7. Bersikap Menyebalkan

2188 Kata
Aku selesai mandi dan baru keluar dari bilik kamar mandi, tetapi Seo Rin sudah menghadang jalanku dengan berdiri sembari melipat tangannya di depan d**a. Aku mengeryit heran ketika melihat Seo Rin yang menatapku dengan tajam. Ada apa lagi dengan bocah satu ini? Aku ingin mengabaikannya tetapi dia menghadang jalanku dengan menjulurkan tangannya. Lalu bagaimana caranya aku bisa lewat? "Apa maumu?" tanyaku dengan malas. "Kamu bisa menutupi semuanya dari semua orang, tetapi tidak dariku!" jawabnya dengan ketus. Aku sebenarnya tidak peduli dengan apa maksudnya, tetapi aku tidak ingin ikut menjadi gila dengan meladeni tingkah Seo Rin. "Bagus kalau kamu tau," jawabku dengan acuh lalu menyingkirkan tangannya dan berjalan ke arah kaca untuk mengecek penampilanku. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu menjalin hubungan dengan Hyun Soo Oppa!" ucap Seo Rin dengan tajam dan ketus. Dari pada aku pusing memikirkan manusia tidak penting sepertinya, lebih baik aku menganggap dia tidak ada. "Wanita sepertimu pasti hanya akan memanfaatkan Oppa saja!" Dia masih tak gentar untuk mengeluarkan kata-kata pedasnya. "Tidak ada orang lain lagi di sini! Tidak perlu berakting di depanku!" sentak Seo Rin lebih keras dari sebelumnya. Tetapi aku dengan santai justru menyisir rambut. Untuk apa meladeni bocah manja sepertinya? Bukankah hanya akan membuang-buang waktu dan tenagaku? "Apa kau mendengarku, sialan!" Seo Rin menarik lenganku dengan kasar hingga kini tubuhku menghadap ke arahnya. Dia mematapku dengan tajam, kedua tangannya juga terkepal dengan erat. Jadi sekarang dia benar-benar tengah marah? Aku pikir hanya merajuk saja. "Jika ingin dihargai, maka hargai dulu orang lain. Berapa usiamu sampai aku harus menjelaskan ini padamu," jawabku dengan dingin. Aku menatap Seo Rin sama tajamnya dengan yang dia lakukan padaku. Karena aku sudah selesai aku ingin segera keluar dari kamar mandi, tapi dia kembali mencekal pergelangan tanganku. "Jika niatmu hanya ingin memanfaatkan Hyun Soo Oppa, segera tinggalkan dia. Aku akan memberikanmu sebanyak yang kamu mau, tapi tinggalkan Oppa! Kau tak pantas untuknya," ucap Seo Rin dengan datar dan dingin. Ini berbeda dengan karakter Seo Rin yang bar-bar seperti sebelumnya. "Kamu ingin memberikan apa pun yang aku mau? Benarkah? Jangan sampai kamu menyesali ucapanmu," jawabku sembari tersenyum sinis ke arahnya. "Wanita sepertimu aku sudah bisa menebaknya!" jawab Seo Rin dengan tersenyum miring. "Baiklah, aku bersedia untuk meninggalkan Hyun Soo, tetapi dengan syarat." Seo Rin menatapku dengan alisnya yang berkerut, dia nampak tidak sabar mendengar jawabanku. "Belikan aku gedung 20 lantai secara lunas dengan menggunakan hasil keringat dan jerih payahmu sendiri tanpa bantuan kakak dan orang tuamu, apakah kamu sanggup adik kecil?" Aku menyeringai senang melihat ekspresi Seo Rin yang berubah pias. "Tidak sanggup?" tanyaku dengan ekspresi mengejek. "Tutup mulutmu!" balas Seo Rin dengan tajam. "Jangan menyombongkan sesuatu yang bukan milikmu! Seharusnya kamu sadar di mana posisimu dalam keluarga, kontribusi apa yang sudah kamu berikan dan sekeras apa usahamu untuk meraih kesuksesan. Kamu terlalu sombong dan arogan, menganggap jika semua orang sama buruknya denganmu. Iya denganmu! Kamulah yang menilai semuanya dengan uang dan materi. Padahal sejujurnya kamu tidak memiliki apa-apa dan tidak mampu menghasilkan apa-apa." Aku tersenyum miring melihat mata Seo Rin yang berkaca-kaca. "Berhenti menjadi pecundang dan terus merepotkan kakakmu! Aku tidak akan meminta maaf atas apa yang sudah aku katakan padamu, karena jika kau sudah berani menyinggung perasaan orang lain maka sudah seharusnya kamu juga siap untuk tersinggung, gadis manja!" Aku menyentak genggaman tangan Seo Rin hingga terlepas lalu berjalan meninggalkannya. "Kamu tidak tau apa pun tentangku!" teriak Seo Rin sebelum aku meraih kenop pintu. "Ya, aku memang tak tau apa pun tentangmu. Dan aku juga tidak berniat untuk ingin tau," jawabku dengan acuh lalu meninggalkan Seo Rin di kamar mandi. Bocah itu memang sesekali harus di berikan pelajaran supaya dia tidak terus semena-mena padaku. Aku bukan gadis bodoh dan lemah yang bisa dia injak-injak sesuka hatinya. Dia pikir aku akan ketakutan dengan ancaman dan segala sikapnya padaku? Jangan harap aku kalah pada manusia tidak berguna sepertinya! Aku pikir acara keluarga yang sangat membosankan ini akan berhenti sampai di sini, tetapi aku salah. Karena setelahnya kami masih akan makan siang bersama. Meskipun jam makan siang sudah berlalu sejak 2 jam yang lalu. Ketika berangkat tadi aku bersama Eomma, tetapi kini Eomma memaksaku untuk ikut ke mobil Hyun Soo. Sedangkan Hyun Soo yang ternyata datang bersama Seo Rin, kini meminta adiknya itu untuk ikut bersama kedua orang tuanya. Setelah pembicaraan tadi, aku pikir Seo Rin akan berubah dan menyadari kesalahannya, tapi yang ada bocah tidak tau diri itu masih saja bersikap menyebalkan seperti biasa. Dia menolak keras untuk ikut dengan mobil orang tuanya dan bersikukuh untuk ikut di mobil Hyun Soo, sedangkan aku yang tak ingin nampak bodoh di sana memilih untuk ikut bersikukuh naik di mobil Eomma. Aku tidak peduli dengan ekspresi Hyun Soo yang nampak kesal padaku, karena seharusnya yang pantas dia marahi adalah adiknya yang sudah dewasa  tapi bertingkah seperti bocah itu. Aku sampai penasaran bagaimana cara Bibi Min Rin dan Paman Jong Pal merawat putrinya hingga bisa bersikap layaknya anak-anak seperti ini? Aku juga melihat Hyun Soo juga selalu mengalah dan menuruti keinginan adiknya. Apakah ternyata pemikiranku benar? Jika Seo Rin mengidap penyakit keterbelakangan mental? -o0o- Sebenarnya aku ingin sekali segera pulang dan berbaring dengan nyaman di ranjangku, tetapi makan siang kali ini entah mengapa terasa begitu lama. Aku juga tidak terlalu menikmati makan siang kali ini, yang pertama karena aku tidak terlalu berselera dengan menu makanannya dan yang kedua karena aku memang sudah tidak mood sejak awal. Apalagi melihat Seo Rin yang terus mencari perhatian sejak tadi. Dasar gadis manja! "Kamu tidak berselera?" tanya Hyun Soo perhatian. "Aku lelah, ingin segera pulang," jawabku dengan jujur. Aku menoleh ketika merasakan tangan Eomma yang menggenggam tanganku, apakah dia mendengar suaraku? Padahal aku sudah menjawab sepelan mungkin. "Bagaimana perkembangan restoranmu, Rachel," tanya Paman Jong Pal padaku. Sejak tadi dia memang selalu mencari topik pembicaraan untuk berbincang denganku, meskipun hanya aku jawab dengan jawaban yang singkat tapi jelas. "Selalu mengalami peningkatan. Apalagi setelah digunakan untuk acara formal seperti pertunangan dan pernikahan, restoran kami semakin dikenal masyarakat," jawabku dengan ramah. "Aku juga dengar Hyun Soo sekarang lebih sering bertemu para kolega di sana," ujar Paman Hyun Soo sembari tersenyum mengejek ke arah Hyun Soo. "Ya, Hyun Soo memang sering datang. Tapi aku tidak pernah ingin ikut campur untuk segala urusannya," jawabku. Aku tidak ingin jika Paman Jong Pal menganggap aku memanfaatkan Hyun Soo untuk memperkenalkan restoranku di depan para koleganya, karena yang sesungguhnya terjadi memang Hyun Soo yang datang dengan sendirinya. "Tak perlu meragukan restorannya, karena aku bahkan tau seluk beluknya sejak pertama kali di dirikan," canda Bibi Min Rin sembari tertawa. "Aku dengar kamu tidak menyukai masakan Korea, kenapa? Kamu sudah melupakan rasa dari tanah kelahiranmu?" Paman Jong Pal memang bertanya dengan santai tanpa berniat untuk menyinggung, tapi entah mengapa ucapannya seolah sedang menghakimiku. "Aku bukan tidak menyukai masakan Korea, hanya lidahku sudah beradaptasi dengan masakan barat sejak aku tumbuh dewasa. Sehingga beberapa masakan Korea tidak cocok di lidahku, bukan berarti semuanya," jawabku dengan mencoba tersenyum. Meskipun sebenarnya aku merasa tersinggung, di sini aku menghargai Eomma yang menjadi sahabat Bibi Min Rin dan Paman Jong Pal sehingga aku tidak berbicara dengan sarkas pada mereka. "Bibi akan buatkan lasagna untukmu kapan-kapan, apa kamu suka?" tanya Bibi Min Rin dengan berbinar. "Iya aku suka, Bibi," jawabku dengan tersenyum. Kali ini aku tersenyum dengan tulus, bukan lagi terpaksa. "Eommoni, tapi lasagna makanan favoritku! Kenapa membuat untuknya juga?" Aku memutar bola mataku malas mendengar rengekan Seo Rin yang sangat tidak penting. "Akan Eomma buatkan untuk kalian berdua, Eomma tidak akan melupakanmu, Sayang." Aku malas sekali melihat drama picisan keluarga seperti ini. Aku sedikit mencondongkan tubuhku mendekat ke arah Eomma dan berbisik ke arahnya "Kapan kita pulang, Eomma?" Eomma lalu menoleh ke arahku dengan cemberut. "Nanti," bisik Eomma dengan gerakan bibirnya. Aku menoleh ketika merasakan Hyun Soo yang menggenggam tanganku. "Kenapa?" tanyaku, tapi Hyun Soo justru tersenyum. "Kami ingin jalan-jalan, apakah boleh undur diri terlebih dahulu?" ucap Hyun Soo yang membuatku membulatkan mata ke arahnya. Ya Tuhan akan di bawa kemana lagi aku? Aku ingin sekali segera pulang dan tidur. Setelah berenang tubuhku benar-benar terasa lelah. "Oppa mau kemana? Aku ikut!" rengek Seo Rin, tapi kali ini aku terkejut karena Hyun Soo menolak adiknya dengan tegas, tidak seperti sebelumnya. "Tidak! Kamu tetap di sini! Kamu tidak bisa terus mengganggu kencanku, Seo Rin," ucap Hyun Soo dengan tegas. "Tapi jika kalian berbuat macam-macam?" Aku sampai ingin tertawa dengan keras, apa yang dipikirkan bocah ini sehingga berpikir jika kami akan berbuat macam-macam. "Itu urusan kami dan kamu tidak perlu tau. Kamu masih belum cukup umur untuk memahami segalanya," jawab Hyun Soo yang membuat Seo Rin memberengut kesal. Belum cukup umur apanya? Bahkan adiknya itu sudah berumur 25 tahun, Hyun Soo pikir umur berapa wanita bisa di sebut cukup umur? "Seo Rin, sudah! Jangan ganggu Oppamu lagi!" timpal Paman Jong Pal dengan tegas. Aku ingin tertawa melihat ekspresi Seo Rin yang mati kutu, rasakan itu bocah kecil! Setelahnya aku dan Hyun Soo berpamitan pergi. Aku merasa kembali bebas setelah keluar dari restoran tadi, di dalam sana terasa sangat sesak dan formal. "Kita akan kemana?" tanyaku sembari menatap Hyun Soo yang bersiap akan melajukan mobilnya. "Aku sendiri tidak tau, kita bisa jalan-jalan." Aku menatap Hyun Soo dengan datar, aku tipe orang yang selalu memikirkan perencanaan, sehingga pergi tanpa tujuan jelas bukanlah diriku. "Aku tidak suka pergi tanpa memiliki tujuan yang jelas," ucapku sembari menatap Hyun Soo. Sedangkan dia justru menggaruk kepalanya dan tampak bingung. "Apa kamu memiliki referensi kita akan kemana?" tanya Hyun Soo yang membuatku mendengus malas. "Tidak, aku hanya ingin segera pulang dan tidur," jawabku dengan jujur. "Kamu tidak nyaman denganku?" Aku mengerutkan keningku. "Mengapa kamu berpikir begitu?" tanyaku yang membuat Hyun Soo menghela nafasnya. "Jika kamu nyaman, kamu tidak akan ingin cepat pulang seperti ini. Seolah bersamaku terasa membosankan dan tidak nyaman," jawab Hyun Soo dengan lesu. "Kamu juga tidak banyak bicara sejak awal, apa ini semakin di perparah dengan kejadian tadi?" tambah Hyun Soo. Apakah dia berpikir aku marah karena dia menciumku? Padahal aku merasa biasa saja, aku sudah melupakan rasa maluku dengan cepat. "Tentang ciuman tadi? Aku tidak merasa harus menghindarimu karena itu," jawabku. "Lalu kenapa kamu bertingkah seperti ini?" tanya Hyun Soo dengan serius. "Karena sejak awal aku memang sudah tidak suka dengan rencana berenang seperti ini. Aku melakukannya karena paksaan Eomma bukan karena diriku sendiri. Jadi wajar jika aku menjalani hari ini tidak dengan sepenuh hati," jelasku dengan jujur. Aku bersikap seperti ini karena murni diriku yang sedang bad mood, bukan karena ciuman tadi. "Aku merasa sedikit bersyukur jika begitu." "Kamu tidak berniat meminta maaf karena sudah menciumku tanpa izin?" "Kamu juga menikmatinya," jawab Hyun Soo dengan santai. Kurang ajar sekali, bukan? "Kapan kita jalan!" ucapku dengan ketus. "Baiklah kita jalan," jawab Hyun Soo sembari tersenyum lebar. "Apakah aku harus meminta izin terlebih dahulu untuk mencium kekasihku sendiri?" ucap Hyun Soo yang membuatku sontak menoleh ke arahnya. "Perlu diingat jika kamu bukan kekasihku!" jawabku dengan tegas. "Terserah saja, karena bagiku kamu kekasihku," jawab Hyun Soo sembari terkekeh geli. Aku mengabaikan Hyun Soo, lebih memilih menatap jalanan lewat jendela. Aku rasa mobil Hyun Soo berjalan menuju pulang, jadi dia menuruti ucapanku untuk mengantarku pulang? "Kita pulang?" tanyaku sembari menoleh ke arah Hyun Soo. "Bukankah kamu bilang lelah?" "Iya, tapi aku tidak mengira jika kamu menyetujuinya dengan mudah. Mengingat kamu yang suka memaksa," jawabku dengan santai. "Aku tau kamu lelah, aku juga setuju jika kamu memang perlu istirahat," jawab Hyun Soo sembari tangannya mengusap rambutku. "Bagaiman dengan Seo Rin?" tanya Hyun Soo sembari menatap ke arahku saat kami harus berhenti karena lampu lalu lintas. "Bagaimana apanya?" tanyaku tidak mengerti. "Kamu menyukainya?" "Tidak," jawabku dengan jujur. "Kenapa?" aku bisa melihat raut kecewa di wajah Hyun Soo. Andai saja dia tau bagaimana kelakuan asli adiknya, dia tidak harus menanyakan mengapa aku sampai tidak menyukai adiknya. "First impression, aku tidak menyukainya." Aku bukan wanita munafik yang akan berpura-pura menyukai Seo Rin di depan Hyun Soo, padahal kenyataanya aku benar-benar tidak menyukainya. "Kamu hanya belum mengenalnya secara dekat, jika kamu sudah mengenalnya aku yakin kamu akan menyukainya," jawab Hyun Soo mencoba tersenyum. Suka apanya? Tingkah adiknya jauh dari kata baik, bagaimana aku bisa menyukainya. "Semoga saja," jawabku dengan acuh. Bahkan tidak sekali dua kali bocah itu membuatku sangat kesal. "Mungkin dia hanya ingin menilaimu, aku akui dia sedikit menyebalkan hari ini. Tapi aku percaya di lain waktu dia tidak akan seperti itu," ucap Hyun Soo. "Aku tau dia memang adikmu, tapi kamu tidak perlu berusaha terlalu keras untuk membuatku menyukainya. Karena aku juga memiliki pandangan dan pendapatku sendiri tentang seseorang," jawabku dengan tegas. Aku tidak ingin seolah dipaksa untuk menyukai Seo Rin, yang pada kenyataanya aku memang bersikap netral. Aku sarkas karena dia yang bertingkah menyebalkan dan tidak menghargaiku terlebih dahulu. Jika dia bisa menjadi sopan dan bertingkah sesuai dengan usianya, aku juga akan memperlakukan dia dengan baik. Karena yang aku percayai sejak dulu, sikapku tergantung sikap orang terhadapku. Aku bukan malaikat yang akan bersikap baik pada orang yang menjahatiku dan aku juga bukan orang munafik yang berpura-pura menyukai seseorang hanya untuk mengambil simpati dan perhatian orang lain. Aku tidak masalah dipandang buruk dan arogan oleh orang lain, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Dan orang yang benar-benar mengenalku dengan baik, sudah paham bagaimana diriku.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN