18. Penjelasan

1859 Kata
Setelah selesai mandi, aku duduk termenung di ranjang. Eomma tidak membawakan make up sehingga aku tidak perlu berias. Aku sedang tidak ingin bertemu Eomma jadi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Hyun Soo masuk ke dalam kamar masih menggunakan piyamanya. "Kamu sudah rapi," ucap Hyun Soo berbasa-basi. Aku tau dia sadar jika moodku sedang buruk. Hyun Soo mendekat padaku lalu duduk di sampingku. "Kamu sebaiknya segera berbenah jika tidak ingin terlambat." Aku akan beranjak berdiri tapi Hyun Soo memahanku dan menarikku supaya aku kembali duduk. "Aku ingin berbicara denganmu," ucap Hyun Soo sembari menatapku serius. "Apa?" jawabku dengan ketus. "Aku mendengar pembicaraan kalian," ucap Hyun Soo. "Bukankah aku sudah memintamu untuk pergi!" Aku menatap Hyun Soo datar. Aku tidak suka mengetahui fakta jika Hyun Soo mencoba ikut campur urusanku dan Eomma. "Maaf jika aku sudah berlaku lancang, tapi ini memang bukan kesalahan Bibi Hana." Aku menatapnya dengan datar, jelas saja dia membela Eomma, karena semuanya akan menguntungkan untuk mereka jika sampai terjadi sesuatu denganku semalam. "Aku tidak ingin membahas hal ini," ucapku dengan datar. "Aku sudah mencoba membangunkanmu semalam, tapi kamu tak kunjung bangun. Bibi Hana juga sudah mencoba tapi kamu masih tak mau bangun. Bibi Hana memang mengatakan jika kamu tipe yang sangat sulit di bangunkan. Aku juga berspekulasi jika kamu mungkin juga mabuk karena meminum anggur, makanya kamu tidak mau bangun," jelas Hyun Soo sembari menatapku serius. Penjelasan Hyun Soo sangat berbeda dengan apa yang sudah aku pikirkan. "Aku sudah menawarkan untuk membawamu pulang, karena aku tidak mungkin membiarkan Bibi Hana membawamu pulang dalam keadaan tidak sadar meskipun rumah kita dekat." "Lalu mengapa aku bisa tidur di sini," jawabku dengan kesal. "Seo Rin memberikan ide, mengapa kamu tidak tidur di sini dan Bibi Hana akan menjemputmu keesokan paginya. Mendengar usulan Seo Rin , entah mengapa semua orang menjadi setuju. Jadi semua ini memang salahku, karena aku yang mengizinkanmu untuk menginap di sini." Aku menatap Hyun Soo dalam, apakah dia berniat mencari keuntungan dariku yang tidak sadarkan diri? "Jika kamu berpikir aku memanfaatkan keadaan karena kamu dalam kondisi tidak sadar, maka itu salah. Aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal buruk padamu. Aku juga sejak awal memilih tidur terpisah di sofa, lalu kamu yang memintaku untuk tidur bersama." Aku refleks menatap Hyun Soo dengan tajam. Ucapan Hyun Soo terdengar seolah aku yang mencari kesempatan padanya. Padahal tetap saja dia salah karena membiarkanku tidur di sini. "Tapi kenapa Seo Rin tidak ikut menginap di sini? Tidak mungkin jika rumah sebesar ini hanya memiliki 1 kamar, bukan? Aku bisa tidur dengan Seo Rin, bukan denganmu!" ucapku tidak mau kalah. Aku tidak ingin Hyun Soo merasa menang dengan alasan konyolnya. "Kamu bisa tidak percaya, tapi perlu kamu tau jika kamar yang lain dalam keadaan kosong, karena aku memang tidak pernah memiliki tamu dan tidak mengizinkan orang lain tidur di rumahku. Bahkan meski itu keluargaku sendiri," jelas Hyun Soo sembari tersenyum. Aku sampai terdiam, apakah aku salah satu orang yang spesial karena Hyun Soo memperbolehkan aku menginap di rumahnya? Terlebih sampai berani tidur di ranjangnya. "Apakah kamu merasa sangat keberatan sebenarnya karena Eomma memaksamu untuk mengizinkanku tinggal di sini?" tanyaku dengan ragu. Aku takut jika aku terlalu merasa percaya diri setelah mendengar Hyun Soo tidak pernah memperbolehkan siapa pun untuk menginap di rumahnya. "Tentu saja tidak. Kamu berbeda, Rachel," jawab Hyun Soo sembari menggenggam tanganku. "Aku tidak merasa keberatan atau marah sama sekali karena kamu menginap di sini. Aku justru merasa bersalah karena kamu harus salah paham dengan Bibi Hana. Bukan Bibi yang sengaja meninggalkanmu di sini, tapi karena keadaan dirimu yang tidak memungkinkan untuk pulang semalam." Aku bisa melihat jika dia memang dengan jujur sedang merasa bersalah. "Lalu kenapa kamu tidak ikut mengantarkanku pulang? Jika Eomma memang kesusahan untuk membawaku pulang, bukankah itu tidak berlaku untukmu? Kamu pernah menggendongku pulang, kenapa tidak kamu lakukan semalam? Jika aku memang tidak sadarkan diri dan sulit untuk bangun?" Aku menatap Hyun Soo curiga karena aku mulai merasakan keanehan di sini. Hyun Soo terlihat gugup dan mengusap belakang kepalanya. "Jadi kamu yang memanfaatkan situasi!" Aku memukul lengan Hyun Soo, melihat dia yang tersenyum membuatku semakin gencar untuk memukulnya. Hyun Soo tidak menghindar tapi justru tertawa. Aku sudah yakin jika ada keanehan di sini, tapi setidaknya aku bersyukur karena keputusan untuk membuatku menginap bukan sepenuhnya karena Eomma. Aku tidak ingin merasa jika Eomma membuangku. Setelah lelah memukuli Hyun Soo kini aku terengah sembari menatapnya dengan cemberut. "Aku minta maaf, jangan lagi marah pada Bibi Hana," ucap Hyun Soo lalu memelukku. "Ini salahku, aku memang membuatmu menginap di sini tapi bukan berarti aku ingin melakukan hal buruk atau memanfaatkan keadaan. Sekali lagi maafkan aku." Aku merasakan Hyun Soo yang mengusap punggungku dan itu terasa nyaman. "Baiklah aku memaafkanmu. Aku akan meminta maaf pada Eomma," jawabku dengan tersenyum. Aku melepaskan pelukan Hyun Soo karena Hyun soo juga belum mandi. "Mandilah, aku akan membantu Eomma menyiapkan sarapan," ucapku dan Hyun Soo hanya mengangguk. Setelah Hyun Soo masuk ke dalam kamar mandi, aku memilih untuk kembali turun ke bawah. Aku harus segera meminta maaf pada Eomma karena apa yang sudah aku katakan. Aku melihat punggung Eomma, dia nampak tengah sibuk memasak. Aku berjalan ke arah Eomma lalu memeluk tubuhnya dari belakang. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Eomma. Kami memang sering kali seperti ini, bertengkar lalu dengan cepat segera berbaikan. "Eomma, aku minta maaf karena sudah berpikiran buruk pada Eomma." Aku merasakan Eomma mengusap tanganku yang melilit perutnya. "Aku sudah berkata sangat kasar dan jahat pada Eomma. Maafkan aku," ucapku sembari mencium bahu Eomma. "Tidak apa-apa, Sayang. Eomma paham apa yang membuatmu marah. Eomma juga sadar atas kesalahan Eomma yang membiarkanmu begitu saja. Maafkan Eomma." Aku melepaskan pelukanku lalu Eomma berbalik badan dan menatapku dengan haru, aku lalu segera memeluk tubuh Eomma dengan erat. Aku mencium kedua pipi Eomma yang membuat Eomma tertawa. Aku juga ikut tertawa dan kembali memeluk Eomma. "Hyun Soo sudah menjelaskan semuanya. Aku hanya terlalu kesal," jelasku lalu Eomma hanya mengangguk. "Tapi Eomma tidak menampik jika Eomma suka kamu menginap di sini. Eomma suka melihat progres pendekatan kalian yang mengalami kemajuan pesat. Eomma senang, Sayang." Aku sudah tidak terkejut jika Eomma memang sangat menyayangi Hyun Soo dan berharap kelak akan menjadi menantunya. "Ini susah siang, Hyun Soo berangkat lebih awal dari kita. Apa yang bisa aku bantu, Eomma?" ucapku setelah mengakhiri sesi mengharukan antara kami. "Eomma hanya tinggal menyajikan sup ini, kamu bisa menatanya di meja makan." Aku segera menjalankan perintah Eomma sebelum Hyun Soo selesai dengan acara mandinya. -o0o- Hyun Soo bersikeras ingin mengantar kami, sehingga dia harus berangkat terlambat hari ini. Hyun Soo bilang jika hari ini juga akan menjemput kami. Tapi Eomma justru memiliki acara dengan para teman-temannya, sehingga hanya aku yang pulang dengan Hyun Soo. "Bibi Hana memiliki acara dengan Eomma, bagaimana jika kita makan malam bersama?" tanya Hyun Soo di perjalanan pulang. "Kenapa tidak mengatakannya sejak tadi. Kita bisa makan di restoran." "Tapi aku hanya ingin makan denganmu saja, jawab Hyun Soo. Aku menatapnya dengan heran. "Kamu ingin makan di mana?" tanyaku dengan menatapnya. "Kita bisa makan di rumahku," jawab Hyun Soo sembari tersenyum. "Kenapa setelah acara menginap, kamu jadi senang mengajakku ke rumahmu?" tanyaku dengan curiga. Apakah Hyun Soo berniat melakukan hal aneh-aneh lagi? Aku mulai membayangkan apa yang kita lakukan pagi tadi. "Jika di rumahku tidak akan ada yang mengganggu kita," ucap Hyun Soo dengan menggoyangkan alisnya.  "Jangan berpikiran m***m!" celetukku dengan kesal. Hyun Soo justru tertawa. "Kenapa harus berpikiran m***m? Sepertinya yang berpikiran m***m di sini itu kamu, aku hanya mengatakan jika tidak ada yang mengganggu kita. Jika di rumahku kita jauh dari keramain," jelas Hyun Soo sembari tertawa. Sialan! Dia membuatku malu. "Kita tidak memiliki bahan. Lebih baik beli saja, aku juga malas dan lelah memasak," jawabku dengan acuh. "Kamu tidak perlu risau. Aku sudah menyiapkan semuanya," ucap Hyun Soo sembari tersenyum. Saat kami sampai, seseorang susah menunggu kami di pos satpam. Hyun Soo turun dan mengambil barang-barang yang dia bawa. "Kamu memesan makanan?" tanyaku dengan menatapnya heran. "Iya, aku memesan dari lokasi yang terdekat dari sini supaya lebih cepat." Aku lalu menatapnya dengan aneh. "Kenapa tidak bertanya padaku dulu? Siapa tau aku tidak suka dengan menu yang kamu pesan," ujarku yang membuat Hyun Soo terlihat bingung. Mungkin dia baru menyadari kebodohannya. "Aku membeli steak. Aku yakin kamu suka," jawab Hyun Soo yang membautku tersipu, Hyun Soo tau jika aku sangat suka daging. Ketika kami masuk, Hyun Soo langsung menatap meja makan dengan aku yang membantunya membuat minuman. "Kenapa tidak memesan dari restoranku? Padahal bisa menambah penjualan," celetukku dengan asal. "Jika memesan dari sana kamu pasti bosan karena sudah sering memakannya," jawab Hyun Soo dengan santai. Ketika Hyun Soo sudah selesai, begitu pula denganku. "Kamu tidak menyiapkan wine untukku?" tanya Hyun Soo. "Tidak, aku tidak ingin hal yang lalu kembali terulang. Kita minum orange juice saja," jawabku dengan acuh, Hyun Soo nampak kecewa. Aku tau saja pemikiran pria sepertinya. "Aku akan pergi ke Michigan selama beberapa hari," ucapku setelah kami selesai makan malam. "Kenapa? Aku jadi tidak bisa bertemu denganmu." Hyun Soo menunjukkan rautnya yang pura-pura sedih. "Aku ada urusan di sana," jawabku sembari membereskan peralatan makan kita dan membawanya ke wastafel. "Apakah itu penting? Kenapa sampai harus beberapa hari?" Aku menghela nafas, kenapa dia sangat ingin tau sekali? Aku sebenarnya tidak suka ketika ada orang yang ikut campur urusanku, tapi karena ini Hyun Soo yang bertanya, maka mau tidak mau aku harus menjawabnya. "Grandad sakit, jadi aku harus pergi mengunjunginya," jawabku sembari mencuci piring. Hyun Soo masih asyik merecokiku dengan berdiri di sampingku. "Berapa hari kamu akan pergi?" tanya Hyun Soo lagi. Aku menghentikan acara mencuciku lalu menatap Hyun Soo dengan malas. "Aku masih belum tau, mungkin sekitar 5 hari sampai satu minggu," jawabku lalu kembali melanjutkan acara mencuciku. "Itu lama sekali," keluh Hyun Soo terdengar frustrasi. Aku tidak suka melihat sikapnya yang nampak sangat berlebihan ini. "Aku tidak suka melihat reaksimu seperti ini, kamu nampak berlebihan dan posesif. Aku memiliki hak untuk pergi kemana pun aku mau dan berapa lama aku pergi. Kamu tidak berhak mengeluh seperti ini. Aku mengatakan hal ini untuk memberi tahumu, bukan meminta izinmu!" ucapku dengan tegas. Aku tidak ingin jika Hyun Soo justru akan menjadi sosok penghambat. Aku merasakan Hyun Soo yang memeluk tubuhku dari belakang, aku yang awalnya kesal kini justru merasa gugup karena perbuatannya. "Maafkan aku jika bersikap berlebihan. Aku hanya tidak suka mendapati fakta jika harus berjauhan darimu," bisik Hyun Soo. "Tapi aku memang harus pergi," jawabku dengan menurunkan intonasi suaraku. "Kapan kamu akan pergi?" tanya Hyun Soo dengan lembut. "Lusa." "Aku akan ikut,’’ ucap Hyun Soo dengan santai.  "Apa!" Seketika aku membalikkan tubuhku dengan paksa, meskipun Hyun Soo sedang memelukku. "Aku ingin ikut, aku juga harus berkenalan dengan kakek dan nenekmu," jawab Hyun Soo sembari tersenyum. "Tapi untuk apa? Kamu memiliki banyak urusan dan kepentingan di sini. Aku juga pergi tidak terlalu lama, jadi kamu tidak perlu ikut," jawabku menolak gagasan Hyun Soo untuk ikut ke Michigan. "Tapi aku tetap ingin ikut, aku bisa mengambil cuti tahunanku. Aku harus berkenalan dengan kakek dan nenekmu, karena aku calon cucu menantunya," jawab Hyun Soo sembari tersenyum lalu mengecup pipiku. Hyun Soo nampak sangat percaya diri, dia belum tau seperti apa Grandad dan Grandma sebenarnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN