Bab 13 A Man Who Loves Flower

1494 Kata
  Pagi itu, Renee terbangun dan mendapati dirinya berada dalam pelukan Davin. Ia menunduk. Mereka berdua masih berpakaian lengkap, tapi satu tangan Davin terselip di bawah kepala Renee dan tangannya yang lain melingkari pinggang Renee. Hanya karena obrolan mereka kemarin, pria ini tidak berpikir … Renee benar-benar menerima pria itu sebagai suaminya, kan? Renee sudah cukup menolerir dalam hal tidur dan memenuhi kebutuhan seksual Davin. Namun, hanya itu. Renee tidak ingin memberikan lebih. Jadi, apa yang terjadi di sini? “Hei,” panggil Renee. Davin belum bangun. Renee memukul lengan Davin. Pria itu seketika membuka mata. Ia mengerjap menatap Renee. Keningnya berkerut. Renee mendengus tak percaya. “Apa yang kamu lakuin?” sengit Renee. Davin menunduk, lalu melotot kaget dan menarik diri. “Seingatku, kita sepakat hubungan sebagai suami-istri cuma sebatas hubungan di atas tempat tidur dan loyalitas ke satu sama lain. Ini ada di kontrak juga?” tanya Renee. Davin berdehem dan beranjak duduk. Lagi-lagi rambutnya mencuat berantakan. Renee sampai gatal ingin merapikannya, tapi ia menahan diri. “Ini termasuk hubungan di atas tempat tidur. Jangan protes.” Setelah mengatakan itu, Davin turun dari tempat tidur. Tersandung kecil ketika berjalan ke kamar mandi. Renee mengangkat alis. Untuk kedua kalinya, Renee melihat sisi Davin yang ini. Davin yang agak … clumsy. Kemarin sore pun, pria itu menabrak kusen pintu ketika akan masuk kamar. Sepertinya ketika bangun tidur, Davin tidak seharusnya langsung turun dari tempat tidur dan harus menunggu jiwa dan akal sehatnya benar-benar kembali ke tempatnya dulu. Renee khawatir suatu waktu pria itu akan terjerembab di depan kaki Renee. *** “Kamu … sebenarnya orang yang kayak gimana, sih?” Pertanyaan tiba-tiba Renee di tengah acara sarapan mereka itu membuat Davin tersedak garlic bread. “Ap-apa?” “Waktu kita pertama ketemu, kamu kelihatan kayak playboy m***m kurang ajar yang nekat dan gila. Tapi, belakangan kamu sama sekali nggak cocok sama panggilan itu. Meski kamu masih kurang ajar, nekat dan gila.” Davin mendengus. “Seenggaknya berkurang dua. Makasih.” “No problem,” sahut Renee santai. “Kalau gitu, kamu juga kasih tahu aku, kamu orang yang kayak gimana? Karena, makin lama aku ngabisin waktu sama kamu, kamu makin jauh berbeda sama orang yang pertama aku temui di restoran itu.” Renee mengedik. “Kalau aku nggak mau?” Davin mengangguk. “Aku nggak akan maksa, tapi aku juga nggak bisa jawab pertanyaanmu tadi.” “Nggak masalah, sih. Aku juga nggak begitu pengen tahu,” ucap Renee sembari menyuapkan makaroni bolognese-nya ke mulut. “Waktu dulu Siena tanya-tanya ke kamu, tentang warna kesukaan dan lain-lain itu, kamu bohong?” tanya Davin. Renee mengedik. “Waktu itu, kamu bilang ke Siena kalau kamu suka bunga.” “Dia tanya, apa aku suka bunga. Aku cuma ngangguk. Dia tanya, aku suka bunga apa, dia yang pilih sendiri. Secara keseluruhan, dia yang banyak tanya dan aku nggak banyak omong,” sahut Renee. “Kalau aku tanya, apa warna kesukaanmu, kamu akan jawab apa?” “Kenapa aku harus jawab?” Davin mendengus. Tentu saja. “Habis ini kamu mau pergi lagi?” tanya Renee. “Iya. Tapi, kali ini kamu harus ikut,” jawab Davin. Renee mengerutkan kening. “Kenapa?” “Aku udah telanjur pesan dua tempat buat makan siang di cruise ship.” Renee mendengus pelan. “Cuma gitu?” Davin mengangguk. “Kita berangkat habis ini.” “Tapi, bukannya buat makan siang?” tanya Renee heran. Davin hanya mengangguk. “Tapi, habis ini kita berangkat.” Meski Renee menatapnya keheranan, wanita itu tak lagi protes. *** “Bukannya kita mau naik kapal? Ngapain kita ke Vancouver?” tanya Renee ketika mereka turun di dermaga penyeberangan dari pulau ke Vancouver. “Aku udah telanjur sewa mobil di sini,” ucap Davin. “Apa?” Renee benar-benar tak mengerti lagi apa yang ingin dilakukan pria ini. Davin mengulurkan tangan. Renee hanya pasrah menyambut uluran tangan itu, membiarkan pria itu menggandengnya meninggalkan pelabuhan. Pun ketika Davin membawa Renee meninggalkan pelabuhan dengan mobil, Renee tak bertanya. Hingga mereka tiba di sebuah … taman? “Ini kan …” “Stanley Park.” Renee mengerjap bingung. “Tapi … kenapa kamu bawa aku ke sini?” “Aku pengen pergi ke rose garden-nya.” Renee ternganga. “Serius?” Davin mengangguk. Pria itu turun lebih dulu, lalu memutar ke sisi penumpang dan mengetuk jendela kacanya. Renee pun akhirnya melepas seat belt dan ikut turun. “Kamu suka bunga?” tanya Renee ketika mereka berjalan memasuki taman. Davin mengangguk. “Belakangan.” Renee mengerutkan kening. “Belakangan?” Davin mengangguk lagi. “Setelah aku tahu seseorang suka bunga.” “Siena yang lebih milih sahabatmu daripada kamu itu?” sinis Renee. Davin meringis, tak menjawab. Renee mendengus meledek. “Bodoh. Apa kamu bahkan nggak punya harga diri?” Renee menggeleng-geleng dan berjalan mendahului Davin. *** Davin mendengus menatap punggung Renee yang menjauh. Siena? Davin bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia memikirkan Siena. Davin segera menjajari langkah Renee. “Kamu nggak suka bunga?” tanya Davin. “Nggak, lah,” dengus Renee. “Jangan samain aku sama cewekmu itu, ya.” “Kalau yang kamu maksud Siena, dia bukan cewekku. Dia calon istri sahabatku. Tapi, kalaupun kamu ngomongin Siena, kamu emang beda banget sama dia. Nggak mungkin nyama-nyamain kalian.” “Well, I don’t care about her.” “Kamu yang tadi ngungkit-ungkit tentang dia lebih dulu.” Renee melengos. Namun, ia kemudian bertanya, “Emangnya, mana rose garden-nya? Katanya, kamu pengen ke sana? Buruan ke sana, habis itu kita pergi.” Davin mendengus pelan. Ketika Renee hendak berbelok, Davin menahan tangannya dan menariknya ke arah sebaliknya. “Tempatnya ke arah sini,” Davin berkata. Ketika mereka memasuki rose garden, Renee tak tampak terganggu dengan Davin yang masih menggenggam tangannya. Wanita itu menatap sekeliling taman, ke arah bunga-bunga mawar berbagai warnanya, tanpa berkata-kata. Ekspresinya tampak biasa saja. “Aku nggak tahu, kenapa kamu pengen ke tempat kayak gini.” Saat mengatakan itu, tatapan Renee masih tertuju ke arah bunga-bunganya. “Bunga-bunganya cantik,” sebut Davin. “Aku nggak tahu kamu sefeminin itu,” sindir Renee. Davin nyaris tertawa, tapi berhasil menahannya. “Omong-omong, besok aku berencana pergi ke taman yang lainnya. Namanya Butchart Garden. Katanya itu taman bunga tercantik di Kanada,” sebut Davin. “Oh, ya?” Renee masih tak menatap Davin. “Kamu besok mau ikut?” Renee mengedik cuek. “Lihat besok aja,” sahutnya cuek. Davin tersenyum. “Aku anggap itu sebagai, ya.” “Terserah,” balas Renee dingin. “Tapi …” Renee akhirnya menatap Davin. “Kamu mau sampai kapan pegang tanganku gini?” Davin seketika melepas tangan Renee dan mengedik santai. “Nggak sadar juga aku tadi.” Renee mendengus. “Aku pikir, kamu bukan playboy. Apa aku salah?” “Kalau kamu nyebut suami yang cuma genggam tanganmu playboy, apa kabar playboy di luar sana?” Renee tak menjawab dan malah melanjutkan langkah. Namun, Davin urung protes melihat Renee tampak asyik menatap bunga-bunga di sepanjang jalan yang dilewatinya. *** “Kenapa kamu nggak suka bunga?” tanya Davin ketika mereka makan siang di atas kapal pesiar. Renee mengedik cuek. “Emangnya kenapa aku harus suka?” Davin mengangguk-angguk. “Di keluargamu, ada yang suka bunga?” Renee menunduk menatap makanan di piringnya. “Mamaku,” jawabnya datar. Davin hanya diam setelahnya. Renee perlahan mengangkat tatapan. Davin masih menatapnya. “Mamamu pasti orang yang lembut,” sebut pria itu. Renee mendengus. “Bodoh, maksudmu?” Davin mengernyit. “Dia bisa dengan mudah ditipu seorang pria dan jatuh cinta. Tapi, dia nggak pernah bisa mempertahankan cintanya. Apa lagi namanya kalau bukan bodoh?” sinis Renee. “Apa kamu pernah jatuh cinta?” tanya Davin tiba-tiba. “Hell, no. I don’t need that.” “Kalau gitu, kamu nggak berhak buat nge-judge perasaan orang yang jatuh cinta. Karena, kalau kamu jatuh cinta, kamu nggak bisa ngendaliin perasaanmu,” ucap pria itu. Renee menelengkan kepala. “Kayak perasaanmu ke cewek itu? Siena?” “Sekali lagi kamu nyebut nama itu, aku mungkin akan salah paham dan berpikir kamu cemburu,” ledek Davin. “Oh, really? Kalau gitu … Siena, Siena, Siena, Siena, Sie …” Renee terkesiap kaget ketika tiba-tiba Davin menciumnya. Renee mendorong bahu Davin ketika pria itu memperdalam ciumannya, tapi Davin tak mau berhenti. Renee seolah merasakan sengatan listrik ketika tangan Davin menyentuh lehernya, mengusapnya lembut. Dalam sekejap, tubuh Renee terasa panas. Ini gila. Renee sampai terengah kehabisan napas begitu Davin mengakhiri ciuman mereka. Renee menatap Davin kesal. “Aku udah peringatin kamu,” sebut Davin seraya memundurkan tubuh. “Not about the kiss,” desis Renee. “Itu biar kamu nggak cemburu lagi.” Davin tersenyum santai. “Aku nggak cemburu! Aku ngeledek kamu. Ah, ngeledek kebodohanmu yang jatuh cinta sama cewek itu. Gimana bisa kamu kehilangan orang yang kamu cinta tepat di depan matamu, padahal kalian selalu bareng-bareng?” ledek Renee. “Siena itu …” Renee segera memundurkan tubuh dan menahan bibir Davin dengan telapak tangannya ketika pria itu mencondongkan tubuh. “Kamu pikir aku akan jatuh ke lubang yang sama buat kedua kalinya?” dengus Renee. “Aku …” Renee tercekat, tak bisa berkata-kata ketika merasakan gelenyar aneh di seluruh tubuhnya ketika Davin menggerakkan bibirnya dan mencium telapak tangan Renee. Seketika, Renee menarik tangannya dan mengumpat kesal. “Kayaknya pikiran pertamaku tentang kamu itu benar. Kamu emang playboy mesum.” Davin tergelak. “Aku pernah lihat temanku ngelakuin itu buat godain cewek. Dulu, aku nggak tahu kalau itu akan berhasil. Tapi, ngeliat reaksimu …” “Aku nggak tergoda, ya!” sentak Renee. “Oh, ya?” Davin mengulurkan tangan, hendak menangkap tangan Renee, tapi Renee langsung menarik tangannya ke bawah meja. “Jangan cari kesempatan dalam kesempitan,” desis Renee. Davin tersenyum geli. “Kesempatan dalam kesempitan? Kamu istriku. Aku berhak ngelakuin itu. Jadi, itu bukan nyari kesempatan dalam kesempitan.” Renee menyipitkan mata kesal. “Dan sampai ketemu nanti malam di tempat tidur. Ayo kita lihat, apa nanti kamu akan tergoda,” ucap Davin penuh janji. Renee seketika melotot kaget. Dasar licik! Renee masih tak percaya ia menikah dengan pria selicik Davin. Argh! Pria ini benar-benar membuat Renee gila. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN