17. Marah

1605 Kata
Aku merasa tubuhku hangat, pelukan ini terasa nyata aku rasakan. Ketika aku mulai menyadari adanya keanehan, aku membuka mataku secara perlahan. Hyun Soo tengah menatap ke arahku, posisi kami saling memeluk. Aku yang memeluk tuhuh Hyun Soo dengan erat dan Hyun Soo yang balas memeluk tubuhku. "Selamat pagi," sapa Hyun Soo sembari tersenyun hangat. Aku menatap Hyun Soo yang tidak mengenakan atasannya, padahal seingatku semalam Hyun Soo masih menggunakan piyamanya. Aku refleks mengecek tubuhku sendiri dan beruntung aku masih berpakaian lengkap, aku takut jika semalam kami sampai melewati batas. "Kenapa kamu tampak khawatir? Tidak ada yang terjadi semalam. Bukankah aku sudah berjanji?" ucap Hyun Soo sembari terkekeh. Aku baru sadar jika sekarang aku tengah tertidur di ranjang Hyun Soo, padahal yang aku ingat semalam kita tidur di sofa. Aku masih ingat dengan jelas kejadian semalam, aku juga dalam keadaan sangat sadar ketika aku meminta tidur di samping Hyun Soo, itu semua aku lakukan karena aku ketakutan. Aku akan melepaskan pelukanku dan akan beranjak untuk bangun, tapi Hyun Soo menahan tubuhku. "Kenapa terburu-buru? Ini masih pagi," ucap Hyun Soo sembari tersenyum jahil. "Aku harus pulang, Hyun Soo!" jawabku dengan kesal. Apakah dia tidak sadar jika posisi kami saat ini sangat mengundang bahaya, apalagi dengan keadaan Hyun Soo yang tidak mengenakan baju seperti ini. "Bibi Hana akan membawa pakaianmu nanti." Aku membulatkan mata, Eomma masih berani datang kemari setelah menjebakku seperti ini? "Jangan marah, ini juga bukan kesalahan Bibi Hana. Keadaan yang membuatmu menginap di sini semalam," celetuk Hyun Soo dengan tersenyum. Aku melepaskan pelukan Hyun Soo dengan paksa lalu bangun. Aku melirik ke arah jam di atas nakas yang masih menunjukan pukul 5 pagi. Padahal aku tidak pernah bangun sepagi ini, biasanya aku akan bangun pukul 7 lalu bersiap-siap. "Bukankah aku sudah bilang jika sekarang masih pagi," bisik Hyun Soo di telingaku. Aku bahkan tidak merasakan pergerakannya ketika bangun. "Antarkan aku pulang sekarang," ucapku sembari menatap Hyun Soo dengan serius. "Bibi Hana sudah berjanji untuk datang pagi ini, dia akan mengantarkan pakaian kerjamu dan membuat sarapan untukku," ucap Hyun Soo dengan tersenyum. "Tapi aku ingin pulang sekarang!" ucapku bersikukuh. "Mengapa harus terburu-buru?" tanya Hyun Soo dengan mengusap kepalaku. "Aku tidak nyaman dengan keadaan kita," ucapku dengan gelisah. "Memang kita kenapa? Aku bahkan sampai menahan diri untuk tidak menyentuhmu semalam," ucap Hyun Soo sembari menatapku lalu tatapan matanya dengan kurang ajar menurun ke dadaku. Refleks aku langsung menyilangkan kedua tanganku di depan d**a. "Jangan m***m!" teriakku sembari menatap Hyun Soo dengan tajam. "Kamu fikir mudah menahan diri semalaman ketika kamu berada di sampingku? Terlebih posisi tidurmu sangat menggangu, kamu memelukku, mengendus leherku. Itu tidak mudah, Rachel." Hyun Soo mendekatkan tubuhnya membuatku tubuhku dengan reflek bergerak mundur ke belakang, hingga Hyun Soo tetap tidak menyerah dan semakin maju ke arahku hingga membuatku kembali jatuh terbaring. Hyun Soo bergerak lalu berada di atas tubuhku, Hyun Soo menatapku dengan seringaiannya. "Aku suka ketika kamu tertidur, terlihat manis," ucap Hyun Soo dengan tersenyum. "Hyun Soo awas! Jangan begini," ucapku sembari mendorong dadanya. Tapi aku justru melihat Hyun Soo yang memejamkan matanya, aku sontak melirik ke arah kedua telapak tanganku yang berada di depan n****e Hyun Soo. Seketika aku menarik tanganku dan menatap Hyun Soo dengan takut. "Kenapa pagi ini terasa begitu berat, Rachel," ucap Hyun Soo sembari tertawa. Hyun Soo sudah terlihat seperti pria m***m yang bersiap untuk memperkosaku. "Menyingkirlah, Hyun Soo." Hyun Soo terlihat tak mengindahkan ucapanku. "Kenapa pipimu memerah, Rachel. Kamu membuatku semakin gemas," ucap Hyun Soo lalu dengan kurang ajarnya berani mencium pipiku. Bagaimana aku tidak malu jika Hyun Soo berada di atas tubuhku dengan tidak berbusana seperti ini. Apakah dia tidak sadar jika tubuhnya sangat sexy. Tubuhnya terbentuk dengan sempurna, bahkan terlihat sangat kekar dan berisi. Aku memalingkan mukaku ke samping supaya Hyun Soo tidak bisa melihat diriku yang semakin malu. "Jangan berpaling, aku suka menikmati wajah malumu," ucap Hyun Soo lalu memaksaku untuk kembali menatapnya. "Aku ingin hanya dirimu yang aku lihat ketika aku pertama kali membuka mata," ucap Hyun Soo sembari menatapku dengan serius. Aku bahkan sampai bingung harus menjawab Hyun Soo seperti apa. "Ini masih terlalu cepat, Hyun Soo," ucapku dengan ragu. Aku memang merasa nyaman dengan Hyun Soo. Tapi aku tak bisa mengambil keputusan secara tergesa seperti ini. Apalagi ini menyangkut tentang pasangan hidup. Aku juga belum mengenal Hyun Soo, kami juga belum berkenalan cukup lama. Saat aku tengah sibuk berpikir dan melamun, aku baru sadar jika lidah Hyun Soo kini sudah menjelajahi leherku. Aku bahkan tidak sadar kapan Hyun Soo mendekat, aku baru sadar ketika rasa hangat dari lidah Hyun Soo yang menyapu leherku. Aku merasa geli, tapi secara refleks aku justru mendongakkan kepalaku, seolah memberikan akses pada Hyun Soo untuk menjelajah leherku lebih jauh. "Apa yang kamu lakukan," ucapku dengan terbata. Hyun Soo tidak menjawabku, tapi dirinya justru semakin gencar mengeksplore leherku. Aku merasa geli dan tidak nyaman dengan apa yang Hyun Soo lakukan padaku, tapi anehnya aku tidak mendorong Hyun Soo menjauh. Aku justru semakin menikmati sentuhan Hyun Soo padaku. Ciuman Hyun Soo perlahan naik lalu kami berciuman dengan inatens, aku selalu menyukau ciuman Hyun Soo karena dia seperti memujaku dengan menciumku dengan lembut. Hyun Soo tidak pernah tergesa-gesa dan menuntut, itu yang membuatku suka berciuman dengannya. Aku terkejut ketika aku merasakan tangan besar Hyun Soo meremas salah satu gunung kembarku. Seketika aku menghentikan ciuman kami dan mendorong tubuh Hyun Soo. "Apa yang kamu lakukan," ucapku dengan suara serak, efek dari ciuman kami. "Maaf, aku terbawa suasana," ucap Hyun Soo sembari mengusap pipiku dengan lembut. "Aku tak bisa mengontrol diriku saat berdekatan denganmu," ucap Hyun Soo sembari menyembunyikan wajahnya di leherku yang membuatku geli karena hembusan nafasnya. Saat tubuh Hyun Soo menempel padaku, aku bisa merasakan pusat tubuh Hyun Soo yang terasa keras. Karena Hyun Soo mengenakan piyamanya, sehingga benjolan itu sangat terasa di pahaku. "Hyun Soo bangun, jangan begini," ucapku sembari berusaha mendorong tubuhnya, tapi Hyun Soo justru semakin memelukku dengan erat. "Apa kamu bisa merasakannya? Efek tubuhku karena berdekatan denganmu," bisik Hyun Soo di telingaku. Tubuhku seketika menegang ketika merasakan Hyun Soo yang sedang menjilat daun telingaku. "Hyun Soo geli," ucapku dengan suara aneh. Aku sendiri tak dapat mengontrol diriku setelah apa yang Hyun Soo lakukan. Aku jadi berspekulasi jika letak titik terlemahku berada di leher dan telinga. Aku merapatkan tubuhku pada Hyun Soo kala Hyun Soo semakin gencar melumat daun telingaku. Tapi perlahan akalku mulai kembali, melihat respon pusat tubuh Hyun Soo membuatku tidak bisa terus melanjutkan hal ini. Kami bisa saja melewati batas jika terus seperti ini. "Hyun Soo sudah," ucapku sembari mendorong tubuh Hyun Soo menjauh. Kini aku melihat ekspresi Hyun Soo yang nampak frustrasi, Hyun Soo sedang b*******h. Belum sempat Hyun Soo menjawabku, bunyi suara bel terdengar. "Itu pasti Bibi Hana," ucap Hyun Soo dengan lesu. Dia sontak bangun tapi aku menahan tangannya. "Gunakan bajumu, aku tidak ingin Eomma berpikir macam-macam," ucapku mengingatkan. "Bukankah kita baru saja berbuat macam-macam?" Aku menatap Hyun Soo dengan tajam "Hyun Soo!" aku kesal tapi juga malu. "Baiklah," jawab Hyun Soo sembari tertawa. Hyun Soo mengenakan bajunya lalu keluar dari kamar. Setelah Hyun Soo pergi, aku segera merapikan ranjang milik Hyun Soo dan sofa. Setelahnya aku mencuci muka terlebih dahulu lalu segera turun untuk bertemu dengan Eomma. Aku tak sabar ingin melampiaskan amarahku pada Eomma. Aku mencari ke ruang tamu, tapi Eomma tak ada di sana. Aku lalu ingat jika Hyun Soo bilang Eomma akan membuatkan sarapan untuknya, jadi aku beranjak menuju dapur. Benar saja Eomma tengah asyik bercengkrama sedangkan Hyun Soo menikmati kopinya. "Sayang, kamu sudah bangun," sapa Eomma dengan tersenyum lebar. Eomma meninggalkan pekerjaan mencuci sayur lalu berjalan ke arahku dan memelukku. Tapi aku masih diam sembari menatap Eomma dengan datar. Reaksi Eomma bahkan tidak seperti dugaanku yang akan menaruh curiga pada apa yang sudah aku dan Hyun Soo lakukan, tapi Eomma justru terlihat bahagia. "Maaf, Eomma tidak bermaksud meninggalkanku di sini, Eomma terpaksa melakukanya," ucap Eomma sembari mencubit pipiku. Eomma benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali. Hal ini semkain menambah rasa kesalku padanya. "Hyun Soo, bisakah kamu meninggalkan kami? Aku harus berbicara pada Eommaku," ucapku sembari menatap Hyun Soo. Dia tampak tidak keberatan dengan menganggukkan kepala. Setelah Hyun Soo pergi, kini aku bisa berbicara bebas dengan Eomma. "Apa yang sudah Eomma lakukan! Eomma meninggalkan putri Eomma yang belum menikah bermalam dengan seorang pria lajang! Bagi Eomma mungkin ini terlihat lucu, tapi tidak denganku!" Aku menatap Eomma dengan tajam. Aku bisa melihat ekspresi Eomma yang berbeda, jika tadi dia nampak bahagia tapi kini Eomma hanya menatapku dengan diam. Apakah Eomma baru sekarang merasa bersalah padaku? "Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu? Bagaimana jika kami sampai melewati batas? Apakah ini yang Eomma mau?!’’ tanyaku dengan menatap Eomma dengan tajam. "Jika kalian memang sudah melewati batas, maka bukankah akan lebih mudah dengan menikahkan kalian?" jawab Eomma sembari menatapku ragu. Aku memejamkan mata sejenak untuk meredakan emosiku. Aku tidak bisa berteriak dengan bebas karena ini bukan rumahku, maka aku sedikit menahan diri. Bagaimana bisa Eommaku sendiri berpikiran serendah ini padaku. "Kami tidak melakukan apa pun! Jika Eomma memang menyukai Hyun Soo, tapi tidak begini caranya! Eomma juga harus menghargai keputusanku yang masih memiliki kesempatan untuk memilih. Eomma tidak bisa terus mendorongku untuk melakukan apa yang Eomma mau!" Aku melihat mata Eomma yang berkaca-kaca. Aku tidak bisa melihat Eomma bersedih, tapi apa yang Eomma lakukan sudah berlebihan. Eomma melakukan sesuatu tanpa pertimbangan dan aku membenci sikap Eomma yang semena-mena padaku. Maka aku memilih pergi, aku melihat paper bag di meja makan lalu segera mengambilnya. Aku tau jika itu berisi pakaian kerjaku seperti yang Hyun Soo katakan. Aku memang kesal, tapi aku tidak bisa marah lebih dari ini pada Eomma. Sesekali Eomma juga harus bisa paham, jika aku tidak suka terlalu dipaksa.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN