bc

Rasa Yang Tertinggal (True Story)

book_age12+
34
IKUTI
1K
BACA
confident
sweet
bxg
no-couple
loser
detective
city
highschool
secrets
war
lawyer
like
intro-logo
Uraian

Ketika Bunga, seorang wanita karir yang cantik dan sukses datang ke acara Reuni SMAnya, hal itu membawa Bunga pada kenangan cinta pertamanya yang masih dia cintai selama bertahun-tahun lamanya.Bunga yang cantik, pintar, dan sukses belum juga menikah di usianya yang sudah matang, semua karena dia masih memiliki rahasia di dalam hatinya.Di saat momen yang tepat, dengan penuh keyakinan Bunga mengungkapkan semuanya di depan semua orang.

Lalu apa yang akan terjadi berikutnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Reuni SMA [Part 1]
Spanduk bertuliskan "Reuni SMA Angkatan 2010." Terpajang di depan gerbang sekolah. Sudah ramai para alumni yang datang dan berkumpul di lapangan upacara. Ada sebuah pentas di sana untuk berbagai acara hiburan. Panitia acara yang terdiri dari alumni, dewan guru dan siswa junior tampak sibuk dengan tugasnya masing-masing. Acarapun dimulai. "Selamat datang para alumni SMA tahun 2010." Sapa pembawa acara. "Perkenalkan saya Max, alumni siswa kelas XII IPS tahun 2010. Beberapa rangkaian acara kita hari dimulai dengan pembukaan oleh Kepala sekolah." Max memperkenalkan diri, gayanya cukup rapi dan casual dengan rambut yang diwarnai pirang. Kepala sekolah lalu memberikan kata-kata sambutan, para alumni menunggu dengan sabar. "Selanjutnya adalah persembahan paduan suara SMA Negeri Tunas Muda tahun 2023." Kemudian beberapa siswa naik ke atas pentas untuk menyanyikan Mars SMA Negeri Tunas Muda yang diakhiri tepuk tangan dari seluruh undangan yang hadir. "Tibalah kita pada acara hiburan, yaitu persembahan dari alumni untuk guru-guru tercinta dan teman-teman semua." Max begitu antusias. Ketika acara sudah berlangsung, Bunga baru tiba di sana diantarkan oleh sopirnya. "Kamu boleh pergi, nanti saya akan kabari untuk menjemput." Perintahnya pada sang sopir. "Baik Bu." Sopirnya lalu pergi. Ketika berdiri di depan gerbang sekolah itu, Bunga terkenang masa SMA nya dulu, saat dia berjalan keluar dari gerbang bersama teman-temannya dengan penuh canda ria. "Dah Bunga, jumpa esok!" Mereka lalu berpencar ke arah rumah masing-masing sambil melambaikan tangan. "Bye bye." Bunga membalas lambaian mereka, dia harus tetap di sana karena rumahnya yang paling jauh sehingga dia harus menyebrang jalan menuju ke halte bis yang ada di depan sekolah. Saat buru-buru menyebrang, Bunga kurang berhati-hati dan hampir saja tertabrak mobil, beruntung seseorang menarik tangannya ke tepi jalan. Jantung Bunga berdegup kencang, bukan karena ketakutan tetapi karena berada dalam dekapan siswa tampan itu. Segera Bunga melepaskannya. "Kamu gak papa?" Tanya si tampan yang belum dikenalnya itu. Bunga mengangguk. "Jaka, ayo!" Teman-teman siswa tampan tadi memanggilnya agar segera naik bis. "Aku pergi dulu." Tak lupa remaja bernama Jaka itu berpamitan pada Bunga dengan senyuman manis di bibirnya. Bunga masih terdiam karena terkesima. Saat bis itu berlalu. "Loh, kok aku gak naik?" Dia baru menyadarinya. Sama seperti hari ini, Bunga sadar kalau dia harus segera masuk ke pekarangan sekolah. Dengan langkah pasti Bunga memberanikan diri masuk ke sana menuju ke lapangan upacara. Bunga harus mencari tempat yang masih kosong. Saat itu sedang ada persembahan batle dance antara alumni dan junior. "Bunga?" Bunga dikejutkan oleh sebuah suara yang datang dari arah belakangnya. "Chimi?" Bunga tersenyum melihat gadis berkulit hitam manis itu. Mereka pun berpelukan. "Apa kabar?" Sapa Bunga. "Aku baik. Oya, kenalin ini suami dan anak aku." Chimi memperkenalkan keduanya pada Bunga. "Bunga." Bunga menyapa mereka dengan ramah. "Anak kamu sudah besar sekarang ya." Puji Bunga sambil mengusap kepala anak laki-laki berumur 5 tahun itu. "Ayo duduk di sana." Ajak Chimi. Bunga mengangguk dan mengikuti Chimi menuju ke bangku yang masih kosong. "Tadi kami duduk di depan. Kami ke sana ya." Setelah itu Chimi juga suami serta anaknya meninggalkan Bunga sendiri di sana. "Iya, sampai jumpa ya." Kata Bunga. Persembahan batle dance itu sungguh seru, Bunga jadi ikut terhibur, dia turut memberikan tepuk tangan meriah untuk mereka. "Bunga?" Kemudian muncul Aji, teman sekelas Bunga dulu. "Aji?" Bunga terkejut melihat Aji memakai seragam yang sama dengan panitia acara. "Kamu guru di sini?" Tanya Bunga sumringah. "Alhamdulillah, sekarang aku mengajar di sini." Jawab Aji dengan tersenyum pula. "Alhamdulillah, aku turut senang." Ucap Bunga. "Aku dengar sekarang kamu jadi kepala sekolah ya?" Tanya Aji. "Alhamdulillah dapat kepercayaan dan tanggung jawab baru." Jawab Bunga. Saat Bunga sedang berbicara dengan Aji, seorang wanita melihat mereka dengan ekspresi wajah cemburu. "Mas Aji!" Kemudian wanita itu memanggil Aji sehingga pria bertubuh tegap itu menoleh. "Buruan, anaknya nangis tuh!" Sepertinya wanita itu adalah istri Aji. "Aku pergi sebentar ya." Ucap Aji. Bunga mengangguk. Bunga melihat betapa istri Aji sangat cemburu padanya, saat Aji menghampiri istrinya, sang istri langsung menggenggam tangan Aji dan mengajaknya pergi. Bunga hanya bisa tersenyum melihat tingkah istri Aji. Kemudian dia melanjutkan menyaksikan persembahan puisi oleh salah satu dewan guru senior untuk murid-muridnya. Bunga melihat beberapa alumni datang dengan pasangannya masing-masing, bahkan ada yang turut serta mengajak anaknya. Hanya dia yang sendirian di sana. "Bunga, sama siapa ke sini?" Sapa seorang wanita bertubuh mungil. Dia adalah Cecil, sejak dulu sikapnya memang seperti itu. Bunga masih ingat betul ketika Cecil begitu heboh di kelas menceritakan tentang seorang siswa tampan dari kelas lain. "Ganteng banget sumpah, udah 2 tahun aku di sekolah ini kok baru ketemu sama dia sih." Jauh berbeda dengan Bunga yang pendiam dan lebih suka membaca buku. Bunga lalu keluar dari kelas menuju ke perpustakaan. Ada beberapa siswa sedang membaca buku di sana. "Hai Bunga." Sapa petugas perpustakaan. "Hai Bu Aya." Sahut Bunga. Selain cantik dan pintar, Bunga juga pribadi yang hangat sehingga Bu Aya menyukainya. Bunga berkeliling untuk mencari buku bacaan yang dia inginkan, dia lalu mengambil sebuah novel tetapi rupanya di seberang rak ada seseorang yang mengambil novel yang sama. Bunga melepaskan buku itu. Ternyata Jaka yang mengambil novel itu. Merasa tak enak hati, Jaka lalu menemui Bunga. "Kamu mau baca novel ini?" Tanya Jaka. "Gak papa kok, kamu lebih dulu." Ujar Bunga. Jaka tersenyum dia lalu duduk di samping Bunga. "Aku kira kamu cuma suka baca buku pelajaran aja, ternyata novel cinta juga?" Gumam Jaka. Bunga pun tersipu. Dia menutup buku pelajaran yang dibacanya lalu beranjak pergi dari samping Jaka. Jaka pun heran melihatnya. Bunga menemui Bu Aya. "Bu, Bunga pinjam buku ini." Pintanya. Setelah mengambil buku itu Bunga pun pergi, meninggalkan Jaka sendiri dengan kebingungannya. Kini Bunga harus berani menjawab. "Sendiri." Jawab Bunga. "Kamu belum nikah?" Tanya wanita itu lagi. "Belum." Jawab Bunga. "Mau nunggu kapan lagi? Umur kamu kan udah pantas untuk menikah." Kata Cecil. "Nikah itu bukan persoalan umur, tapi soal pendewasaan diri dan mental." Jawab Bunga. "Yah jangan sampai pas kamu punya anak, kalian sama-sama ngerangkak." Ejek Cecil. Bunga tak menghiraukannya, dia memilih pergi. "Permisi." Bunga menuju ke arah toilet. Bunga masuk ke dalam kamar kecil lalu mencoba menstabilkan emosinya kembali. Bunga menghubungi sopirnya. "Miko, tolong jemput saya sekarang ya." Perintahnya. "Tapi apa tidak terlalu cepat Bu?" Tanya Miko. "Pokoknya datang saja." Bunga mengakhiri pembicaraan. Miko merasa khawatir. "Apa yang terjadi ya? Semoga Bu Bunga gak kenapa-napa." Harapnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.7K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.2K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.2K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.0K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.0K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook