Davin memperhatikan Renee selalu mencuri pandang ke arahnya sepanjang acara makan malam mereka di suite. Mereka kembali ke hotel sore tadi dan beristirahat. Malamnya, Renee ingin memesan makanan saja untuk makan malam. Jadi, di sinilah mereka.
Meski sulit, Davin berusaha mengabaikan tatapan wanita itu. Jelas, Renee mengingat apa yang Davin katakan padanya saat makan siang tadi. Mungkin karena itu juga, usai makan malam, Renee tidak langsung masuk kamar seperti biasanya dan malah duduk di ruang tamu dan menonton televisi.
Wanita itu tampak terkejut ketika Davin bergabung dengannya, duduk di sebelahnya. Renee bergeser menjauh. Davin nyaris tertawa dibuatnya.
“Kamu setakut itu tergoda sama aku?” ledek Davin.
Renee seketika menatapnya tajam. Davin bisa melihat wanita itu berpikir keras. Hingga tiba-tiba, ia tersenyum.
“Let’s play a game,” usul Renee tiba-tiba.
Davin mengerutkan kening.
“Kalau aku bisa bikin kamu tergoda, kita nggak akan tidur di atas tempat tidur yang sama malam ini.”
Davin mendengus tak terima. “Katamu, kamu akan ngasih hakku.”
“It’s just a game.” Renee mengedik.
“Apa keuntungannya buat aku?”
“Aku akan ngaku, aku tergoda atau nggak sama kamu.” Renee mengedik ke tubuh bawah Davin. “Meski aku yakin, kamu akan tergoda lebih dulu.”
Seketika, tubuh Davin bereaksi. Namun, Davin segera memikirkan pekerjaannya. Ia memikirkan meeting dengan sepupu Renee, dan itu berhasil meredamnya.
Davin berdehem. “Oke.”
Lalu, siksaan neraka itu dimulai. Tanpa ragu, Renee langsung mendekat dan menyentuh leher Davin dengan jari-jari lentiknya. Davin menghitung perkalian dalam kepalanya. Ketika tangan Renee bergerak turun, Davin memikirkan loss and profit perusahaannya tahun lalu.
Itu belum berakhir. Karena Renee kemudian duduk di pangkuan Davin dan mencium bibir Davin. Detik itu juga, Davin ingin menyerah dan membalas ciuman Renee, menyentuh wanita itu di mana pun ia ingin, tapi ia berhasil menahan diri dengan memikirkan kerja samanya dengan Grup Brawijaya, sekaligus pimpinan dinginnya.
Erlando William dan Alyra Crystalia Brawijaya adalah pasangan yang serasi. Mengerikan juga. Davin merasa, ia bisa kehilangan lehernya jika sampai melakukan kesalahan pada Renee. Ia juga merasa, ia akan babak belur jika sampai Erlan atau Lyra tahu tentang kesepakatan hubungan Davin dan Renee. Meski, sepertinya Lyra tahu sedikit tentang itu. Entah kenapa wanita itu masih belum melakukan apa pun.
“Apa-apaan …” Suara kesal Renee menarik Davin dari pikirannya.
Ekspresi kesal Renee yang sudah menjauh dari Davin, membuat Davin tersenyum puas. “Jadi, kamu tergoda atau nggak?” tanya Davin tanpa basa-basi.
Renee masih tampak enggan menjawab. Wanita itu memalingkan wajah kesal.
Giliran Davin yang kini mendekati Renee. Sama seperti Renee, tanpa ragu, ia langsung menyentuh leher Renee. Dengan bibirnya.
Kesiap Renee terdengar seiring wanita itu berusaha menahan bahu Davin. Namun, Davin tidak berhenti.
“Meski kayak gini, kamu juga nggak tergoda?” Davin menurunkan ciumannya.
Renee memekik kaget dan menahan kepala Davin, mencengkeram rambutnya pelan. Davin mendongak menatap wanita itu.
“Tell me the truth now,” tuntut Davin.
Renee memejamkan mata ketika akhirnya menjawab, “It’s yes.”
Davin tersenyum puas. Ia lalu mundur, membuat Renee membuka mata dan menatapnya terkejut.
“Nanti,” Davin berkata, menjawab tanya dalam tatapan istrinya itu. “Di tempat tidur, aku akan mulai dengan pelan-pelan. Kali ini, aku pengen mulai dengan benar.” Davin tersenyum.
“Meski kamu udah kayak gitu?” tanya Renee ragu sembari menatap tubuh bawah Davin. Wanita itu pasti bisa melihat seberapa besar Davin sudah tergoda.
Namun, Davin mengangguk. “Aku nggak mau nyakitin kamu lagi kayak sebelumnya,” aku Davin.
Renee tampak terkejut, tapi ia kemudian berdehem dan menatap ke layar televisi. Keningnya berkerut, sepertinya wanita itu sedang berpikir keras. Mungkin, memikirkan alasan untuk menolak Davin malam ini. Meski itu akan sia-sia.
Karena, Davin tahu, wanita itu sudah tergoda olehnya.
***
“Kamu nggak pa-pa, kan? Nggak sakit?” Pertanyaan itu mengejutkan Renee yang masih berusaha memulihkan diri. Ia menoleh, menatap Davin yang berbaring di sebelahnya, sedang menatap Renee juga.
“Kamu … belum tidur?” tanya Renee heran.
Davin mengerutkan kening. “Tidur?”
“Well, dari cerita teman-temanku, kebanyakan cowok langsung tidur begitu selesai,” jawab Renee cuek.
Davin malah tergelak mendengar itu. “Emangnya aku udah bilang kalau udah selesai?”
Renee terbelalak kaget.
Davin tersenyum geli. “Becanda. Kamu tidur aja kalau capek.”
Mengejutkan Renee, pria itu lantas menarik selimut Renee hingga ke lehernya.
“Kalau besok kamu masih mau istirahat, kita bisa ke Butchart Garden lusa,” ucap pria itu.
Renee mengerjap.
“Good night,” ucap Davin kemudian seraya mengusap kepala Renee.
Tunggu! Apa ini?
Renee menangkap tangan Davin dan menariknya turun. “Kamu ngapain?”
Davin tampak terkejut, tapi kemudian menjawab, “Ninaboboin kamu biar cepat tidur?”
Renee mendengus. “Aku baik-baik aja. Tadi nggak sakit dan aku juga belum ngantuk. Dan besok kita bisa pergi ke Butchart Garden.”
Davin kembali tampak terkejut. Ia membuka mulut, tampak akan berbicara, tapi tak satu pun kata lolos dari mulutnya.
Renee mendengus geli. “Aku mau bikin cokelat hangat. Kamu mau?” Renee berbaik hati menawarkan.
Davin mengangguk, masih tak berkata-kata. Renee keluar dari selimut dan memakai gaun tidurnya, lalu meninggalkan kamar tidur. Ia tersenyum geli mengingat reaksi aneh Davin barusan.
***
Sepeninggal Renee, Davin baru sadar, ia bereaksi seperti orang bodoh barusan. Davin menghela napas. Ia hanya tak menduga Renee akan berkata seperti itu. Meski kemudian, Davin lega karena ia tak menyakiti Renee.
Dari pintu kamar yang terbuka, Davin bisa melihat Renee yang sedang memasak air dari teko listrik. Wanita itu lantas pergi ke sisi lain ruangan. Davin turun dari tempat tidur, memakai pakaiannya dan menyusul Renee. Dilihatnya ada dua gelas yang disiapkan Renee di dekat teko. Davin refleks tersenyum.
Sementara, Renee tampak berdiri memunggungi Davin, menatap keluar lewat dinding kaca suite mereka. Davin mengikuti tatapan Renee dan takjub melihat titik bintang di langit malam. Davin melihat Renee menyentuh dinding kaca, seolah menyentuh bintangnya.
Davin tersenyum dan berdiri di belakang Renee. “Aku nggak ingat kapan terakhir lihat pemandangan kayak gini. Dari kantorku nggak kelihatan, soalnya.”
“Sama,” balas Renee seraya menurunkan tangannya.
Davin menyentuh titik yang ditinggalkan tangan Renee. “Di sini, kita bisa nyentuh bintang, ya?”
Renee mendengus geli. “Jangan ngeledek.”
“Aku serius,” ucap Davin sungguh-sungguh.
Renee menoleh ke belakang, keningnya berkerut.
“Aku juga pengen bisa nyentuh bintang. Aku udah bilang kan, aku suka traveling? Aku juga suka alam,” aku Davin. Ia kembali menatap ke arah bintang.
“Aku bisa lihat bintangnya di matamu.” Kalimat takjub Renee itu membuat Davin menunduk dan mendapati wanita itu masih menoleh menatapnya.
Davin tak tahu apa yang terjadi, tapi ia merasa jarak wajah mereka semakin dekat. Lalu, Davin merasakan bibir Renee di bibirnya. Tanpa bisa dicegah, Davin kembali mabuk dalam ciuman.
Davin memutar bahu Renee dan menarik wanita itu semakin dekat. Tak ada perlawanan. Davin merasakan wanita itu berpegangan di lengannya. Sementara Davin, masih sambil mencium Renee, ia mengangkat wanita itu dalam gendongannya, membawanya ke kamar.
Masa bodoh dengan cokelat hangatnya. Saat ini, Davin merasa sangat panas.
***
Ini benar-benar gila. Renee yakin.
Ia melirik Davin yang berbaring di sebelahnya, masih mengejar napasnya sembari menatap langit-langit kamar. Pria itu tiba-tiba menoleh pada Renee dan tersenyum. Renee mengernyit merasakan gelenyar di perutnya karena senyum pria itu.
“Besok habis ke Butchart Garden, ayo kita pergi lihat aurora,” ucap pria itu tiba-tiba.
Renee mengerjap. “Au … rora?”
Davin mengangguk. Tangannya terangkat ke wajah Renee, lalu menyelipkan helaian rambut Renee ke belakang telinga. d**a Renee berdesir merasakan sentuhan ringan yang tiba-tiba itu.
“Aku harap kamu suka besok,” ucap Davin tulus.
Renee berdehem. “Kita lihat aja besok.”
Davin tergelak. Tiba-tiba, pria itu berguling ke atas Renee. Namun, ia hanya mendaratkan kecupan di kening Renee.
“Good night.” Davin tersenyum.
Perasaan Renee saja, atau memang pria ini jadi sering sekali tersenyum?
“Okay, good night,” balas Renee.
Namun, Davin masih tak berpindah dari atas Renee.
“Sejujurnya, I want more, tapi aku akan nahan diri,” Davin berkata tiba-tiba.
Renee terbelalak kaget.
“Aku nggak mau lagi kamu ngabisin waktu tidur seharian di kamar ini,” lanjut Davin. “Jadi, sampai ketemu besok.”
Davin lalu mengecup bibir Renee singkat sebelum menjatuhkan tubuh di samping Renee.
“Kalau malam ini kamu mau tidur dalam pelukanku …”
“Nggak, makasih,” potong Renee.
Davin tergelak. Sungguh. Suasana hati pria itu tampaknya sedang sangat bagus malam ini.
“Kamu baru menang lotre atau apa?” tanya Renee heran.
Davin mengangkat alis menatap Renee. “Lotre?”
“Kamu kayaknya senang banget malam ini. Apa sesuatu terjadi?” Renee jadi penasaran juga.
Davin menoleh, menatap Renee lekat selama beberapa saat. “Sepertinya … ya.”
“Dan apa itu?”
Davin tiba-tiba berbaring miring ke arah Renee, dengan satu tangan menyangga kepalanya. “Kamu penasaran tentang aku?”
Renee berdehem lagi dan melengos.
“Boleh aku tahu, apa yang kamu suka?” tanya Davin.
Renee kembali menatap Davin. “Buat apa?”
“Buat interview waktu kita pulang nanti. Pasti nanti banyak yang tanya ke aku.”
“Cari aja di interview-ku sama media,” balas Renee cuek.
“Aku nggak yakin kamu nyebutin apa yang benar-benar kamu suka.”
Renee memutar mata. “Apa pedulimu?”
“Kalau gitu, boleh nanti aku tambahin satu hal yang kamu suka kalau ada yang tanya ke aku?” tanya Davin.
Renee menatap pria itu. “Apa?”
“Aku.”
Renee sampai ternganga mendengarnya. “Apa?”
“Kenapa? Emangnya aneh kalau kamu suka sama suamimu?” Davin balik bertanya.
“Trus, kamu? Kalau ada yang tanya ke kamu, apa yang kamu suka, kamu jawab apa?” Renee melempar tanya yang sama.
Davin menatap Renee lekat ketika menjawab, “Kamu.”
Renee mengernyit ketika merasakan desiran aneh di dadanya. Lagi. Sepertinya ada yang salah dengan dirinya. Renee harus segera melakukan medical check up begitu kembali nanti. Sungguh, Renee yakin, pasti ada yang salah dengan tubuhnya.
***