11. Pertanyaan Yang Selalu Terpendam

2416 Kata
Aku merasa Hyun Soo mengendarai mobilnya lebih lambat dari pada biasanya. Tapi aku lebih memilih diam dan menikmati. Meskipun semenjak mengenal Hyun Soo jam tidurku tak lagi teratur, tapi aku mencoba menikmatinya. Mungkin inilah yang dirasakan orang-orang ketika berkencan. Aku yang sudah lama tidak berkencan mungkin sedikit harus bersabar untuk beradaptasi. "Aku ingin mengajakmu ke sebuah acara sabtu malam besok, apa kamu mau?" ucap Hyun Soo setelah terdiam cukup lama. Atau mungkin Hyun Soo sedang menimbang tadi ingin mengajakku atau tidak? "Acara apa?" tanyaku dengan memandangnya. "Ada sebuah acara penghargaan. Beberapa artis yang berada di bawah naungan agensiku masuk dalam nominasi. Penyelenggara acara secara langsung mengundangku untuk datang karena agensiku termasuk penyumbang terbanyak dalam daftar nominasi." Aku terdiam, di sana pasti akan ada banyak orang. Belum lagi di mana ada selebriti pasti juga akan ada wartawan di sana. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian karena datang bersama dengan Hyun Soo. "Kamu keberatan?" timpal Hyun Soo setelah aku hanya diam tak menjawab ajakanya. Aku ingin langsung menolaknya, tapi aku tak tega ketika menatap ekspresi Hyun Soo yang penuh harap. "Aku tidak suka keramaian. Apalagi harus bertemu banyak wartawan. Jadi aku memilih untuk tidak ikut saja. Maaf," ujarku sembari menatap Hyun Soo dengan tersenyum. "Acara ini private karena adanya pandemi. Wartawan juga tak ada yang diizinkan masuk untuk meliput. Segala bentuk dokumentasi acara akan di atur oleh penyelenggara. Jika kamu tidak ingin terkena sorotan, aku akan mengaturnya untukmu. Jadi, maukah kamu menemaniku, Rachel?" Hyun Soo memang tipe orang yang tidak mudah menyerah. Jika sudah seperti ini bagaimana aku mencari alasan untuk menolaknya. "Tidak bisakah kamu mengajak yang lain saja? Kamu juga bisa datang berasama salah satu aktrismu," ucapku mencoba peruntungan. Barang kali Hyun Soo bisa paham jika aku benar-benar tidak mau ikut dengannya. Acara seperti itu bukanlah tipeku, meskipun aku tidak pernah merasa rendah diri dengan penampilan dan bentuk fisikku, tapi aku memang tidak menyukai keramaian seperti itu. "Tidak, aku tetap ingin datang bersamamu. Lagi pula untuk apa aku pergi dengan orang lain jika aku sudah memiliki kekasih?" ujar Hyun Soo dengan raut menggoda. Hyun Soo memang beberapa waktu terakhir secara terang-terangan mengakui di depan orang-orang jika aku adalah kekasihnya, padahal aku sendiri tidak pernah merasa. Karena kami memang belum berpacaran. "Bagaimana jika aku tetap menolak?" tanyaku dengan menatap Hyun Soo. "Aku akan memaksa Bibi Hana untuk memintamu ikut denganku," jawab Hyun Soo lalu tertawa sedangkan aku memutar bola mata malas. Ternyata Hyun Soo sudah menyadari jika titik kelemahanku ada pada Eomma. "Aku sudah menyiapkan gaun untukmu. Aku akan membawanya besok saat makan siang," ucap Hyun Soo dengan sangat percaya diri jika aku akan ikut dengannya. "Jadi kamu memang sudah merencanakannya tanpa harus bertanya padaku terlebih dulu!" jawabku dengan kesal. "Tentu saja, karena aku hanya mau pergi jika bersamamu." Hyun Soo menunjukkan senyum lebarnya yang membuatku semakin muak dengannya saat ini. "Mengapa kamu menyiapkan gaun tanpa konfirmasi dariku terlebih dahulu? Bagaimana jika ukurannya tidak sesuai? Aku tidak ingin nampak memalukan, karena penampilan adalah hal yang utama. Aku tidak suka gaun yang terlalu ketat atau terlalu longgar," ujarku yang berharap Hyun Soo akan mempertimbangkan keputusannya. Tapi yang kulihat Hyun Soo justru hanya tersenyum. "Aku sudah tau ukuranmu," jawab Hyun Soo sembari menatap ke arah tubuhku. "Jangan kurang ajar!" Aku memukul lengan Hyun Soo dengan keras. Meskipun dia sedang menyetir. "Memang apa yang kamu pikirkan? Aku hanya bilang jika aku tau ukuranmu," ujar Hyun Soo protes. "Matamu sudah menjawab semuanya!" sahutku tidak mau kalah. "Seo Rin yang menyiapkan gaun untukmu. Dia bilang tau ukuran tubuhmu." Aku membulatkan mata, apa dia bilang? Seo Rin yang menyiapkan gaun untukku? Aku tidak tau lagi gaun semacam apa yang akan aku gunakan besok. Mengingat Seo Rin yang sudah menyiapkannya aku yakin jika hal ini tidak akan berakhir baik. Seo Rin tidak menyukaiku, jadi aku yakin jika dia akan dengan sengaja memilihkan gaun yang jelek untukku. "Tidak perlu jika begitu, aku masih memiliki banyak koleksi gaun. Kamu hanya tinggal mengatakan bagaimana konsep acaranya maka aku akan menyesuaikan gaunku. Kamu jangan khawatir, aku memiliki banyak gaun yang cantik dan berkelas, kamu tidak akan merasa malu," ujarku dengan datar. "Tapi Seo Rin sudah menyiapkan untukmu," jawab Hyun Soo tidak setuju. "Yang paham seperti apa bentuk tubuh dan ukuran adalah aku sendiri. Seo Rin tidak akan paham!" ucapku dengan melirik Hyun Soo dengan sinis. Apakah dia malu jika aku akan sangat memalukan di hadapan orang banyak? Justru akan sangat memalukan jika aku percaya pada Seo Rin. "Kamu jangan meremehkan Seo Rin, dia sangat memahami mode, kamu tenang saja Seo Rin tidak akan mengecewakanmu. Aku paham keraguanmu pada pilihan Seo Rin, tapi aku mempercayai adikku. Dia tidak akan berani membuatku kecewa. Lagi pula gaunmu nanti akan senada dengan jas yang akan aku gunakan," jelas Hyun Soo dengan lembut, tapi aku tak bisa percaya begitu saja. Hyun Soo bisa mempercayai Seo Rin, tapi aku tak pernah mau untuk mempercayai bocah itu. ‘’Percaya Seo Rin kali ini saja,’’ ucap Hyun Soo dengan tersenyum lembut. ‘’Terserah,’’ jawabku dengan acuh. -o0o- Siang ini Seo Rin kembali datang bersama dengan Hyun Soo. Sampai sekarang aku masih saja kesal setiap melihatnya. Hyun Soo juga menepati ucapannya dengan membawa gaun untukku. Aku melihat gaun berwarna putih gading yang terlihat elegant dan memukau. Meskipun gaun ini akan menampilkan beberapa lekuk tubuhku, seperti bagian pinggang dan punggung tapi aku tetap menyukainya. Meskipun tak berlengan setidaknya gaun ini masih cukup sopan di bagian d**a. Gaun ini juga super cantik dengan beberapa ornamen berlian yang semakin menambah kesan exclusive. Karena gaun ini pilihan Seo Rin dan bocah itu sedang ada di sini maka aku tidak bisa memujinya secara langsung. Bisa besar kepala nanti dia! "Apa aku perlu membantumu berdandan?" tanya Seo Rin padaku dengan raut mengejek. "Terima kasih tawaranya, tapi itu tidak perlu. Meskipun aku jarang berdandan bukan berarti aku tidak bisa," jawabku dengan tersenyum meskipun terselip sedikit kesombongan. Supaya Seo Rin tidak merasa sombong seolah menguasai segalanya. Padahal dandanannya juga biasa saja menurutku. Aku yang dulu pernah di puji oleh Gal Gadot saja biasa saja. "Seo Rin akan tetap di sini, dia bilang ingin belajar tentang bisnis restoran," ujar Hyun Soo sembari mengusap rambut Seo Rin. Apa aku tidak salah dengar? Bocah manja itu ingin belajar bisnis? "Boleh saja, meskipun aku juga tidak terlalu ahli dan mendalami tapi aku akan membantu apa pun yang aku tau," jawabku dengan jujur. "Meskipun tidak pintar setidaknya kamu berpengalaman," sahut Seo Rin. Sudah aku bilang jika dia ini bocah kurang ajar. "Sudah waktunya aku pergi," ucap Hyun Soo sembari beranjak dari duduknya lalu mencium kening Seo Rin lalu dengan tiba-tiba juga mencium keningku. Padahal sebelumnya dia tidak pernah melakukan ini. "Apa yang kamu lakukan?" ucapku dengan berbisik. "Akan menyenangkan jika cara kita berpamitan seperti ini. Kamu harus mulai terbiasa," ucap Hyun Soo dengan santai lalu pergi begitu saja. Setelah kepergian Hyun Soo aku menoleh ke arah Seo Rin yang sedang menatapku dengan intens. Aku menghela nafas terlebih dahulu, kini saatnya kesabaranku mulai di uji. "Apa yang harus kita lakukan untuk memulai?" tanyaku mencoba mengakrabkan diri meskipun sebenarnya aku enggan. "Aku tidak nyaman berbicara di sini, lebih baik di kantormu," jawab Seo Rin dengan acuh lalu beranjak berdiri. Sangat tidak sopan berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua, dasar bocah! "Kamu percaya diri sekali seperti tau di mana letak kantorku," ujarku untuk mengejeknya yang berjalan terlebih dahulu. Seo Rin lalu berhenti dan menatapku dengan tajam. "Jika tau aku tidak tau di mana letak kantormu setidaknya berjalan lebih cepat jangan seperi siput!" jawab Seo Rin dengan ketus. Jadi bocah itu sedang malu karena terlihat bodoh? Aku mengajak Seo Rin menuju ruanganku, karena dia bocah yang tidak sopan jadi dia duduk bahkan sebelum aku mempersilahkannya. Aku lalu duduk berhadapan dengan dia, tentu saja dengan gaya yang anggun tidak serampangan seperti gaya Seo Rin. "Haruskah aku percaya jika kamu ingin belajar berbisnis?" tanyaku dengan tersenyum sinis ke arah Seo Rin. Ketika berbicara di ruanganku, aku merasa lebih bebas dan tenang untuk berbicara apa pun padanya. Aku tadi sangat menahan diri, karena aku juga tidak mungkin memperlihatkan citra buruk di hadapan karyawanku. "Mungkin iya tapi bisa juga tidak," jawab Seo Rin dengan tersenyum sinis. "Kamu juga pintar berakting," celetuk Seo Rin. "Kenapa aku harus berakting?" tanyaku tidak terima. Karena selama ini aku selalu menunjukkan sikap apa adanya. "Kamu berpura-pura baik di depan Hyun Soo Oppa," jawab Seo Rin dengan menatapku tajam. "Kenapa aku harus berpura-pura? Apa kamu selama ini tidak sadar jika aku sering kali menyindirmu?!" jawabku dengan kesal. "Kenapa kamu tidak melaporkan pada Oppa atas apa yang sudah aku lakukan padamu di toilet?" Aku menatap Seo Rin dengan kening berkerut, mencoba mengingat apa yang dia maksud, lalu aku mengingat moment saat kami setelah berenang. "Ah, saat kamu mengancamku dan berencana ingin memberikan apa pun untukku?" jawabku dengan ekspresi mengejek. "Jadi bagaimana?" tanya Seo Rin. "Apanya yang bagaimana, justru aku yang menunggu keputusanmu! Sanggupkah kamu membelikanku gedung bertingkat 20 dengan hasil usahamu sendiri?" tanyaku dengan menatapnya mengejek. Gadis sombong sepertinya harus di berikan pelajaran. "Kamu matrealistis!" sentak Seo Rin dengan tajam. "Kamu tidak mampu tapi berlagak sombong! Jika aku menjadi kamu mungkin aku akan malu," ucapku dengan menatap Seo Rin tajam. Aku bisa melihat kepalan tangan Seo Rin di sisi tubuhnya. "Kami orang dewasa tidak bersikap mengkonfrontasi lawan dengan membeberkan keburukan mereka, seperti yang kamu perkirakan padaku. Apa untungnya juga aku membocorkan ancamanmu pada Hyun Soo? Apakah dengan begitu dia akan membelikanku gedung 20 lantai supaya aku tidak meninggalkannya? Tidak ada manusia yang bertindak seperti itu kecuali seorang pecundang yang bodoh, seperti dirimu!" ucapku dengan tersenyum miring. "Kau!" Seo Rin bahkan berani menunjukku dengan matanya yang berkilat tajam. "Sakit bukan? Tentu kita akan merasa sakit ketika ada seseorang yang merendahkanmu. Apalagi seseorang yang kamu anggap belum mengenalmu dengan baik. Lalu sekarang aku bertanya, apa yang membuatmu berpikir jika aku wanita jahat yang hanya ingin memanfaatkan kakakmu? Apa yang aku lakukan dan apa yang kamu ketahui tentangku hinggga kamu selalu bersikap kurang ajar padaku!" sentakku dengan keras. Emosiku mulai terpancing karena Seo Rin. "Ingat Seo Rin, aku bukan wanita yang gila hormat, tapi jika kamu tidak bisa menghormati dan menghargaiku maka aku bisa bersikap lebih buruk dari kamu! Tapi tidak dengan cara kekanakan seperti dirimu!" Seo Rin terdiam tak mampu menjawab kata-kataku. Tapi tatapan matanya masuh belum lepas menatapku dengan tajam. "Jika kamu ingin tau tentangku, tanyakan dengan baik dan sopan. Bukan dengan cara kekanakan seperti ini. Kamu ingin mengetesku? Kamu pikir ini ujian!" ucapku mencemooh. "Aku tidak menyukaimu!" balas Seo Rin dengan sengit. Hell, dia pikir dirinya cukup menyenangkan hingga aku menyukainya? "Kamu pikir aku menyukaimu? Aku bahkan lelah mendengar Eomma dan Hyun Soo yang memujimu sebagai gadis yang baik!" Aku melihat ekspresi Seo Rin yang berubah, bukan lagi marah tetapi lebih terlihat kecewa. Apakah ada kata-kataku yang menyinggung bocah manja ini? "Aku bukan tipe orang yang suka memikirkan orang lain. Aku lebih suka hidup damai dan mengabaikan yang lainnya. Aku juga tidak masalah denganmu awalnya, tidak ada indikasi darimu yang buruk di mataku kecuali sopan santunmu. Aku tidak peduli kamu membenciku, menggunjingku atau melakukan apa pun di belakangku. Tapi sikapmu yang tidak sopan membuatku muak. Aku tidak suka pada seseorang yang tidak menghargai orang lain." Aku mulai menurunkan intonasi suaraku, karena aku juga tidak boleh bersikap kurang ajar seperti Seo Rin dengan membentaknya sesuka hati. "Kamu juga berbicara seenaknya! Kamu seharusnya mengambil hatiku sebagai calon adik iparmu!" balas Seo Rin tidak terima. "Untuk apa aku harus berpura-pura? Kunci hidupmu damai adalah menjadi dirimu sendiri. Tidak peduli pada siapa pun, tunjukan jika inilah dirimu baik buruknya kamu. Aku tidak gila hormat, tapi jika orang lain mau menghargaiku aku juga akan balik menghargainya. Tapi kamu, lihat bagaimana caramu bertutur kata padaku. Bagaimana caramu memanggilku, bahkan kamu berani mengancamku di pertemuan kita yang pertama. Dan perlu kamu tau, aku juga belum tentu menjadi kakak iparmu. Hubunganku dan Hyun Soo masih dalam perkenalan, kami masih belum memutuskan akan seperti apa kita nantinya. Jadi jangan terlalu repot untuk membenciku, karena belum tentu juga kamu adik iparku." Setelah aku menjelaskan panjang lebar, Seo Rin hanya terdiam sembari menatapku. Apakah bocah gila ini kesurupan? "Aku belum pernah bertemu wanita sepertimu," celetuk Seo Rin dengan menatapku dalam. "Tentu saja, karena aku tidak memiliki kembaran," jawabku dengan asal. "Bukan seperti itu!" Kini aku kembali melihat Seo Rin yang kembali kesal. Bocah ini bisa merubah moodnya dengan cepat. "Aku bertemu banyak wanita yang mendekati Oppa, tapi semuanya hanya ingin memanfaatkannya. Mengambil sebanyak yang mereka mau atas dasar cinta. Dan Oppa terlalu bodoh untuk percaya!" Kini aku semakin sadar jika bocah manja ini memiliki jiwa narsistik, dia menganggap seolah dia yang paling tau segalanya, tidak mempercayai orang lain dan dialah yang selalu benar. "Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu di saat kamu tidak tau yang sebenarnya. Bisa jadi bukan wanita itu yang memanfaatkan Hyun Soo, tetapi mereka berdua saling memanfaatkan." Aku melihat tatapan Seo Rin yang kembali tajam ke arahku. "Tidak, Oppa tidak pernah meminta apa pun pada mereka." Dia tidak tau tapi seolah tau segalanya. Seo Rin ternyata benar-benar memuja Hyun Soo dengan berlebihan. Seolah sosok kakaknya adalah pria paling baik di dunia. Bahkan Seo Rin yang terlihat dekat dengan Hyun Soo saja tidak terlalu mengenal kakaknya. Lalu mengapa Hyun Soo membocorkan rahasianya padaku? Seo Rin tidak tau jika hal yang dimanfaatkan Hyun Soo dari para mantan kekasihnya adalah koneksi yang luas dan mungkin saja juga kehangatan di ranjang, mengingat Hyun Soo pernah mengatakan jika dia sudah pernah b******a. "Jangan menilai seseorang hanya dengan satu mata. Kamu juga tidak boleh menyimpulkan bagaimana seseorang ketika kamu belum mengenalnya dengan baik." "Aku melihat sikap Oppa yang berbeda padamu. Tidak seperi pada mantan kekasihnya." "Kita tidak pernah tau bagaimana isi hati manusia. Apa yang terlihat belum tentu kenyataanya. Mungkin kamu melihat Hyun Soo begitu tertarik padaku. Bisa saja realitanya dia hanya terpaksa," jawabku sembari menyilangkan kaki. "Aku tidak melihat Oppa berpura-pura. Dia selalu menceritakan hal baik tentangmu hingga aku menjadi muak mendengarnya," ujar Seo Rin dengan kesal. "Kenapa kamu harus kesal? Dan dari yang aku lihat, kamu sepertinya tidak pernah menyukai para wanita yang dekat dengan Hyun Soo. Kamu tidak pernah mempercayai mereka dan menganggap mereka seperti musuhmu. Bisakah kamu menjawabku dengan jujur, kamu tidak sedang jatuh cinta dengan kakakmu sendiri 'kan Seo Rin?" Entah kenapa detak jantungku berdetak lebih cepat, aku juga sangat penasaran dan menantikan jawaban Seo Rin. Karena jika memang Seo Rin ternyata menyimpan perasaan terlarang pada Hyun Soo, maka aku lebih memilih mundur. Aku tidak ingin terlibat dalam kisah cinta menjijikkan seperti itu. Aku juga tidak ingin memiliki adik ipar yang memiliki gangguan kejiwaan dengan mencintai kakaknya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN