"Baik Tuan Muda.” Mrs.Ellie begitu berterima kasih kepada Janson.
Caroline hanya bisa diam menyaksikan kedua Kakaknya. Ia tidak ingin berada dalaam situasi yang menyulitkan dirinya.
Tengah malam, Janson membuat pengumuman di dalam rumahnya. Bahwasanya dia akan menikahi Caroline. Caroline kembali dibawa ke rumah utama. Begitupun dengan Anne, Belle dan mrs.Ellie yang turut serta.
Caroline tidak habis pikir dengan keputusan Janson. Apakah Janson benar-benra mencintainya hanya dalam satu malam saja? Ia mengernyitkan dahinya tidak percaya.
Setelah insiden perdebatan yang panjang, Caroline memilih bungkam seribu bahasa. Ia melihat Janson dengan lantang berbicara kepada orang tuanya di malam itu, Damian turut hadir dan terbelalak tidak mempercayai selera saudara kandungnya.
Caroline pun tidak bisa berbuat apa-apa selain tertunduk dihadapan Mr.William dan Mrs.Elisabeth. Keluarga Janson dibuat tercengang, namun Caroline berusaha tegar demi urusan utang piutang Mrs.Ellie, Ibunya.
Anne dan Belle terlihat tidak ikhlas bahwa Caroline yang menjadi pemenang di hati Janson. Untuk saat itu keduanya tidak bisa berbuat apa-apa kalau selain mengikuti alur yang tengah disodorkan Janson kepada keduanya.
Caroline sempat ragu dan menolak permintaan Janson dihadapan kedua orang tua Janson, akan tetapi ia teringat akan rencana Mrs.Ellie yang diketahui oleh Janson, Caroline takut keluarganya akan diusir dari rumah, terlebih Mrs.Ellie menghadapi berbagai masalah yang rumit.
Mrs.Elisabeth tecengang dan menyangka bahwa anaknya sedang bercanda. Tidak sedikit pun Janson menyerah dan memutuskan untuk melabuhkan hatinya kepada Caroline, gadis biasa-biasa saja. Mr.William masih belum tersadar dengan apa yang terjadi dan mendengarkan semua penjelasan Janson.
Akan tetapi Damian berani bertindak untuk melindungi keluarganya. Damian tidak ingin nama baik keluarganya dirusak begitu saja, pandangannya ialah tidak baik menikahi gadis biasa saja bagi keluarganya. Damian berpikir, bahwa hal itu bisa dimanfaatkan hanya untuk menguras harta keluarganya saja.
“Apakah ada pilihan lain, aku bisa mengenalkan padamu banyak perempuan terpandang,” ucap Damian.
Janson tetap menggeleng-gelengkan kepala menolak perkataan tersebut. Caroline merasakan gusar sementara Mrs.Ellie berkali-kali menundukkan badannya seraya meminta maaf kepada Tuannya karena kegaduhan tersebut.
“Ku pikir Tuan Janson hanya sedang bermain-main, Tuan. Maafkan atas kegaduhan ini.” Mrs.Ellie kebingungan atas situasi tersebut.
Mrs.Elisabeth menatap anak kesayangannya yang selama ini dibangga-banggakan. Caroline pun meinta maaf kepada Mr.William dan Mrs.Elisabeth karena malam itu.
Caroline tidak ingin ada kegaduhan lagi. Caroline paham bahwa kedua orang tua Janson tidak akan menyetujui pernikahan anaknya. Caroline tenggelam dalam banyak perasaan. Berhadapan dengan Janson rasanya tidak mampu, rasa cintanya kepada lelaki tersebut membuat Caroline selalu salah tingkah dan jantung pun selalu memompa lebih kencang dihadapan Janson.
Situasi yang semula tegang menjadi mencair manakala Janson tetap bersikukuh atas pernikahannya dengan Caroline. Mrs. Elisabeth tidak dapat membendung keinginan puteranya. Akhirnya Mrs.Elisabeth dan Mr.William setuju akan menikahkan anaknya dengan Caroline, dengan satu syarat, bahwa pernikahan itu tidakboleh digembor-gemborkan dan tidak ada pesta, hanya pernikahan antar keluarga dan Caroline tetap bertugas seperti biasanya, membantu Mrs.Ellie, Ibunya menjadi pelayan rumah.
Pernikahan itu tidak akan merubah apapun, Mrs.Elisabeth menyetujui pernakhan tersebut asal Janson membuat perjanjian pra nikah untuk memisahkan hartanya. Janson pun menyetujui hal tersebut demi menikahi Caroline.
Mrs.Ellie maupun kedua Kakaknya kembali ke rumah belakang dan menunggu esok pagi perniakhaan sederhana di kediaman Mr.William akan digelar secara sembunyi-sembunyi. Sementara Caroline yang berwajah sangat cantik dan memiliki tubuh yang bagus, akan menjadi menantu Mrs.Elisabeth.
Sebetulnya Mrs.Elisabeth setuju dengan hal itu, namun karena Caroline dari kalangan biasa, membuat Mrs.Elisabeth berpikir dua kali. Pasalnya Caroline memang gadis yang sangat cantik dan memiliki tubuh yang indah, sifatnya yang baik dan berhati mulia, serta kepintarannya yang akan sangat baik untuk generasi Mrs.Elisabeth kelak apabila melahirkan seorang cucu untuknya.
Amat disayangkan bahwa semua kesempurnaan itu ditutup oleh kemiskinan keluarga Caroline. Caroline yang tidak ternilai karena tidak memiliki kekayaan di dunia sehingga orang kadang memandangnya rendah.
Caroline duduk meneteskan air mata dalam diam. Caroline adalah perempuan kuat yang lembut. Caroline mampu membaca situasi yang ada. Caroline paham bahwa ia harus menghadapi ini semua dan tetap menjalani kehidupan yang semestinya.
Mrs.Elisabeth tersenyum kepada Caroline, dalam hati kecilnya bahwa ia memang ingin menjodohkan Caroline dengan Janson akan tetapi kelak saat Caroline sudah lebih baik dan sebetulnya Mrs.Elisabeth memiliki rencana ingin menyekolahkan Caroline sehingga menjadi perempuan yang terpandang.
Niat itu memang ditentang oleh Mr.William dan Damian karena mereka tetap berpikir bahwa Caroline berbeda derajat. Hal itu yang membuat Mrs.Elisabeth melunak. Dengan menyodorkan beberapa persayaratan kepada Janson, perniakhan itu akan segera dilangsungkan tanpa diketahui oleh negara.
Setelah semuanya pergi, Mrs.Elisabeth berbisik kepada Caroline yang membuat hatinya menjadi kuat dan nampak tenang, bahwa Mrs.Elisabeth menyukai Caroline sedari kecil. Caroline tersenyum mendengar hal itu.
Janson dengan tetap tenang membaringkan tubuhnya di kamar, ia menatap Caroline seolah menyuruhnya masuk ke dalam. Akan tetapi Caroline semakin sungkan kepada calon suaminya tersebut.
Janson tetap menatap Caroline dan menyuruhnya masuk. Caroline pun melangkahkan kakinya kedalma dengan perasaan ragu dan malu. Janson memahami hal tersebut.
“Kamu tidur diatas, aku dibawah. Esok saat pernikahan sudah dilangsungkan, setiap malam kamu tidur disini bersamaku,” ucap Janson.
Urusan pernikahan akan diurus oleh Mrs.Elisabeth. akan tetapi Caroline masih tenang dalam pikirannya yang sebetulnya memikirkan banyak urusan. Janson menenangkan bahwa pernikahan itu akan menolongnya dari semua tekanan kedua kakaknya. Janson bermaksud baik kepada Caroline.
Caroline mendengarkan semua perbincangan Janson yang tidak ingin melihat persaingan di rumahnya. Tercetuslah malam itu sebuah pernikahan kontrak antara Janson dan Caroline yang hanya akan diketahui keduanya. Selain ingin menolong keluarga Mrs.Ellie dai utang piutang, Janson ingin menolong Caroline agar tidak terus disakiti kedua Kakaknya.
Perjanjian pernikahan kontrak disusun oleh Janson, disaksikan oleh Caroline disana. Caroline baru memahami pemikiran Janson yang baik, juga sekaligus menepis pemikiran bahwa Janson tidak mencintainya.
Saat itu, Caroline merasakan patah hati. Padahal sebelumnya hatinya berbunga-bunga dan mengira Janson menyukainya, akan tetapi Janson hanya ingin berusaha menolong Caroline dengan cara itu satu-satunya. Hanya itu.
“Selama pernikahan kontrak, tidak akan ada hubungan suami-istri dan kita tetap tidur terpisah seperti ini, aku bukan suamimu kelak dan kamu pun bukan istriku, ini hanya sebuah skenario demi menyelamatkan kamu dan keluargamu, kamu menyetujui?” ungkap Janson.
Sedetik, hati Caroline meletup-letup berserakan ke segala arah. Caroline merasakan hujaman cinta yang dahsyat. Ia mengangguk dan menerima kenyataan pahit. Caroline merebahkan badannya dan tenggelam dalam cintanya dalam diam.
“Esok hari pernikahan, jadi bersikap seperti biasa dan ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua, mengerti?” Tanya Janson kepada Caroline.
***