Aku mencoba biasa saja setelah ciuman intens yang tadi kami lakukan. Meskipun sikap Hyun Soo sangat menguji iman. Sejak memasuki gedung, tangan Hyun Soo bahkan tak lepas dari pinggangku, seolah menjagaku supaya aku tidak hilang. Hyun Soo beberapa kali menyapa para koleganya, lalu ketika mereka bertanya siapa diriku, Hyun Soo dengan seenaknya menyebut jika aku kekasihnya. Padahal hubungan kita saja masih belum jelas.
"Aku benci melihat tatapan orang-orang padamu," bisik Hyun Soo ketika aku tengah fokus menikmati penampilan seorang penyanyi wanita. Aku menatap Hyun Soo lalu mengendarkan pandanganku untuk mengecek siapa yang tengah menatapku seperti yang Hyun Soo katakan. Tapi aku tak menemukan seseorang yang menatapku. Semua mata fokus ke arah panggung. Lokasi duduk kami yabg berada di meja terdekat dengan panggung membuatku mudah menatap ke segala arah.
"Siapa yang menatapku? Mereka sedang melihat ke arah panggung," jawabku sembari mendekatkan tubuh ke arah Hyun Soo supaya dia mendengar suaraku. "Mereka banyak yang menatapmu dengan ekspresi menginginkan. Aku tidak suka!" Aku menatap Hyun Soo yang memang terlihat kesal. Aku melirik ke arah meja yang berada di samping kami di mana terdapat sekelompok boyband yang sedang naik daun. Aku baru sadar jika beberapa dari mereka memang tengah menatapku. Lalu saat tatapan kami bertemu, pria itu tersenyum padaku. Aku tidak membalasnya, karena aku tidak mengenalnya. Aku tidak seramah itu yang dengan mudah membalas senyuman ke arah orang yang tidak dikenal, termasuk pada bintang yang sedang terkenal seperti mereka.
"Jangan khawatir. Mereka hanya penasaran padaku karena kamu membawaku. Tanpa harus di perjelas, mereka pasti tau aku milikmu," jelasku sembari mengusap punggung tangan Hyun Soo.
"Kamu memang milikku," jawab Hyun Soo sembari tersenyum lebar. Sepertinya aku sudah salah bicara, aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Aku hanya ingin Hyun Soo tidak marah lagi. Tapi toh untuk apa aku menjelaskan, biarkan Hyun Soo berpikir sesuka hatinya. Aku tidak peduli. Aku menatap heran ke arah Hyun Soo yang menggeser kursinya mendekat ke arahku. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku ingin lebih dekat saja. Supaya mereka semakin sadar jika kamu milikku," ucap Hyun Soo dengan santai. "Jangan berlebihan, aku malu di tatap orang-orang!" protesku.
"Kamu malu denganku?"
"Aku tidak suka berdebat Hyun Soo. Aku tidak suka melihatmu berlebihan!" ucapku dengan tegas. Aku malas sekali melihat Hyun Soo yang kekanakan. Hyun Soo menuruti ucapanku dengan kembali memindah kursinya supaya memiliki jarak padaku. "Aku benci melihat orang-orang yang berlebihan ketika bersama pasangannya di muka umum. Maka aku tidak ingin terlihat sama dengan mereka.
Setelah penyanyi wanita itu selesai bernyanyi, kini waktunya pembacaan nominasi dan salah satu artis di bawah naungan agensi Hyun Soo memenangkan penghargaan. Penyelenggara acara juga meminta Hyun Soo untuk naik ke atas panggung. Aku bisa melihat Hyun Soo yang nampak gagah dan percaya diri berjalan menuju panggung. Riuh para penonton bersorak kala Hyun Soo sudah berbicara di depan microphonenya. Bahkan para selebriti wanita secara terang-terangan menunjukan ketertarikan mereka pada Hyun Soo. Dia memang pantas untuk disukai banyak orang, terlebih para wanita. Karena Hyun Soo itu tampan, sukses dan mudah bergaul, apa lagi yang kurang darinya.
Setelah Hyun Soo selesai memberikan sambutan dia turun dan menunjukan senyum lebarnya padaku. "Tadi itu hebat sekali," pujiku dengan tulus. "Terima kasih," jawab Hyun Soo lalu duduk kembali di sampingku. Kami kembali menikmati acara dengan penampilan bintang-bintang populer. Aku melihat para wanita yang berpakaian sexy hingga mewah dan menawan, tapi sepertinya Hyun Soo tidak memiliki ketertarikan pada mereka. Jika di bilang cantik, mereka juga sama cantiknya denganku. Tapi Hyun Soo nampak tidak tertarik.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tadi Hyun Soo meninggalkanku di meja untuk berbincang dengan para koleganya. Di sini aku hanya bisa menunggu dengan sabar. Aku tidak bisa merengek meminta cepat pulang karena aku tidak tau kemana Hyun Soo pergi. Acara yang awalnya terlihat formal ini kini beralih gaya menjadi lebih bebas. Musik yang mengalun kini berganti dengan musik dj yang memekakan telinga. Aku mengedarkan pandanganku tapi tak kunjung menemukan Hyun Soo di dalam gedung sebesar ini. Sebenarnya kemana dia? Tidak taukah jika aku sudah mengantuk?
Aku bukan tidak ingin beranjak untuk mencari Hyun Soo, tapi aku takut jika Hyun Soo datang dan saling mencari justru tidak terdengar menarik. Aku juga sudah berusaha menghubungi Hyun Soo, tapi tak kunjung dijawab. Aku setidaknya paham karena musik di ruangan ini begitu kencang. Para muda mudi tengah asyik berjoget mengikuti alunan musik. Bahkan dari banyaknya manusia di sini, aku tidak melihat jika jumlahnya berkurang, mungkin mereka baru menikmati acara saat ini karena temanya tak lagi formal. Tidak adakah yang ingin segera pulang selain aku? Aku sudah sangat mengantuk! Jika aku menghubungi Hyun Soo lagi dan dia tak kunjung menjawab maka aku akan bergegas mencarinya. Setidaknya aku bersyukur, meskipun Hyun Soo meninggalkanku sendirian, tapi tak ada pria yang berani mendatangi dan menggangguku. Seperti yang aku katakan, bahkan tanpa Hyun Soo bersikap berlebihan sekalipun, kebanyakan orang di sini sudah beranggapan jika aku miliknya, jadi untuk apa repot-repot menunjukkan pada orang lain tentang kedekatan kami.
Karena aku sudah cukup muak dan lelah menunggu Hyun Soo yang tak kunjung datang, aku memilih untuk mencarinya. Aku bahkan sampai harus mengedarkan pandangan ekstra karena ruangan yang penuh oleh manusia. Bahkan ada beberapa meja yang orang-orangnya tengah asyik menenggak alkohol. Ini pertama kalinya aku berkumpul dengan para selebriti. Aku pikir mereka sebaik yang terlihat di media, tapi nyatanya segelintir orang bahkan aku menilai bersikap tak sebaik citranya.
"Nona Rachel," sapa seseorang yang tadi aku ingat sempat berbincang dengan Hyun Soo. Meskipun tadi aku sudah berkenalan dengannya, tapi sekarang aku lupa siapa dirinya.
"Maaf sebelumnya, apakah anda melihat di mana Hyun Soo?" tanyaku to the point. Aku tidak sedang dalam mode berbasa-basi. "Saya sempat melihatnya sedang menyapa beberapa kolega di bagian sayap barat. Anda coba mencarinya ke sana," jawab pria itu dengan ramah.
"Terima kasih, Tuan." Aku menatapnya sejenak dan dia sepertinya mengerti jika aku melupakannya. "Kwang Soo," jawab orang itu dengan ramah. "Terima kasih Tuan Kwang Soo," ucapku lalu menunduk hormat dan pergi. Aku mengikuti saran Tuan Kwang Soo dengan mencari Hyun Soo ke sana. Ternyata di bagian ini lebih banyak dipenuhi para anak muda dari pada di tengah ruangan tempat meja kami. Aku lebih banyak menjumpai beberapa orang yang usianya masih sangat muda. Jika Hyun Soo bertemu koleganya untuk apa mereka di sini? Mungkinkah koleganya masih muda?
Setelah aku menyusuri ke bagian lebih dalam di sisi barat ball room ini, aku melihat Hyun Soo yang nampak sedang berbincang dengan 5 orang wanita. Bahkan di tangan mereka masing-masing memegang segelas vodka. Dari jarak pandangku, aku melihat Hyun Soo yang nampak tertawa dengan renyah bersama para wanita itu lalu menyesap minumannya dengan santai. Aku sudah begitu lama menunggunya sampai aku menahan rasa kantuk. Dia bahkan tak menjawab panggilanku karena asyik berbincang dengan para wanitanya. Sialan memang!
Ini bukan perasaan cemburu, tapi aku kesal karena aku harus menjadi bodoh karena Hyun Soo yang bahkan statusnya belum jelas di hidupku. Dan apa yang aku lihat? Dia dengan mudahnya minum vodka, padahal dia masih harus menyetir untuk mengantarku pulang. Haruskah aku menyerahkan nyawaku dengan membiarkan Hyun Soo menyetir dalam keadaan mabuk? Meskipun Hyun Soo pernah mengatakan jika dia memiliki toleransi yang tinggi pada alkohol, tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Aku sudah berencana untuk membalikkan tubuhku dan meninggalkan Hyun Soo untuk pulang sendiri. Tapi aku mengurungkan niatku, bukankah itu terlihat seperti aku yang menjadi seorang pecundang? Hyun Soo akan berpikir aku merajuk karena melihat dia bersama para wanita lalu menganggap jika aku tengah cemburu. Padahal yang sebenarnya aku tidak peduli mau dia memiliki teman wanita sebanyak apa pun, karena hubungan mereka sudah terjalin jauh sebelum aku mengenal Hyun Soo. Sehingga aku tidak memiliki hak untuk menghakimi Hyun Soo dengan menjaga jarak pada mereka. Aku hanya kesal karena aku harus menunggu seseorang yang tampak jelas melupakan keberadaanku. Aku sangat yakin jika Hyun Soo pasti lupa sudah mengajakku kemari sehingga dia bisa bebas berbincang dengan para teman-temanya dan melupakanku yang menunggunya. Aku membalikkan tubuhku dan kembali menatap ke arah Hyun Soo. Aku berjalan menuju tempah Hyun Soo berdiri bersama teman-temannya. Aku menepuk punggung Hyun Soo, tapi dia masih belum sadar juga. Hingga salah satu teman Hyun Soo memberikan kode jika ada seseorang yang berdiri di belakang tubuhnya. Hyun Soo lalu menoleh dan tersenyum ke arahku. "Ada apa?" tanya Hyun Soo sembari tersenyum. Seketika emosiku memuncak, mungkin aku masih tidak masalah jika Hyun Soo akan terkejut saat melihatku karena dia lupa pada keberadaanku seperti yang aku perkirakan, tapi nyatanya Hyun Soo justru bersikap biasa. Dia bahkan tak terlihat merasa bersalah sama sekali karena sudah membuatku menunggu lama. Aku menghela nafas untuk meredam emosiku yang tiba-tiba naik karena sikap Hyun Soo.
"Aku akan pulang, kamu bisa tetap di sini," ujarku dengan datar. "Nanti, tunggu sebentar lagi ya," jawab Hyun Soo sembari menyentuh bahuku. "Aku bukan mengajakmu, aku hanya ingin mengatakan jika aku pulang lebih dulu," jawabku dengan serius. "Rachel aku mohon jangan marah. Aku masih harus menunggu sebentar lagi, teman-temanku belum ada yang pulang."
"Sayangnya aku tidak peduli, Hyun Soo. Mereka bukan temanku, ini juga sudah melebihi jam tidurku!" jawabku dengan menatap Hyun Soo dengan tajam. "Siapa dia, Hyun Soo?" Aku menoleh ke arah salah satu wanita yang nampak penasaran padaku. Tidakkah dia tau jika aku datang bersama dengan Hyun Soo? Dia hanya mengetes Hyun Soo atau sungguhan penasaran?
"Perkenalkan, dia Rachel, kekasihku," jawab Hyun Soo. "Dia bisa menjadi teman baru kita, hai Rachel," sapa salah satu dari mereka padaku. Tapi hanya melihat sekilas aku juga paham jika ini hanyalah topeng. Aku tidak melihat ketulusan di mata mereka untuk berteman denganku.
"Salam untuk kalian semua, tapi aku harus segera pulang. Mungkin kita bisa berkenalan dengan lebih baik di lain waktu," jawabku dengan ekspresi datar. Aku tidak tertarik untuk berpura-pura baik di hadapan mereka. "Sombong sekali," celetuk wanita berambut merah menyala.
"Terima kasih atas pujiannya. Aku permisi," ucapku lalu membalikkan tubuhku untuk segera pergi, tapi Hyun Soo mencekal lenganku. "Kita pulang sekarang," ucap Hyun Soo.
"Tidak, aku bisa pulang sendiri," jawabku sembari melepaskan cekalan tangan Hyun Soo di lenganku. "Maaf, kita akan pulang sekarang." Kini giliran Hyun Soo yang menarikku tapi aku memilih diam hingga Hyun Soo berhenti dan menatapku dengan aneh. "Bukankah kamu mau pulang?" tanya Hyun Soo bingung. "Kamu minum, aku tidak mau kamu menyetir. Aku bisa pulang menggunakan taksi," jawabku.
"Tidak! Kamu datang bersamaku maka pulang juga bersamaku!" Ini pertama kalinya aku melihat Hyun Soo yang nampak marah dan menatapku dengan tajam. Apakah ini sosok Hyun Soo yang sebenarnya atau karena pengaruh alkohol? Dia jadi bisa menunjukkan emosinya di depanku.
"Apakah kamu sedang cemburu melihat Hyun Soo dengan kami sehingga merajuk seperti ini!" ujar wanita berambut merah tadi dengan sinis. Aku menoleh ke arahnya tapi hanya menatapnya dengan datar, aku tidak berminat untuk meladeni wanita sepertinya. Karena aku tidak ingin mempermalukan diri berdebat dengan disaksikan oleh para wanita tidak berguna seperti mereka, maka aku memilih untuk pergi saja. Aku mengabaikan Hyun Soo yang berjalan di belakangku sembari meneriakkan namaku. Hingga akhirnya Hyun Soo menarik tanganku dan menggenggamnya. Hyun Soo kini berjalan di sisi tubuhku sembari menggandeng tanganku. Aku mengabaikannya saja dan memilih berjalan dalam diam. Ketika kami sampai di lobi, ternyata di luar sedang hujan.
"Aku sudah mencari sopir pengganti. Dia akan segera datang," ucap Hyun Soo dengan lembut.
"Apakah masih lama? Aku sudah mengantuk," jawabku dengan jujur. Meskipun aku kesal dengan Hyun Soo, tapi aku memilih mengabaikan rasa kesalku. Aku tidak memiliki hak untuk marah, karena aku bukan siapa-siapa. Akan tidak sopan juga jika aku bersikap ketus padanya. Aku hanya tidak ingin jika Hyun Soo berpikir aku sedang cemburu, padahal tidak sama sekali.
"Maaf membuatmu marah," ucap Hyun Soo. Aku menoleh dan menatapnya yang tengah menatapku dengan sendu. "Kenapa aku harus marah?" tanyaku balik. Aku ingin mengetes apakah Hyun Soo menyadari kesalahannya atau tidak. "Maaf karena apa yang dikatakan oleh teman-temanku." Aku menghela nafas, berharap terlalu tinggi jika Hyun Soo paham aku kesal karena dia meninggalkanku nyatanya hanya sia-sia.
"Tidak masalah, aku tidak peduli dengan mereka." Aku tidak kenal mereka, untuk apa memikirkan apa yang mereka katakan, hanya akan membuang-buang waktu dan perasaan. "Mengapa kamu bersikap seperti ini?"
"Aku tidak mengerti kemana arah pembicaraanmu," jawabku dengan datar. "Kamu sedang marah padaku."
"Terserah apapun penilaianmu," jawabku dengan acuh. "Aku tidak tau apa yang membuatmu marah," ucap Hyun Soo sembari meraih tanganku. "Itu artinya kamu tidak salah," jawabku dengan acuh. "Aku meninggalkanmu," celetuk Hyun Soo yang membuatku menatapnya. "Jadi benar karena aku meninggalkanmu," tambah Hyun Soo setelah mengkira-kira ekspresiku.
"Seperti yang aku katakan, terserah apa pun penilaianmu. Aku tidak peduli kamu menilaiku sedang marah atau tidak. Yang jelas aku ingin segera pulang dan tidur. Itu saja," jawabku dengan datar. Aku tidak ingin menyalahkan Hyun Soo pada sesuatu yang dia pikir tidak salah. Hyun Soo paham dia meninggalkanku, tapi aku melihat jika dia tidak merasa bersalah. Lalu untuk apa aku harus memperpanjang masalah yang tidak berguna seperti ini.