Pernikahan kedua Adhitama berjalan dengan lancar. Embun merasa lega. Namun, dia sedih karena harus berbagi suami. Embun pun meminta agar setiap 3 malam Adhitama bersama Hilya dan tiga malam lainnya bersama Embun. Yang satu malam Adhitama bebas memilih mau bersama siapa. “Kalau aku maunya cuma sama kamu aja, nggak usah sama Hilya.” Adhitama menatap Embun saat sedang berdua saja. “Mas, nggak boleh gitu. Sebenarnya kalau bisa kita nggak tinggal serumah, harus beda rumah. Tapi, nggak apa-apa sementara waktu kita tinggal serumah. Nanti kalau bisa Hilya dibeliin rumah Mas.” Embun tersenyum. “Cari kontrakan aja bisa,” jawab Adhitama asal. “Eh, kamu ngomong apa, sih, Mas? Nggak boleh gitulah.” Embun mencubit pipi Adhitama dengan lembut. “Berani, ya, kamu main cubit-cubit.” Adhitama pun membal

