriku sendiri, bagaimana bisa dengan mudah jatuh dalam pesona Hyun Soo. Apakah kali ini aku bisa mengatakan jika aku juga memiliki rasa untuknya?