Setelah film kedua selesai, kami tidak langsung melanjutkan ke season 3. Paman Jong Pal meminta kita untuk beristirahat makan malam. Aku bahkan tak sadar jika sekarang sudah pukul 7 malam. Kami terlalu asyik menikmati kegiatan hari ini hingga tak sadar jika hari telah malam. Saat kami keluar, para pelayan sudah menyiapkan makan malam. Karena apa yang sudah aku lakukan dengan Hyun Soo membuat perutku sangat lapar. Mungkin karena acara bbq yang kami adakan siang tadi terlalu menyita banyak waktu sehingga sekarang kami sudah harus makan malam.
"Sayang, kenapa wajahmu memerah? Apakah di dalam terlalu dingin?" tanya Eomma khawatir. Aku justru gugup dengan pertanyaan Eomma. Pertanyaan Eomma membuatku sekarang ini menjadi pusat perhatian. Sialan!
"Iya Eomma, aku sedikit kedinginan," jawabku dengan gugup. Sedangkan Hyun Soo justru tersenyum di sampingku. Tidakkah dia merasa jika ini semua karena dirinya! Kali ini aku makan dengan lahap karena masakan pelayan Bibi Min Rin sesuai dengan seleraku. Bahkan Eomma juga beberapa kali mengambilkan lauk untukku.
"Setelah The Conjuring season 3, kita akan menonton apa lagi? Aku sudah lama tidak merasa santai sama sekali," ucap Eomma yang nampak bahagia. Apakah dia tidak berpikir untuk segera menyelesaikan kegiatan hari ini dan segera pulang lalu beristirahat?
"Bagaimana dengan Saw?" usul Seo Rin. "Tidak! Aku tidak suka film sadis seperti itu!" jawab Bibi Min Rin. "Kalau begitu Annabelle saja, supaya selaras dengan The Conjuring," timpal Paman Jong Pal. Mungkin karena bisnisnya yang berada di bidang entertainment sehingga dia paham dengan berbagai jenis film. Tapi dari semua rekomendasi yang ada, mengapa semuanya harus mengusulkan film horror!
"Aku setuju!" jawab yang lain setuju dengan kompak. "Rachel, apa kamu punya rekomendasi film yang bagus?" tanya Bibi Min Rin dengan ramah seperti biasanya. "Jangan, selera Rachel tidak sama dengan kita," jawab Eomma yang membuatku menatapnya dengan tajam. "Aku lebih suka genre romantis," jawabku dengan tersenyum kaku. "Aku tidak suka. Terlalu amatir dan mudah di tebak!" sahut Seo Rin. Ternyata memang benar jika seleraku dan mereka tak sama. Tapi haruskan Eomma dan Seo Ri menunjukkannya secara terang-terangan seperti itu!
"Kita tentukan saja nanti," timpal Paman Jong Pal. "Kita nemilih netral saja, ikut suara terbanyak," jawab Hyun Soo. Setelah apa yang sudah aku lakukan tadi dengan Hyun Soo kini aku tak ingin melakukan hal bodoh lagi. "Eomma, nanti aku duduk di samping Eomma," bisikku ketika kami semua akan beranjak menuju home theater room setelah selesai makan malam.
"Kenapa duduk dengan Eomma. Tadi kamu duduk dengan Hyun Soo," jawab Eomma tidak setuju. Aku menghela nafas, kenapa Eomma tidak supportif. "Aku malu jika takut menonton film horror. Aku duduk dengan Eomma saja!" jawabku tak mau kalah. "Kenapa harus malu dengan Hyun Soo. Eomma bahkan tau jika kalian berciuman di tengah film berputar," jawab Eomma dengan santai lalu berjalan mendahuluiku. Aku bahkan sampai membeku di tempat mendengar ucapan Eomma. Aku memang sudah gila! Bagaimana bisa Eomma sampai tau jika kami berciuman. Ya Tuhan, bagaimana jika yang lain juga tau apa yang kami lakukan.
Benar saja, saat aku akan bersiap untuk duduk di samping Eomma, Seo Rin dan Eomma dengan kompak memgusirku. Aku sampai terlihat memalukan di hadapan Hyun Soo. Akhirnya aku hanya bisa pasrah kembali duduk di samping Hyun Soo dengan raut cemas. "Kenapa harus menghindar jika kamu juga menikmati," bisik Hyun Soo. Untuk menutupi rasa maluku aku memukul pahanya dengan cukup keras. Dia tidak nampak kesakitan tapi justru tertawa. "Mau wine?" tawar Hyun Soo sembari mengangkat segelas winenya padaku. "Ini bahkan baru awal Hyun Soo," ucapku protes dengan menatapnya tajam. "Pikiranmu kotor sekali. Padahal aku hanya ingin menawarkan segelas wine, bukan yang lain," jawab Hyun Soo berpura-pura terkejut. Aku lalu memukul bahunya beberapa kali untuk melampiaskan kekesalanku. Bisa-bisanya dia berani menggodaku.
Setelah beberapa kali menonton film horror hari ini, aku mulai beradaptasi meskipun tidak menghilangkan rasa takutku. Aku mulai mengerti tanda-tanda ketika sosok hantu akan keluar, lalu aku akan memejakkan mata. Tapi beberapa kali aku tetap kecolongan dengan sosok hantu yang muncul tanpa permisi, hingga aku harus kembali terkejut dan memeluk tubuh Hyun Soo lagi. "Aku ingin menciumu lagi, ini begitu menyiksa, Rachel," bisik Hyun Soo terdengar frustasi. Aku mendongak dan menatap Hyun Soo yang kini juga tengah menatapku. "Tidak," jawabku sembari menjulurkan lidah. Hyun Soo lalu memelukku erat dan mencium pipiku dengan paksa. Aku yang kegelian sampai tertawa dengan keras. "Jangan berisik, kami sedang menonton!" Aku menghentikan gerakan tubuhku lalu menatap ke arah bawah di mana Seo Rin dan Eomma tengah menatap ke arah kami. Sialan, ketahuan lagi!
Aku dengan malu lalu menundukkan kepala. "Jangan malu, mereka paham apa yang kita lakukan," ucap Hyun Soo sembari mengusap rambutku. Aku menoleh ke arahnya dan menatap Hyun Soo dengan tajam.
-o0o-
Aku berada di sebuah ruangan yang sangat sepi dan senyap. Di sini gelap, tapi aku masih bisa melihat setitik cahaya yang masuk melalui celah lubang di bagian atas ruangan. Tapi sejauh aku menatap ke sekeliling, aku tidak tau di mana letak jendela dan pintu. Bagaimana aku bisa masuk ke ruangan ini dan di mana sekarang aku berada. "Eomma!" teriakku dengan kencang, berharap jika Eomma akan menjawab pangilanku. "Eomma di mana!" Aku masih belum menyerah untuk terus memanggil Eomma, tapi tak kunjung mendapat jawaban. Perlahan juga suhu udara di ruangan ini semakin menurun sehingga aku merasa kedinginan.
"Hyun Soo!" Seketika aku mengingat Hyun Soo, aku terus meneriakan namanya, tapi masih juga tak mendapat jawaban. Aku kini memberanikan diri melangkah, tempat yang aku pikir sebuah ruangan nyatanya adalah sebuah lorong yang panjang. Sejauh aku melangkah aku masih tak menemukan ujung, tapi di sini tetap gelap. Hanya sedikit cahaya dari beberapa lubang kecil di sudut atap ruangan.
"Rachel!" Aku menoleh ketika mendengar suara seseorang memanggilku. Aku menoleh, tapi tak menemukan seorang pun di sini. "Siapa? Keluar! Aku tidak bisa melihatmu," ucapku. Aku berharap juga memiliki teman yang tersesat di sini, meskipun kemungkinanya kecil. "Rachel, aku di sini!" Belum sempat aku menoleh sosok wanita dengan rambut panjang yang kusut dan terlihat sangat menyeramkan berdiri di hadapanku. Aku langsung memejamkan mata dan berteriak sekencang yang aku bisa. Aku ingin berlari tapi aku seolah tidak berpindah tempat. Aku sudah mengeluarkan tenagaku untuk berlari sekencang yang aku bisa. Tubuhku sudah basah oleh keringat, tapi sosok wanita menyeramkan itu seolah masih berada di belakangku. Ya Tuhan aku sangat takut sekali. Aku sudah menangis ketakutan, tapi masih tak menemukan seorang pun yang aku bisa mintai tolong. Aku mulai kelelahan, aku tak bisa lagi berlari. Aku tidak peduli jika setelah ini hantu itu akan membunuhku, mungkin memang umurku tak lagi panjang. Eomma, aku minta maaf jika memiliki banyak salah.
-o0o-
"Rachel!" Aku sontak terbangun ketika mendengar suara Hyun Soo. Aku menatapnya lalu berhambur memeluk tubuh Hyun Soo dengan erat. Mimpi tadi begitu menyeramkan. Hanya karena aku menonton film horror membuatku terbawa mimpi. Aku benci mimpi buruk, terlebih jika hal itu sampai menyangkut tentang hantu. "Aku takut," ucapku dengan terisak. Aku tidak peduli akan nampak sangat menyedihkan dan memalukan di hadapan Hyun Soo, karena sekarang aku benar-benar tengah ketakutan. Mimpi itu seolah nyata, aku bertemu secara langsung dengan tokoh yang berada di film yang tadi kami tonton, entah dengan judul yang mana.
"Minum dulu," ucap Hyun Soo berusaha mengurai pelukan kami, tapi aku menggeleng dan justru semakin mengeratkan pelukan. Aku tidak ingin minum atau yang lainnya, aku hanya ingin merasa aman. "Semua akan baik-baik saja. Ada aku di sini." Hyun Soo memelukku dengan erat sembari mengusap bagian belakang kepalaku. "Aku tidak ingin nonton film horror lagi," ucapku masih dengan menangis. Meskipun tidak terisak yang membuat nafasku tersengal.
"Eomma, di mana Eomma?" tanyaku sembari melepaskan pelukanku pada Hyun Soo. Aku mengedarkan pandanganku dan baru menyadari jika saat ini aku tidak berada si rumah atau tempat yang pernah aku singgahi. Aku merasa asing di sini, ruangan yang sangat luas dengan ornamen yang berwarna gelap seperti hitam dan abu-abu. Seketika otakku mulai bisa berfikir secara normal, aku lalu menatap Hyun Soo dengan heran. "Apakah aku sedang berada di kamarmu?" tanyaku untuk memastikan. Aku juga mengusap air mataku yang masih tertinggal di pipi.
"Iya, kamu tertidur saat film sedang berputar. Lalu aku membawamu ke kamarku," jawab Hyun Soo. "Baiklah, aku akan pulang sekarang," jawabku sembari beranjak, tapi Hyun Soo menahanku. "Ini pukul 3 pagi, Rachel. Kenapa harus pulang sekarang?" ucap Hyun Soo dengan menatapku khawatir.
"Apa!" Aku sampai berteriak karena terkejut, jam 3 pagi? Lalu aku sudah tertidur berapa lama?!’’ ucapku dengan membulatkan mata. "Lalu di mana Eomma?" tambahku dengan menatap Hyun Soo serius. "Bibi Hana pulang," jawab Hyun Soo dengan santai. Bagaimana bisa Eomma meninggalkan anak gadisnya bersama pria yang bukan suaminya? Aku rasa Eomma sudah gila! "Bagaimana bisa Eomma pulang sedangkan aku berada di sini! Ini tidak benar, aku harus pulang!" ucapku lalu ingin beranjak untuk bangun tapi Hyun Soo menahan tubuhku.
"Bibi Hana tidak bisa membawamu dalam keadaan tertidur. Lalu Bibi Hana menyetujui saranku untuk membiarkanmu tidur di sini," jelas Hyun Soo. Tapi justru membuatku semakin kesal, itu bukan alasan yang tepat. "Bagaimana bisa kamu membuat ide konyol dengan membiarkanku tidur di sini. Apa kamu gila? Bagaimana jika kamu melakukan sesuatu yang tidak senonoh padaku!" Aku tak bisa lagi membendung rasa kecewa, kesal dan marah. Aku seperti seseorang yang tidak berharga, Eomma bahkan meninggalkanku sendirian di sini. Jika Hyun Soo sampai berbuat macam-macam padaku, bukankah pada akhirnya aku juga yang merasa di rugikan? Bukan mereka semua.
"Aku tidak melakukan apa pun pada tubuhmu. Kamu bisa mengeceknya. Untuk pulang, aku tidak bisa mengantarmu sekarang. Aku akan mengantarmu besok pagi," jelas Hyun Soo dengan lembut, bahkan lebih lembut dari sebelumnya. Tapi aku merasa ada yang aneh dengan ekspresi Hyun Soo. Mungkin dia tersinggung, tapi aku tidak peduli. Karena aku juga tidak tau jika dia sudah berbuat macam-macam padaku atau tidak. Apakah jika dia sudah menyentuh tubuhku saat aku tidak sadar akan meninggalkan bekas? Dia pikir aku bodoh.
"Istirahatlah, besok kamu masih harus bekerja. Aku akan kembali tidur." Hyun Soo mengusap rambutku sejenak lalu beranjak dari ranjang. Melihat Hyun Soo yang akan pergi, aku mencekal tangannya. Seketika aku mengingat tentang hantu yang berada di mimpiku. "Kamu akan kemana?" tanyaku dengan lembut. Tidak sekeras saat aku kesal tadi. "Aku hanya akan tidur. Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidur di sofa," ucap Hyun Soo sembari menunjuk ke arah sofa. Di sana juga ada bantal dan selimut, berarti Hyun Soo memang benar tidur di sana tadi. Tak ayal dia bisa segera membangunkanku saat aku bermimpi buruk. "Jangan dimatikan!" ucapku saat melihat Hyun Soo akan mematikan lampu.
"Tidurlah lagi, ada aku di sini," ucap Hyun Soo sembari berbaring di sofa dan memposisikan tubuhnya membelakangiku. Aku masih duduk di ranjang sembari menatap ke arah punggung Hyun Soo. Aku yakin dia tidak akan berani berbuat macam-macam padaku.
Aku kembali memejamkan mataku dan memcoba untuk kembali tidur, tapi saat aku memejamkan mata membuatku kembali mengingat tentang rupa hantu yang ada di mimpiku. Aku seketika bangun dengan tergesa dan berlari ke arah sofa yang di tempati Hyun Soo. Sofa ini berukuran besar, sehingga aku bisa langsung membaringkan diriku di belakang Hyun Soo dan memeluk tubuhnya. "Aku takut," ucapku sembari menyembunyikan wajahku di punggung Hyun Soo. Aku merasa Hyun Soo bergerak lalu perlahan memposisikan tubuhnya menjadi menghadapku. "Kenapa?" tanya Hyun Soo khawatir.
"Aku takut, saat aku memejamkan mata aku kembali melihat hantu yang ada di mimpiku," jelasku dengan takut. "Kamu mau tidur di sini bersamaku?" tanya Hyun Soo, aku seketika mengangguk. Aku takut tidur sendirian. Meskipun ada Hyun Soo di ruangan yang sama, aku masih merasa ketakutan. Bagaimana jika saat aku memejamkan mata lalu hantu itu tiba-tiba sudah ada di sampingku?
"Kamu tidak takut jika aku akan macam-macam padamu?" Aku seketika membuka mataku yang baru saja terpejam. Aku menatap Hyun Soo dengan takut. "Jangan takut, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Kita hanya akan tidur, aku janji," ucap Hyun Soo dengan tegas. Dengan ragu aku menganggukan kepalaku lalu memeluk Hyun Soo dan menyembunyikan wajahku di dadanya. Saat memeluk tubuh Hyun Soo seperti ini, aku kembali merasa aman. "Tidurlah. Jika kamu kembali bermimpi, panggil aku dengan keras dalam mimpimu. Aku akan datang," ucap Hyun Soo sembari mengecup puncak kepalaku. Meskipun yang Hyun Soo katakan tidak nyata, tapi aku mensugesti diriku jika aku akan percaya. Karena Hyun Soo bukan Tuhan yang bisa mengendalikan mimpi manusia. Hingga kenyamanan yang Hyun Soo ciptakan hanya dengan pelukannya, berhasil membuatku kembali tertidur nyenyak tanpa mimpi menakutkan itu kembali lagi.