PERSAINGAN
Saat malam yang tenang ditengah suasana kota Bern, Caroline tidak pernah bersuara. Sedangkan Belle dan Anne dengan semangat berusaha akan merebut perhatian Janson.
Hari itu Janson datang setelah menyelesaikan kuliahnya di Inggris. Mrs.Ellie telah mengincar Janson sedari dia kecil karena ketampanan dan sifat baik nan rendah hatinya. Berbeda dengan Damian kakak kandung Janson yang angkuh, arogan dan tidak menyukai kelima anak Mrs.Ellie sedari dulu.
Kedua putranya, Martin dan Stuart diperintahkan Mrs.Ellie untuk berlaku baik kepada Janson, meskipun akan ditentang saudara kandungnya, Damian.
“Ayah kalian wafat meninggalkan banyak hutang dan kemiskinan. Semenjak itu kita harus hidup susah dan aku harus menjadi pengasuh keluarga Mr.William demi mengurus kalian. Aku sudah semakin tua, aku ingin mengakhiri kemelaratan ini dengan jalan yang lain." Mrs.Ellie nampak serius membicarakan hal itu.
“Tentu, dengan adanya kami semua beban di pundak Ibu harusnya sudah berkurang,” jawab Belle anak kedua Mrs.Ellie.
“Bukan begitu, kalian adalah anak-anakku yang tampan dan cantik. Tuhan memberikan anugerah itu. Aku punya rencana untuk berusaha membuat Tuan Janson jatuh hati kepada salah satu diantara kalian. Dengan begitu saat salah satu dari kalian menikah dengan orang kaya, harta Tuan Janson akan jatuh kepada kalian.”
Belle menillik kepada Anne, anak tetua Mrs.Ellie yang terang-terangan mengaku menyukai Tuan Janson kepada Ibunya, Mrs.Ellie. Sedangkan Caroline semakin bungkam dan enggan mengakui perasaannya karena menghormati kakak tetuanya.
Perbincangan telah usai ditutup dengan binar-binar harapan dari bola mata Mrs.Ellie yang sudah sangat muak ingin mengakhiri penderitaan yang telah dirasakannya selama 10 tahun kebelakang.
Setelah perbincangan itu, Caroline dan keempat anaknya kembali ke kamarnya masing-masing. Rumah kecil itu sengaja dibangun oleh Mr.William untuk tempat tinggal Mrs.Ellie dan kelima anaknya.
Caroline lalu memiringkan badannya. Memikirkan wajah Janson yang selalu melekat dihatinya. Berkali-kali ditepisnya perasaan itu, kini semakin berat karena Anne menyukai Janson. Setelah perbincangan semalam, persaingan seolah ditanamkan oleh Mrs.Ellie kepada ketiga anaknya.
Caroline tahu, bahwa Belle dan Anne tidak pernah menyerah akan hal apapun. Kedua sifat kakaknya yang keras kepala dan berani bertindak demi memenuhi keinginan, membuat Caroline bimbang.
Sampai pagi menjelang, Caroline tidak tertidur dan perasaannya semakin tak karuan. Ia lalu bangkit dan pergi membasuh tubuhnya, bersiap-siap membantu Mrs.Ellie membersihkan seluruh rumah kediaman Mr.William dan Mrs.Elisabeth.
“Caroline, bersihkan gudang,” pinta Mrs.Ellie.
Sesaat Belle dan Anne menatapnya setengah puas. Caroline menunduk karena tidak tahu harus berbuat apa.
Penyambutan Janson sebagai orang terkaya dilingkungannya, membuat Mrs. Ellie yakin akan perubahan hidupnya. Mr.Ellie bersikeras untuk membuat anak orang paling kaya, Janson, menyukai salah satu dari ketiga puterinya.
Putri Mrs.Ellie bernama Caroline, Anne dan Belle. Kedua putranya Bernama Stuart dan Martin yang menyetujui rencana Ibunya, Mrs.Ellie. Sedangkan saudara Janson, bernama Damian yang tidak menyukai keluarga dari Pengasuh Mrs.Ellie tentu akan menentang rencana Mrs.Ellie.
Semenjak Mr. Ron wafat 10 tahun yang lalu, Mrs.Ellie bekerja untuk keluarga Mr.William dan Mrs.Elisabeth di lingkungannya. Satu-satunya keluarga yang sangat kaya raya dengan rumah yang luas dan hamparan taman yang menutup lingkungan Mrs.Ellie dari kesan orang-orang biasa.
“Aku?" Caroline kembali bertanya.
“Ya, kamu,” ucap Mrs.Ellie,”Belle dan Anne, ikut aku untuk menyambut Janson saat turun dimobil.” Mrs. Ellie menuntun kedua putrinya keluar rumah.
Hati Caroline seketiga bergejolak. Ia urungkan niatannya untuk mencintai Tuan Janson, sebab baginya hal itu mustahil. Anne dan Belle menahan tawa menyaksikan tugas Caroline.
Caroline pun berjalan pelan menaiki anak tangga dengan sedikit kecewa, sebab ia tidak mendapat kesempatan menyambut Janson yang sudah dicintainya sedari remaja.
Didepan halaman rumah, Janson sudah turun diantarkan oleh supir. Perangainya yang ramah dan rendah hati membuat wajah tampannya semakin teduh nan lembut.
Anne dan Belle mulai terlihat salah tingkah. Persaingan antar saudara dimulai saat Mrs.Ellie menyuruh ketiga puterinya untuk merebut perhatian Tuan Janson.
Anne menawarkan diri membawakan koper Janson, Belle membawakan jas yang sudah dilepas Janson. Kedua kakak beradik berjalan di belakang Janson.
Mrs.Ellie memperhatikan sikap puterinya. Mrs.Ellie dan kedua puterinya pun langsung berlari kedapur setelah menyimpan barang-barang Janson.
Caroline tidak nampak sedari tadi. Rupanya Anne dan Belle memiliki rencana jahat untuk adiknya. Anne terlebih dahulu mengusulkan hal tersebut, Belle menyetujuinya karena keduanya tau adiknya adalah perempuan tercantik lagi berhati lembut.
Anne maupun Belle tidak ingin Janson jatuh ke tangan Caroline. Sementara rencana jahat tengah dijalankan. Anne dan Belle sudah terlihat sangat rapi dan memakai baju pelayan. Anne memakai wewangian, ia mau membagian parfumnya kepada Belle.
Anne terlihat sibuk bolak balik menghidangkan jamuan di ruang makan untuk acara makan malam penyambutan Janson. Sesekali matanya mendelik seolah ingin memastikan pintu gudang yang tetap terkunci rapat.
Caroline sedang membersihkan gudang dengan cekatan. Ia belum menyadari kejahatan dua saudara kandungnya. Caroline duduk sebentar di lantai yang terbuat dari kayu, ia mengadah ke celah-celah dinding yang menimbulkan sinar matahari. Bern cerah sekali. Caroline tersenyum lagi.
Sementara Janson menikmati makan malamnya bersama Damian, Kakak kandungnya serta kedua orangtuanya, Mr.William dan Mrs.Elisabeth.
“Ini sangat lezat, Ellie.” Mrs.Elisabeth memuji kepandaian Mrs.Ellie dalam memasak.
“Terima kasih Nyonya.”Mrs.Ellie lantas mengambil kembali hidangan dan ditatanya kembali di meja makan yang bundar besar.
“Caroline dimana, Ellie?” Mrs.Elisabeth menyadari ketidakhadiran Caroline disana.
Anne dan Bella saling menatap panik.
Mrs.Ellie menyaksikan anaknya keheranan. Sedari awal, Anne telah berniat jahat kepada adiknya, Caroline. Anne sangat iri akan kecantikan Caroline. Anne sangat tidak menyukai adiknya.
Anne menghasut Belle untuk ikut tidak suka kepada Caroline. Belle tidak berkata apapun, bibirnya bungkam. Akan tetapi matanya mengisyaratkan pertanyaan kepada kakaknya.
Caroline masih ada di gudang belakang, ia tidak mampu keluar. Caroline menyadari dirinya dikunci sehingga ia tidak dapat membantu kedua Kakaknya menjamu Janson dan Keluarga Mr.William.
Caroline kebingungan. Sudah malam menjelang tetapi ia tidak menemukan cara untuk keluar. Beberapa kali ia berusaha berteriak dan mengetuk-ngetuk pintu, namun karena gudang berada di paling belakang dibawah tanah, Caroline tidak juga mendapat pertolongan.
“Ia ada di gudang belakang, Nyonya.” Mrs.Ellie menunduk malu karena perbuatan Caroline yang tidak ikut bersamanya.
Mrs.Ellie mengira bahwa Caroline tidak menghormati keluarga Mr.William. Tuan besar yang telah menyelamatkan kehidupan Mrs.Ellie dari kebangkrutan dan kelaparan.
Wajah Mrs.Ellie memerah dan menahan amarah kepada Caroline. Anne hanya mendehem kepada Belle.
Penyambutan Janson yang penting malam itu ditengah meja makan yang besar sebagai orang terkaya dilingkungannya, membuat Mrs.Ellie yakin akan perubahan hidupnya.
Mr.Elie bersikeras untuk membuat anak orang paling kaya, Janson, menyukai salah satu dari ketiga puterinya.
Putri Mrs.Ellie bernama Caroline, Anne dan Belle. Kedua putranya Bernama Stuart dan Martin yang menyetujui rencana ibunya, Mrs.Ellie.
Semenjak Mr. Ron wafat 10 tahun yang lalu, Mrs.Ellie bekerja untuk keluarga Mr.William dan Mrs.Elisabeth di lingkungannya. Satu-satunya keluarga yang sangat kaya raya dengan rumah yang luas dan hamparan taman yang menutup lingkungan Mrs.Ellie dari kesan orang-orang biasa.
Mrs.Ellie sangat kecewa dengan sikap Caroline. Mrs.Ellie berlari kebelakang, diam-diam diikuti Janson. Mr.William dan Mrs.Elisabeth keheranan karena Janson mengikuti Mrs.Ellie.
Caroline mulai berusaha membuka pintu gudang. Cahaya sudah meredup. Matahari sudah singgah semenjak pagi. Petang telah menjelang, acara makan malam sedang berlangsung. Caroline berteriak-teriak. Namun tidak ada yang mendengar.
Janson menuruni tangga-tangga kayu. Anne dan Belle terdiam dan berjalan ke dapur. Keduanya sangat gelisah. Janson mengambil alih saat Mrs.Ellie mendapati Caroline yang meminta pertolongan karena tidak bisa keluar.
Dengan tenang Janson menggenggam slot kunci gudang dan menggesernya perlahan. Janson membukanya dengan lembut memastikan tubuh Caroline tidak terkena benturan pintu yang dibukanya. Terdengar suara pintu yang berdecit karena sudah usang.
Sedetik, Caroline dan Janson saling bertatapan. Jemari Caroline tiba-tiba saja bergetar hebat. Mulutnya menjadi sangat gugup. Bola matanya nampak resah menatap wajah Janson yang sangat tampan. Jantungnya seakan membuncah dan tidak karuan.
"Kamu baik-baik saja, Caroline?" Janson bertanya menampar kesadaran.
Mulutnya hanya menganga tanpa suara. Mrs.Ellie diam memperhatikan Janson. Tiba-tiba Mr.William dan Mrs.Elisabeth datang menghampiri Janson ke gudang bawah.
"Kamu terjebak disini, Caroline?" Mrs.Elisabeth mampu membaca situasi.
Anne dan Belle buru-buru berlari kebawah dan ikut melihat keributan. Caroline kebingungan masih tidak menjawab. Caroline keluar dari gudang dengan jemarinya yang gemetar hebat. Janson masih ada dihadapannya.
Seketika Caroline tidak bisa melangkah, kakinya kaku, pandangannya kabur. Janson terngiang-ngiang dikepalanya. Caroline pun tidak sadarkan diri dan jatuh tepat dihadapan Janson.
Dengan cepat, Janson menangkap tubuh Caroline dan menahannya.
"Bawa ia ke atas, Janson." Mr.William berkata. Mrs.Elisabeth mengikuti suaminya berjalan.
Wajah Anne memerah menahan api cemburu. Rencananya gagal karena peristiwa tersebut membuat Janson lebih dekat dengan Caroline.
"Bantu adikmu," Mrs.Ellie berteriak kepada Anne, lalu mengikuti Tuan Janson.
***