RENCANA

1020 Kata
Caroline kehilangan kata-kata. Ia berlari secepat kilat meninggalkan Janson disana. Tubuhnya tidak kuasa menahan sentuhan dari lengan Janson yang masih menempel ditubuhnya. Caroline pergi dan berlari ke rumah belakang. Nafasnya tersengal karena begitu ketakutan. Perasaannya hilang timbul karena merasakan dua perasaan sekaligus. Rasa senang timbul tenggelam. Cinta menghantui perasaannya. Rasa kalut bercampur takut karena bisa dekat dengan Janson menjadi pemicunya. Caroline berlari kencang ditengah gelapnya malam. Ia membuka pintu, Caroline terbelalak melihat Anne dan Belle sudah seperti akan menyergapnya di ruang tengah. Anne dan Belle masih belum tidur. Keduanya duduk dengan rasa gusar seolah menunggu kedatangan Caroline disana. Caroline terperangah dan menutup pintu pelan. Anne menyuruh Caroline untuk mengunci pintunya. Dalam hati kecil Anne, ia takut Tuan Janson tiba-tiba datang melerai dan membela Caroline. Belle mengambil peran. Belle menyuruh Caroline untuk duduk didekatnya. Matanya setengah memicing seperti Anne. Keduanya mulai terang-terangan sedang terlibat persaingan untuk mendapatkan hati Tuan Janson. "Apa yang kamu lakukan disana?" Anne menyiratkan kecemburuannya yang terdalam. Suasana menjadi sangat mencekam bagi Caroline. Ia duduk menyaksikan kedua Kakaknya berubah perangai karena cinta. Sedang Anne tetap tidak henti-hentinya memperhatikan tubuh Caroline dari ujung kaki hingga helaian rambutnya. Gaun yang indah itu membuat suasana hati Anne semakin bergejolak membara. Caroline memahami situasi tersebut. Caroline berusaha bersabar atas kejadian yang menimpanya. Caroline bersabar karena tidak ingin Mrs.Ellie, Ibunya terbangun karena keributan. "Pelankan suaramu," pinta Belle pada Anne. Anne mencoba mengatur suasana hatinya yang tidak menyenangkan. Caroline melihat tatapan matanya yang tajam. Caroline berusaha menahan emosi Anne yang sedang kalut. "Tidak terjadi apapun," jawab Caroline pelan. Anne tidak percaya. terlebih melihat gaun tidur mahal yang melekat di tubuh Caroline. Anne bangkit dan menampar Caroline dengan kencang. Bukan karena lemah, Caroline terhempas tidak melawan. Ia hanya mengingat kebaikan Mrs.Ellie, Ibunya yang telah merawatnya. Caroline tidak ingin rencana Mrs.Elllie diketahui keluarga Mr.William, Ayah Tuan Janson. Caroline menahan sakit dan mengibaskan rambut panjangnya yang pirang. menatap Anne dengan dalam dan terengah. "Aku bukan tidak bisa melawan, ini demi Ibu." mata Caroline menyala. Anne tidak percaya dengan alasan itu. Amarahnya semakin menjadi. Anne mendorong Caroline lagi. Anne membanting meja sekenanya. Akan menghantam Caroline di malam itu. Caroline berhasil menepisnya. Ia berusaha menghindar. Caroline diam terpatung dihadapan Anne. "Kamu tidak ingat dengan Ibu?," Caroline mendehem, "Kita bisa bersaing, tanpa harus melukai hatinya, itu persyaratannya," lanjut Caroline. Anne dan Belle memicingkan matanya. Sedangkan Janson tidak bisa berkata-kata. Pandangannya kepada Caroline telah membuat hatinya luluh dan seketika jatuh cinta. Caroline terlibat pertikaian dingin dengan kedua Kakaknya. Caroline merasakan bahwa gejolak Anne begitu dahsyat mencintai Janson. Kecemburuannya membuat persaudaraan sedarah menjadi pecah. Caroline tidak lagi mengenal sosok Anne dan Belle yang sebelumnya berperangai lembut. Walaupun Ayahnya telah tiada, tetapi mereka menjadi kelaurga yang kompak dan selalu mendukung satu sama lain. Semenjak Janson datang di hati Anne, Caroline merasakan perubahan yang berbeda. Sementara dalam diam, ketiganya duduk kaku diruang tengah tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Caroline yang sebetulnya kaget dengan apa yang dilakukan Kakaknya hanya duduk termenuh dan mengumpulkan emosi yang masih tercecar berserakan. Ia tidak ingin menghancurkan keluarganya sendiri dengan obsesi cinta diantara ketiganya. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa mencintai Janson, seorang anak orang kaya yang berprofesi Dokter dan berwajah tampan, ialah impian bagi setiap wanita. Caroline mengingat tatapan dalam Janson kepadanya. Momen itu membuat jemarinya gemetar sekali, jantung berdebar sangat kencang, keringat dingin mengalir dalam satuan tubuhnya. Caroline merasakan ngilu disetiap tulang-tulangnya dan perasaannya membuncah tidak karuan. Janson telah berada dibalik pintu diluar ruangan sedari tadi. Janson mendengar perbincangan ketiganya. Janson mengintip dari balik celah pintu. Sedangkan Caroline masih berada dalam ruangan dan memutuskan duduk dibawah pohon rindang dekat rumah, ia tidak ingin satu ruangan dengan kedua Kakaknya karena takut Ibunya, Mrs.Ellie mendengarkan perdebatan keduanya. Tiba-tiba Janson mendobrak pintu, membuat ketegangan diantara ketiganya menjadi lebih dingin lagi. Janson melihat Anne dan Belle. Caroline pun nampak sangat ketakutan dengan situasi tersebut. Caroline sadar telah kabur dari Janson. Caroline pun menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Janson. Caroline tidak ingin situasinya semakin sukar diantara ketiganya. Caroline tepa menghargai Anne dan Belle sebagai Kakaknya. “Ada keributan apa ini, tolong jelaskan,” ucap Janson kepada Anne dan Belle. Caroline berusaha menjelaskan semuanya dan menutupi rencana yang dibuat oleh Mrs.Ellie. “Tidak ada yang terjadi Tuan Muda.” Caroline membungkuk. Janson menatap sinis Caroline yang melarikan diri darinya. Padahal Janson telah mendegar semua perkataan ketiganya. “Apa yang sedang kalian bicarakan?” Janson duduk didepan Anne, Belle dan Caroline. Sementara Mrs.Ellie tersadar dan kaget menghampiri anak-anaknya beserta Tuan Muda. “Apakah anak-anakku berbuat suatu kesalahan, Tuan Muda?” Mrs.Ellie menghampiri Janson. Janson menatap Mrs.Ellie. Caroline tertunduk lesu. “Ketiganya berusaha mendapatkan perhatianku, aku mendengar hal itu.” Janson mengetahui segalanya. Mrs.Ellie tampak sangat gusar karena tidak ingin Janson mengetahui segalanya. Namun sudah terlambat sebab Janson mendengar semua rencana yang diucapkan anak-anaknya. Janson duduk tampak tenang dan menyaksikan Caroline yang merasa malu pada dirinya. Mrs.Ellie memohon kepada Janson untuk tidak membocorkan rencananya kepada kedua orang tuanya. Mrs.Ellie merendah didepan Janson, demi tidak diusir dari rumah orang tua Janson. “Maafkan kelancanganku ini.” Mrs.Ellie nampak merendah. Caroline tidak tega melihat Ibunya menunduk. Caroline mengambil alih. Caroline meraih tubuh Ibunya dan menggantikan posisi Ibunya, Ia membungkuk di hadapan Tuan Muda Janson. Hidup sebagai orang miskin memang tidak mudah bagi keluarga Mrs.Ellie. Ia sebagai orang tua tunggal yang harus terus membayar utang piutang mendiang suaminya dan menghidupi kelima anaknya yang tengah beranjak dewasa. Itu sangat menyulitkan baginya. Caroline tidak ingin karena pertengkaran itu membuat keluarganya diusir dari kelurga Mr.William. Wajah tampan nan tenang itu masih membuat Caroline terpukau dibalik bungkamnya. Janson masih memperhatikan Anne, Belle dan Caroline. “Baik, nikahkan aku dengan Caroline. Dengan begitu aku akan membantu menyelesaikan utang piutang keluarga ini,” pinta Janson lantang. Seketika Caroline tidak percaya. Anne menahan amarah, Belle pun merasakan kecemburuan kakak tetuanya. “Tuan Muda bisa menikah dengan Kakakku, Anne,” jawab Caroline lembut yang lebih memilih mengalah demi keutuhankeluarga. Janson jelas menolaknya. Janson yang sudah dewasa dan seorang Dokter yang sukses merasa penasaran dengan pertemuannya dengan Caroline, gadis biasa yang memiliki wajah yang sangat cantik dan sifat yang sangat baik. “Aku minta Caroline, maka aku akan tetap bungkam dengan semua rencana keluarga ini.” Janson bersikukuh. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN