BERSAMA

1065 Kata
Caroline melupakan kejadian sebelumnya. Matanya mencuri pandangan namun setengah tidak berani. Sedikit, matanya dengan tidak sadar memperhatikan gerak-gerik Janson yang sudah berada dikamar. Janson duduk di meja belajarnya sedang membaca buku. Terlihat oleh Caroline, tubuhnya yang sempurna dan tegap. Dari belakang pun, Caroline mampu menangkap ketampanan Janson. Caroline merapihkan rambutnya yang tergerai pirang sepinggang. Caroline mengelap ujung bibirnya yang sudah basah karena air minum. Caroline bertanya-tanya, apakah Janson benar-benar berbicara begitu atau hanya sekedar bercanda. Caroline duduk kembali mengurungkan niatnya untuk mendatangi kamar Janson. Caroline tidak pernah memasuki ruangan Janson, kecuali beberapa kali itu pun sebentar untuk menyedot debu dan merapihkan ruangan. Sekedar menggantikan sprei walau ruangan tersebut sudah lama ditinggal pemiliknya. Akan tetapi Mrs.Elisabeth sangat mencintai kebersihan dan menyuruh Caroline atau Mrs.Ellie untuk membersihkan kamar Janson beberapa kali dalam sepekan. Caroline melangkah pelan. Suara ketukan dari sepatu hitamnya diperlambat. Ia mundur lagi beberapa langkah ragu, maju lagi karena merasa yakin dengan perkataan Janson yang tidak pernah bermain-main. Caroline mengetuk pintu kamar Janson walau telah terbuka. Waktu telah menunjukkan jam 10 malam waktu Bern. Anne, Belle, Mrs.Ellie, Stuart dan Martin sudah kembali ke rumah belakang untuk istirahat. Sedangkan sesuai perintah Janson, Caroline tetap tinggal di rumah keluarga Mr.William dan berdiri mematung di depan kamar Janson. “Masuk, Caroline. Aku sedang membaca buku. Saat tidur, aku akan tidur di ruang tengah, kamu tidurlah disini,” pinta Janson. “Apakah aku tidak lancang, Tuan Janson?” Caroline kembali memastikan. Janson tertawa ringan dan tidak menjawab pertanyaan yang seakan konyol bagi Janson. Caroline yang kaku kemudian duduk diatas ranjang. Memperhatikan pangeran hatinya dari jarak dua meter. Menatap keindahan seorang makhluk yang luar biasa bagi dirinya. Bayangannya kembali menari-nari. Ia duduk memperhatikan Tuan Janson yang serius membaca bukunya. Caroline sangat senang dibalik wajah tidak enaknya. Caroline menyimpan kedua lengannya di atas lututnya dan diam layaknya seperti patung saja. “Apakah aku harus membersihkan dahulu ruangan ini, Tuan Janson?” Caroline masih dengan sangat sopan. Janson tiba-tiba menutup bukunya. Kepalanya mengarah pada wjaah Caroline yang sangat cantik. Janson menatap malam Bern yang tenang dibalik jendela masih dengan duduknya. Caroline menyukai pemandangan yang ada didepannya, lelaki kaya raya bernama Janson. “Mr.Ron adalah lelaki yang baik dan sangat sederhana, kamu tau itu?” Janson memulai perbincangan dengan Caroline. Ekspresi Caroline seketika berubah. Matanya seolah menahan tangis karena kepergian Ayah yang sangat berarti bagi dirinya. Caroline berusaha tegar, membenamkan kesedihan dan kekecewaannya di depan Tuan Janson. “Terima kasih, Tuan.” Caroline masih menjaga jarak dengan Tuannya. Janson memahami sikap Caroline. Caroline tetap duduk diujung ranjang dengan sikap kaki yang tertutup dan sopan. Caroline masih memakai baju pelayan. Janson kemudian bangkit dan memberikan sehelai gaun tidur dengan rok coklat muda selutut dihiasi renda putih klasik yang mewah di bagian dadanya, dilengkapi jubah khas perempuan kaya milik Ibunya, Mrs.Elisabeth. Caroline terpana. Janson melangkahkan kakinya mendekat kepada Caroline. Tercium aroma maskulin dari tubuh Janson, Caroline tidak mampu berkata-kata. “Kamu bisa ganti baju di kamar mandi,” ucap Janson dingin lalu kembali duduk dan memperhatikan Bern di malam hari. Caroline mengambil baju dan berjalan ke kamar mandi pribadi Janson. Ia berdiri menatap dirinya dihadapan cermin seraya tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Caroline membuka pakaiannya dan berganti baju. Caroline masih enggan dengan sikap Janson yang baik. Caroline sudah selesai berganti baju. Dirinya tiba-tiba merasakan mual. Ia berpeggangan kepada wastafel sebentar. Matanya terbelalak menahan sesuatu yang akan naik ke permuakan tenggorokan. Lambungnya seperti menggembung bak balon yang tertiup. Ia tidak dapat menahan rasa itu. Caroline muntah-muntah. Air sengaja dinyalakan agar menyamarkan suaranya yang tetap terdengar oleh Janson. Caroline sangat lemas. Janson mendekati pintu kamar mandi untuk memastikan keadaan Caroline. “Apa kamu baik-baik saja, Caroline?” Tanya Janson di luar. Calorine menahan sakit, ia diam sejenak dan berteriak kepada Tuannya. “Iya, Tuan.” Caroline segera membuka pintu setelah membasuh bibirnya. Caroline tersenyum kepada Janson, terkesan seperti dipaksakan. Caroline membuat dirinya kuat dan kembali berjalan ke ranjang Janson. Disana ia tetap duduk karena sungkan untuk merebahkan dirinya diatas tempat tidur mahal. Janson mengambil sebuah bantal, memiringkan tubuhnya membelakangi Caroline agar Caroline tidak malu kepadanya sembari mempersilahkan Caorline tidur. “Ini sudah larut malam, istirahatlah disini. Kamu tidak akan tertidur pulas jika tidur dibelakang rumah,” ujar Janson. Caroline tidak menjawab. Justru menurutnya Caroline semakin tidak bisa tertidur jika dihadapkan dengan sosok pangeran yang selama ini ia cintai sembunyi-sembunyi. Caroline merebahkan dirinya. Ia lantas memiringkan badannya sejajar dengan Janson yang tidur berjarak satu meter dibawah karpet. Caroline memastikan bahwa apa yang terjadi bukanlah mimpi tidurnya. Caroline tidak bisa tidur dan menikmati pemandangan dari jauh. Mencintainya secara diam-diam. Menikmatinya perlahan dan mengangguminya hanya dari kejauhan saja. Dengan cepat Janson membalik, Caroline kaget karena kecepatan badan Janson mampu menangkap tingkah Caroline yang sedari tadi memperhatikan Janson. Janson lantas tertawa melihat pipi merah Caroline yang sangat malu. Caroline membalikkan badan dan pura-pura tertidur pulas. Janson yang mengetahui Caroline masih terbangun langsung memberikan obat anti nyeri dan vitamin serta anti mual kepada Caorline. Menyimpan segelas air putih dan obat yang disimpan dalam nampan. “Minumlah ini sebelum tidur.” Janson agak tertawa melihat Caroline yang masih terjaga. Akhirnya Caroline membuka matanya dan menatap Janson yang sudah tertawa. Caroline semakin malu dan meminta maaf kepada Tuannya. “Maaf Tuan, aku tidak bermaksud seperti itu.” Caroline menjelaskan. Janson dari kejauhan menanggapi hal tersebut dengan santai. “Tidak apa-apa, selama aku belum memiliki kekasih dan menikah, tidak akan ada yang marah padamu.” Janson berusaha mencairkan keadaan karena Caroline tertangkap basah sedang memperhatikan dirinya. Rasa mual kembali menyergap. Suara mual itu terdengar. Janson memilih duduk disebelah Caroline. “Sudah ku bilang, minum dulu obatnya.” Janson mengambilkan obat dan menyuruh Caroline untuk duduk. Caroline menurut kepada Tuannya. Ia duduk dan menerima obat dari lengan Janson. Caroline mengambil segelas air yang ada dilengan Janson yang satunya. Jarak Caroline dengan Janson hanya satu centi saja. Badannya hampir menempel. Janson duduk disitu melihat Caroline yang akan meminum obat. Namun karena saking gugupnya, Caroline hampir tersedak. Janson langsung menepuk-nepuk pundak Caroline dan memiringkan tubuhnya. Caroline merasakan lengan kekar Janson yang menempel di bagian depan pundaknya. Janson menepuk-nepuk pundak Caroline kuat. Sampai salah satu obat terlempar ke lantai, berhasil keluar dari mulut Caroline. Sesaat Caroline lega, pandangan Caroline tidak berkedip menyaksikan Janson. Jantung Caroline sangat berdetak. Janson masih mengalungkan lengannya di pundak depan Caroline, lengannya masih memegangi pundak belakang Caroline. Caroline melihat kelopak mata Janson. Caroline memutuskan melarikan diri dari Janson. Janson heran bertanya-tanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN