Aku menatap Seo Rin dengan heran ketika melihat bocah manja itu justru tertawa dengan keras. Apa dia benar-benar kerasukan atau dia memang gila. "Berhenti tertawa! sentakku dengan keras. Karena sejak tadi dia tidak berhenti tertawa, aku sedikit takut berada di sekitarnya. "Bukankah kamu wanita cerdas, bagaimana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu, dasar bodoh!" ucap Seo Rin sembari mengusap air matanya setelah lelah tertawa. "Ucapanmu tidak menjawab rasa penasaranku sama sekali!" ucapku dengan sinis. "Karena kamu anak tunggal, pasti kamu tidak bisa merasakan kasih sayang antara adik dan kakak. Pantas saja!" Seo Rin benar, memang apa yang aku tau tentang hubungan saudara, sedangkan aku sendirian. Sejak kecil aku juga tidak dekat dengan para sepupuku. Di hidupku, hanya kedua orang tua d

