8. Mengumbar Kemesraan

2144 Kata
Selang setengah jam setelah Hyun Soo mengantarkanku pulang, Eomma juga telah sampai di rumah. Eomma langsung duduk di sampingku yang sedang santai di ruang keluarga. "Bagaimana acara hari ini? Apakah menyenangkan, Sayang?" tanya Eomma yang terlihat tengah bahagia. Menyenangkan apanya! Jika ditanya apakah aku ingin mengulanginya lagi, aku lebih memilih tidak! Pertanyaan Eomma membuatku kembali mengingat tingkah menyebalkan Seo Rin padaku. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya pada Eomma?" jawabku dengan ekspresi mengejek. "Min Rin dan Jong Pal mengatakan jika mereka sudah sangat cocok denganmu," ucap Eomma yang membuatku memutar bola mata malas. "Lalu kenapa jika mereka suka denganku? Aku juga belum tentu suka dengan Hyun Soo," jawabku dengan acuh. "Tidak usah berlagak tidak peduli, jika nyatanya yang Eomma lihat kamu juga sama tertariknya dengan Hyun Soo," ucap Eomma sembari menggoyangkan alisnya. "Aku hanya sedang berusaha," kilahku tidak terima dengan tuduhan Eomma. "Eomma lebih mengenal putri Eomma," ucap Eomma yang membuatku menahan untuk tersenyum. "Tapi aku tidak menyukai Seo Rin!" ucapku dengan ketus. Seketika aku mengingat bocah menyebalkan itu. Ingin rasanya aku memukul kepalanya dengan keras. "Kenapa dengan Seo Rin? Dia gadis yang manis," jawab Eomma sembari menatap heran ke arahku. Yang benar saja Seo Rin manis! Aku tidak terima! "Manis dari mananya, Eomma. Dia sangat menyebalkan dan kekanakan! Dia bersikap baik hanya di depan orang banyak, tetapi di belakang dia seperti singa kecil yang liar!" ucapku dengan menggebu-gebu. Rasa kesalku ini memang nyata, bukan dibuat-buat! "Dia memang seperti ini. Seo Rin memang manja, tapi dia tidak seburuk itu. Dia memang suka bersikap menyebalkan kepada seseorang yang baru dia temui, tapi jika sudah mengenalnya kamu akan paham jika dia gadis yang baik," jawab Eomma sembari mengusap punggung tanganku, mungkin untuk meredakan emosiku ketika mengingat tentang Seo Rin. Mengapa penjelasan Eomma sama dengan Hyun Soo? Tapi aku tidak mempercayai mereka, setiap orang memiliki pandangan yang berbeda dengan orang lain. Sedangkan Seo Rin juga first impressionnya di mataku dia gadis yang tidak memiliki sopan santun. Dia tidak mau memanggilku eonni atau kakak atau bahkan namaku, dia hanya menyebutku dengan sebutan 'dia'. Aku menilainya sangat tidak sopan, belum lagi dia yang berbicara dengan ketus dan sarkas padaku. Bahkan berani mengancam dan membayarku untuk menjauhi Hyun Soo, bahkan untuk mencukupi kebutuhannya sendiri saja dia masih bergantung pada kakak dan kedua orang tuanya. Sombong sekali bocah itu! "Apakah dia memang diperlakukan dengan sangat manja oleh orang tuanya hingga dia bersikap seperti itu? Attitudenya juga buruk di mataku," ucapku membantah Eomma. "Min Rin dan Jong Pal memang sangat menginginkan seorang putri, lalu Tuhan mengabulkan keinginan mereka dengan lahirlah Seo Rin. Sehingga wajar jika mereka memperlakukan putri mereka seperti seorang princess. Karena kenyataanya dia memang satu-satunya putri mahkota di keluarganya," jelas Eomma sembari tersenyum teduh. Mengapa Eomma harus membela bocah kurang ajar itu. "Dengan membiarkan dia bebas dan tidak menghasilkan karya apa pun di usianya yang ke 25 tahun? Aku sangat kasihan dengan masa depannya. Apakah dia mau selamanya bergantung dengan keluarganya? Karena bisnis tidak selamanya akan lancar," ujarku masih membantah akan kebaikan apa pun soal Seo Rin. "Kamu tidak boleh menjudge seseorang seperti itu, terlebih kamu tidak mengenalnya dengan baik." "Kenapa Eomma justru membelanya?!" ucapku tidak terima. Andai saja Eomma tau apa yang sudah bocah kecil itu katakan padaku saat di toilet, mungkin Eomma akan memiliki pandangan yang berbeda. Beruntung aku bukan orang yang licik dengan membuka aib orang sembarangan meskipun di hadapan Eomma sekalipun. "Eomma bukan membela Seo Rin. Tapi Eomma mungkin lebih mengenal Seo Rin dari pada kamu." "Jika bocah itu memang mengenal Eomma dan paham jika aku sedang proses pendekatan dengan Hyun Soo atau bahkan bisa dibilang sedang di jodohkan dengan Hyun Soo, seharusnya dia bisa bersikap baik dan sopan terhadapku. Jika tidak melihat ke arahku, setidaknya pandanglah Eomma yang merupakan sahabat Bibi Min Rin, orang yang dia kenal juga. Bukannya bersikap baik dan sopan di pertemuan pertama, dia justru bersikap arogan, tidak sopan dan menganggapku seolah musuhnya! Jangan-jangan dia jatuh cinta pada Hyun Soo dan takut jika kakaknya itu akan diambil oleh wanita lain," celetukku dengan asal. Eomma lalu seketika memukul tanganku dengan keras. "Jaga bicaramu, jangan sembarangan!" omel Eomma. Tetapi aku justru cemberut sembari mengusap tanganku yang tadi dipukulnya. Bahkan demi Seo Rin, Eomma sampai melakukan kekejaman padaku. Bagaimana aku semakin tidak membencinya? "Yang jelas, percaya saja pada Eomma jika kamu harus lebih mengenal Seo Rin dari dekat. Jangan mengambil kesimpulan pada seseorang secepat itu. Eomma percaya jika Seo Rin adalah gadis yang baik. Jangan karena Seo Rin membuatmu memberikan keputusan yang terguncang pada Hyun Soo." "Aku tidak sekekanakan itu, Eomma. Aku bukan Seo Rin! Yang akan aku nikahi itu Hyun Soo, bukan Seo Rin. Jadi aku tidak masalah jika bocah itu tidak menyukaiku sampai kapan pun. Karena lihat saja, jika dia masih tidak sopan sampai aku menikah dengan Hyun Soo. Aku tidak akan mengizinkan Hyun Soo memberikan satu sen pun padanya!" ucapku dengan bersemangat. Licik memang, tapi siapa peduli. "Jadi kamu bahkan sudah membayangkan jika kelak menikah dengan Hyun Soo?" goda Eomma yang membuatku kembali kesal. "Ini hanya perumpamaan, Eomma!" Karena malas meladeni Eomma, aku lebih memilih kembali ke kamarku lalu tidur, seperti rencana awalku. -o0o- Hari ini restoranku sedang di desain untuk acara makan malam tim nanti malam. Hyun Soo dengan sengaja membooking seluruh restoran untuk acara penutupan tim dari sebuah drama yang dibintangi oleh salah satu aktris dan aktor dari agensinya. Beberapa wartawan bahkan sudah beberapa standby di depan restoranku. "Apakah makanannya sudah siap?" tanya Hyun Soo menghampiriku. Setelah Hyun Soo mengantarku kemarin dengan pembicaraan terakhir kami yang terasa kurang nyaman, hubungan kami sedikit mengalami perubahan. Bukan merenggang, aku hanya sedikit menghindarinya. Aku juga sengaja pergi ketika dia datang, aku sedang tidak mood untuk berbicara dengannya. Tapi karena semua sudah beres, maka aku juga harus bertindak profesional dengan muncul dan menyapanya seperti sekarang ini. "Makanan sudah siap, apakah mereka sudah hampir tiba?" tanyaku dengan ramah. "Iya, mereka sudah dalam perjalanan. Acara nanti juga santai, kamu tidak perlu terlalu khawatir," jawab Hyun Soo sembari tersenyum, tapi aku diam saja tak membalas senyumnya. "Bagaimana dengan para wartawan?" Aku pikir acara ini akan di rekam dan tayang di televisi atau youtube, ternyata duganku salah. Karena aku juga tidak pernah mengetahui hal semacam ini. "Mereka hanya akan memotret para aktris dan aktor yang datang. Mereka tidak bergabung, karena ini acara privat dinner," jelas Hyun Soo yang aku jawab hanya dengan anggukan. Aku lihat beberapa orang sudah memasuki restoran, Hyun Soo dengan tiba-tiba menggenggam tanganku dan membawaku mendekati meja yang sudah di isi oleh beberapa orang. Dari yang aku dengar, rating drama mereka sangat tinggi dan terkenal juga di negara lain. Aktor dan aktris yang membintangi juga papan atas, tapi karena aku bisa dikatakan hampir tidak pernah menonton drama, sehingga aku tidak mengetahui tentang mereka. Aku hanya beberapa kali saja menonton film Korea. Di restoranku juga sudah di siapkan layar besar untuk mereka semua menonton drama yang mereka bintangi bersama-sama. "Apakah perjalanan lancar?" tanya Hyun Soo dengan ramah. "Selamat siang, Tuan Hyun Soo. Saya sangat merasa tersanjung dengan kehadiran anda di sini," jawab seorang pria yang sudah cukup berumur itu. "Aku mengapresiasi karyamu. Kamu memang sutradara terbaik," puji Hyun Soo yang membuat pria itu tertawa kecil. "Perkenalkan ini Rachel, kekasihku," ucap Hyun Soo. Aku seketika menoleh ke arahnya dengan menatap Hyun Soo tajam. Bagaiman bisa dia memperkenalkan aku sebagai kekasihnya tanpa mendapatkan persetujuanku terlebih dahulu. "Perkenalkan Nyonya Rachel, saya Kim Tae Seok," ucap pria tua itu sembari mengulurkan tangannya. "Saya, Rachel,’’ jawabku dengan berusaha ramah. Padahal aku ingin segera pergi dan memukul kepala Hyun Soo dengan keras. Setelah berbasa-basi dengan sutradara itu, Hyun Soo menghampiri para aktris muda yang terlihat baru saja datang. Hyun Soo melepaskan tautan tangannya denganku lalu memeluk dua orang wanita secara bergantian, salah satu wanita itu bahkan tak sungkan untuk mencium pipi Hyun Soo. Apakah mereka terbiasa saling menyapa seperti ini? Lalu mengapa Hyun Soo tidak memeluk Tuan Kim Tae Seok, kenapa giliran pada wanita cantik dia memeluk dan tak sungkan saat pipinya di cium? Aku masih berdiri membeku di tempatku dengan jarak 2 meter dari Hyun Soo berdiri dan sedang bertawa kecil pada 2 wanita itu. Lalu beberapa orang silih berganti datang dan menyapa Hyun Soo dengan ramah. Aku bahkan sampai tak bisa menghitung sudah berapa banyak Hyun Soo memeluk wanita. Aku lalu menyadari kebodohanku kenapa harus berdiri seperti pecundang seperti ini hanya untuk menunggu Hyun Soo. Aku memilih pergi lalu berjalan menuju bar. "Aku mau orange juice." Mungkin karena moodku yang buruk dan bartenderku memahaminya hingga dia sedikit terbata saat menjawabku. Aku masih tidak mengerti tentang interaksi Hyun Soo pada wanita lain di luar sana. Aku tau dia ramah pada semua orang, tapi haruskah mengumbar pelukan pada setiap wanita? Lagi pula dia juga seorang pemimpin perusahaan, untuk apa pula dia bersikap seperti itu? Seharusnya dia tegas dan berwibawa sehingga orang-orang akan takut saat melihatnya. Sialan Rachel, kamu pikir Hyun Soo monster sampai orang harus takut padanya? Setelah orange juiceku datang, aku langsung menghabiskannya hingga tandas. Auraku sedang panas, jadi aku butuh untuk di dinginkan. Tapi kini aku menjadi merenung, untuk apa aku harus merasa kesal dan marah, aku tidak dalam hubungan yang jelas dengan Hyun Soo. Aku belum memberikan keputusan apa pun padanya, sehingga aku tidak memiliki hak untuk mengikat kebebasannya. Lagi pula aku yakin jika dia bersikap ramah seperti itu hanya sebagai bentuk profesionalitas, aku hanya terlalu berpikir banyak. Aku jadi mengingat jika aku juga selalu bersikap ramah pada semua kolegaku, meskipun tidak dengan mengumbar pelukan seperti Hyun Soo. Sadar Rachel, kamu tidak berhak merasa seperti ini! Untuk mengalihkan pikiranku, aku mencari managerku dan membahas perihal susunan acara dan bagaimana seluruh kesiapannya. Tapi baru berbicara sebentar, tiba-tiba Hyun Soo sudah berdiri di sampingku. "Aku mencarimu sejak tadi," ucapnya dengan nafas sedikit terenga-engah. Apakah dia baru berlari maraton? "Kamu bisa pergi," ucapku pada managerku. "Kenapa mencariku?" tanyaku dengan datar. "Aku sudah memintamu untuk menemaniku," jawab Hyun Soo. "Menemani yang seperti apa? Kamu meninggalkanku seolah aku tak berguna," ucapku dengan meliriknya sinis dan berjalan ke arah meja di mana seorang waitress sedang menata gelas. Aku memilih membantunya dari pada meladeni Hyun Soo yang sedang membuatku kesal. "Aku minta maaf karena asyik menyapa dan melupakanmu," ucap Hyun Soo terdengar menyesal. "Aku sudah mencarimu kemana-mana setelah menyadari kamu sudah tidak di belakangku," tambah Hyun Soo, tapi aku memilih mengabaikanya. "Ini acaramu, bukan. Bersikaplah profesional, aku masih harus bekerja. Sebaiknya kamu pergi!" ucapku dengan tegas. Aku melirik ke arah waitress yang berada di sampingku sekilas, aku ingin sekali tertawa melihat tanganya yang gemetar ketika membawa gelas. Mungkin dia merasa berada di tempat yang tidak tepat karena berada di tengah peperangan antara aku dan Hyun soo. "Tidak, kamu akan tetap ikut aku!" jawab Hyun Soo tak mau kalah. Dengan seenaknya dia menarik tanganku dan membawaku duduk di sebelah kursi yang memang diperuntukkan untuknya. Aku tidak mungkin bertingkah memalukan dengan menarik tanganku ketika Hyun Soo menariknya, aku terpaksa mengikutinya demi menjaga citraku di depan banyak orang, meskipun sebenarnya aku sangat merasa kesal karena Hyun Soo yang bertindak semena-mena terhadapku. Ada seseorang yang tengah memberikan sambutan, tapi aku menemukan beberapa orang yang mencuri pandang ke arahku dan juga Hyun Soo. Terlebih ke arah tautan tangan kami yang sengaja Hyun Sok pamerkan dengan meletakkannya di atas meja. Aku sudah berusaha untuk menariknya, tetapi Hyun Soo justru menggenggamnya semakin erat. Dari pada berbuntut panjang aku lebih memilih mengalah. Aku mengabaikan tatapan orang-orang padaku dan asyik mendengarkan sambutan orang-orang secara bergantian. Aku tidak ingin menganggap tindakan Hyun Soo ini sebagai bentuk simbol jika kami menjalin hubungan di hadapan orang banyak, tapi aku lebih menganggap jika Hyun Soo memang tengah berbuat seenaknya padaku. Aku tidak akan memikirkan hal indah terlebih dahulu lalu kecewa. Setelahnya acara pemotongan kue, lalu aktris utama sebagai perwakilan untuk memotong kue memberikan potongan pertamanya untuk Hyun Soo. Ketika Hyun Soo akan mengambil piring itu, wanita itu menolak lalu memilih untuk memberikan suapan pada Hyun Soo. Haruskah aku berpikir jika wanita ini tertarik pada Hyun Soo? Tapi aku memilih tidak peduli dan tetap menampilkan senyum palsuku, aku bahkan juga ikut bertepuk tangan ketika yang lain bertepuk tangan. Tapi yang dilakukan Hyun Soo berikutnya membuatmu terkejut, dengan sisa kue dan sendok yang sama Hyun Soo mengambil potongan kue itu dan menyuapkan ke arahku. Aku sempat membeku sekilas dan tidak membuka mulutku. "Buka mulutmu atau aku membukanya dengan yang lain," bisik Hyun Soo dengan menggoyangkan alisnya. Sial, dia menggodaku di hadapan banyak orang. Lalu dengan terpaksa aku menerima suapan Hyun Soo dan terdengar suara riuh tawa dari orang-orang. Bukan hanya di situ, Hyun Soo bahkan mencium keningku di hadapan banyak orang. Apa yang sudah dia lakukan? Kenapa dia membuatku malu di hadapan banyak orang, mengapa aku juga tidak bisa menolak pesonanya dan bodohnya aku mengapa aku harus merasa senang dengan apa yang Hyun Soo lakukan. Apakah kini aku harus mengakui jika aku memang tertarik dengan Hyun Soo? Tapi haruskah secepat ini? Sanggupkah jika aku akan merasa kecewa lagi nantinya? Melihat bagaimana interaksi Hyun Soo dengan para wanita.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN