Aku rasa kehadiran Eomma yang ikut berbelanja adalah faktor yang di sengaja. Sekarang ini Eomma tengah asyik bersama dengan Seo Rin, sedangkan aku berjalan bersama dengan Hyun Soo. Jika Eomma dan Seo Rin tengah asyik berbelanja keperluan apa yang akan kita gunakan untuk memasak nanti beserta alat yang digunakan, aku dan Hyun Soo memilih untuk berbelanja snack dan minuman. Aku lebih bebas ketika berjalan dengan Hyun Soo karena tidak harus menahan kesal ketika bersama dengan Seo Rin. Terlebih kita juga memiliki kesukaan yang sama.
"Kamu mau ini?" tunjuk Hyun Soo sembari menunjuk salah satu snack.
"Tidakkah ini sudah terlalu banyak?" tanyaku sembari menatap keranjang belanja kami yang hampir penuh. "Tidak masalah, masih bisa aku jadikan stock di rumah," jawab Hyun Soo lalu mengambil beberapa.
Rencananya hari ini kita akan mengadakan bbq grill. Kita tidak jadi memasak pasta, karena Eomma bilang dia ingin makan steak dan sosis. Padahal rencana awal kita semua akan masak untuk Hyun Soo, tapi nyatanya justru harus menuruti permintaan Eomma. Ketika sedang asyik memilih, ponsel Hyun Soo berdering dan Seo Rin mengatakan jika mereka sudah sampai di kasir. Kami akhirnya bergegas untuk menyusul. "Kenapa kalian lama sekali!" ucap Seo Rin dengan kesal.
"Kita membeli banyak makanan," jawabku dengan malas. Aku menatap ke arah belanjaan Seo Rin dan Eomma yang ternyata mereka berbelanja daging sangat banyak sekali. "Kita hanya makan berempat, kenapa harus sebanyak ini?" tanyaku dengan menatap Eomma horror.
"Min Rin dan Jong Pal akan bergabung dengan kita nanti. Jadi bisa lebih ramai," jawab Eomma dengan santai. Aku memejamkan mataku sejenak untuk menetralkan emosiku. Apakah sekarang ini aku bisa dikatakan tertipu? Mereka mengajakku hanya untuk sekedar memasak untuk Hyun Soo, tapi nyatanya justru acaranya lebih dari itu. Aku melirik ke arah Hyun Soo dengan tajam. "Aku tidak tau apa pun," ucap Hyun Soo sembari mengusap punggungku. Setelah semua di rasa cukup, kami bergegas untuk pulang ke rumah Hyun Soo. Ini pertama kalinya aku berkunjung ke rumah Hyun Soo. Meskipun kami berada di komplek yang sama, tapi rumah Hyun Sok jauh lebih besar dari rumahku. Perabotan di dalamnya juga sangat sedikit. Aku tidak melihat adanya pelayan di sini, tapi rumah Hyun Soo terlihat sangat rapi dan bersih. Ketika kami sampai, Bibi Min Rin dan Paman Jong Pal sudah berada di sana dan sedang menyiapkan pemanggang di halaman belakang. Bahkan kolam renang milik Hyun Soo lebih besar dari milik kami. Taman belakangnya juga terlihat sangat asri dan sejuk karena terdapat beberapa pohon besar. Jika melihat interior dalamnya, rumah ini cocok untuk pria karena memiliki tipe maskulin dengan pemilihan warna cat dinding yang tepat. Tapi ketika memasuki halaman belakang, rumah ini lebih terlihat hidup dengan beberapa jenis bunga yang tumbuh, sangat jarang ditemui di rumah seorang pria. Aku yang awalnya mengira hanya akan duduk bersantai melihat Seo Rin memasak, nyatanya justru ikut membantu mempersiapkan barang-barang. Seperti mengupas jagung, menusuk cumi dan udang untuk dijadikan sate dan memotong buah-buahan. Acara kali ini lebih terlihat seperti pesta kebun dari pada sekedar makan bersama. Meskipun awalnya aku tidak tertarik, tapi kini aku sudah merasa nyaman. Acara ini jauh lebih baik dari pada acara berenang kami minggu lalu.
"Makan yang banyak, Sayang," ucap Bibi Min Rin sembari memberikan sepotong daging padaku. Aku merasakan jika kedua orang tua Hyun Soo adalah orang yang hangat. Paman Jong Pal juga tidak terlihat sebagai seorang ayah yang menyeramkan. Dia nampak sangat akrab pada kedua anaknya dan bersikap sangat baik dan ramah padaku. Terkadang melihat Paman Jong Pal membuatku mengingat akan sosok Daddy. Beruntung Bibi Min Rin membawa dua orang pelayan dari rumahnya untuk membereskan segala peralatan yang kotor dan dapur yang berantakan. Hal yang paling membuatku malas ketika memasak adalah mencuci semua kotoran. Jadi aku sangat bersyukur untuk itu, karena tidak mungkin jika Eomma atau Bibi Min Rin yang mencuci andaikan tidak ada pelayan di sini, pastilah aku dan Seo Rin yang akan membereskannya.
Menurut cerita Bibi Min Rin, Hyun Soo memang tidak membiarkan ada seorang pelayan di rumahnya. Jika aku melihat bagaimana sikap Hyun Soo di depan banyak orang, tapi nyatanya Hyun Soo orang yang tertutup dan tidak menyukai keramaian. Orang yang bertugas membereskan rumahnya jugalah pelayan senior yang bekerja di rumah Bibi Min Rin. Pelayan itu akan membersihkan rumah Hyun Soo saat si pemilik rumah tak berada di tempat. Meskipun dia dari kalangan yang berada, Hyun Soo tidak mempekerjakan seorang pengawal untuknya. Hyun Soo hanya mempekerjakan beberapa pengaman yang bertugas menjaga rumahnya. Secara garis besar Hyun Soo tinggal sendirian di rumah sebesar ini, apakah dia tidak takut jika seandainya akan ada hantu di sini? Meskipun aku orang yang tampak pemberani, tapi nyatanya aku sangat takut pada hantu. Meskipun aku tidak percaya jika hantu itu ada, tapi jika pun ada aku juga jelas akan takut.
Setelah selesai makan sembari berbincang, Bibi Min Rin menyarankan untuk menonton film karena Hyun Soo memiliki home theater room di rumahnya. Karena aku juga suka menonton film, maka aku menyetujuinya. Tapi pada akhirnya aku justru menyesali keputusanku karena sudah menyetujui acara menontom film ini, karena film yang sudah di sepakati orang semuanya adalah film dengan genre horror. Aku takut hantu maka jelas saja jika aku tidak menyukai film horror, tapi menolak pun tidak akan ada gunanya karena aku kalah suara di sini. Eomma justru terlihat senang mendapati ekpresi wajahku yang berubah pias, karena Eomma tau aku tidak suka menonton film horror. Sangat berbanding terbalik dengan Eomma yang sangat menyukai film horror. Di ruangan ini memiliki 5 barisan kursi. Kursi terdepan digunakan oleh Bibi Min Rin dan Paman Jong Pal. Lalu di barisan ke dua ada Eomma yang duduk bersama dengan Seo Rin. Ketika aku akan duduk di samping Eomma, Hyun Soo justru menarikku dan mengajakku untuk duduk di barisan kursi yang terakhir. Kamu duduk di bagian barisan kursi yang paling atas. Sehingga kami memiliki jarak yang cukup jauh.
"Kenapa kita di sini? Kita masih bisa di barisan yang ke tiga," protesku lalu beranjak berdiri berniat ingin pindah. Tapi lagi-lagi Hyun Soo menahanku. "Kita di sini saja, aku lebih suka di atas," bisik Hyun Soo tepat di telingaku hingga membuatku merinding geli. Melihat senyuman Hyun Soo yang lain membuat otakku berpikir kemana-mana. Sadarlah bodoh! Jangan berpikir m***m!
Mereka semua sepakat untuk menonton film The Conjuring. Belum menonton saja mereka sudah sepakat untuk menonton hingga season 3. Bukankah ini gila! Harus berapa lama aku terjebak dengan acara horror seperti ini. Aku sudah meyakinkan diriku sendiri untuk tidak bersikap berlebihan seperti di film-film yang aku tonton kala para pemeran itu ketakutan dan akan memeluk kawan mainnya. Aku sudah mensugesti diriku sendiri untuk tidak takut dan mempermalukan diriku sendiri di depan Hyun Soo. Tapi realitanya film horror tetaplah film yang memiliki banyak kejutan dan suara menegangkan kala hantunya keluar. Aku menjerit dengan keras lalu menutup kedua mataku. Hinga saat aku membukanya, orang-orang tengah menatapku dengan aneh. Saat aku menatap Eomma, dia justru tengah menahan tawa melihatku. Aku menunduk dan meminta maaf. Aku menoleh ketika Hyun Soo tertawa di sampingku yang membuatku menatapnya tajam. "Kamu takut?" bisik Hyun Soo sembari mendekat ke arahku.
"Tidak! Aku hanya terkejut saja tadi," kilahku tak mau mengaku. Akan sangat memalukan jika sampai Hyun Soo tau jika aku takut dengan hantu. "Jika takut, peluklah aku," ucap Hyun Soo, aku menatapnya dengan sinis. "Jangan cari kesempatan!" Hyun Soo dengan santainya justru tertawa. "Aku hanya membantu, terserah jika tidak mau," jawab Hyun Soo dengan santai.
Aku mengabaikan celoteh Hyun Soo lalu kembali menonton film. Tapi lagi-lagi kemunculan hantu yang sangat tiba-tiba dengan rupa yang menyeramkan membuatku kembali terkejut. Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, aku tak lagi memekik dengan keras dan membuat orang-orang menatapku. Aku justru dengan sigap memeluk tubuh Hyun Soo dan menyembunyikan wajahku di lehernya. Aku sangat takut dan sampai terbayang-bayang dengan rupa hantu yang tadi aku lihat. Aku merasa jika Hyun Soo tengah membalas pelukanku hingga mengusap punggungku.
"Sudah aku katakan, peluk aku. Bukankah lebih baik memelukku dari pada berteriak dengan keras?" bisik Hyun Soo dengan suara pelan. Hyun Soo berbicara dengan jarak sangat dekat dengan telingaku hingga aku merasa geli. Aku melepaskan pelukan lalu mendongak dan menatapnya dengan tajam. "Cari kesempatan!" ucapku dengan sinis. "Kamu yang memelukku, kenapa jadi aku yang mencari kesempatan?" Hyun Soo tampak puas menggodaku, aku berencana melepaskan pelukanku padanya tetapi Hyun Soo justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan dilepas," ucap Hyun Soo dengan manja. Aku sampai sedikit jijik mendengarnya. "Aku tidak ingin kamu cari kesempatan!"
"Dari pada nanti kamu repot memelukku lagi, lebih baik jangan di lepas," jawab Hyun Soo sembari tersenyum. Aku malas berdebat dengannya, lalu aku kembali menonton film dengan posisiku yang memeluk Hyun Soo. Selama menonton, aku masih terus terkejut dan ketakutan ketika melihat adegan hantu yang mengganggu manusia. Jika hantu itu ada, apakah mereka akan sekejam itu mengganggu dan bahkan membunuh manusia seperti itu? Selama menonton juga, intensitas kedekatan kami semakin bertambah. Jika sebelumnya Hyun Soo hanya akan memelukku erat dan mengusap punggungku kala aku ketakutan, tapi kini Hyun Soo sesekali akan mencium keningku untuk meredakan rasa ketakutanku. Aku tak lagi merasa risih atau marah saat Hyun Soo melakukan skinship denganku. Hingga tak terasa season 1 dari film The Conjuring telah selesai. Aku segera melepaskan pelukanku pada tubuh Hyun Soo sebelum yang main menyadari apa yang kita lakukan.
Menggunakan google assistant, Hyun Soo membuat ruangan ini kini kembali terang oleh cahaya lampu.
"Apakah mau dilanjut?" tanya Hyun Soo pada semua orang dengan suara lantang.
"Tentu saja!" jawab mereka semua dengan kompak. Aku bahkan hampir mual mendengarnya. Aku tidak menikmati film ini karena aku lebih banyak takut dari pada menyimak alur cerita. Sebelum melanjutkan ke season 2, Bibi Min Rin meminta pelayan untuk menyiapkan camilan dan anggur. "Aku mau cola," ucapku dengan keras. Aku tidak minum alkohol seperti mereka. Eomma yang berumur saja justru lebih mengenal alkohol dari pada aku. Eommaku memang bebas!
Hyun Soo mengambil sebotol anggur dan beberapa camilan untuk diletakkan di kursi kosong yang berada di sampingnya. Seperti kejadian sebelumnya ketika aku ketakutan, aku masih akan memeluk Hyun Soo dengan erat dan bersembunyi di lehernya sedangkan Hyun Soo menciumi keningku hingga aku tenang. Aku mendongak ketika melihat Hyun Soo yang tengah asyik menyesap winenya sembari fokus menonton film.
"Boleh aku mencoba?" cicitku dengan pelan. Melihat Hyun Soo yang nampak sexy ketika menyesap anggurnya dengan jakunnya yang bergerak melambat, membuatku ingin merasakan wine itu juga.
"Apa?" tanya Hyun Soo tidak mengerti. "Aku mau wine," bisikku dengan sangat pelan. Aku tidak mau jika Eomma sampai mendengarnya. "Bukankah kamu tidak minum?" tanya Hyun Soo sembari tersenyum lebar. "Tapi aku ingin mencicipinya," ucapku sembari menatap segelas wine di tangan Hyun Soo.
Hyun Soo lalu kembali menyesap wine itu yang membuatku cemberut. Tapi tak berselang lama, tangan Hyun Soo menyelinap di leher belakangku dan menarik tubuhku hingga bibir kita menyatu. Entah kenapa, aku menyadari apa yang diinginkan oleh Hyun Soo sehingga aku membuka mulutku dengan ragu. Benar saja, Hyun Soo memberikan wine miliknya melalui mulut. Kini aku bisa merasakan bagaimana rasanya wine yang digemari orang-orang. Sebelumnya aku memang pernah meminum wine, tapi dari yang aku ingat tidak seperti ini rasanya. Wine kali ini terasa lebih nikmat dan manis, mungkin karena milik Hyun Soo merupakan wine dengan harga mahal, ataukah wine ini terasa lebih nikmat karena aku menikmatinya langsung dari bibir Hyun Soo?
Setelah wine itu tandas aku telan, kini giliran lidah Hyun Soo yang mengeksplore seluruh isi mulutku. Aku juga menikmati ciuman kami yang terasa begitu lembut dan s*****l. Hingga mungkin jika bukan karena kami yang kehabisan nafas, kami tidak menghentikan ciuman gila itu. Aku bernafas dengan terengah, sama seperti Hyun Soo. Jemarinya mengusap bibirku yang terdapat jejak saliva kami yang bercampur. Aku sampai merasa malu kala Hyun Soo menatapku dengan s*****l. "Kamu mau lagi? Aku bisa memberikan lebih banyak," bisik Hyun Soo sembari mencondongkan tubuhnya ke arahku. Aku melirik ke arah bawah di mana orang-orang tengah fokus menonton film. Aku tidak menjawab Hyun Soo, tapi dia seolah mengerti apa arti diamku. Hyun Soo kembali menuang winenya dengan matanya yang tak lepas menatapku. Hyun Soo kembali meneguk wine itu lalu menyambar bibirku dan kami kembali melakukan ciuman panas. Aku tidak tau apa yang membuatku ketagihan, apakah wine yang Hyun Soo berikan atau bibirnya yang terasa manis. Tapi yang jelas, kini aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya rasa dari wine. Nafas kami kembali terengah, Hyun Soo melepaskan bibirku dengan perlahan namun wajahnya tetap berada di hadapanku dengan kening kami yang menempel. Hyun Soo menurunkan ciumanya hingga kini turun ke dagu dan semakin turun menuju leherku. Tubuhku bergetar ketika merasakan lidah Hyun Soo yang menyentuh kulit leherku. Terasa geli tapi juga nikmat secara bersamaan. Aku bisa merasakann ketika bibir Hyun Soo menyesap leherku. Aku terlalu menikmati sapuan bibirnya sampai tak sempat untuk mendorong bibirnya menjauh. Seolah tubuhku tak bisa menolak sentuhan Hyun Soo. Hingga tanpa sadar, bibirku mengeluarkan suara aneh yang aku sendiri sangat malu untuk mendengarnya. Aku menggigit bibir bawahku demi meredam suara aneh yang aku keluarkan. Hyun Soo melepaskan leherku dari sentuhan bibirnya. Dia mendongak dan mensejajarkan tatapannya padaku, lalu Hyun Soo kembali mencium bibirku dengan cara yang sama. Lembut, manis tapi juga s*****l secara bersamaan. Aku tak bisa mengendalikan diriku untuk menolak Hyun Soo, sentuhanya seperti candu yang membuatku ingin terus merasakanya. Kini saatnya aku menyebut diriku sendiri gila. Kau memang sudah gila, Rachel. Dan sialnya semua karena Hyun Soo.