DOKTER JANSON

1110 Kata
Tubuh Caroline diletakkan di atas sofa. Seharian Caroline tidak makan dan minum sehingga ia mengalami dehidrasi. Caroline belum juga kunjung sadar. Janson memberikan tindakan, dia memberikan minyak aromatherapi. Kepala Caroline diletakkan diatas bantal. Mr.William dan Mrs.Elisabeth gusar. Acara makan malam menjadi berantakan karena Caroline pingsan. Anne dan Belle begitu terkejut dengan apa yang telah dilakukannya. Sedari awal, niatan itu telah terbersit di hati Anne kepada adiknya, Caroline. Mr.William duduk disofa sebrang, memperhatikan puteranya yang pandai sebagi lulusan Kedokteran. Mrs.Elisabeth duduk disebelah suaminya. Mrs.Ellie berdiri dengan banyak tanya. Mrs.Ellie melirik Anne. Anne menunduk pura-pura tidak tau. “Siapa yang menguncinya di gudang?” Janson bertanya. Hening tidak ada suara. Janson memperhatikan bola mata yang ada dihadapannya satu persatu. Dari mulai Damian, Stuart, Martin, Mrs.Ellie, Anne dan Belle. Namun tidak ada jawaban yang keluar. Janson diam dan mendekatkan aromatherapi lagi ke hidung Caroline yang masih belum sadar. Anne dan Belle terlihat ketakutan. Keringat mengucur di dahi Anne, menyaksikan nanar Janson yang tajam, Anne tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Anne menjadi ciut di depan Janson yang rupawan. Damian duduk dengan santai dan tertawa menyaksikan kebohongan kakak beradik, Anne dan Belle. Damian menyandarkan tubuhnya ke sofa dan buka suara. “Mengakulah saja, kalian,” tatap Damian kepada Anne dan Belle. Janson terhenyak melihat Damian. Sorotannya berubah memperhatikan Anne dan Belle yang tertunduk lesu. Mrs.Ellie menahan malu atas apa yang dilakukan puterinya. “Ini hanya kesalahpahaman, Nyonya.” Mrs.Ellie menjernihkan suasana. Damian tidak suka dengan Mrs.Ellie karena pandai menutupi kesalahan. Damian mengerutkan bibirnya kebawah menyoroti Janson yang penuh tanda tanya. “Katakan yang sebenar-benarnya, Anne dan Belle.” Damian dengan santainya berkelakar. Janson mulai curiga dengan Anne dan Belle. Janson menunggu jawaban keduanya. Anne dan Belle mengunci mulutnya rapat. Anne memelas kepada Mrs.Ellie seolah meminta pertolongan. Janson heran melihat keluarga Mrs.Ellie. Mrs.Elisabeth mulai geram. Mr.William pergi dan tidak ingin ikut campur. “Selesaikan urusan ini, Ellie.” Mr.William mulai muak. Damian masih dengan santai duduk disofa. Tiba-tiba Caroline tersadar. Ia menyaksikkan Janson telah ada disebelahnya. Mata Caroline memerah, bibirnya pucat, ia sangat lesu. Janson memberikan segelas air hangat dicampur madu, Janson memegangi gelas bening tersebut, didekatkannya ke bibir Caroline yang mungil. Caroline kembali terpana menyaksikan kebaikan Janson. “Habiskan, Caroline,” ucap Janson. “Tanyakan kepada Caroline, ia akan tahu.” Damian berseloroh kepada Janson. Caroline duduk meneguk habis air madu tersebut. Ia duduk ditopang, matanya masih buram dan butuh beberapa waktu untuk mengingat apa yang telah terjadi di gudang. Caroline duduk memejamkan matanya sebentar, lalu dibukanya lagi. Berat mengatakan apa yang terjadi, sebab Caroline tau Anne yang menguncinya dari dalam. Caroline sempat mendengar suara Anne dan Belle berbisik-bisik lalu pergi, namun saat itu Caroline tidak menghiraukannya. “Siapa yang melakukan itu Caroline?” tanya Damian. Caroline merangkai kata-kata. Mulutnya terbuka dan otaknya mulai berpikir. Tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya, bukan karena takut akan tetapi demi menyelamatkan nama baik keluarganya. Tentu rencana Mrs.Ellie adalah rahasia bagi keluarganya yang tidak boleh diketahui keluarga Mr.William dan Mrs.Elisabeth. Caroline gagap. Caroline menatap Mrs.Ellie, Ibunya yang sekaan memohon untuk menyudahi apa yang tengah terjadi. Mrs.Elllie dalam hatinya mengetahui bahwa Anne yang melakukan itu. Akan tetapi, Mrs.Ellie tidak ingin keburukan keluarganya diketahui oleh keluarga Mr.William. “Apakah aku harus mengatakan kebenarannya, Caroline?” Tanya Damian. “Maksud anda, Tuan Damian?” Caroline pura-pura tidak mengetahuinya. Janson ingin mengetahui kebenarannya dari mulut Caroline langsung. “Aku ingin mengetahui kebenarannya darimu, Caroline,” pinta Janson. Caroline diam menunduk. Otaknya sedang ribut dan berpikir keras. Caroline lalu tersenyum menemukan jawaban. “Tuan Janson, maafkan keributan ini yang menghancurkan acara makan malam anda. Maafkan apa yang telah aku lakukan, ini karena kesalahanku sendiri. Pintu gudang yang sudah usang memang sering macet dan sering membuat pintu terkunci dari dalam. Slotnya sering licin dan tergeser sendiri Tuan Janson,” jawab Caroline. “Betul, aku pun pernah terkunci Tuan Janson.” Anne membuka suaranya. Janson mengernyitkan dahinya. Caroline menatap Janson dengan ekspresi bak tengah mengatakan hal yang jujur. Mrs.Ellie bernafas lega. Damian tidak sejalan. “Aku melihat Anne dan Belle jalan menuruni anak tangga. Tidak ada jalan lain bukan,tangga itu menuju ke gudang belakang?” Damian memegang kunci kebenaran. Anne resah kembali dan menjatuhkan pandangan kepada adiknya, Caroline. “Tidak Tuan Janson, Anne dan Belle membantuku di awal. Karena kelalaianku, aku terkunci dua kali di gudang, Tuan Janson. Maafkan kesalahanku karena telah merusak acara.” Caroline menunduk meminta maaf. Mrs.Ellisabeth terlihat santai dan memaklumi kejadian itu. Mrs.Elisabeth tersenyum kepada Caroline. “Tidak apa-apa Caroline, itu bukan kesalahanmu.” Mrs.Elisabeth tidak terpancing emosi, “Stuart dan Martin, bisakah mengganti pintu gudang agar kedepannya tidak terjadi hal begini lagi.”perintah Mrs.Elisabeth. “Baik, Nyonya.” Martin menyanggupi perintah Mrs.Elisabeth. Stuart menunduk mengiyakan mengikuti kakaknya. Suasana yang tegang berubah mencair kembali. Janson mempercayai ucapan Caroline yang berhati lembut. Janson sedari remaja mengenal Caroline dengan baik. Caroline adalah perempuan baik yang kuat. Caroline segera bangkit dan akan kembali membereskan ruang makan dan dapur membantu Anne dan Belle yang sudah lebih dahulu pergi menuju dapur. “Apa yang akan kamu lakukan Caroline?” Tanya Janson. Caroline begitu malu dengan perhatian Janson yang membantunya. “Terima kasih atas kebaikan Tuan Janson yang telah menolongku.” Caroline menunduk lagi,”Aku akan membantu Anne dan Belle membersihkan dapur, Tuan,” tungkasnya. Janson menyuruh Caroline duduk terlebih dahulu. Mrs.Elisabeth pergi meninggalkan Janson. Damian sudah masuk kamar dan menganggap hal yang baru terjadi hanya sebuah drama keluarga Mrs.Ellie yang sangat memuakkan. Caroline berusaha tegar menyelamatkan nama baik keluarganya. Janson tetap berada di ruang tengah melihat gerak-gerik Caroline. Caroline terlihat salah tingkah. Ia malu-malu. Perasaan cinta yang ada didalam hatinya sukar sekali dikendalikan. “Duduk disini, makan dahulu.” Janson menyodorkan sepiring makanan. “Tapi, Tuan Janson.” Caroline merasa canggung. Caroline memegangi ujung roknya karena nampak tidak nyaman berduaan bersama Janson. Caroline sangat malu dan lengannya bergetar. “Tubuhmu dehidrasi, masih lemas. Kamu tidur di kamarkku, aku akan tidur dikarpet. Mrs.Elisabeth, Ibuku sudah mengizinkannya. Kamu perlu dirawat.” Janson berjalan ke kamarnya. Caroline diam. Pertemuan pertama yang mengesankan sekaligus mendebarkan bagi Caroline dengan Janson. Perhatian yang diberikan Janson membuat Caroline semakin salah tingkah. “Makan dahulu, lalu tidur dikamarku, akan ku buka pintunya kalau kamu takut, aku tidak mungkin berbuat apa-apa. Aku seorang Dokter yang hanya ingin membalas jasamu telah membantu keluargaku,” terang Janson dan merapihkan karpet untuk alasnya tidur. Caroline yang tengah kegirangan tersenyum-senyum sendiri. Anne dan Belle yang ternyata mendengar semua percakapan Caroline dengan Janson sangat murka dengan adiknya. Padahal Caroline telah menyelamatkan keduanya dari kebencian Tuan Janson. Akan tetapi Anne yang terlanjur cemburu, merasakan api menyala-nyala dihatinya. “Akan ku balas semua ini,” bisik Anne di balik dapur. Kedua matanya masih mengintip Caroline yang tersenyum bahagia karena Tuan Janson. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN