14. Memaksa

1882 Kata
Setelah semalam aku dan Hyun Soo hanya saling diam selama perjalanan pulang, aku berharap jika hari ini semua akan baik-baik saja. Aku bukan orang yang pendendam, jadi jika kemarin aku kesal dengan Hyun Soo mungkin hari ini perasaan itu mulai mereda meskipun Hyun Soo tidak menyadari kesalahannya dan tidak minta maaf. Aku sudah memiliki rencana menghabiskan hari mingguku dengan bersantai dan mungkin akan menyiram tanaman Eomma jika rasa malasku sudah hilang. Tapi semua angan-angan itu buyar ketika Eomma mengetuk kamarku dan mengatakan jika Hyun Soo dan Seo Rin mencariku. Ada apa dengan kakak beradik itu hingga selalu merecoki hari liburku, sialan! Aku sudah mengatakan pada Eomma jika aku sedang tidak ingin menerima tamu, tapi Eomma dengan kasih sayangnya pada putra putri Bibi Min Rin justru memukulku dan menyuruhku untuk segera mandi. Padahal aku sudah berencana untuk tidak mandi pagi ini. Jika sudah begini, membuatku kembali mengingat rasa kesalku pada Hyun Soo. Meskipun aku memang sudah tidak kesal padanya, tapi bukan berarti aku ingin bertemu dengannya. Lagi pula untuk apa mereka kemari di saat kami tidak memiliki janji untuk bertemu. Setelah selesai bersiap, dengan malas aku menuruni anak tangga sembari menatap pasangan kakak beradik itu dengan ekspresi datar. Aku bukan orang yang suka berpura-pura, jika aku tidak suka maka aku akan menunjukannya secara terang-terangan. Aku melihat mereka yang tampak asyik berbincang dengan Eomma. Jika mereka nyaman berbincang dengan Eomma untuk apa mereka mencariku juga! Bukankah lebih asyik mengganggu Eomma yang selalu menerima mereka dengan tangan terbuka? "Ada keperluan apa kalian datang kemari?" sapaku tanpa berbasa-basi. "Rachel, duduk dulu. Bersikap lebih sopan," ucap Eomma sembari menatapku dengan tajam. Dengan raut kesal aku duduk di samping Eomma sembari menatap 2 orang di hadapanku dengan malas. "Apa kami mengganggumu?" tanya Seo Rin berbasa-basi. "Tentu saja, ini hari liburku. Seharusnya aku bisa menikmati hari liburku dengan bersantai," jawabku dengan datar. "Seo Rin ingin mengajakmu masak bersama lagi," timpal Hyun Soo. Kini aku beralih menatapnya dengan kening berkerut. "Apa aku pernah mengatakan jika aku bersedia?" tanyaku balik. Aku melihat ekspresi wajah Hyun Soo yang berubah pias. Cara dia bicara pun tidak seperti biasanya. Apakah dia sedang merasa bersalah padaku karena kejadian semalam? "Terakhir kali kita masak bersama, bukankah aku sudah mengatakan jika kita bisa masak bersama lagi lain kali. Yang aku maksud hari ini," jawab Seo Rin dengan percaya diri. Aku melihat jika bocah manja ini memang selalu berlaku sesukanya tanpa menunggu persetujuan orang lain. "Kamu tidak bisa selalu menganggap orang lain setuju dengan ucapanmu, Seo Rin. Jika hari itu kamu mengatakannya maka bukan berarti aku juga menyetujuinya." "Kenapa harus menolak? Bukankah bagus jika Seo Rin mau mengajarimu memasak? Eomma tau jika Seo Rin cukup ahli di dapur," timpal Eomma sembari menatapku dengan tersenyum. Aku benci mendapati fakta jika Hyun Soo dan Seo Rin sengaja melibatkan Eomma supaya aku mau menyetujui keinginan mereka, padahal aku sama sekali tidak berminat untuk memasak bersama mereka. "Ini hari liburku, Eomma. Aku memiliki hak untuk memilih kegiatan apa yang aku inginkan!" protesku pada Eomma. Aku ini putrinya, tapi mengapa Eomma selalu lebih memihak orang lain dari pada aku. "Niat kami bukan ingin mengganggu waktu liburmu. Maaf jika kami mengganggumu," jawab Hyun Soo merasa bersalah. "Jangan merasa sungkan, Hyun Soo. Kemampuan Rachel di dapur itu buruk, Bibi setuju jika Seo Rin mau mengajari Rachel memasak. Bibi justru akan merasa senang." "Eomma!" Aku kesal ketika melihat Hyun Soo dan Seo Rin tersenyum puas. "Kita juga bisa membantu Oppa untuk mengisi dapurnya. Selama ini dia tidak pernah memasak dan hanya mengandalkan makanan dari luar atau kiriman dari Eommoni. Jadi aku harap hari ini Eonni mau membantuku memasak dan berbelanja kebutuhan dapur untuk Oppa," ucap Seo Rin sembari tersenyum manis. Sejak kapan bocah manja itu memanggilku dengan sebutan eonni? Dia sedang mencari muka di hadapan Eomma? Jika memang begitu, dia hebat! Pandai sekali Seo Rin berpura-pura. "Min Rin juga beberapa kali bercerita padaku jika jam makan Hyun Soo sangat berantakan. Kamu bahkan sampai sering lupa makan jika sekretarismu tidak mengingatkanya. Rachel, sebaiknya kamu membantu Hyun Soo. Dia juga kelak akan menjadi suamimu, jadi kamu juga harus bisa melayani makanannya," ucap Eomma yang membuatku semakin kesal. Siapa juga yang tau jika dia kelak akan menjadi suamiku? Seperti Eomma tau siapa jodohku saja. "Aku tidak sedang dalam mood untuk memasak!" tolakku tak mau mengalah begitu saja. "Kenapa? Padahal kamu jelas tau jika Oppa selalu makan siang di restoranmu, bahkan sering kali Oppa juga makan malam di sini? Itu karena tidak ada yang peduli dengan makan Oppa. Aku dan Eommoni tidak bisa sering mengecek dan mengawasi apakah Oppa sudah makan atau belum. Tapi aku hanya memintamu untuk memasak saja kamu tidak mau." Haruskah aku bersimpati dengan cerita Seo Rin? Tentu saja tidak! Tidak ada cerita yang membuatku harus merasa kasihan padanya. Karena apa? Hyun Soo bukan pria kelaparan yang susah makan sebab dirinya tidak punya uang. Dia memiliki banyak uang, itu sebabnya dia tidak masalah dengan makan siang di restoranku setiap harinya. Ketika Eomma tidak mengajaknya makan malam bersama, Hyun Soo juga masih bebas untuk makan di luar. Apalagi dengan uangnya yang banyak, Hyun Soo sangat sanggup untuk membayar pelayan supaya ada yang memasak untuknya setiap hari. Justru dari cerita Seo Rin aku malah ingin mentertawakan Hyun Soo, mengapa juga dia harus bekerja keras tapi mengabaikan tubuhnya sendiri. Padahal selalu sehat adalah investasi yang terpenting dalam hidup. Hyun Soo yang mempersulit hidupnya sendiri lalu mengapa aku harus ikut merasa repot untuknya? "Rachel, segera bersiap dan ikut mereka berbelanja untuk Hyun Soo," ucap Eomma dengan lembut. Eomma memang selalu bersikap seperti ini jika tengah menginginkan sesuatu. "Minggu lalu aku sudah sangat terpaksa menuruti keinginan Eomma untuk berenang bersama, tapi haruskah minggu ini aku juga merelakan hari liburku untuk sesuatu yang tidak aku inginkan? Akhir-akhir ini jam tidurku juga terlewat dari biasanya, aku ingin santai dan tidak mau repot!" "Baiklah tidak perlu memasak bersama, aku akan memintamu menemani kita berbelanja. Sebagai gantinya aku akan memasak untukmu, bagaimana?" tawar Seo Rin masih tak mau menyerah untuk membuatku menuruti keinginanya. "Aku tidak tertarik," jawabku dengan ekspresi mengejek. "Apa ini karena kamu masih marah padaku?" Kini akhirnya Hyun Soo kembali menimpali. Dia mungkin sudah lelah mendengar perdebatan kami. "Kalian bertengkar?" timpal Eomma sembari menatapku menunggu jawaban. "Tidak, Hyun Soo hanya sedang berpikir berlebihan sehingga menilaiku tengah marah padanya," jawabku tidak sepenuhnya benar tapi juga tidak berbohong. "Ayolah Eonni, ikut bersama kita. Aku suka menghabiskan waktu bersamamu dan juga Oppa," ucap Seo Rin dengan ekspresi sedih. Yang benar saja jika hidupku harus selalu membuatnya senang. Seo Rin pikir aku suka menghabiskan waktu bersama dengannya? Tidak sama sekali! "Jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku ada urusan lain, aku akan kembali ke kamar," ucapku lalu beranjak berdiri. "Sayang, kenapa bersikap seperti ini," ujar Eomma dengan lesu. "Maaf Eooma, tapi aku memang sedang lelah. Jam tidurku semalam juga hanya 5 jam, aku kurang tidur," jawabku dengan jujur. Aku membungkuk ke arah Hyun Soo dan Seo Rin lalu segera pergi kembali ke kamarku. Saat aku sedang duduk di ranjang, aku terkejut melihat Hyun Soo membuka pintu kamarku setelah aku mendengar bunyi ketukan. "Apa yang kamu lakukan di sini?!" ujarku terkejut. Aku melirik ke segala penjuru kamarku dan beruntung karena masih selalu rapi. Aku juga terbiasa menata tempat tidurku sebelum turun dari ranjang, sehingga kondisi sekarang ini tak begitu memalukan untuk Hyun Soo masuk ke dalam kamarku. "Aku ingin berbicara denganmu, boleh aku masuk?" tanya Hyun Soo dengan sopan. "Masuklah," jawabku sembari berpindah posisi duduk di sofa yang berada di dalam kamarku dan mempersilahkan Hyun Soo duduk. "Ada apa?" tanyaku dengan santai. "Maaf jika aku membuatmu marah dan kesal. Aku tidak tau harus bersikap seperti apa jika kamu marah seperti ini," ujar Hyun Soo dengan lesu. "Kenapa kamu selalu berpikir jika aku sedang marah?" tanyaku tak habis pikir. "Meskipun aku baru mengenalmu sebentar, tapi aku paham dari berbagai ekspresimu. Aku tau kapan kamu merasa senang, malu, kesal dan saat marah. Kamu orang yang jujur dan terbuka, sehingga kamu akan menunjukan secara terang-terangan apa yang sedang kamu rasakan. Jadi aku minta maaf karena sudah membuatmu kesal," jelas Hyun Soo. Benarkah dia memahami bagaimana perasaanku memalui ekpresi? "Jika kamu menilai aku sedang marah, lalu menurutmu apa yang membuatku marah padamu?" tanyaku dengan tersenyum miring. "Karena aku meninggalkanmu terlalu lama. Aku menyadarinya setelah aku mengecek ponsel dan melihat ada banyak panggilan tak terjawab darimu. Aku juga melupakan jika kamu tidak terbiasa aktif di malam hari." "Kamu berpikir seperti itu?" Aku sedikit merasa lega karena Hyun Soo tidak menebak aku marah karena dia yang berbincang-bincang dengan para gadis dan menilaiku tengah cemburu. "Jujur saja aku memang lupa jika aku membawamu di pesta itu. Aku terlalu menikmati mengobrol dengan para kolega dan temanku. Tapi aku takut mengakuinya di hadapanmu. Aku tidak mau kamu berpikir jika dirimu tidak berharga di mataku hingga aku melupakan keberadaanmu semalam. Aku benar-benar lupa, maafkan aku." "Kamu benar Hyun Soo, memang aku bukan orang yang suka berpura-pura. Aku juga takjub karena akhirnya kamu menyadari kesalahanmu meskipun kamu awalnya tidak berani mengakuinya. Tapi yang perlu kamu ingat, aku lebih suka seseorang yang sama terbukanya sepertiku. Aku tidak suka dibohongi atau seseorang yang mencoba menutupi fakta. Meskipun itu menyakitkan, aku lebih suka pada seseorang yang berani mengakui kesalahannya," jawabku dengan tersenyum. Aku mengapresiasi niat baik Hyun Soo yang ingin memperbaiki hubungan kami. "Kamu memaafkanku?" tanya Hyun Soo dengan ekspresi berbinar senang. "Bahkan sejak aku membuka mata, aku sudah melupakan kejadian semalam. Aku sudah tidak marah padamu, aku justru kembali kesal ketika kalian datang dan berencana untuk mengusik hari liburku!" ujarku dengan menatap Hyun Soo tajam tapi Hyun Soo justru tertawa. "Tapi aku memang tidak bisa jauh darimu." "Tak perlu berlebihan, bahkan sebelum kita mengenal kita tidak pernah berdekatan dan kamu bisa hidup dengan baik dan sehat," cibirku. "Ini jelas berbeda, karena kehadiranmu di hidupku sudah seperti candu. Aku selalu ingin berada dekat denganmu. Aku juga ingin kamu mulai peduli padaku seperti yang Seo Rin lakukan." Hyun Soo meraih tanganku dan menggenggamnya. "Aku janji tidak akan membuatmu lelah. Kita hanya akan berbelanja dan Seo Rin yang akan memasak semuanya." "Kamu jahat sekali," jawabku sembari tertawa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kesalnya Seo Rin ketika dia harus lelah memasak sedangkan kami hanya menontonnya. "Seo Rin sudah menyanggupinya. Lagi pula mengajarimu adalah keinginan Seo Rin sendiri karena dia bilang kamu tidak bisa memasak." "Aku bukan tidak bisa memasak, hanya tidak ahli," jawabku protes. "Bibi Hana juga akan ikut. Dia bilang juga ingin membuat kimchi untukku." Aku menatap Hyun Soo dengan kening berkerut. "Untuk apa Eomma ikut?" tanyaku tidak setuju. Aku yakin acara hari ini tidak akan selesai dengan cepat seperti dugaanku. "Bibi Hana juga ingin ikut memasak. Dia juga bisa sekalian mengajarimu. Beberapa kali Bibi Hana juga memasak dengan Seo Rin. Mereka sudah terbiasa. Jadi maukah kamu ikut?" Hyun Soo menatapku dengan penuh harap. Lalu bisakah aku menolak kali ini jika Eomma saja bahkan ikut bergabung bersama mereka. "Kita akan ke apartement Seo Rin lagi?" tanyaku memastikan. "Tidak, kita akan ke rumahku. Bukankah Seo Rin sudah bilang jika dia ingin membeli peralatan memasak untukku? Karena aku memang tidak pernah memilikinya." Pada akhirnya aku menganggukan kepalaku dengan terpaksa. Aku tidak berada dalam keadaan yang bisa menolak. Tapi kali ini aku akan membuktikan ucapan Seo Rin jika aku tidak akan membantunya. Dia sudah mengatakan jika memasak untukku adalah bayaran karena sudah mau menemani mereka berbelanja. Kini saatnya aku membuktikan apakah bocah manja itu bisa dipercaya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN