Sebenarnya sebuah kebodohan mengajak cewek belanja. Niat Jino hanya ingin jalan-jalan, malah jadi stress karena Ana yang ingin beli ini dan itu.
"Jin, ini bagus gak?" Jino menatap Ana tanpa ekspresi yang memamerkan bibirnya terpoles lipstick warna ungu.
"Jelek, merah aja kek, kalau enggak pink, orange." Kata Jino.
"Udah mainstream semua warnanya." Balas Ana.
"Kalau warnanya aneh-aneh, gue gak mau bayarin."
Ana seketika ngerucutin biburnya.
"Ya udah deh, gue ambil yang warna merah."
Selesai milih-milih barang yang mau dibeli, Ana pun bergegas ke kasir untuk bayar. Ana beli kosmetik, sementara Jino hanya beli parfume dan lotion pelembab. Itu juga atas saran Ana karena wajah Jino terlihat kering.
Selesai membayar, Ana dan Jino bergegas pergi keluar dari toko kosmetik tersebut, dan beralih mencari makanan serta cemilan. Kalau dipikir, ini sama-sama yang pertama untuk keduanya jalan-jalan dengan lawan jenis, rasanya sedikit mendebarkan untuk keduanya. Meskipun sempat ada perdebatan di awal.
"Na, gue mau beli bir ya?"
Mata Ana seketika melotot mendengar permintaan Jino, Jino pun langsung tergelak. "Bercandaa..."
Jino mulai lelah berjalan, tapi Ana masih sibuk memilih-milih bahan makanan yang sulit ditemukan di pasar.
Jino otomatis lendotan pada Ana. Salah satu tangannya melingkar pada bahu Ana, tubuhnya bersandar pada gadis itu, dan kepalanya berada di atas kepala Ana.
Ana hanya diam dijadikan tempat tumpuan oleh Jino, terlalu fokus memilih-milih bahan makanan.
"Na, udah yuk~’’ rengek Jino.
"Bentar," balas Ana.
Selama Ana mondar-mandir, Jino setia menempel dengan posisi yang sama. Ana mengincar banyak barang promo seperti Ibu-Ibu.
Jino kira habisnya tidak akan banyak, meskipun trolley penuh, karena yang Ana beli barang promo semua. Tapi rupanya setelah sampai kasir, habisnya ternyata sangat banyak.
"Gila, gue dirampok." Omel gue dalam perjalanan menuju parkiran.
"Heh kita ini untung tau gak? Kita hemat 114 ribu, kan lumayan."
Jino memutar kedua bola matanya malas, hematnya memang besar, tapi habisnya juga banyak, 600 ribu lebih. Padahal Jino yakin, beberapa kebutuhan rumah seperti detergen itu masih ada, tapi karena lagi ada promo, sama Ana diborong.
Selesai menyusun barang belanjaan di bagasi, Ana dan Jino pun langsung bergegas masuk ke dalam mobil.
"Udah kayak emak-emak banget sih lo, gak sekalian beneran jadi Ibu?"
Mata Ana memicing. Jino abaikan, ia mulai menyalakan mesin mobilnya, dan menjauhi area mall.
Di perjalanan, mobil sunyi, Ana tidak menyalakan radio, dan Jino fokus mengendarai mobilnya.
Namun tak lama Ana bersuara. "Jin, sorry ya? Lo jadi keluar duit banyak." Alis Jino sontak bertaut.
Siapa pun yang mendengar penuturan tiba-tiba Ana ini, pasti terkejut juga. Tak ada angin tak ada hujan, Ana tiba-tiba minta maaf. Jino sampai berpikir Ana kesurupan.
Jino melirik Ana sejenak. Saat pandangan mereka bertemu, Jino jadi menyadari sorot mata Ana yang biasanya galak dan dingin, sekarang berubah sedih.
"Ya, ya udahlah. Salah gue juga yang ngajak lo ke mall, sekarang gue tau kenapa lo males ke mall. Lain kali kalau mau belanja di list aja." Kata Jino pada akhirnya yang hanya dibalas anggukan oleh Ana.
•••
Mau naik jabatan itu tidak semudah itu. Persyaratannya tidak hanya Jino harus menikahi dan merubah Ana, tapi Papa Ana tetap melihat kinerja Jino.
Dan di sini Jino sekarang, duduk di atas kasur dengan laptop di atas pangkuannya, dan punggung bersandar pada headboard. Kacamata dengan bingkai hitam membingkai matanya.
Pulang dari mall, Jino langsung mengerjakan pekerjaan yang Papa Ana berikan padanya melalui email. Padahal sekarang hari minggu, tapi mau tidak mau Jino jadi harus tetap kerja.
Pintu kamar tak lama terbuka, yang membuat Jino otomatis mendongakan kepalanya, dan menatap Ana yang baru memasuki kamar dengan membawa dua cangkir berisi kopi di tangannya.
"Gak makan dulu Jin?" tanya Ana sembari berjalan mendekati ranjang, kemudian ia duduk di pinggirnya.
"Tanggung." Balas Jino.
"Mau kopi gak? espresso sama coklat nih." Tawar Ana sembari menyodorkan salah satu cangkir pada Jino.
Tanpa berkata apapun, Jino menerima cangkir berisi kopi tersebut, kemudian menyeruputnya.
"Enak Na." Puji Jino begitu rasa manis, bercampur rasa pahit kopi dan coklat yang menyatu dan menyapa indra pencecapnya. Ana pun sontak tersenyum mendengar pujian Jino.
Entah kenapa aura Ana terasa berbeda, seperti… ada manis-manisnya. Beda dari auranya yang biasa, yang terkesan galak dan cuek.
"Jin, kerjaan lo masih banyak ya?" tanya Ana.
"Iya nih." Balas Jino seadanya. Ana kemudian hanya menganggukan kepalanya sebagai respon. Gadis itu tidak berkata apa-apa lagi setelahnya, ia hanya diam sembari menyeruput kopinya.
Jino kemudian melirik Ana, merasa heran dan penasaran dengan perubahan gadis itu.
"Jin, lo suatu saat bakal ninggalin gue gak?" celetuk Ana yang membuat Jino terkejut.
"Kok tiba-tiba nanya gitu?" tanya Jino.
"Nanya aja. Gue mau nonton tv dulu deh." Setelah berkata demikian, Ana langsung keluar kamar tanpa berkata apa-apa lagi.
Kening Jino mengernyit, tapi ia tidak berniat menyusul karena pekerjaannya masih banyak.
•••
Dua jam berlalu, akhirnya pekerjaan Jino selesai. Setelah mengirim filenya pada Papa, Jino pun menyimpan laptopnya di meja nakas.
Kopi sudah habis, Jino pun keluar kamar dengan membawa cangkir kotor untuk ia cuci di dapur.
Saat hendak berjalan ke dapur, ia melewati ruang tengah, langkah Jino pun langsung terhenti, karena melihat Ana yang tertidur di sana. Ia berbaring di atas sofa panjang, dengan kondisi tv masih menyala. Yang menarik perhatian wajah Jino, karena melihat wajah Ana yang sembab seperti habis menangis.
Jino memilih ke dapur terlebih dahulu seperti niatan awalnya, sebelum akhirnya kembali ke ruang tengah dan menggendong Ana untuk dipindahkan ke kamar.
Setelah memindahkan Ana ke kamar, Jino kembali ke ruang tengah. Ia duduk di sofa bekas Ana berbaring, lalu mematikan tv yang sebelumnya masih menyala. Mata Jino tak lama jatuh pada ponsel Ana yang tergeletak di atas meja. Jino terdiam sejenak, entah kenapa merasa sangat penasaran dengan benda itu, meskipun ia tahu benda itu privasi.
Dan pada akhirnya tangan Jino tetap meraih benda berwarna rose gold itu. Ponselnya tidak dikunci, jadi dengan mudah Jino dapat membukanya.
Wallpaper ponsel Ana hanya hitam dengan tulisan ‘so sick of this s**t’. Jari jemari Jino bergerak sendiri untuk membuka aplikasi chat. Sepi. Hanya ada beberapa kontak yang terlihat jarang Ana hubungi, terlihat dari keterangan kapan terakhir mereka melakukan chat.
Yang terbaru hanya dari satu kontak, dan sepertinya mereka baru berbalas pesan beberapa menit yang lalu. Jino pun menekan room chat tersebut, kemudian menggulir obrolan sampai yang paling atas.
Dia sepertinya teman terdekat Ana, dan seorang perempuan juga.
Ana:
Gue liat Agam sama cewek barunya.
Teman Ana:
Ya udahlah Na, lupain aja,
lo kan sekarang udah punya suami juga.
Tapi dia paling bakal ninggalin gue
ujung-ujungnya, sama kayak Agam.
Kalau lo ngerasa lo itu emang
buruk, ya berubah dong Na.
Gue udah putus asa. Gak ada
semanget gue buat berubah.
Paling ujung-ujungnya tetap sama.
Hhhh lo mah gitu aja.
Tungguin kabar gue cerai.
Jangan bilang gitu Na.
Gue udah tau, bokap nikahin gue sama Jino,
biar gue berubah. Jino jadi kayak Guru
gue doang, gak bisa jadi sandaran gue,
atau orang yang ngerti gue.
Gue bersyukur sama kehadiran Jino,
tapi gue ngerasa nyesel dan bersalah.
Nyesel makin banyak orang yang gak suka sama gue,
dan merasa bersalah karena udah nyusahin Jino.
Kenapa sih lo selalu aja ngerasa semua
orang gak ada yang suka sama lo, kecuali orang tua lo?
Karena kenyataannya gitu kan?
Kalau kayak gitu terus lo jadi gak punya temen Na.
Lo doang juga udah cukup sih.
Naa... please dong jangan gitu.
Gue takut.
Jino tertegun, jadi Ana takut bersosialisasi selama ini karena punya trauma? Tapi Jino tidak yakin yang membuatnya trauma hanya satu orang cowok ini.
•••
Jino memilih makan malam duluan sambil menunggu Ana bangun. Jino ingin mengajak Ana bicara, dia sebenarnya kenapa? Ada apa? Jino tengah merasa bersalah, seharusnya dari awal, dia sudah tahu Ana menjadi seperti sekarang pasti karena ada penyebabnya.
Ia hanya sibuk mencoba merubah, tanpa mencari dulu penyebab Ana seperti sekarang. Ana mungkin terluka di masa lalu, dan seharusnya Jino mengobati lukanya terlebih dahulu, sebelum memperbaiki yang rusak.
Jino yakin semua orang sebenarnya terlahir baik dan suci, tapi pengaruh lingkungan, didikan, dan trauma merubah segalanya.
Jino juga jadi merasa bersalah, karena pernah berkata pada temannya, Jazmi, untuk meninggalkan Ana. Tapi bagaimana? Jino sama sekali tidak mencintai Ana. Jino ingin hidup bersama wanita yang dicintainya, meskipun itu entah siapa. Dan kapan ia bisa menemukan wanita yang dicintainya itu, karena Jino sampai saat ini saja hampir tidak pernah bergaul dengan banyak perempuan. Ia hanya berinteraksi dengan mereka seperlunya.
Jino tidak yakin bisa mencintai Ana, dilihat dari bagaimana sifat Ana yang jujur saja menjengkelkan.
•••
Karena Ana masih belum bangun, Jino pun memilih menonton tv untuk menunggu Ana bangun. Mau main ponsel Jino malas, tidak tahu apa yang mau dilakukan di ponselnya. Padahal dulu saat remaja, Jino addict dengan gadget, semakin dewasa, Jino semakin sadar gadget kurang baik dan membuatnya jadi rawan stress. Jino juga tidak suka main game, entah kenapa.
Di saat sedang fokus menonton, Jino tak lama mendengar langkah kaki menuruni tangga. Jino pun menoleh, dan menemukan Ana yang sudah berdiri tak jauh darinya.
Dengan langkah sempoyongan, Ana berjalan ke sofa, kemudian duduk di sebelah Jino namun di seberang. Jadi jarak duduk Jino dan Ana sangat jauh.
"Na," panggil Jino. Ana hanya menoleh sebagai sahutan.
"Sini dong deketan, kok jauh-jauhan?"
Ana hanya terdiam, dan tidak merespon apapun. Akhirnya Jino yang berinisiatif menggeser tubuhnya untuk mendekati Ana.
"Lo beda banget habis belanja tadi. Lo kenapa sih?" Jino berusaha sebisa mungkin bicara lembut dan hati-hati pada Ana.
Karena Jino baru menyadari, Ana tidak bisa dikasari, tidak bisa dibentak, itu malah akan membuatnya semakin bandel.
"Gak papa, emang gue kenapa?" tanya Ana.
"Lo beda Na, kayaknya ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue." Balas Jino.
"Ya kalau pun ada lo gak mesti tau." Kata Ana sembari memutar kepalanya ke depan.
"Gue suami lo, gue berhak tau dong kalau lo emang ada masalah. Mungkin aja gue bisa bantu, atau sekedar ngehibur lo." Kata Jino.
"Suami yang bakal ninggalin gue. Iyakan?" celetuk Ana yang membuat Jino terkejut dan akhirnya bungkam. Entah kenapa Jino tidak bisa menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’.
"Gue udah taulah diri gue sendiri kayak gimana. Gue bahkan benci sama diri gue sendiri, apa lagi orang lain?" kata Ana sembari tertekekeh kecil.
"Lo ngerasa lo buruk?" tanya Jino, namun Ana tidak menjawab.
"Kalau lo ngerasa lo emang buruk, harusnya lo berubahkan?"
Ana langsung beranjak berdiri dan mau pergi, tapi Jino langsung meraih pergelangan tangannya.
"Na," panggil Jino.
Ana tidak menyahut, ia malah menarik dengan keras tangannya dari genggaman Jino hingga terlepas.
"Gue bisa selesein masalah gue sendiri, oke?" ucap Ana sembari mengambil ponselnya, dan pergi kembali ke kamarnya.
•••
"Ana mungkin emang bukan tipe orang yang terbuka." Ujar Jazmi setelah menegak jus alpukatnya.
"Terus gimana?" tanya Jino.
"Orang yang tipenya kayak Ana itu, harus lo bikin nyaman dulu biar mau terbuka. Biasanya kalau dia udah nyaman, tanpa perlu nunggu lo nanya ada apa, dia bakal cerita sendiri soal masalahnya." Celoteh Jazmi.
Jino kemudian hanya menganggukan kepalanya mengerti.
"Ana pernah gak nangis di depan lo?" tanya Jazmi, yang dibalas gelengan oleh Jino.
"Nah bener berarti, dia emang tipenya tertutup, dan lo harus bikin dia nyaman kalau mau tau masalah dia." Kata Jazmi.
"Tapi gue gak berani bikin dia nyaman dan berharap sama gue." Kata Jino.
"Kenapa? Kaliankan udah nikah, malah emang udah seharusnya lo bikin Ana nyaman sama lo." Kata Jazmi.
"Lo lupa gue pernah bilang apa ke elo?" tanya Jino.
"Jadi lo beneran mau ninggalin Ana gitu?" Jazmi menatap tidak percaya Jino.
"Gue gak cinta sama dia Jaz, gimana dong? Gue juga gak yakin Ana bisa bikin gue jatuh cinta sama dia. Lo tau sendiri Ana kayak gimana, gue udah sering ceritakan ke elo? Kalau lo jadi gue juga, lo pasti… pengennya ninggalin dia secepatnya. Di kantor udah capek, pas pulang masih dibikin capek sama istri.’’ Kata Jino.
"Tapi lo udah pernah hampir berhubungan sama dia, meskipun belum berhasil, tapi tetap aja. Kalau lo emang mau ninggalin, ya terus jangan lo gituin dong. Sama aja lo bejat." Kata Jazmi.
"Ya-ya, itu mah... naluri aja." Gumam Jino sembari menundukan kepalanya.
"Naluri, naluri, itu nafsu-" kalimat Jazmi terputus, saat tiba-tiba mendengar suara keributan di belakangnya dan Jino.
Prang! "Aduh maaf Mbak Ana, maaf."
"Ga-gak papa, saya yang salah."
Jazmi dan Jino menolehkan kepala mereka ke sumber suara. Mata Jino melebar melihat Ana yang sedang jalan terburu-buru keluar kantin.
"Kok? Ana ke sini?" tanya Jazmi.
"Gak tau." Balas Jino sembari beranjak dari kursi dan hendak mengejar Ana, tapi langkahnya dihentikan oleh pegawai yang tadi Ana tabrak.
Pegawai itu kemudian menyodorkan sebuah map berwarna biru pada Jino. Itu bahan untuk meeting sore nanti.
"Ini Pak, Mbak Ana mau ngasih ini."[]