Aku menatap Seo Rin dengan heran ketika melihat bocah manja itu justru tertawa dengan keras. Apa dia benar-benar kerasukan atau dia memang gila. "Berhenti tertawa! sentakku dengan keras. Karena sejak tadi dia tidak berhenti tertawa, aku sedikit takut berada di sekitarnya. "Bukankah kamu wanita cerdas, bagaimana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu, dasar bodoh!" ucap Seo Rin sembari mengusap air matanya setelah lelah tertawa. "Ucapanmu tidak menjawab rasa penasaranku sama sekali!" ucapku dengan sinis.
"Karena kamu anak tunggal, pasti kamu tidak bisa merasakan kasih sayang antara adik dan kakak. Pantas saja!" Seo Rin benar, memang apa yang aku tau tentang hubungan saudara, sedangkan aku sendirian. Sejak kecil aku juga tidak dekat dengan para sepupuku. Di hidupku, hanya kedua orang tua dan kakek nenekku yang aku anggap sebagai keluarga. Ternyata aku tidak ada bedanya dengan Seo Rin, aku juga dengan mudah menyimpulkan tentang seseorang di saat aku belum mengenal seseorang itu dengan baik. "Maaf jika aku menyinggung." Seketika moodku kembali naik ketika melihat ekspresi Seo Rin yang nampak bersalah. Dia terlihat tulus meminta maaf padaku.
"Tidak masalah, kamu memang benar Seo Rin. Aku tidak paham pada hubungan antar saudara itu seperti apa," jawabku sembari tersenyum tulus. Aku tidak tersinggung, tapi justru tersadar. "Sejak kecil aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Oppa. Eommoni dan Abeoji sangat sibuk dengan bisnisnya sehingga sering meninggalkan kami untuk perjalanan bisnis dalam waktu yang lama. Seperti yang kamu tau, aku gadis yang manja, memang itu benar. Karena sejak kecil aku terbiasa bergantung pada Oppa. Apa pun itu, Oppa akan selalu membantu dan melindungiku. Maka aku juga tidak ingin melihat Oppa memilih pasangan yang salah. Aku begitu banyak melihat kemunafikan dari para wanita yang mendekatinya. Tapi selama aku melihat Oppa bahagia, aku diam."
"Kamu memang diam, tapi kamu melakukan berbagai cara supaya wanita itu menjauh. Karena kamu menunjukan ketidak sukaanmu secara terang-terangan seperti yang kamu lakukan padaku. Apa aku benar?" Seo Rin nampak terkejut, sepertinya tebakanku memang benar. Dia sengaja membuatku menghindari Hyun Soo dengan sendirinya karena merasa tidak nyaman pada adiknya. "Wanita yang lemah dan tidak berpendirian akan memilih meninggalkan Oppa, mereka tidak mau memiliki adik ipar seperti diriku. Wanita yang manipulatif, dia akan mendorong Oppa untuk membenciku. Dia akan mengatakan berbagai hal buruk tentangku, yang tanpa di sadarinya bahkan Oppa lebih mengenalku dari pada mereka. Sedangkan dari dirimu, aku tidak menemukan semua itu. Jadi aku tidak bisa menilaimu apakah kamu benar tulus atau tidak pada Oppa." Aku menatap Seo Rin dengan tersenyum miring. Dia memang sok tau sekali.
"Aku tidak pernah mengatakan jika aku tulus, tapi bukan berarti aku juga main-main. Seperti yang aku katakan, kami masih dalam tahap perkenalan. Aku tidak ingin mendapatkan pasangan karena paksaan perjodohan, sehingga Eomma membebaskanku untuk memilih. Aku juga sudah sepakat untuk menjalani pendekatan dengan Hyun Soo. Kamu hanya berpikir terlalu jauh tentangku. Dan soal menjelekanmu, aku rasa kamu salah. Aku memang tidak menjelekkanmu, tapi aku pernah berkata secara jujur pada Hyun Soo jika aku tidak menyukaimu karena kamu tidak sopan. Tapi Hyun Soo tetap membelamu, dia mengatakan kamu gadis yang baik. Karena itu, aku tak pernah lagi membicarakan tentangmu, aku bosan mendengar orang berbicara baik tentangmu yang nyatanya di mataku kamu tidak sebaik itu," jelasku dengan jujur. Seo Rin justru hanya tersenyum mendengarnya, apakah dia tidak tersinggung seperti tadi? Padahal aku ingin sekali membuatnya kembali tersinggung.
"Asal kamu tau, Oppa tidak pernah menceritakan sebaik apa aku di hadapan para teman kencannya. Jika mereka membicarakan hal buruk tentangku, Oppa hanya akan diam sembari mendengarkan," jawabnya dengan percaya diri. "Bagaimana kamu tau?" tanyaku dengan mengerutkan kening. "Oppa yang bercerita, aku juga pernah melihat secara tidak langsung. Jadi aku bisa menyimpulkan jika Oppa tidak ingin kamu memiliki penilaian yang buruk tentangku."
"Bagaimana aku tidak memberikan penilaian buruk tentangmu jika kamu tidak sopan seperti itu!" jawabku dengan ketus. "Mulai sekarang aku akan bersikap sopan padamu," jawab Seo Rin dengan santai. "Tapi sayangnya, aku juga sama sepertimu yang tidak mudah mempercayai orang. Aku selalu menilai seseorang itu dari hal pertama yang aku lihat," jawabku dengan tersenyum miring. "Bukankah kamu mengatakan untuk tidak menilai seseorang dengan mudah sebelum kamu menilainya?" protes Seo Rin tak terima. "Apa kamu lupa jika sikapmu tak pernah berubah meski di pertemuan kita berikutnya? Awalnya aku memandang kamu hanya tidak menyukaiku dan aku juga tak peduli atas penilaianmu padaku, tapi setelahnya kamu tetap bersikap tidak sopan meskipun aku sudah mencoba untuk bersikap lebih baik. Sehingga aku menilai bukan karena kamu yang tidak menyukaiku, tapi memang begitulah dirimu."
"Mungkin bisa di bilang seperti itulah sikap asliku. Tapi ketika seseorang sudah mengenalku dengan baik, merekan akan melihatku dengan sisi yang berbeda," jawab Seo Rin dengan percaya diri. "Alasan seperti itu sudah basi!" sahutku ketus. "Apa maksudnya."
"Kamu akan mengatakan jika orang-orang yang sudah memgenalmu akan tau bagaikana baiknya dirimu. Tetapi yang baru tau, hanya kamu yang menyebalkan yang dia kenal."
"Memang seperti itu," jawab Seo Rin dengan santai. "Tidak, kamu memang memperlakukan seseorang sesuai dengan keinginanmu. Bukan karena kamu sudah mengenal mereka, tapi karena kamu sungkan untuk terbuka. Sedangkan pada orang yang baru kamu kenal, kamu bebas bersikap seperti apa pada mereka."
"Ternyata aku seburuk itu di matamu," jawab Seo Rin berubah lesu. "Memang, karena kamu sendiri yang sudah menunjukkan sisi lain dari dirimu. Maka harus menerima konsekuensi jika aku tidak menyukaimu." Seo Rin terlihat menghela nafasnya. Aku memang bukan tipe orang yang mudah berubah dalam waktu dekat. Aku juga masih belum mempercayai Seo Rin sepenuhnya. Dia wanita yang manipulatif, jadi aku belum menemukan sisi baik dirinya di mataku. Sikapnya yang manis sekarang ini tidak bisa begitu saja menghapus rasa kesalku padanya setelah beberapa kali pertemuan.
"Aku akan membuatmu mempercayaiku," jawab Seo Rin dengan yakin. "Semoga saja. Tapi aku orang yang terbuka dan tidak mudah percaya. Jika aku tidak menyukai seseorang, maka tidak mudah membuatku untuk berubah menyukainya," jawabku dengan serius.
-o0o-
Aku memuji penampikanku yang terlihat begitu cantik dengan gaun pemberian Hyun Soo, nampak sangat elegant dan menonjolkan kesan sexy dariku. Bentuk tubuh yang sempurna dengan polesan make up di wajahku semakin menunjang penampilanku malam ini. Seo Rin juga masih ada di sini, bocah itu menolak ketika aku memintanya untuk pulang setelah pembicaraan kita siang tadi. Kini dia malah sedang sibuk menata rambutku dengan berbagai hiasan. Rambutku yang ditata dengan rapi dan hanya meninggalkan sedikit juntaian di kedua sisi pipiku, membuat punggungku yang terbuka semakin terekspose dengan jelas. Aku memang tidak terlalu menyukai jenis gaun yang terbuka, tetapi bukan berarti aku membencinya. Aku selalu suka pada apapun yang aku kenakan asalkan dapat membuatku semakin bertambah cantik dan mempesona. Gaun ini memiliki panjang sampai ke mata kaki, bersyukur Hyun Soo juga menyiapkan heels yang berwana putih senada dengan gaun ini. Aku sengaja berdandan di kantor restoranku, karena aku sudah mempersiapakan segalanya. Dan nanti Hyun Soo akan menjemputku kemari.
"Oppa sudah datang." Aku menoleh ketika mendengar ucapan Seo Rin. Baru saja di bicarakan, Hyun Soo sudah langsung sampai di sini. Hyun Soo memeluk tubuh Seo Rin lalu mencium keningnya. Aku beranjak dari duduklu lalu mengambil clutch dan bersiap untuk pergi. Hyun Soo berjalan ke arahku dengan tatapan mata yang lain. "Kamu sangat cantik," puji Hyun Soo di depan wajahku.
"Ini karena gaun yang kamu berikan, terima kasih," jawabku dengan tersipu. Aku merutuki kebodohanku kenapa sangat mudah terbuai dengan rayuan Hyun Soo yang sangat biasa saja itu. "Bagaimana hasilnya, Oppa?" Aku menoleh ke arah Seo Rin dengan kening berkerut.
"Kau membuatnya beribu kali lebih cantik dan mempesona," jawab Hyun Soo dengan tatapan matanya yang masih fokus menatap ke arahku. "Ayo kita pergi," ucapku dengan gugup. Di tatap dengan intens oleh Hyun Soo membuatku salah tingkah.
"Oppa sudah menyiapkan supir untuk membawamu, Seo Rin," ujar Hyun Soo yang di jawab angukan kepala Seo Rin. "Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa Rachel Eonni," ucap Rachel lalu keluar dari ruanganku begitu saja. "Apa? Dia memanggilku Eonni?" tanyaku dengan takjub. Jadi bocah manja itu serius ingin membuatku menyukainya?
"Memang sudah seharusnya bukan?" Entah mengapa Hyun Soo terlihat memajukan langkahnya hingga jarak kami terlampau sangat dekat. Lalu tangan Hyun Soo merengkuh pinggangku dengan tiba-tiba. "Hyun Soo apa yang kamu lakukan," cicitku pelan. Selama ini aku tidak takut pada apa pun, tapi melihat ekspresi Hyun Soo saat ini seolah dia siap memakanku hidup-hidup membuatku sedikit takut.
"Jangan takut," bisik Hyun Soo di telingaku. "Kamu membuatku tidak nyaman," ucapku dengan pelan. "Bisakah kita tidak usah pergi saja?" ucap Hyun Soo. Aku menatapnya dengan tajam tapi Hyun Soo justru nampak terlihat frustasi. "Apa maksudmu tidak jadi? Aku sudah berusaha dengan keras berdandan. Lalu kamu mau membatalkanya begitu saja?!" jawabku dengan kesal. Bagaimana bisa dia berlaku sesukanya.
"Kamu terlihat bergitu cantik dan mempesona, aku tidak rela membagi pesonamu dengan orang lain." Seketika aku membisu, jadi dia tidak benar-benar ingin membatalkan untuk pergi tetapi karena sedang merayu? Aku menatap Hyun Soo, lalu aku mulai menyadari penampilan Hyun Soo saat ini. Dia tampak memukau dan gagah dengan tuxedo berwarna putih, senada dengan warna gaun yang sedang aku gunakan. "Sebaiknya kita segera bergegas pergi sebelum terlambat," ucapku malu-malu. "Ingin sekali aku menguncimu di kamarku," bisik Hyun Soo yang membuatku dengan refleks memukul dadanya.
"Apa aku boleh menciummu?"tambah Hyun Soo yang membuatku semakin malu.
"Aku ingin menciummu, aku tidak bisa menahannya lagi." Bahkan belum sempat aku melayangkan protes pada Hyun Soo, bibir lembut itu kini sudah menempel dengan bibirku. Melumatnya seolah bibirku terasa begitu manis. Hyun Soo memeluk pinggangku semakin erat untuk mengatasi aku yang memberontak. Aku sendiri secara perlahan mulai ikut menikmati permainan Hyun Soo. Aku memejamkan mataku dan mulai merasakan lumatan Hyun Soo di bibirku, hingga aku mulai berani untuk membuka mulut. Ciuman Hyun Soo seolah menantangku untuk melakukan hal yang lebih lagi. Tepat ketika aku membuka mulut, lidah Hyun Soo dengan berani langsung membelit lidahku. Ini memang bukan ciuman pertamaku, tapi entah mengapa dari semua ciuman yang pernah aku lakukan, hanya bersama Hyun Soo aku bisa menikmati dan merasakan kelembutannya. Karena yang pernah aku lakukan bersama mantan kekasihku dulu, mereka menyerangku dengan menggebu dan tak membiarkanku untuk menikmati ciuman itu. Kini semuanya nampak berbeda dengan Hyun Soo, aku bahkan tak sungkan untuk berbagi saliva dengannya. Semuanya terasa begitu nikmat dalam ciuman ini, hingga kesadaranku seketika muncul jika apa yang kita lakukan ini sudah berlebihan. Aku juga bahkan baru sadar jika telapak tangan Hyun Soo yang besar itu sejak tadi mengusap punggungku yang terbuka hingga menyalurkan gelenyar aneh di tubuhku.
Aku lalu mendorong tubuh Hyun Soo hingga ciuman kami terlepas. Hyun Soo terkejut, tapi dengan segera menguasai keadaan. Tangan Hyun Soo masih memeluk pinggangku, lalu sebelah tangannya mengusap bibirku yang masih meninggalkan bekas saliva. Sedangkan aku masih terdiam sembari mengatur nafas.
"Maaf," bisik Hyun Soo dengan lembut.
"Tidak apa, kita sama-sama terlalu terbuai dengan keadaan," jawabku dengan gugup.
"Lipstickmu berantakan," ucap Hyun Soo dengan terkekeh geli.
"Kamu tunggu sebentar, aku akan membenarkan riasanku dulu," jawabku dengan gugup lalu melepaskan pelukan Hyun Soo dan kembali duduk di sofa lalu mencari lipstick di tasku. Saat aku melihat pantulan wajahku dari cermin kecil yang selalu aku bawa, aku terkejut melihat bentuk bibirku saat ini yang sangat berantakan karena lipstick yang melebar kemana-mana. Pipiku seketika memanas membayangkan apa yang baru saja aku dan Hyun Soo lakukan hingga lipstickku bisa sampai menjadi seperti ini. Damn!